
Sudah beberapa hari Tania kalau bangun pagi selalu muntah juga kepala nyut nyut, sehingga Stev setiap pagi harus membuatkan juz buah tanpa gula untuk mrngurangi rasa mual.
" Aku pengin anggur hijau," pinta Tania bibirnya pucat juga bergetar.
" Nanti aku beli di stand dibalik tembok," jawab Stev, sekarang minum juz anggur merah dulu, ibu setiap pagi selalu menengok di kamar dan mendengar permintaan Tania.
" Nanti ibu mau ke kota untuk blanja bulanan, biasanya adanya di supermarket," jawab ibu prihatin melihat Tania setiap pagi selalu mual.
" Belum datang tamu kamu bulan ini?" tanya Stev sambil meminta gelas di tangan Tania dan Stev duduk disebelah Tania ******* bibir hangatnya ke bibir pucat Tania.
" Belum, tolong beli test pack di apotik," pinta Tania ke Stev setelah keduanya melepas ******* bibirnya.
Setiap pagi yang ngantar Fifah dan Varo jadi kakeknya, dan yang jemput kadang Stev.
" Stev jangan lupa mampir apotik," pinta Tania kalau nanti Stev mau jemput Fifah dan Varo, karena bapak mau mengantar blanja ke kota, syukur di stand buah dekat apotik ada anggur hijau dibeli sekalian.
Tania setelah agak segar terus ke ruang makan mengambil roti isi daging, bersama Stev makan roti buatan ibu.
" Kamu tidak pusing kalau buat nasi goreng?"tanya Stev karena beberapa hari ini Tania tak membuatkannya.
" Nanti siang, kalau mualku hilang," jawab Tania, karena mualnya biasanya hanya pagi hari.
" Jemur matahari sana," perintah Stev, Tania keluar duduk di teras samping depan ruang makan, sedang Steven menggantikan kebiasaan Tania naik ke loteng membuka jendela, juga dia lagi baca baca buku diatas, ada sekitar 15 buku literatur kuno tentang peninggalan sejarah disini, dan waktu Tania sehat telah di ajak berkunjung ke tempat peninggalan yang dibahas di buku berbahasa Belanda. Setelah agak mendingan Tania menyusul ke loteng, Stev lagi berdiri di jendela sebelah barat memandang loji loji anak anak Cornelis, Tania mendekat dan memeluk pinggang Stev dari belakang yang baru ia lakukan ke Stev, tangan Stev meremas jemari lentik Tania.
" Tan, kamu sudah mulai mencintaiku?" tanya Stev membalik tubuhnya dengan mendekap erat tubuh Tania.
" Iya Stev," jawab Tania dengan mengeratkan pelukannya dan kepalanya di senderkan di dadanya.
" Kamu tahu, setiap kali doa habis Sholatku," kata Stev mengecup ecup ubun ubun Tania lembut.
" Iya, apa?" Tania mendongakan kepala menatap wajah tampan Stev, dengan bola mata biru dan rambut coklatnya, sehingga Stev membungkuk untuk mengecup bibirnya yang mulai pudar pucatnya.
" Ya Tuhan, tolong jangan ambil istriku terlebih dahulu sebelum aku, aku takut Tuhan, seperti ketakutanku saat Tania meninggalkan Belanda," bisiknya lembut.
" Aku sudah enggak mau sedih lagi Stev, aku ingin selamanya bahagia denganmu, jangan doa kaya gitu, aku sudah lelah dengan kata perpisahan," jawab Tania semakin mengeratkan dekapannya.
" Tapi kita tak tahu kedepannya, seperti Rudolf yang hanya berharap berjodoh dengan Utari pada kehidupan lain," jawab Stev yang takut juga ditinggal Tania.
" Iya Rudolf," jawab Tania yang merasa pria yang dipeluknya erat itu Rudolf.
" Utari," Stevpun merasakan bahwa wanita yang ada di dekapanya Utari.
" Nduk," panggil ibu mengagetkan keduanya, dan berdua menuruni tangga.
" Iya bu," ucap Tania
" Anak anak pada minta ikut kami ke kota," pintanya, Tania mengangguk.
" Aku mau cari anggur hijau dulu, Fazal ikut Papi dulu," pinta Stev mengajak Fazal yang lagi minum milk coklat pakai gelas dekat Utynya.
" Tapi tanpa test pack kamu terlihat kaya bumil," kata ibu setelah Stev berlalu menggendong Fazal.
" Iya bu, tapi ini gejalanya lebih hebat dari anak anak dulu terutama bangun tidur," jelas Tania.
Stev pulang menggendong Fazal dengan ceria membawa tas plastik kecil.
" Ada Tan, tidak ada satu kg, cuman segini saja," kata Stev yang langsung di berikan ke Tania, wajah Teniapun terlihat ceria, setelah di cuci dimakan satu satu. Stev melingkarkan tangan ke leher Tania yang memangku Fazal dan mengecup ubun ubunnya.
" Bu, nanti sama beli buah buah aneh yang tak ada disini ya," pinta Tania sambil menikmati anggur.
" Aku ke apotik dulu," kata Stev berlalu dengan naik sepeda.
Siang hari tinggal berdua di dalam rumah, kalau bale dan yang lain lagi di sewa foto prawedding oleh beberapa calon temanten, sehingga sudah mulai ramai, Oom Bahtiar biasanya hanya datang akhir pekan.
" Pada usia mba Tania atau wanita yang lebih tua memiliki potensi untuk melahirkan bayi kembar, karena wanita pada usia itu cenderung mengeluarkan lebih dari satu folikel sel telur ketika masa subur atau ovulasi," kata dokter Eliana yang mengoperasi Tania saat Fazal lahir.
