
Ezra berkali kali menghubungi Tania baik lewat panggilan, vicall dan kirim pesan, tak juga ada respons dari Tania, Ezra semakin gelisah, teringat pada Tina beserta keluarga yang masih dirumah.
" Jangan jangan Tania di rumahku!" gumannya gelisah, Ezra ingin cepet cepet menuju ke rumah Tania.
Sampai di rumah Tania tak ada dia, kata orangtuanya tadi ada Farah terus diajak ke rumah sakit.
" Yang di rumah sakit siapa katanya Bu?" tanya Ezra berharap ibunya Tania tahu.
" Tania tidak cerita nak Ezra," jawab ibu, akhirnya aku tak mendesaknya. Ezrapun pulang ke rumah, Tina dan keluarga masih berada disitu. Tina sudah masak bahan bahan mentah yang ada di kulkas. Setelah makan Ezra diajak ke ruang lain oleh Tina, diapun cerita tentang Tania.
" Mas, dia masih nyambung dengan pacarnya yang bernama Ferdian," kata Tina setelah dia menceritakan pacar pacar Tania yang diputus oleh Tania.
" Mas, harus berpikir dia wanita baik atau bukan," katanya memojokkan.
Ezra mengkerutkan dahinya ingat pertemuan dengan Tania yang cuma dua malam sampai begitu mudahnya Tania melakukan adegan ciuman. Ezra mulai terpengaruh cerita yang mengarah menghasut untuk menjauh dari Tania.
" Mas, harus ambil langkah sebelum menyesal, tak ada wanita sesetia mba Vera lho Mas," desaknya lagi, Ezra diam tidak ada kata kata untuk menjawab semua pembicaraannya, dia merasa sekarang sebagai lelaki dewasa.
" Tania wanita baik baik, rumahnya dekat sekolahku dan aku sudah tahu tentang dia dari ceritanya," jawabku berbohong, dilubuk sana sebenarnya ada rasa dibohongi oleh Tania, tapi Ezra berusaha menepis rasa itu, karena dia bukanlah anak yang baru mengenal cinta.
" Tania merupakan wanita cantik, energig juga sukses dalam usaha tak khayal banyak lelaki yang suka padanya, dan patah hati karena Tania wanita yang tak mudah untuk diajak berumah tangga, Ezra sudah merasakan itu," gumannya untuk menepis semua kegalauan di hati kecilnya. Ternyata dengan jawaban Ezra membuat Tina tak mampu berkata, tapi mimiknya terlihat dia berusaha untuk menjawab.
" Ya terserah Mas Ezra saja, toh semua penyesalan ditanggung sendiri," jawabnya kesal, diapun berlalu dan mengajak suami juga anak anak segera pulang, sambil berpesan sama Rendhi.
" Rendhi, Ayahmu dinasehati, mungkin sama kamu bisa," desaknya, Ezra tahu tentu Rendhi sudah diberi tahu juga oleh dia tentang Tania, setelah mereka pergi, Ezra mendekatinya.
" Rend, kamu harus percaya sama Ayah dan tante Tania, ok," kata Ezra setelah mereka pulang, walaupun dia juga hati kecilnya galau.
[ Mas, maaf aku di rumah sakit, nanti perlu aku cerita, biar mas tidak dengar dari orang lain ] pesan pribadi Tania.
[ Ya, aku tunggu ] bales Ezra, yang berniat di rumah membaca lagi minta ditunggui Rendhi, Rendhi sudah sedikit percaya bahwa apa yang dialami Ayah dan Tania bukan halusinasi. Sehingga Rendhipun percaya bahwa Allah mempertemukan Ayah dan Tania sebagai jodohnya.
Tania datang selalu pakai motor sangat kusut, tapi tetap cantik.
" Mas, temanku tadi malam kecelakaan," ucapnya sedih.
" Laki laki namanya Ferdian," jawab Ezra hanya menebak ternyata Tania mengangguk.
