
" Halo Tania kamu dimana?" sambung Farah melalui ponselnya.
" Aku di rumah Ezra," jawab Tania penasaran seperti tergesa gesa Farah menelponnya.
" Ferdian wafat Tan!" kata Farah disana.
"Innalillahiwainaillaihirojiun!" ucap Tania, Ezra dan Rendhi bersama sama, karena suara Farah didengar oleh mereka.
Bertiga menuju ke rumah orang tua Ferdian, orangtuanya telah ikhlas dan tidak menyalahkan Tania, karena Ferdian suka minum sejak dulu.
" Mas, bacanya besok lagi ya, ini sudah sore," kata Tania di jalan saat pulang layat Ferdian, Ezra mengiyakan dan mengantarkan pulang Tania.
" Rend, ingin makan ke warung," ajak Tania setelah sampai di rumah Tania, ia menolak di samping lagi ramai pengunjung juga masih kenyang. Ezra tidak turun toh orangtuanya belum pulang dari kantor. Dia anak tunggal, tapi tidak manja, bahkan sangat mandiri. Dan kalau pulang selalu menyempatkan waktu untuk mengontrol warungnya juga pembukuan, sedangkan karyawan yang bekerja ada enam dengan kerja secara bergantian.
Sementara Ezra sampai rumah, terus merebahkan tubuh di sofa di ruang tengah dengan pegang remote tv, tapi hanya untuk mainan di bolak balik remote itu.
" Rend, besok hari Minggu ya," kata Ayah saat Rendhi mendekati ayah duduk di kursi sebelah. Rendhi mengiyakan dengan meminta remote yang dipegang ayahnya, terus dia menyalakan tv.
" Rend, ayah bikinkan kopi," pintanya, dia bukan penggemar kopi cuma sewaktu waktu pingin minum minuman itu, hanya untuk menghilangkan rasa penat di otaknya, selama liburan ini setiap hari yang membuat penasaran yaitu tentang misteri loji 13 juga bayi Utari.
" Yah, lauk yang dari tante Tania masih, tinggal goreng," ujar Rendhi sambil ganti chanel tv.
" Pengin beli soto, itu untuk pagi," jawab ayah, Rendhi mengiyakan.
" Hari ini aku tinggal membaca yang penuh kebersamaan," gumannya dalam hati.
" Kalau aku sudah menikah tentu bisa bersama dengan Tania," lanjutnya lagi dengan dahi mengkerut. Ezra sudah beberapa hari juga belum mencium Tania, sehingga sambil tiduran di sofa mengetik pesan ke Tania.
" Tan, aku kangen," pesannya
" Mas, barusan kita ketemuan," balesnya.
" Tapi aku belum sempat kamu cium," balesnya ngeledek.
"Mas, apa biasanya aku dulu yang melakukan itu," balesnya dengan emoji mata.
" Ya kadang begitu hehehe," balesnya,
Ezra begitu kangen dengan Tania walau sedari siang bersamanya tapi terasa momentnya beda.
" Rend, ayah keluar sebentar ya mau ke rumah teman," kata Ezra tidak mau terus terang menemui Tania, Rendhi mengiyakan.
" Yah, beli soto ya," pinta Rendhi, ayahnya mengangguk.
Ezra menuju ke rumah Tania, dia sudah menjemput di teras sambil merawat bunga di pot, dan menyambut dengan senyum.
" Tan, Bapak, ibu kamu sudah pulang?" tanya Ezra sambil dipersilahkan Tania masuk ke ruang tamu, Ezra pengin banget memeluknya, tangan Tania di remas.
" Mas, orangtuaku sudah pulang," bisik Tania pelan.
" Jadi kapan?" tanya Ezra kecewa.
" Kalau sudah menikah!" jawab Tania matanya menatap lembut.
" Kalau itu tidak hanya sekedar meluk tapi juga...."jawabnya meledek, Tania tahu maksud bicaranya kearah itu, jadi cuma menanggapi dengan senyum senyum.
Mereka habis Magrib keluar setelah ijin sama orangtua Tania, orangtua Tania percaya kalau Tania bisa menjaga diri dan Ezra orang bertanggungjawab sehingga selalu mengijinkan.
Keduanya menuju ke kedai soto semarang yang selalu banyak pengunjung setiap harinya, tangan Ezra tak mau lepas menggandeng Tania.
" Mas, dibawa pulang saja nanti Rendhi nunggu," ujar Tania, Ezrapun menyetujui. Mereka berdua pulang ke rumah Ezra, di dalam mobil di halaman rumah, Ezra menyempatkan mengecup bibir Tania, Tania membalas lembut kecupannya. Kemudian mereka turun, terus makan malam bertiga, dan langsung mengantar pulang Tania.
Pagi hari Tania datang lebih awal ke rumah Ezra, mereka ingin cepat cepat menyelesaikan bacaannya, bertigapun naik ke loteng, dan Ezra siap untuk membaca.
Peter POV
" Utari, untuk merayakan pernikahan rencana kita ke kota!" kata ku sehabis tiduran bersama.
" Peter, aku ambilkan ramuan minuman buatan ibu!" ujar Utari bangkit dari kasur, walau dia sekujur tubuh terasa remuk tapi tetap melayani ku untuk mengambil minuman, kulihat dia berjalan dengan terseok seok dan memberikan gelas padaku yang masih berbaring menahan rasa kantuk.
