ROSES

ROSES
Part 28 Menginap di Loji



Ini cerita khayal yang tak ada kaitan dengan tempat, nama atau kepemilikan usaha. Dan mohon maaf apabila ada kesamaan.


Pihak Desa Wisata atas permintaan pengunjung agar loji 13 di buka, tapi pengunjung hanya boleh melihat pohon mawar tua, dan pohon tua lain yang tidak di tebang, juga hanya boleh masuk rumah yang di tempati Paman Tardi. Sehingga pihak keluarga bersepakat hari Sabtu Minggu di buka. Dan itupun hanya bisa masuk bale juga boleh masuk ke kamar tuan Cornelis yang sangat luas lewat pintu bale, ranjang Jos serta Peter di masukan beserta kasur diletakkan di kamar ini, sedang baju baju juga asesoris lain di pajang di almari di dalamnya ditutup kaca, dan kamar lain tak boleh di masuki pengunjung, bahkan buku harian Peter di cetak, dan dijual, di outlet yang terdapat di bale, semua hasil untuk desa.


Sementara itu sesuai janjinya keluarga dari keturunan Nicolas datang ke Indonesia, juga dari turunan Jos, ada yang menginap di rumah Tania dan juga Bahtiar, turunan Jos menjelang pulang rencana mau bawa tulang tulang Jos.


Hari Jumat sore mereka berangkat, ingin tidur di tenda juga, tapi semalam mereka sengaja menginap di loji 13. Kebetulan pada bisa berbahasa Inggris, sehingga bisa nyambung dengan mereka.


Setelah sampai di loji, yang sudah bersih dan layak huni mereka saling berceloteh.


" Ayo uji adrenalin, pada tidur di kamar," seru nenek. Semua siap.


" Apa belum pernah tidur disini?" tanya Josephin.


" Paling tidur buat tenda disana," kata Tania.


Tania dan Ezra akan mencoba tidur di kamar Peter hanya berdua, yang lain pada bergabung.


Setelah mereka pada ngobrol di bale, akhirnya masuk ke kamar masing masing.


" De, lampu di nyalakan saja," pinta Ezra slow.


" Takut Mas!" ucap Tania datar juga, keduanya tak punya rasa takut disini, bahkan seperti terbiasa masuk ruang ke ruang, apalagi di masing masing kamar sudah di buat kamar mandi, jadi sudah terasa nyaman, ranjang baru di ganti dengan menggunakan kasur busa, sebenarnya rumah Ezra dan Tania juga hampir satu setengah abad, demikian bagi keluarga dari Belanda rumahnya lebih tua dari loji ini, jadi mereka biasa saja, apalagi depan loji ini dijadikan tempat api unggun, dan pos penjagaan di fungsikan kembali, sehingga semakin ramai terutama kalau akhir pekan.


Ezra dan Tania merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, keduanya berhadapan sehingga mata mereka beradu pandang, Ezra tak bisa memandang lama wajah cantik di depannya yang begitu dekat bahkan hidung mereka sudah bersentuhan, dan bibir hangat Ezra langsung mendarat di bibir Tania yang disambut kecupan lembut oleh Tania.


Udara malam di lingkungan loji terasa dingin, menusuk kulit, para penghuni tenda yang habis melaksanakan api unggun, sudah masuk ke tenda masing masing, cuman masih ada yang tetap berjaga dan saling ngobrol.


Sementara di loji 13 semua sudah terlelap tidur, sepi hanya terdengar dengkuran halus dari masing masing kamar, dan diluar loji petugas keamanan, sampai larut malam masih ada yang ngobrol sehingga suasana malam di sekitar loji semakin hangat, tak ada lagi cerita yang membuat bulu kuduk berdiri, begitu juga penghuni kamar bisa tidur nyenyak sampai pagi.


Merekapun harus bangun pagi, karena jam delapan mulai di buka, para wanita memasak untuk sarapan pagi bersama.


Keluarga dari Belanda habis sarapan mau napak tilas ke loji loji lainnya, mereka masuk dari loji satu ke loji lain, bahkan karena pemandu mengenalkan pada pengunjung tentang kedatangan cicit cicit Nicolas, akhirnya banyak pengunjung minta foto bersama.


Teman teman Tania yang dulu bareng camping berempat habis Dzuhur datang ke loji, sengaja Farah, Rindi, Ela dan Finda tidak memberi kabar, ingin kasih kejutan pada Tania.


"Tan, kamu dimana? " sambung Farah.


" Di Loji, ada apa Rah, " jawab Tania.


" Aku di Bale, " jawab Farah.


" Ya aku kesitu, " sambung Tania.


Tania keluar lewat belakang karena pintu dari bale menuju ruang tengah ditutup.


" Lho kok enggak ngabari dulu," protes Tania pada keempat temannya, dan dia mengajak masuk kerumah lewat dapur.


"Tan, ternyata bener sesuai mimpimu ya lokasinya," kata Firda kagum. Tania mengiyakan.


" Nanti tidur disini sekalian," pinta Tania, dan ia menunjukkan kamar untuk berempat, ada bed dua di kamar, merekapun mau.


Malamnya ngrobrol bareng dengan keluarga Tania dari Belanda, juga foto bersama.


Malam kedua tidur di Loji, kumpul dengan saudara juga teman senang tak karuan sampai lupa dirinya sekarang sudah ada orang lain yang selalu minta di perhatikan, yaitu suami.


