
Pagi hari keduanya bangun dengan wajah ceria.
" Selamat pagi," sapa Tania pada salju yang menempel di ranting ranting pohon, kamar yang hangat oleh mesin penghanghat membuat betah berada di dalam, yaaa Tania di musim dingin ini tidak sebeku hatinya seperti salju di taman samping kamarnya, yang ia lihat dari kaca tebal jendela kamar, Ezra tertarik pada pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya di Eropa, sehingga ia bangkit mendekat ke tubuh istrinya dan memeluknya, matanya melihat hamparan salju di taman, diatap atap rumah keluarga Tania.
" De, indah sekali," decak kagum Ezra melihat salju pertama di Eropa,
" Iya mas, sepatu bootnya cuma bawa satu," kata Tania mendekap erat suami.
" Nanti Rendhi mau menvideo bersama Anasthasia," cerita Ezra,
" Kita ikut ya," lanjutnya, Tania mengiyakan.
" Mas, Mama pengin banget punya cucu, maklum aku anak satu satunya," kata Tania hati hati takut kalau Ezra masih ingin menikmati kebersamaan dulu.
" Iya De, aku siap," jawab Ezra yang memang mengharapkan dari dulu punya baby.
Setelah agak siang berempat keluar memakai pakaian lengkap musim dingin, terlihat semua keren, mereka tak melihat orang pada keluar, semua rata rata pada musim seperti ini lebih betah dirumah.
Rendhi begitu antusias merekam alam yang baru dilihatnya di Eropa, dibantu bergantian oleh yang lain, dan hari ini baru merekam di komplek rumah keluarga. Dan Anasthasia mulai mau terbuka hatinya untuk menerima kekasih Papinya menjadi ibu sambungnya, karena melihat Rendhi begitu akrab dengan Tania, Anasthasia sudah bisa bahasa Indonesia, selama Tania disini belajar dengan semangat, sekarang sudah lancar, bahkan sehari hari komunikasi dengan keluarga Tania pakai bahasa Indonesia.
" Bunda, disitu bagus," kata Rendhi akrab, Anasthasia tersenyum melihat keakraban mereka.
" Rend, tangkap bola bola saljunya," pinta bunda, Rendhi menangkap dengan tangan yang telah memakai sarung tangan kulit.
" Ayo masuk jangan kelamaan di luar," ajak Tania.
" Ok Mom," jawab Rendhi memanggil Mom, Anasthasia tersenyum melihatnya.
" De, anakku kaya betah disini, aku pengin pindah kesini," kata Ezra, Rendhi yang dengar kata kata Ayah mendukungnya.
" Paling kita di Den Haag Mas,"kata Tania, yang selama ini untuk mengisi waktu biar tidak jenuh kuliah S3, Ezra selama tiga tahun meneruskan kuliah di Australia,Taniapun tahu dari vlog Rendhi.
" Ya, aku menghubungi temanku yang di Den Haag," kata Ezra langsung menghubunginya.
" Iya Mas, oh itu aku kenal juga Mas, beliau sekeluarga sering nginep disini," jawab Tania.
" Ya De, besok kita ke Den Haag dulu," kata Ezra.
"Mom kita terus keliling negara Eropa sampai ke Turki ya," pintanya, Tania mengiyakan. Orang tua Tania tidak ikut kasihan nenek sudah tua, juga selama disini sering traveling ke seluruh Eropa bahkan ke Moskow, Rusia.
" Nanti Rendhi yang bayar semua," jawabnya riang, memang penghasilan Rendhi sudah besar dari hasil ini, jadi kalau hanya membayar berlima, masih bisa.
Sehabis makan kita jalan keluar kompleks rumah keluarga, dengan jalan kaki tidak berani naik sepeda karena licin, apa lagi salju lagi tebal.
