
" Dari pengalamanku dulu disekap Rio, ini yang paling terancam oleh obsesi Tina tentu aku atau Fifah," kata Tania.
" Mungkin aku juga bunda," kata Rendhi.
" Kalau Rendhi di bujuk ikut Tina itu hubungannya dengan materi," kata Mirna.
" Ini semua perkiraan, intinya kita harus waspada," kata Ezra.
Usaha yang diwariskan Vera almarhum yaitu ibunya Rendhi di tangan Tina dan adik adiknya semakin berkembang pesat, tak khayal mereka semakin kaya, bahkan Rendhi dibujuk agar uangnya untuk modal membuka bisnis di daerah lain.
" Rend, uangmu untuk modal usaha pakai namamu, seperti rumah dan usaha yang dipakai tante Tina itu atas namamu," kata kakek dari bunda Vera saat Rendhi berkunjung dan tante Tina juga saudara saudara yang lain membenarkan. Ternyata mereka sepertinya tidak menyadari kalau seluruh kegiatan direkam, walau masalah ini Rendhi tak mungkin ngeshare. Video rekaman ini oleh Rendhi hanya di share ke grup yang anggotanya cuma Ayah, Bunda dan Rendhi saja. Setelah Ezra melihat video itu, maka berpesan,
" Rend, kamu hati hati ya, bisa bisa kamu tak di kasih hasilnya, seperti sekarang apa mereka memberimu dari semua usaha milik bundamu?"
" Jangan sampai kamu kena bujukkan Rend," kata tante Mirna dengan wajah geram.
" Sebaiknya kita kemanapun bersama, untuk antisipasi seperti kejadianku dulu," kata Tania serius.
" Betul, mereka bisa melakukan apa saja ke kita dengan uangnya," kata Ezra serius juga.
Baik Ezra dan Tania sudah pernah memecahkan masalah tentang Peter dan pengalaman penyekapan Tania sehingga menghadapi persoalan ini harus memiliki kewaspadaan tingkat tinggi.
" Yah, besok Rendhi mau buat vlog di areal persawahan permintaan dari subscriber dari Eropa," kata Rendhi.
" Ya besok kami semua ikut," jawab Ezra.
" Tapi berangkatnya habis Shubuh karena mau merekam matahari juga," jawab Rendhi.
Karena seluruh keluarga besok mau ikut ke areal pertanian dan disarankan oleh Tania ke areal pertanian milik Bapak dan Oom Bahtiar, juga letaknya tidak begitu jauh dari rumah.
" Rend, ke hutan tempat penyekapan Bunda juga," kata Tania dengan meminta persetujuan Ezra walau mengingat dulu miris, dan Ezra setuju dengan ide Tania.
" Apa bunda masih ingat? " tanya Ezra.
" Nanti tanya saja ke Rio, katanya mau kesini bersama istri dan anak anaknya," kata Mirna.
" Istrinya orang baik, Rio sekarang agamanya sudah kuat, kalau ketemu selalu minta tolong sampaikan maafku," kata Bapaknya Ezra.
" Itu yang kami kehendaki, Rio dapat hidayah, mudah mudahan Tina dan keluarganya seperti Rio," kata Ezra.
Tak lama kemudian Rio beserta keluarga bahkan orangtua ikut datang, dan Rio yang terlihat sudah alim langsung menangis melihat Tania.
" Kalau bisa aku kembali ke masa itu, aku tak akan mau di ajak kerja sama dengan Tina, sehingga sampai sekarang aku tak punya rasa bersalah padamu Tan, atau aku dilaporkan saja ke polisi biar masuk ke penjarara mungkin rasa berdosaku padamu berkurang," kata Rio dengan tangis penyesalan, setelah dia diberi kesempatan untuk berbicara sedang yang lain mendengarkan. Tania yang memangku Fifah hanya menunduk sedih disamping Ezra, dan tangan Ezrapun diletakkan ke pundaknya, sesekali Ezra membelai rambut Tania.
Rio membolehkan tempat penyekapannya dijadikan vlog Rendhi, terus diberi alamatnya. Ezra yang tahu lokasi itu, menyesal juga pada Tania, karena setelah peristiwa kiriman video meninggalkan Tania, kalau Ezra saat itu tidak diberitahu Rio tentu Ezra tak akan menemui Tania, dan disudut mata Ezra ada titik air penyesalan juga.
" Rio, kamu telah menebus kesalahanmu dengan memberitahuku saat aku pulang dari Australia, kalau kamu tidak cerita mungkin aku tak menyusul Tania, dan memilih hidup hanya dengan Rendhi seumur hidupku," kata Ezra menunduk matanya basah.
Malam di akhir bulan Juni disini sedang musim kemarau, angin yang berhembus dari benua Australia karena disana lagi musim dingin terasa juga di kota ini, tapi bagi Ezra yang sudah merasakan suhu udara yang lebih dingin dari ini justru disaat seperti ini terasa lebih nyaman karena tak begitu extrim.
" Tan, kamu enggak kenapa napa?" sapa Ezra yang berbaring disebelahnya sambil mengelus rambut kecoklatan Tania yang sedang memberi asi ke Afifah, karena dia lebih banyak diam.
"Enggak Mas," jawabnya matanya mengembun, bukan mengingat ingat masa lalunya setelah bersama dengan Ezra tapi masih ada yang harus dihadapi di hari hari kemudian disini, atau bahkan setelah menuju ke negara lain, hanya doa Tania semoga Tina dan keluarga besarnya dapat hidayah seperti Rio. Taniapun malam ini tetap semangat bersama suami, ya karena Ezra bagi Tania tak tergantikan, terbukti selama tiga tahun tak bersatu dengan Ezra, Tania dengan wajah masih terlihat indonya sangat begitu cantiknya, selama kuliah di Belanda banyak lelaki mendekati untuk mendapatkan cintanya, tapi Tania tak bisa melupakan Ezra ya Ezra selalu ada dihati.
