ROSES

ROSES
Part 45 Surat Terakhir Stev



Stev menyadari kalau siang itu Tania belum bisa membaca, dan dia juga tahu di video Fazal yang sudah lancar berjalan juga berbicara mendekati Tania, dan vicall tidak boleh dimatikan karena ingin berbicara sama Fazal, dan Fazal rewel juga karena hari ini dia sudah tidak boleh ***** lagi sama bunda.


" Baru nangis ya Fazal, kenapa?"tanya Stev disana, Fazal malah terus mewek, Taniapun cerita tentang rewelnya Fazal.


" Biarkan dulu, nanti bilang sudah besar masih *****, lama lama malu," nasehatnya dari jauh. Vicallpun ditutup karena Tania mau jemput Varo pulang sekolah.


Siang itu dengan naik sepeda motor matic Tania menjemput Varo di TK, di depannya Fazal berdiri, tak begitu jauh letak TK Varo dengan rumah juga satu lokasi dengan SD nya Fifah. Varo melihat bunda dan Fazal menjemput terus lari menghampiri juga Fifah yang pulangnya sama selalu dijemput sekalian, dengan membawa tiga anak yang masih kecil Tania menjalankan motor maticnya pelan pelan, apalagi tanah disini tidak rata karena daerah pegunungan.


" Pegangan bunda nduk," pinta bunda karena Fifah kedua tangannya tidak melingkar dipinggang bundanya. Fifah mengiyakan, cuma Varo protes karena duduknya sempit.


" Emba, Varo kejempit," protesnya, keduanya pada ribut di jalan.


" Kakak adik tidak boleh pada nakal nakalan," seru bundanya sambil melajukan motornya pelan. Setelah sampai dirumah orangtua Tania selalu membantu menurunkan ketiga cucunya, Tania sering melihat mata ibunya berair, kalau ketahuan Tania ibunya langsung melengos.


" Bu, aku yang menjalani sudah move on," kata Tania mencium pipi ibunya. Tapi bukan berarti move on berpindah kelain hati, tapi melupakan kesedihan rumah tangganya. Tania hanya fokus pada tiga anak anaknya. Justru yang tidak bisa move on Ezra, itulah semakin hari tubuhnya rusak, ditambah Devina dan Askila sulit dikendalikan, sering tidak berangkat sekolah juga tak mau mengaji, juga pandai mengarang cerita, belum kalau minta sesuatu harus dituruti, pernah suatu ketika minta ikut Ezra menemui anak anak di loji.


" Iiiih hanya naik motor, enggak naik mobil, rumahmu jelek, enggak kaya rumahku," ejeknya dengan muka nyinyir ke Fifah dan Varo. Ezra yang mendengar ejekan itu.


" Devina dan Askila enggak boleh mengejek, dosa lho," nasehat Ezra lembut, tapi malah keduanya marah marah minta pulang dengan lari ke mobil dan mobilnya dipukul pukul pakai tangan.


" Ayah hanya sayang pada Fifah dan Varo," protesnya keras, dan karena Ezra geram membiarkannya.


" Itu juga yang membuat kurus kamu ya Zra," kata bapaknya Tania, Ezra mengiyakan.


" Ini hukumanku Pak," jawabnya pilu.


Bahkan Rendhi kalau pulang ke Indonesia nginep di rumah nenek atau di rumah Tania.


" Rend, enggak nginep di rumahmu," tanya Tania saat Rendhi pulang dan menginap di rumah Tania.


" Males bunda lihat Devina dan Askila, jadi pikiran, mending enggak lihat sekalian," jawabnya, Tania tersenyum.


" Bunda saja tidak sanggup mengasuhnya, kalau kedua anak itu kaya Fifah dan Varo tentu bunda enggak ninggalin ayahku," lanjutnya panjang dan matanya mengembun


" Mungkin Rend,"jawab Tania seolah memberi harapan ke Rendhi, tapi benar nyatanya dengan Rendhi Tania mau menerimanya, bahkan Tania dianggap seperti bunda sendiri dan Rendhi setiap bulan selalu kirim uang untuk bunda juga untuk adik adiknya.


" Rend, kamu juga kirim buat Devina dan Askila masukan ke tabungan," nasehat Tania, tadinya tidak mau, tapi Tania mendesak akhirnya Rendhi mau.


Ada waktu juga untuk membaca surat Stev karena anak anak pada sama Eyang di bale, sambil mainan juga ada beberapa pengunjung masuk. Tania menyempatkan ke loteng sambil buka vicall, disana Stev baru bangun tidur, padahal semalam kurang tidur habis vicall Tania diteruskan ke Fazal.


" Kamu ngantuk Stev?"kata Tania disini, dan hari ini dia ambil kerja sore.


" Untuk kamu tidak ngantuk," jawabnya disana dengan senyum. Tania tertawa dan,


" Stev kamu jangan nuntut macam macam ya, kalau untuk buat nasi goreng oklah," canda Tania dengan senyum mengembang.


" Sudah kamu baca suratku, aku sambil tiduran," jawabnya disana sambil tertawa terkekeh kekeh.


