
" Rendhi," mengenalkan dengan anak Oomnya Tania usianya sama.
" Alfat," dia menyebut namanya. Keduanya ngobrol di kamar dengan saling bercanda.
" Alfat sama Rendhi langsung akrab," kata Tania menengok keduanya di kamar.
Sementara Ezra awalnya sempat cerita tentang mimpinya tadi malam, akhirnya menghentikan setelah bapak dan ibunya ikut menemui di ruang tamu.
" Nduk, dibikinkan minuman Mas Ezra," kata ibu setelah ikut duduk di ruang tamu. Tania masuk kedalam membuatkan minuman. Ketiganya ngobrol tentang banyak hal, sampai akhirnya, Ezra mengutarakan keseriusan dengan Tania, tapi Tania belum siap sekarang.
" Aku ingin menyelesaikan tugas dulu," jawab Tania dihadapan Bapaknya. Sore menjelang Magrib Ezra berpamitan.
" Rendhi tidur sini," ajak orangtua Tania, Rendhi menolak kasihan ayah sendirian.
Masih belum begitu malam Rendhi sudah tidak bisa menahan kantuk sehingga ia masuk ke kamar membaringkan tubuh, dan langsung tidur. Sementara ayahnya tak jua mampu memejamkan mata, membayangkan Tania sepanjang waktu, ingin rasanya ia menyudahi lajang ini secepatnya, tapi Tania belum mau, dia tidak menginginkan rumah tangganya selalu di bayang bayangi peristiwa di loji itu. Malampun semakin larut, iapun meraih buku yang disimpan ditempat jauh dari jangkauan Rendhi khususnya, karena Ezra tak mau anaknya terpengaruh roman itu, yaa roman yang belum bisa dibaca oleh anak seusia itu.
Buku sudah ia pegang ditangannya, seolah ada bayangan hitam berkelebat menjatuhkan buku, padahal ia merasa sudah mencengkeram buku itu kuat kuat.
" Praak," tertegun Ezra melihat buku itu jatuh ke lantai, dipungut sampul hitam buku kuno yang masih kuat menjepit kertas kertas di dalamnya dengan warna kertas kecoklatan.
" Mungkinkah aku tidak boleh membacanya," gumannya sambil melihat sekeliling ruangan.
" Mas, kalau ingin cepat cepat kita nikah, secepatnya buku itu di baca," kata Tania tadi sore saat mereka bisa berdua, karena Ezra ingin cepat menikahinya.
Sementara Tania malam ini hatinya gelisah, tak ada alasan mengapa ia menjadi segelisah ini, semua serba tiba tiba, tangannya mengambil ponsel yang diletakkan di meja belajar di kamar. Ada panggilan tak terjawab, dibuka profil berbentuk lingkaran, " Roses kombinasi, ini kesukaan Peter, bukankah dia sudah wafat," gumannya, hati Tania semakin tambah gelisah, dan malam ini sepertinya tinggal ia saja yang belum tidur dengan kegelisahan aneh di lubuk hatinya.
" Halo Mas, aku tidak bisa tidur," panggilan Tania ke Ezra, karena ia berkali kali menghubungi Tania tapi tidak diangkat, ponselnya kalau malam di silent. Dan Ezrapun menceritakan malam ini tentang buku itu.
" Mas, coba dibaca siang hari," saran Tania diujung ponselnya.
" Emmm, benar juga saran Tania," gumannya. Akhirnya dengan segala cara Ezra maupun Tania yang tidur dirumah sendiri sendiri berusaha memejamkan mata.
"Gadis cantik siapa namamu?" sapa pemuda dengan berpakaian ala tuan tuan Belanda, sedang mengawasi daun daun teh yang dipetik wanita wanita pribumi dengan caping lebarnya.
" Utari."
" Aku Tania tapi kenapa mengatakan Utari, pakaianku juga aneh, ini pakaian wanita pemetik teh tempo dulu, " guman Tania antara tidur dan tidak.
Malam itu Ezrapun terkejut, tahu tahu dia menggunakan baju ala tuan tuan Belanda sambil membawa tongkat besi mengitari kebun teh, dan bertemu dengan seorang gadis. Gadis itu menyebut Utari.