" Mas!" panggil Tania.
" Tan!" jawabnya dengan mengelus rambut Tania lembut.
" Semua sudah dikunci," kata Bapak mertua Tania
" Sudah Pak," jawab Ezra datar, Ezra menyupir dengan mobil kenangan dengan Tania yang tetap dibiarkan di rumah bapak, ternyata oleh bapak tetap dirawat dengan baik. Dengan kecepatan standar Ezra melajukan mobil, karena jarak tak begitu jauh sampai di areal pertanian milik bapak Tania dan Oom Bahtiar yang sudah menguning dan beberapa hari lagi bisa di panen.
Rendhi mulai sibuk merekam semua yang dilihatnya di bantu Tania dengan menggendong Fifah juga Ezra.
" Selesai Yah, kita tunggu sebentar Oom Rio," kata Rendhi.
" Tapi kita sarapan pagi dulu disini," kata Ezra, dan kitapun beramai ramai sarapan pagi di mobil didekat sawah.
" Enak juga De," kata Ezra mengecup Fifah yang lagi disuapi sama bundanya.
" Mas, itu paman Kodir lagi datang kesini," kata Tania yang berdiri disisi mobil lihat paman Kodir. Dia yang sudah diberi tahu lewat pesan pribadi mendekatinya.
" Wah aku kesiangan nduk, oh ya besok bisa di panen, kalau mau pulang supaya bawa beras kata bapak," cerita paman. Tania mengiyakan.
" Iya paman, kami mau meneruskan perjalanan, mau ikut sekalian?" ajak Ezra setelah Rio dan keluarganya datang. Paman menggeleng.
" Bunda, nanti di lokasi bunda mau berakting ulang, kejadian penyekapan sampai berjalan mrncari jalan keluar dari hutan," tandas Rendhi.
" Ya Rend, insyaAllah," jawab Tania sedikit telah hilang trauma itu.
" Oom Rio mau juga Bun," kata Rendhi melirik ke Ayahnya. Ayahnya mengangguk.
Mobil Rio yang berada di depan mulai masuk keareal hutan, langsung direkam oleh Rendhi.
" Wooow bunda, begini banget lokasinya, untung bukan musim hujan jadi enggak licin," kata Rendhi prihatin. Setelah naik turun juga ada jurang sampailah di lokasi penyekapan Tania.
" Rumahnya bagus kaya villa Rio," kata Ezra.
" Iya, kadang kalau jenuh kami sekeluarga menginap disini, istriku baik banget Mas," kata Rio datar, sambil mengecup pipi istrinya. Tania bersyukur Rio menemukan wanita yang mau menerima kekurangannya, wanita yang dijodohkan orangtua.
Rendhi sudah merekam semua yang ada disini, terus Tania disuruh berakting dari saat duduk dipojok kamar, dan Rio menerima telpon dari Maminya terus keluar mengunci pintu depan, tapi Rio sengaja pintu belakang tidak terkunci sehingga Tania bisa keluar, walau dia tidak tega Tania berjalan kaki mencari jalan menuju jalan utama, dan sorenya kata Rio menengok Tania dengan membawa banyak penganan tapi Tania sudah tidak ada, sejak itu rasa bersalah selalu menghantui dirinya, setiap tidur mimpi yang menakutkan.
" Pernah aku bawa ke psikiater, akhirnya saya datangkan guru ngaji, dan disarankan supaya menghubungi pihak yang dirugikan," kata Maminya Rio.
" Penculik amatiran mas Rio," goda istrinya tertawa. Tania dan yang lainnya juga tertawa.
Terlihat Rio mulai berkurang rasa bersalahnya.
" Kalau vlog ini dishare terus aku dipenjara siap, mungkin dengan begitu hilang rasa penyesalanku," kata Rio sendu.
" Tidak, kami tak akan melakukan itu, melihat kamu sadar sudah senang," kata Ezra dan semua mendukung.
" Besok ke desa wisata Mas," ajak Tania, semua mau ikut.
" Kalau Fifah sudah dua tahun tidur di tenda ya De," kata Rendhi gemas pada Fifah dengan cium pipi.
Di hutan para wanita memasak di dapur dan makan bersama di luar dengan menggelar tiker, karena mereka telah membawa bahan mentah dari kota, ayam ungkep tak lupa dibawa, Tania membawa kangkung karena dia sangat rindu pada cah kangkung, walau disana bapak punya greenhaouse yang ditanami tanaman khas Jawa, mereka makan pakai daun jati memetik disekitar villanya Rio.
Karena sudah sore mereka pulang ke rumah masing masing, mereka sangat senang karena masalah yang membuat Tania trauma dan Rio menyesal hari ini kelar, masing masing tak memasalahkannya, dan Rio merasa hari ini diberi kesempatan kedua untuk hidup lebih baik.
Sampai rumah betapa terkejutnya seisi rumah, karena rumahnya kedatangan tamu tak diundang, tetangga tak ada yang tahu karena semua orang pada kerja. Dan semua barang milik mertua habis ludes dibawa, untung surat berharga tidak terbawa, Ibupun menangis, yang paling parah kamar Rendhi dan Ezra di obrak abrik seisi kamar, tapi tak ada yang hilang karena hanya berupa pakaian.
" Rio, kami baru dapat musibah sehingga diundur dulu ke desa wisatanya, " pesan pribadi Ezra.