ROSES

ROSES
Part 19 Langkah Peter



"Mas, sudah selesai bacanya episode ini," kata Tania lembut, terlihat mata dan wajah Ezra memerah seperti menahan marah, Rendi tadi sudah dijemput Mirna, bahkan Mirna sempat lihat Ezra membaca buku harian Peter, tapi dia tidak coment, karena tergesa gesa.


" Selesai, sudah sore De!" tanya Ezra yang sempat basah lagi. Seperti biasa Tania tertawa geli melihat Ezra, tapi dia masih terbawa bacaan, dan cerita tentang keadaan Peter diakhir cerita.


" De, tenaganya terkuras baca kaya gini, aneh ya De," lanjut Ezra turun dari loteng, Tania yang tadi sempat meninggalkan Ezra sendiri untuk menyalakan lampu ruang bawah mengiyakan dengan mengikuti dari belakang.


" Atau kita makan di luar beli sate Mas," saran Tania, disetujui oleh Ezra. Setelah Magrib keduanya keluar menuju warung sate yang tidak jauh dari rumah Tania. Mereka berdua makan dengan lahap terutama Ezra tenaganya seperti terkuras bisa menghabiskan sisa sate Tania yang sangat memperhatikan pola makan takut kegendutan. Setelah selesai makan Ezra mengantar Tania dengan sebelum masuk saling berciuman. Dan Ezrapun menemui orangtua Tania, sempat ngobrol.


" Bapak, besok malam kami sekeluarga mau bertamu," kata Ezra, kebetulan masalah ini sudah dibicarakan dengan Tania.


" Koq baru cerita sekarang " jawab Bapak terkejut.


" Iya, karena tadi saya baru dikabari kalau cincin sudah jadi dan sekalian nikah siri," jawab Ezra yang telah menghubungi teman yang jadi kyai sekalian jadi perantara untuk meminang. Orang tua Tania mengiyakan, Tania diam dan menunduk.


Tak berlama lama Ezra mohon pamit karena Rendhi menunggu di Rumah Mirna.


Sampai di rumah Mirna, Ezra menceritakan dan sekalian disuruh mengajak beberapa famili yang mau ikut, demikian pula Ezra menyampaikan ke orangtua.


Sementara itu Tania telah mempersiapkan hidangan untuk tamu tamunya besok, rumah Tania juga dari peninggalan nenek buyut bapaknya dengan model bangunan Belanda memiliki teras lebar demikian pula ruang tamu.


" Mas, aku besok pagi saja datangnya, " pesan pribadi Tania.


" Iya De, aku kangen," pesan balasan Ezra, Tania membalas dengan emoji cinta juga tertawa.


Malam telah larut kedua orang itu tidur di rumah masing masing dengan mimpi mimpinya.


Pagi harinya Mirna datang, kebetulan Ezra dan Rendhi lagi di halaman depan sedang menggerakan badan, Ezra terutama badannya kalau habis tidur beberapa hari ini terasa pegel dan kaku.


" Mas, ini ada pesan dari Tina," kata Mirna dengan menyodorkan ponselnya untuk dibaca Ezra.


" Tania sudah cerita De, bahkan kemaren aku ikut layat," jawab Ezra dibenarkan Rendhi.


" Mas, Tina dan keluarga selalu berusaha menghalangi mas Ezra untuk bahagia," jawab Mirna kesal.


" Tante tahu rumah Tante Tania yang punya rumah makan ayam dan bebek goreng terkenal," sambung Rendhi. Mirna manggut manggut apalagi dia sekeluarga sering makan disitu.


" Mas, aku di jemput," pesan Tania, tadi malam dia diantar Ezra sehingga motor ditinggal, maka Ezra siap siap menjemputnya, sedang Mirna lagi memetik buah nangka muda untuk dibuat gudeg di pekarangan Ezra, di dekat pekarangan ada kamar kost sekitar 12 kamar yang selalu penuh oleh mahasiswa di kota ini. Rendhi juga suka memelihara ayam dipekarangan belakang yang luas juga buat kolam kecil untuk hidup ikan gurameh.


Tania telah datang dijemput Ezra dengan bawa lauk gudangan dan pepes ikan patin beli dari warung terkenal untuk sarapan pagi.


Setelah mereka sarapan pagi terus menuju ke loteng, Ezra mulai membaca buku harian Peter.


Peter POV


Aku berangkat ke kantor yang berfungsi sebagai gudang sendiri, Rudolf yang sudah siap ditinggal begitu saja karena aku kesal padanya. Sepanjang perjalanan bahkan di kantor lebih banyak diam, beda dengan Rudolf yang lebih periang dan komunikatif melihat sikapku padanya tidak merasa sakit hati, dia bersikap biasa saja kesemua orang di kantor bahkan ke Miller, sehingga dianggap aman saja antara kami berdua. Miller setelah ada Rudolf juga lebih suka berkumonikasi dengannya dari pada denganku.


" Rudolf, kamu ikut invest disini, itu ada gudang yang kosong," saran Miller, aku yang mendengar pembicaraan itu memberi dukungan.


Dan singkat cerita Rudolf akhirnya menyewa gudang sebelah, sehingga usaha patungan tiga orang semakin berkembang, dan barang barang pangan dan sandang import untuk memenuhi pasar sampai ke daerah daerah pantai selatan yang diangkut dengan kereta api, tapi Rudolf tak mau juga beli rumah sendiri, seperti ingin tetap dekat dengan Utari.


" Rudolf, kamu sudah punya uang banyak tidak ingin punya istri dan beli rumah," kataku saat di rumah, dan Rudolf sudah semakin sibuk sehingga pulang selalu bersama denganku.


