
Hampir setengah bulan mereka berduapuluh orang meninggalkan kampung halaman berada di negeri kincir angin, negeri dimana leluhurnya di lahirkan untuk merantau ke tanah jajahan Belanda, negeri dengan ciri khas kincir angin juga chanal chanal.
Selama berkunjung banyak kenangan terpatri di hati, dan semakin menambah keakraban mereka, bahkan beberapa dari keluarga yang ada di Paris, Berlin juga yang di London mereka kunjungi, dengan naik kereta api cepat, di pandu oleh Daneil yang semakin akrab dengan Azizah putri pertama Oom Bahtiar.
Satu minggu di gunakan untuk menengok keluarga di negara negara itu, mereka menginap di hotel.
Perjalanan naik kereta oleh Rendhi dimanfaatkan untuk menvideokan moment moment itu, dan dishare di youtube.
" Bunda, subscribe dan yang like sudah ribuan," ucap Rendhi yang memang suka traveling dan mengeshare di aplikasi itu, apalagi suaranya bagus, anaknya cakep kaya ayahnya, dan ia selalu punya ide ide cemerlang seusianya, makanya setiap hari selalu nambah subscribe juga like nya, bahkan ia sudah dapat penghasilan banyak dari karyanya, tak khayal ayah bundanya digratisi nginap hotelnya.
" Rend!" kata Ezra dengan memeluk erat putra semata wayangnya, juga matanya berembun saat membayar setiap kali menginap di hotel, Taniapun trenyuh, sehingga bertiga berpelukan, Anasthasia selalu mengikuti dan banyak membantu Rendhi, ia memperhatikan mereka dengan rasa iba, mereka masih sekali kali komunikasi lihat aplikasi terjemahan, walau Rendhi sudah mulai lancar berbahasa Inggris, disamping ayahnya di rumah sering mengajak berbicara pakai bahasa Inggris.
Perjalanan tour tiga kota besar dari tiga negara usai, rombongan pulang ke Amstterdam, merekapun bersepeda ziarah kembali ke makam keluarga Cornelis, tak lupa pada Jos, esoknya mereka berduapuluh saling berpelukan untuk meneruskan perjalalan pulang ke tanah air, dari Jakarta mereka naik pesawat lagi ke kota yang dituju oleh keturunan Peter dan Rudolf.
Tania mulai tidak nyaman hatinya setelah sampai di rumah Ezra, karena keluarga Tina saat mau berangkat ke Belanda memaksa minta kunci rumah ke Ezra, dan Ezra merasa tidak berdaya karena rumah kuno dengan pekarangan juga kamar kamar kos di beli secara patungan dengan Vera yang masa hidupnya pembisnis ulung, sekarang usaha Vera diambil alih oleh keluarga Vera tanpa sepeserpun Rendhi diberi hasilnya, bahkan yang ditempati seperti mau dikuasai oleh Tina walau sudah atas nama Rendhi.
" De, maafkan mas yang sangat lemah pada mereka," peluk Ezra saat berada di kamar yang baru meletakan barang barangnya.
" Iya mas," ucap Tania berusaha menata hati, dan dia melepas pelukannya karena Tina langsung membuka pintu kamar dengan keras.
" Mas, kami mau pindah disini," katanya ketus, terus berlalu dengan menutup pintu keras kembali.Tania duduk di sisi ranjang menunduk, matanya mulai muncul bulir bulir air, Ezra duduk disampingnya dan memeluk erat istrinya.
" Mas, aku berusaha tetap bertahan demi kamu dan Rendhi," ucapnya sendu dengan menahan buliran air agar tak jatuh dipipi. Tania tak membutuhkan jawaban dari Ezra, terus bangkit menuju ke luar kamar dan memanggil Rendhi.
" Rend!" panggil Tania setelah dia mencari keberadaannya tak ada sehingga menuju kamar, dilihatnya Rendhi sedang mengedit videonya.
" Iya bunda," jawab Rendhi.