" Besok Caroline ikut," kata Tania, Ezra selalu berjalan menggandeng tangan atau merengkuh pundak Tania, kadang Rendhi dan Anasthasia asyik merekam Ezra dan Tania yang lagi menyempatkan saling peluk, juga kecolongan sama Rendhi di foto pakai ponsel yang lain.
" Sekalian blanja Mas," kata Tania, ternyata di swalayan ini boleh merekam blanjaan, tapi dibatasi, ini dijadikan materi untuk di share juga oleh Rendhi.
Liburan ini dimanfaatkan oleh Rendhi untuk tour keliling Eropa, Ezra dan Tania selalu memanfaatkan disetiap hotel untuk moment moment yang hampir lebih dari tiga tahun terlewatkan.
Dan kabar yang menggembirakan bagi Tania, akhirnya Ezra bisa bekerja di Den Haag, kota yang tidak terlalu jauh dari desanya, sehingga setiap hari bisa abunemen, demikian Tania yang sudah selesai kuliahnya bisa bekerja tidak jauh dari tempat kerja Ezra, setiap hari bisa berangkat bersama.
Sudah lebih dari satu bulan Ezra pindah bekerja di Belanda, Rendhi bisa satu sekolah dengan Anasthasia.
" Kamu terlihat pucat De, sakit apa?" tanya Ezra pagi itu saat duduk di kursi mobil mau berangkat kerja.
" Iya, agak mual," jawab Tania sambil memeluk suami.
" Bulan ini sudah datang tamunya?" tanya Ezra lagi.
" Belum Mas, niatnya nanti pulang kerja ke klinik," jawab Tania rasanya mau meludah.
" Semoga di perutmu telah ada benih kita De," ujarnya penuh harap.
" Aamiin," jawab Tania terlihat mulai agak pusing, terus langsung minum air mineral dan makan cemilan.
" Mas, tadi malam kecang banget, jadi sedikit sakit," protes Tania.
" Bukankah kamu yang minta, leguhanmu saja keras, aku takut kalau kedengeran Ibu, sampai mulutmu ku tempel," jelas Ezra panjang, Tania nyengir dan nyubit lengan Ezra keras.
" Aduuh, sakit tahu," protes Ezra di perjalanan menuju kantor Tania, dan Ezra menghentikan mobil tak lupa Tania cium punggung tangan Ezra, sedang Ezra mengecup ubun ubun Tania lembut.
Tania di nyatakan positif hamil, ibu terutama sangat gembira dengan berita ini.
" Jangan melakukan kerja berat nduk," kata ibu saat sarapan pagi, Rendhi seneng juga mau punya adik, berharap adiknya nanti perempuan.
Malampun tiba, masing masing masuk ke kamar, Rendhi dari sejak sore sudah mengedit video, sehingga bisa tidur tidak terlalu malam, Tania berbaring di atas kasur disusul Ezra.
" De, kalau kamu capai keluar saja kerjanya," pinta Ezra sambil mengelus perut Tania yang masih rata.
" Enggak apa Mas, toh banyak waktu untuk keluarga," jawab Tania yang merasa keberatan kalau keluar dari kerja.
" Malam ini bisa kamu kalau...." kata Ezra langsung dipotong Tania karena tahu arah bicaranya tentu jatah malam.
" Jangan keseringan Mas, bukankah tadi dengar bidan bilang gitu," kata Tania yang sudah mulai menguap juga pegel pegel kakinya.
" Aku tidak tahu dia pakai bahasa yang tak kumengerti," kata Ezra, memang Ezra belum bisa berbahasa Belanda.
Ezra menarik kepala Tania untuk meletakannya di lengan tangannya, dan dia memiringkan tubuhnya dengan mendekap Tania. Setelah Ezra terkelap tidur, Tania menurunkan kepala dan memeluk tubuh Ezra, tangannya dilingkarkan ke pinggangnya.
Hari, minggu dan bulan berlalu begitu cepat, kandungan Tania menginjak usia sembilan bulan, dan rencana melahirkan lewat operasi cesar, dan besok ke klinik untuk jadwal operasinya, bertepatan hari libur.