" Kamu masih nyambung dengan Ferdian," lanjutnya terlihat agak kesal Ezra, Tania tertunduk sedih.
" Mas, kamu lebih percaya aku atau orang lain," ucapnya sedih butiran butiran air menetes dari matanya yang indah, dan Taniapun hanya bisa menunduk, Ezra tidak sampai hati padanya.Tania sebenarnya tidak mencintai Ferdian dan menceritakan teman laki laki yang pernah dekat dengannya itu hanya sebatas teman merekalah yang selalu menganggap Tania miliknya.
"Aku lebih percaya pada ceritamu Tan," kata Ezra selanjutnya.
" Kamu terlihat capek tidur saja di kamar depan, aku sama Rendhi mau ke loteng meneruskan membaca," kata Ezra datar, Tania masuk ke kamar depan, Ezra dan Rendhi naik ke loteng.
Peter POV
Pernikahanku rencana akan dilaksanakan satu minggu sesudah dibahas oleh Mama dan keluarga Paman, akhirnya mundur lebih dari sebulan, karena Utari ingin melihatku benar benar seperti Salim anak adik ayahnya.
" Peter, kamu cepet hafal kata Salim," kata Utari sore itu saat Peter menemui dia di taman mawar kesukaannya.
" Utari, secepatnya kita bicara ke orangtua," kataku, karena merasa sudah tak ada yang menghalangi hubunganku dengan Utari, Paman dan Mama yang tak jauh dari kami mendekat.
" Urusan ke kantor agama sudah selesai, minggu depan menikahnya, tapi di kampung," kata Paman yang mendengar pembicaraanku. Tentunya kegembiraanku tak bisa diluapkan dengan kata kata, sampai aku memeluk Utari dan mengangkatnya.
" Peter Peter!" panggil Utari saat kuangkat tinggi sambil berpegangan ke leherku, wajahnya merah padam menahan malu dilihat Mama dan Ayahnya.
" Cukup Peter!" serunya lagi.
Sejak kabar pernikahan hari hariku penuh keceriaan demikian Utari, Mama ingin mengadakan pesta di rumah mengundang penghuni loji, rencana semula agar Utari dirias, menggunakan baju Mama dengan dihias kepalanya dengan rangkaian bunga mawar putih akan diwujudkan.
" Utari, bunga mawar dan bunga melati maupun lainnya akan di jadikan hiasan pada pesta nikahmu," kata Mama lembut, karena Mama tahu Utari lebih suka bunga bunga itu tetap di tangkai pohon. Akhirnya dia mengangguk seperti kepaksa.
Satu minggu sebenarnya tidak begitu lama, tapi bagiku yang setiap detik, menit selalu ditunggu terasa begitu lama, mungkin siangnya aku bisa terhibur bekerja di kebun bertemu dengan banyak orang, tapi malam aku harus di kamar sendiri, sehingga sering kulakukan mondar mandir naik turun loteng, sekedar membaca ternyata bosan, begitu kegiatanku menunggu hari yang mendebarkan jantung.
Menjelang hari pernikahan di kampung, Bibi dan Utari pulang ke kampung yang tidak terlalu jauh dari loji, rumah Paman hanya di balik benteng belakang loji ku, tapi karena di batasi benteng sehingga harus memutar.
Dan hari ijab kabulku tiba, aku dan Utari syah sudah sebagai suami istri. Di rumah Utari ada acara duduk di pelaminan tapi sederhana, orang orang berdatangan silih berganti, sehingga aku dan Utari tak bisa menyempatkan waktu istirahat.
Dan malamnya di rumah Mamah mau dilaksanakan pesta, sehingga sorenya kami berdua menuju ke loji dan masuk ke kamar
" Utari, kamar kita harum !" kataku saat masuk, karena kasur sudah dipasang sprei warna putih, ini tentu pekerjaan Mama dan bunga sedap malam juga mawar yang masih segar bertebaran diatas sprei juga lantai, aku yang belum sempat rebahan dari kemaren terus meloncat ke kasur badan keluruskan, sementara Utari hanya berdiri memperhatikanku.
