ROSES

ROSES
Part 14 Ulah Stephanie



Malam hari Ezra kedatangan tamu keluarga Tina.


" Rend, Ayahmu mau punya istri ?" tanya tante Tina mencoba mendekati Rendhi di dapur untuk menyediakan minuman buat tante Tina sekeluarga.


" Enggak tahu Te, aku tidak urusan dengan pribadi Ayah!" jawabnya.


" Kalau Ayahmu sampai punya istri lagi, berarti dia sudah lupa sama mendiang bundamu," kata tante Tina.


" Tetap ingat Te!" jawabnya datar sambil bawa nampan ke ruang tengah. Rendhi lama lama tidak suka juga dengan sikap tante Tina yang selalu mengusik Ayah, dan selalu mempengaruhi tentang ibu sambung tak akan menyukai anak sambungnya.


" Mas Ezra, kata Rendhi kamu mau menikah,"ucap Tina lantang, Rendhi kaget juga karena dia enggak ngomong.


" Te, aku..." ucap Rendhi belum selesai langsung dipotong Tina, sehingga Rendhi semakin tak simpatik padanya, dan berlalu menuju ke kamar dengan pintu dikunci dari dalam. Ayahnya tahu tentang sikap Rendhi. Ezra tak menjawab hanya berwajah masam.Itulah reaksi yang selalu ia lakukan saat Tina ikut campur pribadinya.


" Mas, aku tidak setuju kamu menikah!" ucap Tina lantang, dalam hati Tina akan melakukan berbagai cara untuk menghalangi apabila Ezra menikah. Dan sampai sekarang memang ia belum tahu siapa calon Ezra.


Sampai larut malam mereka sekeluarga belum mau pulang, malah berniat mau menginap. Ezra resah juga kalau hubungan nya dengan Tania gagal, dan Ezra bersyukur karena barang hantaran pagi pagi diambil Mirna untuk di buat semacam parsel. Suami Tina juga ikut mendukung sikap istrinya, juga adik adiknya, untung mereka pada diluar kota kalau kesini harus pakai pesawat, jadi hanya lewat sambungan seluler untuk memojokan Ezra.


Rendhi tak mau keluar dari kamar.


" Rend, buka dulu kamarnya, Ayah percaya kamu!" kata Ezra takut melihat sikapnya. Rendhi membuka pintu.


" Jangan dikunci kalau tidur!" lanjut Ayah.


" Yah, tidur sama Rendhi saja!" ajaknya, Ayahnya mengangguk.Karena sudah larut malam akhirnya tidur, keluarga Tina tidur di rumah Ezra.


Sementara itu Tania di datangi oleh Ferdian yang beberapa bulan sempat dekat dengan Tania.


" Tan, sekarang kamu berubah!"desak Ferdian dengan muka masam.


" Berubah bagaimana?" tanya Tania datar.


" Aku berkali kirim pesan bahkan panggilan tak diangkat," jawabnya wajahnya merah menahan marah.


" Atau kamu akan putus denganku seperti kamu lakukan pada Dani, Rio juga Erik!" lanjutnya ketus.


" Terserah kamu dan aku tidak suka kamu mengungkit masa laluku!" jawab Tania ketus.


" Ok, kalau demikian kita akhiri saja hubungan kita!" jawabnya terus dia langsung pamit. Tania memang beberapa kali menjalin hubungan dengan laki laki yang disebut Ferdian tapi tidak pernah serius, hanya sekedar cari pengalaman, biasanya kalau laki lakinya sudah benar benar mau mencintai, dia mulai menjauh, tapi tidak dengan duda beranak satu ini, Tania benar benar jatuh hati padanya.


Taniapun malam ini bisa tidur nyenyak.


" Tan, hari ini aku piket di sekolah, aku mau baca di perpustakaan," pesan Ezra.


" Mas, koq mendadak, kemaren katanya enggak piket," bales Tania.Tania agak penasaran, akhirnya dia vicall.


" Halo Mas," sambung Tania, Ezra masuk kamar di kunci.


" Halo Tan," sambung Ezra.


" Koq ramai di rumah," kata Tania.


" Iya, ini ada keluarga adik mendiang bundanya Rendhi," jawab Ezra.