" Tuan tentu bernama Peter," kata gadis itu lembut.
" Iya aku Peter, kamu sedang menunggu siapa?" tanya Peter lembut juga.
" Sedang menemani ibu," jawabnya menunduk, wajahnya berubah pucat, tangannya gemetar.
" Kenapa gerangan gadis ini, emmm dia melihat saudaraku Joseph?" guman Peter.
Joseph itu kakak Peter, usia mereka beda satu tahun, sehingga seperti anak kembar, tetapi mereka memiliki karakter berbeda, kalau Joseph berwatak keras dan tegas sedang Peter lebih lembut juga penyayang tetapi tetap tegas dan keduanya baik tidak mau membedakan antara pribumi dan mereka. Kedua bersaudara itu sudah di percaya oleh orangtua untuk mengawasi perkebunan teh yang dimiliki oleh Tuan Cornelis ayah mereka.
" Ada tuan Joseph," bisik bisik para wanita pemetik teh, dengan rasa takut, mereka tak ada yang bercanda, tuan Joseph tak suka melihat orang bekerja sambil bercanda, dan dia akan marah dengan tidak segan segan menghardik atau memukul dengan tongkatnya. Bahkan Utari yang duduk didekat daun teh hasil petik ibunya tubuhnya bergetar kecang.
" Hai siapa kamu?" hardik Joseph pada Utari dengan memukul tongkat ke jari jari kecilnya, Utari meringis kesakitan dengan menunduk.
"Jos, jangan main pukul orang," tegur Peter, dia tidak tega kalau melihat Joseph dengan tongkatnya dipukulkan ketubuh para pekerja.
" Kamu selalu membela para pekerja," jawab Joseph keras, wajahnya terlihat merah padam karena geram.
" Bukan membela," jawab Peter pelan. Joseph pergi dengan marah marah dan para pekerja yang tak sengaja bertemu dengannya menjadi sasaran kemarahannya. Ayahnya tuan Cornelis sudah menasehati tapi malah jadi ribut dan selalu mengancam akan pulang ke Belanda.
Utari di dekati Peter, di pegang jari jemarinya,
" Uhhh, Joseph mukulnya keras, sampai biru," guman Peter sambil mengelus jari Utari, dan mengusap air mata dengan jari tangan.
" Hmmm gadis ini cantik, bulu matanya lentik," guman Peter menatap tak berkedip pada gadis di depannya.
" Aduuh Tuan, sakit," jerit lirih Utari, ibunya yaitu Bi Tami sambil memetik teh menunduk, air matanya menetes dipipi.
" Tadi Utari jangan diajak," ucap temannya lirih.
Tak lama kemudian datang tuan Cornelis menghampiri Peter yang sedang mengusap pipi Utari.
" Peter, kenapa gadis ini?" tanya tuan Cornelis melihat bekas pukulan di jari tangan Utari.
" Joseph keterlaluan, dia tidak bisa mengubah sikap,"ucap Tuan Cornelis kesal.
Peter mengambil obat memar, dioleskan pada punggung jari Utari lembut.
" Sakit?" tanya Peter lembut, Utari mengangguk pelan sambil menunduk lesu.
" Tuan, Utari ingin ikut kerja disini," kata ibunya, sambil meletakkan keranjang daun teh di dekat Utari.
" Dia masih kecil, umurnya berapa Bi," kata Peter sambil melirik Utari.
" Baru 13 tahun Tuan," jawab ibunya Utari, yang di panggil Bi oleh Peter.
Bapaknya Utari sudah bekerja ikut Tuan Cornelis sejak masih lajang, karena istri dan anaknya tak pernah di ajak ke loji sehingga keluarga Cornelis tidak mengenalnya.
" Peter, jangan memanjakan pekerja," suara Joseph mengagetkan Peter saat mengoles obat memar, Utari dan Ibunya menunduk takut.
Dan Joseph berlalu sambil menendang keranjang dekat Bi Tami.
" Bi, kakakku begitu, mohon dimaklumi," kata Peter pelan. Peter meninggalkan Bi Tami dan Putrinya, untuk mengawasi pemetik pemetik teh lainnya. Peter pergi melirik Utari, dengan wajah kemerahan Utari menunduk takut.