" Aku pengin punya istri se cantik Utari, Peter," jawab Rudolf saat makan malam bersama tanpa berpikir panjang. Aku semakin gusar dengan jawaban ini. Utari sekarang sudah beda dengan Utari dulu semakin tambah cantik dan modis, tapi sejauh ini belum ada tanda tanda istriku mengandung. Rudolf selalu mencuri pandang istriku, ku lihat tanggapan Utari seperti biasa saja kalau di depanku. Tak tahu kalau aku tidak ada tentang sikapnya pada Rudolf.


" Utari, kamu pengin punya baby?" tanyaku sambil melentangkan tangan, sementara Utari memelukku.


" Pengin sekali Peter, sudah hampir satu tahun kita nikah tapi aku masih kosong saja," keluhnya, tangannya semakin erat memelukku seolah dia takut kehilangan.


" Atau mungkin kebersamaan kita mempengaruhi Utari?" jawabku mataku tak kuat menahan kantuk.


" Tapi aku lebih suka begitu Peter," jawabnya sayup sayup, karena aku terus terlelap.


Paginya aku agak kesiangan bangunnya, dan aku dikejutkan oleh Utari yang lagi duduk berdua di meja makan dengan Rudolf, melihat aku Utari juga salah tingkah, aku berpikir sebaiknya Utari aku pulangkan ke kampung kebetulan selama datang ke kota belum pernah pulang, paling Paman dan Bibi yang datang kesini.


" Utari, besok ada gerobag juga kereta dari pelabuhan menuju kampung, pengin nengok Mama?" tanyaku, berusaha menutupi rasa gusarku.


" Iya, Peter, tapi aku ingin tetap di kampung, rasanya jenuh di kota, tidak ada yang bisa diajak bicara, kecuali Rudolf," jawabnya tanpa peduli perasaanku, tapi aku tetap berwajah tenang walau dalam hati bergemuruh.


" Siapa tahu setelah di kampung jadi babynya," jawabku datar, bagaimanapun aku tak ingin terjadi class dengan Rudolf, dan Utari mengiyakan. Aku cerita pada Rudolf, tapi malah Rudolf ingin ikut.


" Rudolf, nanti siapa yang nunggu gudang?" tanyaku datar.


" Aku terus pulang ikut lori yang balik kesini," jawabnya slow, Rudolf beralasan ingin ketemu Mama dan saudara sadaraku, jadi akhirnya ku bolehkan dia ikut kami.


Paginya kami menuju stasiun jalan kaki, tidak jauh loji loji Belanda dari stasiun. Urusan di gudang di tangani oleh Miller dan anak Pak Darsim namanya Leman, dan toko di rumah oleh Tati, mereka orang orang yang bisa dipercaya, pembukuan juga rapih terutama Tati, yang gudang juga, pembukuan oleh istri Miller dan putrinya. Kami sampai stasiun sudah hampir jalan lorinya, sehingga kami sempat berlari sambil bawa berbagai macam barang baik pakaian juga pangan yang di desa tidak ada, sebenarnya kereta jalannya lebih cepat dengan gerobag, tapi kadang penuh, gerbongnya. Betul kami harus berhimpitan dengan penumpang lain yang sebagian besar orang Belanda mau menuju ke loji mereka di desa dekat perkebunan.


" Utari, kakinya sakit, tadi waktu kamu lari?" tanyaku, dengan tangan kuletakkan dipundaknya, karena dia setelah di kota aktifitas dengan menguras tenaga berkurang seratus persen, apalagi kakinya lebih pendek dariku, tentu langkahnya lebih pendek, aku dan Rudolf melangkah satu kali maka Utari dua kali. Selama di perjalanan Utari lebih banyak bersender di tubuhku. Rudolf di perjalanan ngobrol dengan penumpang lain, sambil disilingi tertawa, dia memang pinter ngobrol sehingga banyak teman, bahkan Utari suka ngobrol dengannya. Kadang aku berpikir positif tentang sikap Utari pada Rudolf, dia hanya teman ngobrol saja, sementara aku jarang mengajak Utari ngobrol, kalau ada waktu luang aku gunakan untuk membaca atau menulis.


" Peter, pemandangannya indah negeri ini, subur lagi," kata Rudolf sambil menikmati kanan kiri daerah yang dilalui, ia mengawali bicara karena aku tak banyak bicara sejak berangkat. Akupun mengangguk.


Sampai ke kampung masih sore, kami berjalan kaki, karena stasiun lori hanya beberapa meter dari loji Bibi, Mama saling memeluk.


" Rudolf kamu betah di Hindia Belanda?" tanya Mama, dia mengiyakan dan banyak ngobrol dengan Mama dan saudara saudaraku.


" Kamu bisa serumah dengan Peter yang jarang ngobrol, paling hanya tersenyum dan jadi pendengar saja!" kata Jos sinis melihat Peter.


" Utari pandai ngobrol, paling dengan dia!" jawab Rudolf, Peter hanya diam.


" Hati hati lho kamu bisa jatuh cinta sama Utari, dia semakin cantik," kata Jos sinis melihatku, seperti biasa aku hanya diam dan berusaha tersenyum, bahkan Rudolf tertawa terbahak bahak.


Sementara kulihat Utari sibuk membantu ibunya dan lebih ceria.


" Mau berapa hari disini kamu Rudolf?" tanya Jonathan.


" Sampai aku puas liat kecantikan kampung ini," jawabnya.


" Sudah punya calon?" tanya Jos, Rudolf menggeleng.


" Pilih yang kayak apa?" tanya Jonathan.


" Kalau ada yang kaya Utari dikampung ini akan kuperistri," jawabnya dengan tertawa terkekeh kekeh.


" Kamu kurang cepat denganku Rudolf," jawabku dan biar mereka menganggap bercanda, semua tertawa.