" Mau jam berapa brangkat ke sekolah," kata Tania.


" Ini mau berangkat," jawabnya.


Sambungan telepon ditutup karena sudah cukup, berbicara dengan Tania.


Ezra menuju sekolah langsung ke perpustakaan, disitu sudah ada beberapa teman, dia cari tempat agar konsentrasi tidak buyar.


Ezra membuka halaman yang belum kebaca.


Malamnya Paman, Bibi dan Utari disuruh datang ke loji, karena kondisi Papa tidak bisa ditinggalkan, mau minta bantuan kakak kakak Peter, Mama takut kalau rencana bisa digagalkan karena keluarga Stephani tentu mendengar dan mereka akan menggagalkan rencananya.


" Jonathan, kamu tahu aku semakin tua, Papa juga kondisinya seperti itu, jadi aku lebih setuju Peter menikah dengan Utari," kata Mama beberapa hari lalu, ternyata Jonathan dan yang lainnya berusaha mengerti, yah karena keluarga Pamanlah membuat Mama tidak repot.


Setelah Paman dan Bibi juga Utari datang maka diutarakanlah niat yang berkali kali di katakan yaitu rencana untuk menikahkah Peter dan Utari sesegera mungkin, diusahakan minggu depan mereka sudah menikah. Tanpa diketahui sebelumnya Stephani datang dan berusaha menggagalkan rencana pernikahan keduanya.


" Apa Mama tidak kasihan denganku, beberapa hari yang lalu aku dan Peter mengadakan hubungan," kata Stepani dengan diiringi tangis yang memilukan olehnya, Aku terkejut dengan pernyataan itu, Utari menangis, Paman dan Bibi menunduk, hampir hampir ketiganya keluar dari loji ini, tapi melihat Mama yang bersedih diurungkan niatnya. Mereka bertiga bekerja disini benar benar ikhlas.


" Peter, benarkah kata Stephani?" tanya Mama terpukul sehingga diapun air matanya tumpah, hati Mama tak bisa menerima Stephani, karena Mama tegang memikirkan ini, iapun pingsan, Utari langsung sigap demikian Bibi juga Peter, mereka bertiga mengangkat tubuh Mama yang kurus ke kasur. Utari lari ke dapur membuat teh hangat diminumkan sesendok demi sesendok, Bibi memijit mijit jari jari kakinya, sementara Stephani sama sekali tak menengokpun di kamarnya, Paman hanya mondar mandir di luar kamar Mama. Aku mengelus elus rambut kepala Mama, mataku panas mungkin merah karena ketakutanku pada Utari setelah mendengar kata kata Stephanie sehingga dia berencana untuk tidak menikah denganku, pikiran ini yang ada di kepalaku, kepala semakin pening juga kening menjadi nut nut.


" Utari, kamu lebih percaya omonganku!" kataku saat Utari menyuapi Mama minuman teh hangat ke mulutnya, Utari mengangguk pelan, kulihat matanya mengembun, sepertinya dia menahan sekuatnya agar air tidak jatuh dari matanya. Lama lama Mama sadar yang diucap dari mulutnya nama pertama kali.


" Utari Utari!" sebutnya lemah, dan Utari mendekat.


" Sini nak, mendekat ke Mama!" kata Mama lirih tangannya panjang memegang kepala Utari agar dia mendekat ke wajah Mama dan Mama mencium wajah Utari beberapa kali dengan tangis pilunya.


" Tari, maukah kamu menikah dengan Peter?" tanyanya lirih ditelinga Utari.


" Iya Ma aku mau, Mama sehat ya, kasihan Papa!" jawabnya dengan air mata berderai di pipinya untuk menguatkan Mama.


" Menikahlah dengan agamamu, Mama ikhlas!" kata Mama pasrah. Sepertinya yang jadi alasan pertimbangan Utari ialah kalau menikah sesuai dengan agamanya juga. Aku mendekati Paman yang sudah berdiri agak jauh dari pintu kamar Mama.


" Paman, lebih percaya denganku?"tanyaku, Paman mengangguk, kulihat Stephanie tak terlihat di ruangan ini, aku tak peduli tentang kepergiannya.