" Ya kamu tidur saja enggak masalah Stev," jawab Tania melotot, dan Stev tak menjawab maka Tania baca suratnya.


" Tan, Tania, Tania...."


"Hai, ngapain kamu Stev, ngerjani aku saja, jauh jauh kirim surat hanya nulis itu saja," sambung Tania tertawa juga gemes pada Stev, dan Stev langsung menutup ponselnya. Tania juga menutupnya.


" Ngapain ngurusi manusia tukang jahil itu," gumannya, iapun turun menuju ke bale bergabung dengan orangtua juga anak anak.


Satu minggu kemudian orangtua Tania pesen berbagai roti isi, juga menata kursi di bale bale dan di taman.


" Mau ada acara apa bu?" tanya Tania penasaran.


" Mau ada tamu, keluarga dari Belanda," jawab Ibu, dan Tania juga Fifah disuruh pakai kebaya seragam, Varo dan Fazal pakai baju batik seragam para pria, Tania nurut saja, ibu memang suka buat seragam kalau mau ada tamu, karena tamunya selalu minta foto bareng dari keturunan yang punya loji ini. Loji juga ditutup untuk pengunjung. Disamping itu loji ini sering disewa oleh orang kota untuk acara weedding, jadi Tania tak bertanya.


" Halo Tan," sambung Stev.


" Hmmm, sudah bangun bukankan disitu masih malam," jawab Tania, dan Stev langsung menutup ponselnya, sedangkan tamu mulai berdatangan ke rumah Tania, Barend beserta istri juga Anasthasia datang. Kebiasaan Barend kalau baru ketemu memeluk erat.


" Tania, semakin cantik," sanjung Barend. Dan tak lama datang Stev dan keluarganya. Sebenarnya mereka menginap di hotel depan rumah lama kakek Tardi di belakang tembok, tapi memang keluarga ingin buat kejutan untuk Tania, sehingga ia sama sekali tak tahu. Stev mau memeluk Tania tapi Tania mundur, akhirnya Stevpun tak jadi memeluknya.


" Stev tampan banget pakai jas warna biru tua," guman Tania.


" Tan, kamu hari ini tambah cantik," sanjung Stev tersenyum, Tania tersenyum juga, tamu tamu mulai duduk di kursi yang sudah disediakan dengan berbagai macam roti. Tania disuruh duduk di kursi meja yang agak besar disebelah kiri Stev, Bapak disebelahnya, dan Tania sangat terkejut karena acara ijab kabul dengan Stev. Ibu nya Tania selalu mencubitnya untuk tidak protes, bahkan menggandengnya, sedangkan Stev lancar membacanya dan buku nikah langsung jadi, juga foto bersama untuk menunjukkan kedua buku itu. Stev tersenyum dan meliriknya, Tania isi kepalanya buntet, tidak bisa untuk mikir, jantungnya seraya mau berhenti menghadapi peristiwa ini. Dan Tania jadi sungkan pada Stev.


" Stev, aku sama sekali tak cinta kamu," guman Tania dengan mata berkaca kaca juga wajah panas. Tania ingin lari ke kamar menangis, menjerit sepuas puasnya, tapi tidak pantas, akhirnya hanya pasrah yang bisa ia lakukan.


Malam harinya anak anak tidur sama eyangnya.Tania hanya pasrah karena ibu berkali kali mengusap dadanya saat Tania mau ptotes.


" Ibu hanya ingin kamu bahagia, Stev mencintaimu, atau pilih kamu tinggalkan anak anak disini, kamu bisa pergi," kata ibu emosi, Tania menangis.


" Sudah, masuk kamar depan," perintah ibu marah, Tania tak berani membantah, tak dipungkiri matanya berkabut, dan tak kuat iapun meluapkan tangis di kamar yang tak pernah memasukinya , dan baru kali ini.


Ia menelungkupkan kepala di bantal, setelah tubuh direbahkan ke kasur, dan membuarkan bedak mengotori bantal.


Kemudian Stev menyusul, lalu duduk disisi bed di dekat kepala Tania, tangannya memberanikan diri untuk mengelus kepala yang masih tertutup hijab.


" Tania, luapkan kemarahanmu padaku," ucap Stev lirih.


Tania tambah terisak isak tangisnya.


" Aku tahu, kamu tidak mencintaiku, cuman aku percaya seiring berjalannya hari kamu akan mencintaiku," ucap Stev kembali.


Dan Tania yang sudah dewasa cara berpikirnya, karena sudah syah sebagai istri Stev, akhirnya ia pasrah.


Apalagi ia sudah akrab dengannya bertahun tahun.


" Stev, aku tidak bisa membantah keinginan orang tua, demi kebahagian mereka aku akan berusaha untuk mencintaimu,"ucapnya tubuhnya ia balikkan, cuman belum berani memandang wajah Stev.


Tania hanya menatap langit langit kamar depan yang luas, dan dari matanya terus mengucur air.


Sementara tamu tamu di bale masih ramai, apalagi ada orgen tunggal, sehingga tamu tamu silih berganti menampilkan suaranya.