ROSES

ROSES
Part 35 Happy



Malamnya Ezra menagih janji pada Tania, karena dia telah mematuhi kalau Fifah sudah tiga bulan baru bisa melakukan kebersamaan.


" De, Fifah sudah selesai minum asinya?" tanya Ezra berbisik ditelinga Tania, takut kalau Fifah bangun abis dia sudah nunggu nunggu dari tadi.


" Tuh Mas, jadi bangun lagi, Ayah berisik ya," kata Tania lembut sambil pok pok tangannya ke bagian tubuh Fifah yang empuk.


" Dedek tidur ya, gantian Ayah ya udah ngantri dari tadi," kata Ezra dengan tangan Tania ditarik, akhirnya Tania mengelus Ayahnya yang sudah siap. Ezra yang tidak sabar pegang Tania, lalu mulut Fifah dijauhkan pelan pelan ke asi Tania, maka terlepas mulut Fifah dengan kedua bibirnya masih bergerak gerak. Tania mengecup kening putrinya.


" Mas, lucu tuh bibirnya Fifah," bisik Tania gemes lihat putrinya.


" De, cuma main main sampai merem merem jadi Fifah," katanya lirih.


" Mas juga yang selalu ngebet," jawab Tania sambil mengecup bibir Ezra. Ezra membalas lembut.


Dan keduanya menyatukan diri setelah berpuasa selama tiga bulan, lalu keduanya cepat cepat bangkit menuju kamar mandi dan membersihkan perutnya dengan air hangat.


*


Pekarangan belakang rumah Bapaknya Tania masih ada, sehingga Tania pengin mandiri, pekarangan itu selain ada jalan juga menghadap canal, sehingga kalau mau ke kota bisa naik perahu sambil bawa sepeda, selain bisa naik kereta api, kebetulan stasiun tak jauh amat.


" Pak, buat rumah di belakang ya," pinta Tania beberapa bulan yang lalu, tadinya orangtua keberatan tapi karena dekat di bolehkan. Orangtua terutama ibu trauma saat di Indonesia, sehingga inginnya keluarga di satu kompleks, seperti disini, semua keturunan Cornelis. Bahkan Bahtiar sudah punya rumah disini.


" Mas, rumahnya sudah jadi, besok pindahan ya mumpung libur," kata Tania, Ezra mengiyakan juga merasa senang karena setiap hari bisa makan masakan istri.


Besoknya keluarga kecil Ezra sudah pindah rumah baru di belakang rumah orang tuanya persis. Dan keluarga dari keturunan Cornelis diundang untuk berkunjung ke rumah barunya, hampir ada sekitar 50 dengan pasangan juga anak yang ada di kompleks, keluarga Bahtiar juga datang dan membawa penanak nasi ada dua, untuk Tania dan ibu, juga bumbu bumbu dari Indinesia, dan hari ini kebetulan cuaca juga sangat cerah di siang ini, jadi pesta di adakan di taman, rumah Tania sebelah jalan ada chanal agak lebar, dan rata rata pada punya perahu motor, sehingga kadang kalau mau ke kota naik perahu juga bawa sepeda lipat, disamping itu di chanal juga banyak ikan sehingga keluarga sering kumpul sambil mancing, bapaknya Tania dan Ezra suka mancing, makanya jarang beli ikan, dan acara mancing juga kumpul keluarga selalu direkam oleh Rendhi bersama Anasthasia, terus di edit baru di share ke media, penggemar tetutama dari tanah air bertambah setiap hari, hari minggu Rendhi dan Anasthasia keluar berdua bawa sepeda dan pulang membuat kaget bundanya.


" Rend, bawa apa?" tanya bunda Tania karena Rendhi bawa koper belanjaan besar, diletakkan ditempat membonceng sepedanya dengan diikat tali.


" Terereng," Rendhi membuka tas koper.


" Waooo, De, kakak baru belanja bulanan nih," teriak Tania kegirangan, memang kulkasnya masih kosong, oleh Rendhi langsung dimasukkan kulkas, kemaren keluarga banyak yang bawa beras, karena mereka tahu makanan setiap harinya selalu makan nasi, juga ada yang bawa gula pasir, mie instans dan telor.


" Pada beli dimana ini Tante?"tanya Tania.


" Di Toko Indonesia di Jerman, tapi lewat online," jawab Catharine tersenyum.


Karena banyak sembako sehingga bisa tak blanja sampai satu bulanan.


Dua hari lagi Tania cutinya habis, dia harus kerja kembali, sebenarnya Ezra melarang kerja, biar ngurus anak saja, tapi Fifah malah kaya anak neneknya, hanya sama Tania kalau mau tidur maupun minum asi.


" Nduk, besok senin kamu sudah berangkat kerja," kata ibu.


" Mas Ezra menghendaki aku keluar dari kerja," kata Tania.


" Tidak usah, nanti Fifah sama ibu," jawab ibu.


" Tapi kata mas Ezra kasihan ke ibu," kata Tania.


" Nanti kalau Fifah tidak sama ibu atau bapak malah jadi bingung," kata bapak.