" Utari, besok kamu jangan ikut," kata ibunya, Utari mengangguk.
" Peter, caramu pada pekerja tidak baik, kamu lemah,' kata Joseph tegas.
" Jos, aku tidak tega bersikap kaya kamu," jawab nya pelan.
" Aku sudah bilang Mama, kamu besok jangan turun ke kebun," kata Joseph penuh ketidak senangan ke Peter.
" Jos," hanya itu yang diucapkan Peter, dengan kesal dia meninggalkan Joseph yang sedang mengawasi pekerja tanpa senyum di wajahnya. Joseph tahu Peter telah meninggalkan Utari, iapun mendekatinya dan menghardik keras, sambil melayangkan tongkat ke ibunya.
" Tuan ampun," seru Bi Tami dengan duduk bersimpuh dua tangan di katupkan.
" Tuan, jangan pukul ibuku, aku saja," tangis Utari menangis, saat tongkat dilayangkan ketubuh Utari, tangan Peter menangkap.
" Aahh," seru Peter kesakitan terkena sabetan tongkat.
" Peter, tunggu balasanku," ancam Joseph pergi dengan geram.
Ezra terjaga dari tidur, dan, " Aaaach, sakit sekali tangannya," Ezra terengah engah nafasnya dengan menahan sakit pada tangannya,
duduk di pinggir ranjang menarik nafas panjang, tangan yang sakit dilihat, biru seperti menghantam nakas sangat keras. Ezra berjalan mengambil obat oles memar.
" Tapi tulangnya terasa sakit juga, semoga tidak retak," guman Ezra dengan menahan sakit.
Sementara Tania nafasnya naik turun dengan cepat, jari jarinya terasa sakit, dilihatllah jari kanannya.
" Memar," gumannya terbengong bengong dengan duduk disisi ranjang, jari jarinya terasa sakit dan panas. Taniapun mencari salep memar, sambil berpikir.
" Utari, yaaa Utari," gumannya, Tania melihat jam di ponsel, jam tiga dini hari.
"Apakah aku bermimpi, dalam mimpi itu aku jadi Utari?" ucapnya lirih.
" Thut thut thut," bunyi panggilan di ponsel yang sedang dipegang, " Oh Mas Ezra," dan keduanya bercerita tentang mimpinya barusan.
" Mas, coba bukunya di baca," ucap Tania di depan ponselnya, ia pun mondar mandir di kamar dengan perasaan gelisah, dan berhenti berdiri di meja belajar, tangannya memegang kursi erat yang biasa diduduki untuk belajar, ia melihat buku buku telah tertata rapih, karena sejak beberapa hari yang lalu telah menyelesaikan pendidikannya tinggal menunggu wisuda, tapi tak jua memperoleh jawaban untuk bisa melepas ingatan dari peristiwa di loji 13, kemudian matanya ia arahkan ke jendela di kamar, ingin dia membuka gorden,
" Ups, masih sekitar jam empat pagi, mataharipun belum terlihat diufuk timur," gumannya bingung. Dia membalikan tubuh dan berjalan mendekati ranjang, duduk ditepian ranjang, tubuhnya ia senderkan di sandaran bed, semua ia lakukan untuk menemukan jalan agar dia dan Ezra tak selalu diikuti mimpi mimpi tentang Peter.
Ezrapun demikian, rumah tua yang ia beli dari sahabat orangtuanya, sebenarnya merasa nyaman ia tempati, hanya saja orang sering mengatakan rumah yang sudah tua kadang makhluk lain ikut hidup disitu.
" Bukankah rumahku sudah direnovasi," gumannya dengan memandang langit kamarnya yang tinggi, dia memang kembali rebahan di kasur, ia masih enggan untuk sekedar duduk disisi bed, atau berjalan mengambil air mineral yang biasa dilakukan kalau bangun, dan iapun lebih baik menghubungi Tania saja sambil tiduran karena ponsel ada di dekat kepalanya.
Dan ups ada kelelawar. Dibiarkan binatang itu menggantung di langit kamarnya.