" De, aku mau melihat proses persalinanmu," kata Ezra mengelus perut buncit Tania.
" Apa boleh disini Mas," jawab Tania.
" Aku sudah minta ijin," jawab Ezra agak sedikit takut juga.
" Kalau takut tidak usah saja Mas," jawab Tania mencium bibir Ezra. Tania sendiri juga dag dig dug menunggu hari esok untuk persalinan, tentu waktunya digunakan untuk banyak doa agar diberi kelancaran dalam proses ini.
Paginya keluarga sudah menunggu untuk mengantar ke klinik, walau tidak boleh masuk tapi bisa menunggu di luar klinik, kebetulan cuacanya bagus, cuma nenek yang tidak ikut.
" De, sudah lengkap barang bawaannya?" tanya Ezra bayangannya kaya di negaranya sendiri jadi segala perlengkapan bayi harus di bawa.
" Iya Mas, itu sudah cukup," jawab Tania yang tak dipungkiri tentu hatinya gelisah menghadapi operasi yang baru pertama kali di lakukan.
" Baju kamu nanti kurang," kata Ezra kaya bingung juga.
" Enggak Mas, paling nginepnya dua atau tiga hari," jawab Tania.
" Nduk, sebentar lagi jadwal kamu," ajak ibu membuka pintu kamar, ikut bingung juga.
" Nek, minta doanya ya agar lancar, sehat baik anak maupun aku," kata Tania ke nenek.
" Ya nduk, nenek hanya bisa mendoakan dari sini ya," jawab nenek terlihat matanya yang kebiruan berembun.
Mereka berlima berangkat ke klinik yang ada di kota, tidak begitu jauh toh jalan lancar tidak macet, hanya sekitar 10 km dari rumah. Sampai klinik langsung ditangani, mas Ezra boleh ikut masuk, Ezra sudah mulai bisa bahasa Belanda, ia kakinya gemetar melihat proses persalinan cesar istrinya, sampai tidak mampu menahan air matanya. Dan dokter begitu cepat mengambil baby lewat perut yang dioperasi.
" Pak, selamat ya babynya perempuan," kata dokter setelah mengangkat bayi dan memotong tali pusar.
Dan selesai sudah proses ini terus dibawa keruang inap terutama ibunya.
Babynya sempat di video oleh Ezra terus dikirim ke grup keluarga. Ucapan selamat memenuhi aplikasi grup atas kelahiran putri Ezra.
Tiga hari berada di klinik bersalin, bidadari kecil disambut dengan rasa suka cita oleh keluarga, Ezra dan Tania sudah melupakan peristiwa yang akan menghancurkan keluarga, apapun rintangannya, hati tak bisa dibohongi, bahwa keduanya terpaut satu sama lain tentu tetap disatukan.
" De, kalau kamu repot tidak perlu kerja, kasihan ibu," kata Ezra setelah cuti melahirkan Tania selasai.
" Tapi ibu menyukai Afifah Mas, itu lihat aku hanya diperlukan pabila Fifah mau minum," kata Tania.
" De, Fifah sudah tiga bulan, berarti nanti malam bisa dipakai ya Bundanya," pinta Ezra dengan mengecup kening istrinya yang semakin tambah menarik.
" Iya Mas, yang penting Fifah jangan dulu dulu dikasih dedek ya,"kata Tania.
" Hmmmmm ok," jawab Ezra semangat.
Rendhi seneng juga merekam Fifah, tapi dia tak mau ngeshare dedeknya di media, paling kalau Fifah mau ikut di share wajahnya blur atau dari jarak agak jauh.
" Rend, kamu suka gemes sama dedek," kata Ayah khawatir karena dedeknya belum kuat.
"Abis Fifah suka sama kakak ya," jawab Rendhi sambil nyium nyium kedua pipi Fifah dengan gemesnya.