" Toh kerja kamu tidak lama, jam dua sudah pulang, juga tidak full dalam satu minggu," kata Ibu.


Setelah Tania pindah rumah, Rendhi tak lupa membantunya terutama bersih bersih rumah, sehingga Tania pagi pagi hanya masak saja sebelum berangkat kerja.


" Bunda, pindah rumah aku rekam," kata Rendhi gembira.


" Coba lihat kaya apa," kata Tania sambil menggendong Fifah. Rendhi memperlihatkan hasil rekamannya.


" Ayo sarapan pagi dulu," ajak Tania, mereka sarapan pagi dengan burger.


" Enak buatan bundaku," sanjung Rendhi kalem sambil menggigit burger yang rotinya sangat empuk. Fifah belum di kasih makan hanya diberi ASI saja sudah cukup.


Untuk makan siang Tania masak nasi dengan lauk buat capcay dikasih udang, dan ayam goreng oleh oleh dari tante susi yang bawa ayam ungkep beku di masukkan ke styrofoam, dan ibu dikasih capcaynya.


" De, Fifah tidak diambil sekalian," kata Ezra kangen pengin nyium putrinya.


" Tadi habis dikasih asi terus tidur, enggak boleh dibawa sama ibu," jawab Tania menuju ruang makan. Mereka bertiga makan siang.


" Yah, liburan pengin enggak pulang kampung," kata Rendhi dengan memasukkan nasi dan lauk kemulutnya, dan terlihat kecapaian karena baru pulang blanja sambil merekam dan dirumah blanjaannya ia masukan sendiri sambil direkam juga.


" Ya pengin, nengok eyang," jawab Ezra walau hampir setiap hari vicall, apalagi eyang pengin nggendong Fifah juga kangen Rendhi, karena waktu liburan kemaren Fifah baru satu bulan, kasihan masih bayi perjalanan jauh tentu belum kuat.


Keluarga Oom Bahtiar selalu datang setiap dua bulan sekali, Azizah dan adiknya sudah sekolah disini.


" Mas, aku sudah minta pensiun juga istri, jadi terus mau kumpul keluarga disini," kata Oom Bahtiar ke bapaknya Tania, tadi saat Tania ngasih capcay ke ŕumah ibu mendengar kedua orang berbincang bincang.


Karena seharian sibuk beberes tak terasa sudah sore, roti masih banyak sehingga makan malam pakai roti isi, dan Fifah sudah diambil Ezra.


" De, ibu nelangsa saat aku membawa Fifah pulang," kata Ezra sendu. "katanya Fifah baru saja di bawa ibunya Zizah," lanjut Ezra, Taniapun diam dan akhirnya berkata.


" Itulah mas, makanya aku tetap disuruh kerja," ucap Tania tertunduk.


" Yang kangen Fifah enggak hanya nenek ya, kakak juga," ucap Rendhi gemes sambil nyiumi pipi Fifah yang kaya bakpao, kedua tangan Fifah naik turun dan ketawa tawa geli digoda kakaknya.


" Sudah kak, nanti malam jadi ngrengek," kata Ezra. " Ayahnya juga tiap malam ngrengek," guman Tania melirik ke suaminya, Ezra tersenyum tahu maksud Tania.


Rendhi masuk ke kamar, mau ngedit video.


" Kakak besok sekolah, jangan kemalaman tidurnya," pinta Tania.


" Ok bunda," jawabnya berlalu.


" Fifah tidur minum dulu ya," ajak Tania dengan menggendong Fifah masuk ke kamar, dan dia berbaring terus dibuka kancing baju depannya, Afifah kaki juga tangannya gerak gerak dan bibirnya mulai mencari cari pucuk asi bundanya terus lep diisap keceng keceng oleh kedua bibirnya, Ezra mulai mrngganggu.


" Ini punya ayah Fah," ngeledeknya sambil pegang pegang Tania, akibatnya Fifah berkali kali mengisap terus melepas sambil tertawa tawa,


" Mas, bisa kesedak Fifah," kata Tania gemes ke suaminya, yang suka pada ngeledek.


" Iya De, nanti enggak tidur tidur ya, ayah sudah nunggu antrian berikut," jawabnya menciumi leher Tania. Tania bener bener kaya punya baby dua, yang satu parah kalau enggak dituruti bisa ngambek.


" Mas," ucap Tania.


" Sudah tidur Fifah De?" tanya Ezra lagi.


" Kayak sudah terlelap, dilepas De," pintanya, setelah Tania melepas tinggal melayani bayi satunya dan miring ke kanan menghadap Ezra, ini malam kedua Tania bersama Ezra di rumah barunya.


Tak lama kemudian Fifah merengek minta asi.


" Mas, kamu keras keras suaranya jadi Fifah kaget," dan Tania sambil pegang jari mungil Fifah yang maunya gerak gerak biasanya pegang mulut bundanya.


Malam semakin larut, tak terdengar lagi orang bercakap, di ruangan terdengar detak jam dinding, serta bunyi binatang malam di luar.


Dan para penghuninya telah tertidur dengan mimpi sebagai penghias tidur malamnya.