
"Mas, aku bawa lauk," kata Tania, dari belakang Ezra yang sedang baca, dia lagi terbawa suasana pesta dansa di ulang tahun Caroline, lama Ezra belum bisa menyadari keberadaan Tania di belakangnya, sampai Tania memberanikan diri untuk memijat kedua bahu Ezra. Tania melihat wajah pucat kekasihnya yang berkali kali menarik nafas dalam dalam, dia seperti masih dibawah alam sadar.
" Mas, minum dulu," kata Tania selanjutnya sambil menyodorkan botol air putih yang ada di meja kemulutnya, dengan tangan kirinya memijat mijat punggung Ezra.
" Mas," ujar Tania mulai khawatir keadaan Ezra, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengecup bibirnya penuh perasaan dengan agak memiringkan tubuhnya, bibir Ezra dingin, Tania semakin resah sehingga dia semakin semangat untuk mengecupnya, terus agak kesulitan terhalang meja, Tania menggeser meja dengan tubuhnya, dan memeluk erat Ezra, berkali kali memanggilnya, dengan nafas terengah engah Tania mulai mengecup ecup Ezra, dia menggeliat.
" Utari," sebutnya, pandangan matanya mulai tidak sekosong awal Tania datang.
" Aku Tania, Mas,"jawab Tania, dan Ezrapun wajahnya mulai terlihat merah.
" Tan, aku kalau menbaca buku ini terbawa di masa Peter," jawabnya lemah.
" Mas, kalau mau baca tunggu aku datang," jawab Tania sambil mengecupnya, dia mengangguk lemah.
" Kita makan dulu Mas, di tunggu Rendhi dibawah," ajak Tania, karena Ezra berniat meneruskan membaca buku harian Peter.
" Tan, aku membaca mulai setelah sarapan," ucap Ezra terbengong.
" Mas, bacaannya sedikit, tapi Mas terbawa ke dunianya," jawab Tania bingung juga dengan kenyataan yang dialami.
Mereka turun dari loteng setelah Ezra memasukkan buku ke tas, menuju ruang makan yang sudah tersaji beberapa lauk di meja, Rendhi sudah menunggu beberapa lama untuk makan bersama.
Setelah makan Ezra terdorong terus untuk membaca lagi, tanpa bisa di cegah oleh Tania, dia naik ke loteng, Tania mengikutinya dan duduk disampingnya.
Peter POV
Malam penuh kenangan di pesta ulang tahun Caroline tak bisa aku lupakan, itu tanggal pertemuanku dengan Utari yang selama dua tahun sejak bertemu pertama kali terjadi, aku tak bisa memejamkan mata, dimataku hanya terlihat bayang bayang dia dengan menggunakan baju pesta kaya dalam cerita Cinderela, untuk menghilangkan kegundahan hatiku maka menuju ke loteng, disini aku bisa bercerita pada buku ini tentang yang dirasakan saat ini.
Saat aku berdansa dengan Utari, bahuku ditarik kuat sampai aku terjerembab.
" Blug, aduh, " aku kesakitan dan hampir aku kena hantaman tangannya, Johannes, kakakku nomer dua menangkap tangannya, dan Jos di bawa ke ruang lain di dudukkan di kursi.
" Aku tidak suka kalau Peter beristri wanita pribumi," seru Jos keras, sehingga pesta dansa yang sudah hampir usai bubar.
Mereka tak ada yang menjawab, karena akan membuat Joseph semakin marah, sehingga diam jalan satu satunya bagi keluarga untuk meredam marahnya.
Pagipun tiba, seperti biasa aku membuka jendela di sebelah timur, kupandang sebentar ufuk timur dengan cahaya kemerahannya, sinar yang menembus ruang ini menghangatkan tubuhku, dan Paman Tardi sudah berada di pekarangan sambil mencabut umbi. Akupun turun dan kutengok Utari yang ada di dapur membantu ibunya.
" Utari, kamu tidak capek?" tanyaku dengan mendekat, dia ketakutan padaku.