" Ya sudah kamu lagi sibuk," jawab Tania lembut.
" Bunda mau nyuruh apa, aku berhenti dulu sambil istirahat bunda," jawab Rendhi berdiri.
" Enggak apa Rend, hanya ingin melihat videomu," kata Tania berbohong. Rendhi walau anak abg tapi tahu perasaan Tania kurang nyaman disini, diapun merasa iba padanya. Rendhi memang merasa dekat dengan Tania, karena sebelum Tania kenal Ezra, Rendhi telah mengenalnya lebih dulu, saat Rendhi bersama teman teman makan di rumah makannya menemui Tania meminta ijin menvideo rumah kuno dan rumah makannya, bahkan saat camping Rendhi lebih sering berkomunikasi dengan Tania untuk menyoting berbagai kegiatan disitu, jadi tak khayal dia langsung menerima Tania sebagai ibu sambungnya, bahkan sampai sekarang kadang Tania memberi ide masalah yang perlu di unggah ke youtube, seperti saat di Belanda, London, Paris dan Berlin, Tania banyak membantu Rendhi.
" Rend, ambil yang belum banyak diangkat oleh yang lain," kata Tania saat itu, dan betul ternyata yang subscribe semakin membludak.
" Rend, koq hanya berdua di kamar, wanita ini masih muda lho, kamu sudah dewasa, dia bisa merayumu," cerocos Tina tanpa tedeng aling aling yang di benarkan oleh suaminya dengan nyinyir.
" Astagafirollah, tante Tina, Rendhi tidak mikir kesitu," kata Rendhi mengusap dadanya dengan rasa nek di hati, Tania langsung berlalu masuk ke kamar dan Ezra sedang ngobrol dengan Mira juga orangtuanya di teras sehingga Tania bisa menumpahkan tangis di bantal.
" Mas, kalau merasa tidak nyaman ikut bapak, ibu saja," saran Mira lirih, yang juga merasa iba melihat perlakuan keluarga Vera.
" Menurut bapak ini yang mempengaruhi Tania belum bisa hamil," kata bapak sendu.
" Tidak Mir, dia malah senang, karena tujuannya menguasai harta Vera," kata Ezra lirih.
" Mba Vera kasihan disana, padahal dia sifatnya mirip Tania," kata Mira melirik ke bale, karena Tina dengan suaminya menuju ke teras.
" Mas, koq kamu membiarkan Rendhi berdua di kamar, ingat mas, Rendhi sudah mengerti cinta lho," cerocosnya tanpa menghargai keberadaan orangtua Ezra, keempat orang itu terbengong bengong mendengar ucapannya. Ezra menunduk sedih mendengar fitnah itu.
Ezra dan keluarga memang tak bisa nyinyir kaya Tina dengan suami, maka hanya diam tapi bukan berarti kalah.
Hari itu Ezra sebenarnya lelah, dia dan Tania juga Rendhi baru sampai rumah dari perjalanan, mereka sudah di berondong dengan kata kata yang menyakitkan. Ibunya Ezra tak kuasa menahan tangisnya, sehingga mereka bertiga pulang ke rumah sedang Ezra masuk kamar, di dapatinya Tania lagi tengkurap, tapi dia tahu kedatangan Ezra, sehingga dia cepat cepat mengusap air mata terus duduk disisi ranjang.
" Tan, kamu di omong apa sama Tina?" tanya Ezra setelah melihat wajah istrinya memerah dengan mata bekas menangis.
" Enggak Mas," kata Tania tak mau berterus terang.
" Oh ya sudah," jawab Ezra tak mau mendesak Tania, pikirnya dia nanti malah tambah sedih. Ezra memeluk istrinya penuh kasih sayang, dan merekapun di kagetkan oleh kethukan pintu dari luar.
" Mas, buka," suara Tina keras penuh emosi.
" Rumah ini mulai sekarang aku yang punya kendali, ini di beli dari hasil keringatnya mba Vera," semakin tak bisa mengendalikan omongnya, dengan tatapan tajam membunuh pada keduanya.