" Utari, kamu belum jawab untuk rencana ke kota," desakku, untuk ke kota pada jaman ini satu satunya kendaraan pakai kuda, sedangkan untuk membawa barang bawaan hanya pakai gerobak yang ditarik kuda, belum jalan yang dilalui kadang kurang aman, karena harus menghadapi perampok, tapi aku berangkat bisa bersama sama menuju kota pelabuhan dengan rombongan gerobak yang membawa teh untuk di bawa ke pelabuhan, demikian pulangnya juga ikut rombongan gerobag, dan ini selalu di lakukan oleh keluargaku di loji.
" Iya Peter, separoh hari perjalanan yang kita tempuh," ucapnya, aku mengiyakan.
" Besok, ada 15 gerobag menuju pelabuhan," kataku, selanjutnya Utari menyiapkan bahan mentah untuk hidup disana, dan orangtuaku punya loji dikompleks khusus orang Belanda sehingga aku menginap disitu. Kulihat ramuan yang sudah dikeringkan sama gula aren juga menjadi barang utama yang harus dibawa.Aku tertawa melihat bungkusan ramuan yang dikeringkan di masukan ke keranjang daun pandan.
"Peter, ini wajib di bawa!" katanya setelah dia melihatku tertawa, saat Utari sibuk menyiapkan ramuan itu.
Besok pagi habis Shubuh siap berangkat ke kota, malamnya kami habiskan waktu di kamar, sedang Utari selalu memberi tambahan nutrisi berupa kuning telor dan madu tawon sehingga tubuhku masih terlihat segar dan kuat.
Pagi pagi kami sudah naik gerobag diantar Paman dan Bibi juga saudara saudaraku, ibu mertuaku meneteskan air mata hanya karena mau di tinggal oleh putrinya yang hanya berjarak 100 pkm. Dan di dalam gerobag kami bertiga dengan kusir. Untuk menjaga keamanan Utari punya ilmu bela diri, dan membawa alat alat lain untuk persiapan demi keselamatan.
Didalam gerobag selain ada persediaan makan, minum juga ada kasur, bantal, tapi kami tak bisa tidur dalam perjalanan apalagi perut kaya di kocok karena naik gerobag selalu bergoyang, jalan juga tidak rata, belum lagi harus memberi makan kuda.Tapi perjalanan dari perkebunan menuju kota pelabuhan bagi kami sangat menyenangkan,00 apalagi bagi Utari yang merupakan pengalaman pertamanya ke luar kampung.
Sampai juga di kota dan gerobag tumpangan kami mengantar sampai ke loji, semua barang barang untuk keperluan disini kami turunkan satu persatu di bantu oleh kusir, sehingga pekerjaan berat kalau dikerjakan bersama akan lebih ringan. Di loji ini aku juga punya kamar sendiri, yang menghadap pekarangan samping, loji tetap terawat karena Mama menyuruh orang untuk membersihkan setiap hari, pekarangan juga ditanami dengan tanaman pangan, yang hasilnya untuk upah orang yang merawat loji. Setelah kasur sama Utari di beri sprei kami berdua langsung merebahkan diri saling memeluk.
" Peter, apa yang harus aku kerjakan disini?" tanya Utari lembut dalam pelukanku, tangan kecilnya mengelus elus punggungku.
" Disini kita bisa istirahat, kamu seharian di perkebunan siangnya kerja bantu ibu, malamnya melayaniku disini kamu hanya untukku saja," jawabku panjang, karena yang ia tahu hidup hanya diabdikan untuk orang lain, untuk diri sendiri tak dipikirkan.
" Tapi aneh bagiku Peter, aku belum terbiasa seperti itu, ini pertama buatku," kata Utari, wajahnya terlihat muram.
" Kamu terlihat sedih," jawabku, dia ku kecup bibirnya penuh kelembutan, diapun membalas dengan tangan memeluk tubuhku kuat.
" Aku ingat sama ibu, Mama, beliau tentu capek tanpa aku," jawabnya dengan melepaskan kecupan bibirnya.
" Sudah, tadi pagi Mama pesan ke kamu, bersenang senang sama Peter, jangan berpikir ke kami," jawabku, pelukan semakin aku pererat, ada buliran air disudut matanya yang indah, tidak tega aku melihatnya, sehingga lidah aku julurkan dan menjilat air matanya biar tidak jatuh ke pipi yang halus.
" Peter, pengin buat nasi goreng," ujarnya lembut.
" Boleh!" jawabku, punggung yang terbuka kucium, dia menuju ke dapur, membawa sisa nasi bekal dari rumah dan kami menikmati berdua malam ini pada suasana lingkungan yang berbeda, tepatnya dilingkungan yang lebih padat penduduk, bagi Utari ini juga merupakan kunjungan ke kota pertama kali.
Malam semakin larut, perjalanan yang melelahkan tak juga kami rasakan, mataku melebar saat Utari mengganti pakaian yang membelit tubuhnya, Utari sudah menggunakan baju kaya noni noni Belanda mulai kemaren, baju yang di buatkan Mama.
Terdengar suara cicak yang sedang merayap di dinding mencari mangsa, juga suara jangkerik mengerik di pekarangan balik kamar.
Hening suasana perkampungan Belanda, semua telah lelap dalam tidur masing masing, untuk menyongsong esok pagi yang penuh semangat.
Sementara aku dengan Utari karena sangat lelah habis perjalanan jauh yang melelahkan, mata tak mampu membuka.