" Utari, kenapa kamu takut?" tanyaku selanjutnya, tapi aku tahu takutnya bukan padaku tapi ke Jos.
Seperti biasa aku menuju ke perkebunan, Jos sudah datang, matanya memandangku penuh geram, seperti mau menerkam. Aku tetap sabar menghadapinya, dalam keadaan Jos seperti ini aku tak berani mendekati, sehingga meneruskan langkah menuju para pekerja yang sedang siap siap berangkat sambil menggendong keranjang.
" Semoga Jos berubah, karena sebentar lagi dia punya baby," gumanku dengan memandangi hijau daun teh yang ada di depan mataku.
Aku semalaman tak bisa tidur, tubuhku terasa sakit juga lelah, akhirnya berjalan menuju pos yang tidak jauh dari tempat berdiri, aku melangkah pelan.
" Tuan Peter, sedang sakit?" tanya salah satu pekerja dengan membungkuk. Aku sebenarnya tidak suka dengan sikap mereka, walau sudah berkali kali kuutarakan tapi mereka tak mau merubah kebiasaan itu.
" Enggak, hanya kurang tidur," jawabku slow saja. Aku yang sudah di pos membaringkan tubuh di bangku panjang, mata kupejamkan, tapi bayangan Utari semakin jelas di depanku, sehingga aku hanya memandang langit lewat celah diantara tiang tiang pos.
" Peter Peter," panggil Jos dengan suara lantang, aku cepat cepat bangkit dan berjalan menuju suara itu, dan, " Blug, " tendangan kaki bersepatu kulit lagi lagi menghantam perutku.
" Aaahh" aku jatuh menjerit kesakitan, Jonathan kakak pertamaku yang mau memanggil Jos melihat yang di lakukan Jos, dia membantuku berdiri dan kulihat Jonathan meneteskan air mata melihat aku pegang perut kesakitan, dia memapahku menuju pos, diam dan tak lama kemudian dia memelukku, kami berdua bertangisan, Jos mendekati kami.
" Jos, apa yang akan kamu lakukan pada kami?" tanya Jonathan iba.
" Maaf, aku selalu kasar," jawabnya seperti menyesal. Akhirnya kami berpelukan.
Jam mengawasi telah selesai, kami bertiga berjalan bersamaan pulang ke loji, di halaman diberitahu kalau istri Jos mau melahirkan. Utari dan Bi Tami ikut membantu persalinan istrinya di kamar, kami menunggu dengan berdebar debar di ruang tamu. Tak lama kemudian terdengar tangis bayi, dan anak perempuan putri pertama Jos.
Aku memperhatikan Utari yang sibuk keluar masuk kamar mambawa kain kotor.Jos pun terlihat mulai baik pada Utari dan Bi Tami.
" Utari dan Bi Tami, besok istirahat ya," kata Mama kasihan melihat mereka sejak kemaren tidak istirahat, mereka mengangguk, melihat Utari seperti ini rasa sayangku semakin besar, aku memberanikan diri untuk mendekati Utari disela sela kesibukan mencuci kain istri Jos.
" Tidak Tuan, kata ibuku harus langsung dicuci," jawabnya penuh semangat, aku yang tidak tega dia sendirian di ruang cucian yang terletak di luar, kutunggui sampai selesai.
" Sudah Tuan," kata Utari mendekatiku, tangan kecilnya kutarik, dan mengangkat tubuh kecilnya untuk duduk dipangkuan. Malam dengan langit cerah, bintang bertebaran juga sinar rembulan menyaksikan adegan kemesraan kami, sepertinya Utari juga telah tumbuh rasa cinta di hatinya, karena saat kucium bibirnya iapun ikut membalas ciumannya dengan lembut.
" Utari, aku ingin segera menikahimu," bisikku di telinganya.
" Tuan, aku ingin membantu Nyonya Mama dulu," jawabnya sambil menatap wajahku, akupun tidak tahan melihat tatapannya, bibirnya kukecup lembut, dengan debaran debaran jantung yang tak beraturan.