" Mas, dirumah Bapak saja ya," kata Tania setelah Tina pergi.
" Kasihan Rendhi jauh sekolahnya,"jawab Ezra, tapi sebenarnya dia tidak enak hati.
" Tadi ibu di teras bilang supaya dirumahnya," kata Ezra sedih.
" Ya terserah mas saja," jawab Tania pilu.
" De, sampai lupa kita tidak makan siang," kata Ezra mengelus rambut Tania, dia menuju ke dapur.
" Hai, mau ngapain kamu?" sergah Tina juga suami.
" Enak saja kamu ke Belanda pakai uang mba Vera," sergah suami Tina sengit. Tania tidak tahan dengan ejekan mereka.
" Apa kamu saja yang punya uang?" jawab Tania berlalu dari dapur, rambut Tania yang di kucir langsung dipegang terus diputar dan tubuhnya ditekan ke tembok.
" Belum tahu rasa kamu ya, ini permulaan, kami bisa melakukan lebih dari ini, ingat itu," ucap suami Tina kasar sambil menampar wajah Tania keras.
" Uuuhhh!" jerit Tania keras, Rendhi dan Ezra mendengar jeritan Tania keluar, sementara Tina ikut membabi buta menampar tubuhnya berkali kali.
" Tante!" Rendhi menjerit.
" Ok, Tina, kami akan pergi dari sini, kalau kau memang menghendakinya!" kata Ezra marah,
" Tapi tolong jangan aniaya istriku," lanjutnya marah.
" Mas, kami tidak menghendaki Mas Ezra dan Rendhi pergi," kata Tina menjerit.
" Kalau istriku pergi aku akan mengikuti," jawab Ezra lantang, sambil merangkul Tania.
" Rendhi juga ikut bunda Tania," jawab Rendhi marah dan merangkul ayah juga bundanya, mereka bertiga bertangisan, dan membawa baju dan barang barang penting ke mobil. Tina berusaha menghalangi Ezra dan Rendhi untuk tidak pergi, tapi mereka sudah tidak tahan pada perlakuan selama ini.
" De, kita menginap dulu di hotel, untuk menenangkan hati," kata Ezra mengeluarkan mobil dari garasi.
" Setuju Yah, aku mau menyelesaikan mengedit ini," kata Rendhi, tangannya ditekan ke kursi sambil mengepal. Akhirnya Ezra mengarahkan mobil ke hotel dan pesen satu kamar.
" Yah, Rendhi yang bayar hotel, baru dapat uang nih banyak banget," kata Rendhi semangat.
" Mas, kita belum makan," kata Tania yang dari tadi diam.
" Habis check in ke hotel, kita cari makan," jawab Ezra menatap sendu Tania. Ada panggilan dari bapak.
" Assallamuallaikum, Bapak," salam Ezra di depan ponselnya saat lagi check in di hotel.
" Waallaikumsalam," jawab bapak disana dengan nada sedih.
" Kamu di rumah bapak saja Zra, ini kamu di mana?" lanjutnya disana, setelah tahu dari pesan pribadi yang dikirim Rendhi.
" Iya Pak, aku cari tempat yang aman dulu," jawab Ezra, dan akhirnya panggilan ditutup dengan salam wasallamuallaikum, oleh bapaknya Ezra dibalas salam. Ketiganya masuk kamar, terus pesen makanan lewat online. Dan Rendhi menyelesaikan mengedit, dibantu ayah juga bundanya. Sementara mereka bisa nyaman disini.
Pagi hari keluar hotel, Ezra mengantar Rendhi.
" Rend, pulang sekolah ke rumah kakek saja," pesan ayah, Rendhi mengiyakan. Sedang Tania langsung ke tempat usahanya di sebelah rumah orang tua. Ia mengecek pembukuan dan nota nota selama setengah bulan yang menumpuk di kantornya.
" Selama setengah bulan ini, orang itu selalu makan siang disini," kata Sulis.