" Oh gitu ya dok," kata Stev, dokter Eliana terkejut juga kalau Stev pinter bahasa Indonesia.
Dan setelah Mertua di Belanda di kabari, mereka sangat girang mendengar berita ini karena Stev anak satu satunya juga kaya Tania, mereka langsung pesen tiket untuk datang menyaksikan cucunya lahir nantinya, mereka berdoa semoga baby perempuan yang lahir.
Stev berusaha untuk membuat Tania senang saat hamil, maka tak mau sedikitpun menyakiti Tania, dia melihat sendiri Fazal, selama hamil Tania di dera penderitaan yang luar biasa, akhirnya dengan tawakal juga sabar Tania mampu melalui rintangan itu, dia memutuskan untuk hidup bersama anak anak, tapi hamil dalam keadaan yang seperti itu berpengaruh pada Fazal, dia tak seperiang kakak kakaknya, lebih banyak diam dan suka menyendiri.
Sebenarnya tak ingin tahu tentang jenis kelamin bayi kembarnya, tapi karena Stev ingin tahu, akhirnya dokter memberitahu perkiraan bayi kembarnya.
Sementara Stev di bantu Tania mengenai usulan penelitian peninggalan Hindu dan Budha yang banyak ditemukan disini diterima, apalagi di dukung literatur peninggalan kakek Peter, maka keseharian Stev cukup sibuk. Kebetulan ijin dari pemerintah disini juga cepet keluar, juga telah diijinkan untuk mengorek fakta tentang praktik praktik modal swasta khususnya pada perkebunan teh di lokasi desa wisata, mungkin langsung dikaitkan dengan keberadaan loji disini. Tania sama Ezra dulu hanya mampu mengungkap buku harian Peter, buku ini setiap tahun dicetak selain dalam bahasa Indonesia juga Inggris maupun Belanda dan selalu terjual habis, bahkan kabarnya akan difilmkan. Tapi Stev agak kurang senang karena Tania jadi setiap hari ketemu Ezra.
" Tan, bisakah kamu setiap hari tak ketemu dengan Ezra," pinta Stev yang merasa kurang nyaman apalagi sedang hamil.
" Bukankah kamu selalu ada di dekatku," jawab Tania.
" Iya juga, tapi dia kalau dekat kamu jadi kegenitan," ujarnya cemberut.
"Kaya perempuan saja genit, bukankah aku tidak genit sama dia," jawab Tania tertawa, Stevpun manyun bibirnya.
" Habis kamu masih tetap cantik," kata Stev mendekap Tania.
" Aku padahal minder Stev, habis tubuhku melar banget,"jawab Tania yang merasa kehamilan ini tubuhnya gede.
" Tidak, kamu tetap menarik, aku kalau dekat kamu mesti otakku selalu tertuju ke itu saja," jawabnya sambil mengelus perut yang telah membuncit.
" Sayang, kalau nendang perut bunda jangan keras keras ya, bunda jadi merengis, kalau meringis sama Papi enggak kesakitan ya," lanjut Stev yang suka bercanda, bibir Tania di kecup kecup lembut.
*
Mertua Tania hari ini datang sedang di jemput Steven di Bandara, dan Tania beserta keluarga sudah berada di rumah Ayah di kota, karena nanti habis Isya jadwal Tania operasi cesar. Rencana Stev akan menunggui Tania saat proses persalinan.
Dan Mertua Tania datang langsung supaya istrahat di kamar, mereka datang tidak hanya berdua tapi berempat, yaitu adik mertua karena dulu tak sempat ikut saat weedding Steven.
" Tan, perlengkapan baby tidak ketinggalan?"tanya Steven seperti gugup menghadapi persalinan istrinya, apalagi membaca dari berbagai artikel tentang operasi cesar sampai 4 kali beresiko, walau Tania hamil apalagi sekarang kembar selalu dalam pengawasan dokter, dan tentu doa ke Allah paling utama, setelah di cek kesehatannya baik bayi dan Tania semua sehat.
" Tidak, bukankah kamu tadi pagi yang masukin ke mobil," jawab Tania yang masih was was juga padahal sudah tiga kali operasi, mau empat kali ini, dan sangat mendebarkan, dokterpun menyarankan langsung steril.
Dan tiba waktunya habis Isya Tania masuk ke ruang operasi, sebelum masuk minta doa keseluruh keluarga agar diberi kelancaran dan kesehatan. Operasi dilaksanakan dengan Steven melihat proses yang mendebarkan, satu persatu bayi diambil dokter dengan cepat,
" Selamat Stev, perempuan babynya dan sehat semua," kata dokter Eliana. Stev setelah menyuarakan Adzan ditelinga kanan kedua babynya, mendekati Tania yang sudah dijahit perutnya.
" Terimakasih sayang, kamu wanita hebat dan kita akan tetap bersama seperti orang tua kita!" kata Stev mengecup kening dengan sangat lembut, air mata disudut matanya mulai pecah. Dan Tania beserta kedua baby perempuan berambut pirang juga bermata biru untuk sementara di bawa ke paviliun.Stev yang begitu bahagia merekam baby dan Tania.
"Selamat."
"Selamat."
"Selamat."
"Selamat."
"Selamat."
Ucapan selamat pada Steven dan Tania atas kelahiran putri putri kecilnya yang imut dan cantik.
******
Demikian akhir ceritaku ini, semoga cerita ini bisa menghibur pembaca semua, dan jangan lupa like ya. Terimakasih.