Dan kamipun terkejut saat Bi Tami memanggil lirih ke Utari.
" Bi, maaf, aku ingin menikahi Utari," kataku spontan. Aku menggandeng Utari dan mengajak masuk ke dalam tapi Bi Tami mengajak pulang, Utari tersenyum memandangku.
" Besok istirahat ya, kalian sudah terlalu capek," kataku iba melihat mereka berdua kelelahan.
" Utari," panggilku, pinggangnya kupeluk erat dari belakang, kuciumi tengkuk lehernya, dia menggeliat, sementara itu Bi Tami tak menyadari Utari karena dia berjalan meninggalkannya.
" Peter," panggilnya lembut, dan membalikan tubuh menghadapku, dia sudah tidak panggil aku Tuan, karena aku larang. Kamipun saling memeluk.
" Peter," suara itu mengagetkanku, tapi sudah tidak menggertak, kami yang sedang berpelukan melepaskannya, Utari lari ketakutan. Jos tersenyum melihat Utari lari terbirit birit.
" Peter, sepertinya kamu mencintai Utari," kata Jos dengan menepuk pundak Peter lembut.
" Segera menikah saja," lanjutnya tersenyum.
" Utari belum siap Jos, ingin membantu Mama dulu,"jawabku datar.
" Ya sudah kita masuk, kamu sudah lama di belakang," ajaknya sambil merangkulku, betapa senang hati ini melihat perubahan pada diri Jos.
" Semoga Jos benar benar sudah berubah, apalagi punya baby perempuan," gumanku gembira.
" Aku besok tidak ke kebun," kata Jos berbahagia, dan berpesan padaku agar mengawasi pekerja dengan baik.
" Kalau begitu aku pulang dulu," kataku menuju ke kamar Valencia bersama Jos untuk melihat baby yang lucu, akhirnya aku pulang, sambil membayangkan Utari, dia dua hari tak henti bekerja sampai larut malam.
" Semoga dia kuat dan sehat, " gumanku masuk kamar merebahkan tubuh diatas kasur, bola matanya menerawang ke langit kamar, tersenyum untuk menyambut esok pagi berharap di depan pintu kamar disambut Utari dengan senyum menawannya.
*
Sementara Ezra yang sedang duduk membaca nafas tersengal sengal kaya habis lari puluhan kilometer dengan memegang perut kesakitan.
" Mas, Mas," sapa Tania memeluk Ezra erat, dan mencium bibir lembut, Ezra membalas ciumannya.
" Utari, Utari," panggilnya lirih dengan mengecup bibir semakin kuat seolah tak mau melepasnya.
" Mas, aku Tania, minum dulu," jawab Tania melepas pelukannya dan menyodorkan minum air putih, seperti biasa Tania memijit mijit kedua bahunya dengan sesekali menciumi pipi Ezra atau kedua tangannya di kalungkan di leher Ezra, tangannya diremas remas oleh Ezra, tapi dia masih seperti terbawa ke alam Peter.
" Mas, sudah cukup, baca besok lagi," kata Tania iba, karena melihat Ezra sangat lelah kalau habis baca, belum kesadaran akan dirinya memakan waktu sekitar seperempat jam dan harus di dampingi.
" De, aku lagi bingung, laki laki yang terbunuh selain Peter itu apa benar Jos," kata Ezra dengan mengkerutkan dahinya.
" Iya Mas, bukankah Jos sudah berubah?"tanya Tania juga, karena dia juga tidak begitu hafal ke Jos.
" Bukankah Jos menghendaki pulang ke negeri Belanda?" gumannya.
" Karena tidak berhasil membujuk akhirnya marah," guman selanjutnya.
Ezra dan Tania duduk lama di loteng sambil tak henti berpikir juga membahas tentang peristiwa tragis di loji 13. Mereka akhirnya memutuskan turun, terus bergabung dengan Rendhi yang sedang ngobrol sama Tante Mirna beserta suami juga kedua anaknya.
" Sudah lama De?" tanya Ezra datar.
" Barusan," jawab Haris santai.