" Utari, naiklah, ini untuk kita, nanti disini kita berdua!" godaku, Utari tersipu sipu dibuatnya.
" Sudah dikunci pintu kamarnya?" tanyaku lembut, sambil menatap nakal ke dia. Utari menuju ke pintu menguncinya, terus duduk di sisi ranjang, aku yang masih rebahan nemiringkan tubuh dan kulingkarkan tangan ke perutnya, serta hidung aku ciumkan ke bagian tubuhnya yang masih tertutup kain jarik batikan tangan halus, tangan Utari di letakan ke punggungku dengan mengelus lembut, dan dia mulai membungkuk untuk mencoba menciumku, sebenarnya aku sudah tidak tahan menunggu detik detik yang mendebarkan.
" Peter, sabar ya, mungkin nanti malam kalau kita tidak capek!" hiburnya.
" Thik thok, Utari!" suara Mama memanggil dengan lembut. Utari lari membuka pintu.
" Sebentar lagi kamu mau di rias," lanjut Mama membawa baju kain sutra dan rangkaian bunga terus diletakkan di sofa kamarku.
Sementara aku nenuju ke bale atau ruang tamu, kursi pelaminanan di bale bale loji yang luas sudah di rias, pintu sebagai pembatas dengan teras telah di copot, sehingga ruangan terlihat sangat luas, di depan pelaminan biasanya untuk acara dansa sehingga kursi ada di pinggir, bermacam roti dan minuman telah tersaji di salah satu meja, betul betul Mama telah menyiapkan semua. Mama hanya mendatangkan ahli buat bermacam roti sedang minuman bir tinggal beli, minuman itu sudah menjadi sajian wajib bahkan kemaren di rumah Utari juga disediakan, selain rokok dan mie rebus pakai kuah ayam kampung sebagai hidangan malam hari bagi yang mau tidak tidur sampai pagi.Semua itu merupakan hiburan pada jaman ini, mungkin dengan berjalannya waktu hiburan ini bisa tak lagi ada.Dan yang membuat aku betah disini, orang orangnya lebih terbuka, artinya mereka mau menerima kami sehingga disini budaya cepat berkembang, akupun seperti hidup di negeri sendiri.
" Bagaimana Peter, puas kamu dengan hiasan baik disini atau di kamarmu?" tanya Mama mengelus punggungku, aku mengiyakan juga mengacungkan jempol ke Mama, beliau terlihat sumringah dengan pujianku.
Aku mencari keberadaan Utari.
" Ma, Utari di rias dimana?"tanyaku.
" Hmmm baru ditinggal sebentar sudah kangen," goda Mama tersenyum senyum, aku juga tersenyum. Mama memberitahu kalau Utari di rias di kamar, oleh karena itu kamar di kunci dari dalam.
" Peter!" suara Mama memanggilku.
" Tinggal kamu yang di rias, cepetan, tamu sudah banyak yang datang!"perintah Mama. Aku masuk ke kamar, yang kulihat pertama kali Utari yah Utari, wow dia kaya seorang putri atau Cinderella, aku mendekati dan ingin menciuminya, oleh Helena yang jadi juru rias dilarang.
Setelah aku dirias maka berjalan menuju pelaminan, semua yang datang tercengang melihat kecantikan Utari dan juga ketampananku, katanya seperti Pangeran dan Putri Raja. Kepala Utari dilingkar rangkaian bunga mawar, juga leher berkalung bunga mawar putih kesukaannya, kedua pergelangan tangan menggunakan untaian mawar putih, wangi tapi tetap segar seperti di kasih cairan yang membuat tidak mudah layu. Pesta sampai pagi dengan diiringi pesta dansa.