" Nak, besok aku cari guru mengaji atau Salim saja!" jawab Paman, aku menyarankan Salim yang mengajariku.


" Nanti bisa belajar di pos saat mengawasi pekerja," saran Paman, aku kalau di pos untuk mengusir kejenuhan biasa lebih suka membaca.


" Besok pagi aku bawakan buku hafalannya dulu," lanjut Paman. Karena sudah malam, Mama juga mulai tenang, Paman beserta keluarga mohon pamit.


Pagi pagi Stephanie datang lagi ke lojiku, dan langsung menemui ke loteng, dia sudah hafal betul kegiatanku saat tidak ada di kamar. Aku sedang membuka jendela yang lurus dengan tangga, langsung dia memeluk dari belakang, aku melihat Utari tidak jauh dari tangga melihat tentang apa yang dilakukan Stephani.


" Stephanie, kamu benar benar wanita tak punya hati,"ujarku sambil memaksa dia untuk melepaskan pelukannya, tapi dia memiliki tenaga kuat karena anak tomboi sehingga lama aku baru bisa melepaskannya.


" Peter, pokoknya kamu harus menikahiku," desaknya dengan wajah tak bersahabat, aku diam rasanya membuang energi menjawab omongannya. Di loteng biasanya bisa menulis mulai kejadian tadi malam karena ada Stephanie maka aku cepat cepat turun menuju pekarangan bergabung dengan Paman yang sedang memotong pisang. Stephanie tanpa malu mengikutiku dengan wajah cemberut.


Hari hari berlalu, Salim anak alim mengajariku dengan sabar, tapi aku mudah hafal dan selama satu bulan aku sudah bisa membaca huruf pada kitab, bahkan suratan suratan sudah banyak yang hafal, dan akhirnya kegiatan di loteng aku manfaatkan untuk memperdalam ilmu agama, aku juga sudah melaksanakan Sholat. Utari melihat perkembanganku yang begitu cepat sangat gembira. Selama satu bulan Stephanie selalu menggangguku, kadang menyusul saat di perkebunan, tapi aku tak mempedulikannya lama lama iapun mundur, tapi tahu tahu dia mengagumi Salim, ternyata Salimpun menerima Stephanie, dan setiap hari Stephanie mengunjungi Salim di kebun.


" Salim, kamu serius dengan Stephanie?"tanyaku hati hati.


" Iya, Peter!" jawabnya, aku memang melarang dia kalau lagi sendiri panggil tuan demikian pada Tarjo.


" Ya, cepet cepet menikah saja!" saranku.


" Tapi keluargaku takut untuk meminangnya!" jawabnya, wajahnya terlihat sedih.


" InsyaAllah Stephanie bisa mempengaruhi orangtuanya, mereka juga orang orang moderat!" jawabku memberi semangat.


" Ya coba kalau dia kesini!" jawabnya, biasanya Stephanie datangnya habis istirahat siang, Tarjo hanya diam kebetulan dia sudah beristri.


" Aku pulang dulu, Utari sudah menyiapkan makan siang," kataku semangat, sekarang Utari dan Bibi sudah pintar bikin kue diajari Mama, sehingga Mama full waktunya untuk merawat Papa, di bantu orang orang di loji yang aku tempati, Bibi selalu buat jamu jamu tradisional untuk mengobati Papa, dan Papa mulai ada perkembangan. Itulah Mama merasa berat kalau ditinggal keluarga Paman.


" Tardi, sampai aku dan Papa tidak ada kamu dan keluarga harus ikut aku!" desak Mama suatu hari.


" Iya Nyonya, aku juga tak berniat meninggalkan keluarga ini!" jawabnya.


*


" Pak Ezra, bapak pucat sekali!" sapa Kepala Perpustakaan dengan memijit kedua bahu Ezra, terus dia memberi gelas berisi air putih oleh Ezra diterima dan di minum. Disini Ezra dengan sekuat tenaga untuk memulihkan kesadarannya agar tak berlama lama hanyut ke kehidupan Peter. Ezra yang bawa cemilan di keluarkan dari tas ranselnya, dan dimakan bersama dengan yang lain.


Kemudian Ezra turun dan berusaha menghubungi Tania.