" Atau ini hanya salah satu siasat dia agar jatah malam hari di penuhi," guman Tania. Seperti malam ini, dia membuka pintu kamar melihat Ezra sedang tengkurap di atas kasur, dan Tania perlu mendekati dulu sebelum ganti baju.


" Mas!" panggil Tania berbaring dengan tangan memeluk erat punggungnya, dan mencium pipi penuh perasaan.


" Mas Ezra sepertinya marah, sejak siang aku bergabung dengan teman teman dan kurang mempedulikan," guman Tania di hati.


" Tapi dia kalau ketemu teman juga tak menghiraukan aku," guman Tania lagi.


Karena Ezra diam bahkan pura pura tidur, Tania ganti baju yang lebih longgar biar tidurnya nyaman.


" Hmmm Mas Ezra melirikku," guman Tania tersenyum.


" De, kamu cantik kaya gitu,"ujarnya tangannya menarik baju yang mau dipakai, Taniapun kesulitan menggunakan baju, akhirnya dia merebahkan tubuh hanya memakai pakaian kurang bahan.


Lelah seluruh tubuh serasa tulang tulang lepas dari daging, sedang mata kedua orang itu tak kuat lagi membuka, maka keduanya masuk selimut dan terlelap, sampai telinga tak mendengar suara apapun, bahkan cicak yang berbunyi nyaring tak juga membuat kedua orang itu terjaga dari tidur.


Pagi terdengar suara Adzan dari Mushola di areal loji, yang dibuat setelah banyak pengunjung datang.


Udara dingin di areal loji menusuk ke dalam tubuh lewat pori pori, sehingga perlu menggunakan jaket tebal.


Pagi itu Tania harus cepat cepat menyediakan kopi atau teh maupun minuman lain, dengan cemilan, lebih disukai makanan khas daerah, disini Tania tak kesulitan dia tinggal keluar gerbang karena di weekend ini banyak penjual jajanan tradisional berjejer di bawah tembok pagar loji.


Tania bangun duduk disisi ranjang dengan kedua telapak kakinya di letakan di ubin batu kali yang halus dengan warna hitam, dia termenung telah lima bulan menjalani pernikahan belum muncul tanda tanda kehamilan, setiap bulan selalu di tunggu keterlambatannya belum juga tiba, bahkan setiap hari selalu menyempatkan makan taoge kata orang atau makan apa saja yang disarankan orang diturutinya, Tania mengusap perutnya yang rata pagi ini dan bangkit dari sisi ranjang sambil menyempatkan melirik suaminya yang masih meringkut kedinginan di ranjang, sementara para wanita penghuni loji sudah siap di dapur membikin minuman hangat yang di letakan 3 termos besar, ada teh, kopi, jahe. Tania melangkahkan kaki kedapur sudah kedahuluan mereka memasak lauk dan nasi untuk sarapan pagi membawa dari rumah, juga roti untuk saudara dari Belanda, terlihat Farah dan teman yang lain ikut membantu di dapur, mereka senyam senyum melihat Tania kesiangan sambil berceloteh.


" Penganten baru," Tania protes kenyataannya tidak baru. Selanjutnya Tania ambil gelas dengan menuangkan minuman kopi untuk suami yang suka kopi di pagi hari dan membawakan ke kamar bersama cemilan gethuk lindri, cenil, klepon, lupis yang telah tersaji di meja.


" Bu, siapa yang sudah beli jajanan ini?" tanya Tania,


" Tante Susi!" jawabnya, tante Susi istri Oom Bahtiar. Ezra baru keluar dari kamar mandi.


" Kami sudah keluar beli ini?" tanyanya dengan menyeruput kopi, Tania menggeleng dan memberitahukan yang membeli.


Saudara dari Belanda di pandu Rendhi juga kedua anak Oom Bahtiar naik sepeda keliling kampung setelah makan juga minum, ada 10 sepeda di loji, yang di gunakan saat weekend.


" Mas, mau jalan jalan," kata Tania, karena udara disini yang tanahnya lebih tinggi di pagi ini dingin.


" Enggak!" jawabnya, dia menuju teras depan ruang makan ngumpul sama Bapak, Oom juga nenek.


" Mas, aku boleh ikut senam bersama Farah di lapangan," pinta Tania, yang sudah di tunggu Farah, Ela, Firda dan Rindi. Suami tahu dan mengangguk.


" Tan, kalau sudah bersuami lebih banyak waktunya untuk keluarga ya," celoteh Rindi sambil mencium bunga mawar, Tania mengangguk.


" Gimana tidurnya semalam di loji ini?" tanya Tania datar.


" Aman, tak ada yang membuat takut," jawab mereka bersamaan.


" Tan, sepertinya buku harian Peter laris manis. Tania mengiyakan.


" Tan, loji baru selesai di renov dan baru pertama menginap?"tanya Ela sambil senam, Tania membenarkan.


Dua hari dua malam mereka menginap di loji, walau sudah membawa tenda, tapi ternyata betah berada di loji.Mereka menyempatkan berdoa dan menabur bunga di makam Jos, juga menyempatkan ke perkebunan teh yang dulu dikelola oleh keluarga besarnya sekarang sudah pindah kepemilikannya. Minggu sore mereka pulang menuju kota.