
Siang itu saat pegawai bergiliran istirahat, Tania mendekati Sulis di meja kasir, diberitahu tentang pelangan berkaca mata hitam, bertubuh atletis, hemnya setiap hari tidak ganti warna juga motifnya abu abu.
" Oh itu yang di pojok, biasa saja koq," jawab Tania datar, sementara laki laki itu melirik sinis ke Tania.
" Tapi kalau lagi bayar di kasir sikapnya aneh, matanya selalu mengawasi kantor mba Tania, " ceritanya lirih, wajahnya berubah merah.
" Dia kan berkaca mata hitam, koq kamu bisa bilang gitu," jawab Tania santai.
" Wajahnya bergerak mba," jawab Sulis tertunduk, karena laki laki itu mulai mendekat, Tania berlalu karena tak mau mencampuri urusan kasir.
" Mas, Rendhi supaya makan siang sini saja," pesan pribadi Tania, tersampaikan tapi tidak terbaca, karena Ezra di jalan mau makan siang di warungnya Tania, yang biasa ia lakukan sebelumnya, kalau lagi pengin.
" Hmmm, suamiku datang," guman Tania terus keluar menjemput Ezra. Ezra turun tersenyum, Tania mencium tangan, mereka berdua duduk di taman yang ada gasebo.
Selanjutnya mereka makan berdua.
" De, beli perumahan ya," kata Ezra disela sela makan.
" Mas, di perumahanku saja, ini barusan yang kontrak ngabari mau pindah," jawab Tania datar.
" Tapi Rendhi jauh," jawab Ezra.
" Biar sorenya aku yang jemput," jawab Tania. Akhirnya Ezra menyetujui untuk sementara, karena lokasi perumahannya agak jauh juga baik dari rumah orangtua Tania maupun kantor Ezra.
Tania menjemput Rendhi di sekolah, di bawa ke rumah orangtua Tania.
" Bun, jadi menginap di rumah kakek?" tanya Rendhi, Taniapun cerita kalau malam tidur di Permai Indah kalau siang disini.
" Bun, bukankah dikontrakan," jawabnya.
" Yang kontrak sudah beli disitu juga, katanya bersebelahan," kata Tania.
Tidak lama kemudian Ezra pulang, bertiga langsung ke Permai Indah, kunci langsung di serahkan oleh yang kontrak, dan ruangan sudah kosong juga bersih, Tania yang telah bawa kasur angin dan bantal, juga meja kecil, karpet, di letakan di ruang dan kamar.
" Rend, mau ikut," kata Ezra.
" Kemana Yah?"tanya Rendhi.
" Mau beli kompor dan yang lain," jawab Tania.
" Enggak Bun, belikan Pizza saja," pinta Rendhi, karena dia belum selesai ngeditnya.
Sejauh ini orangtua Tania tidak tahu masalah yang dihadapi putrinya, karena Tania tidak ingin mereka sedih.
Rumah ini baru di beli dua tahun dari hasil usaha Tania, terus di renovasi jadi bagus, yang kontrak juga orang suka jaga kebersihan, maka tetap terawat dengan baik.
Ezra dan Tania pulang, Rendhipun membantu meletakan perabotan yang dibeli, juga beli funiture langsung dikirim, dan kasur angin diganti dengan bed juga kasur, sementara Ezra di bantu Tania meletakan kompor dan tabung didapur. Rendhi yang membantu pengirim barang funiture memasukkan barang barang.
Mereka bertiga makan malam bersama dengan duduk di kursi meja makan baru.
" Bun, kompleks perumahan ramai juga," kata Rendhi malam itu yang menyempatkan keluar halaman.
" Iya, makanya banyak yang krasan disini walau jauh dari kota," jawab Tania duduk di kursi teras yang baru.
" Sudah malam besok kesiangan," kata Ezra, mereka masuk menuju kamar.
" De, sudah berapa hari?" tanya Ezra sambil memegang Tania.
" Ngantuk mas," jawab Tania matanya sudah pedih karena menahan kantuk, Ezrapun tak memaksa karena ngantuk juga.
Tania paginya bangun lebih awal untuk memasak perdana di rumah ini, hanya untuk sarapan saja, terus berangkat, memang agak jauh sekolah dan rumah orangtua Tania sekitar 20 km, makanya harus lebih awal apalagi kalau jam kerja jalan ramai, jadi jarak tempuh bisa 45 menit bagi Ezra yang harus ngantar dulu ke sekolah Rendhi terus Tania.
" Mba, laki laki yang kemaren malam makan disini lagi," kata Ari, kasir sip sipan yang telah diberi tahu Sulis dengan mengeshare foto.
" Berarti nambah konsumen," jawab Tania datar.
" Tapi mba, matanya lihat kesana kemari, itu dilihat dari gerakan wajahnya," jawab Ari penasaran. Tania agak terpengaruh dengan cerita Sulis dan Ari.
" Jangan jangan suruhan Tina," gumannya di hati.
" Ah jangan mikir yang tidak tidak," guman selanjutnya. Tania masuk ke ruang berukuran 3x3m yang dijadikan kantornya, untuk menyelesaikan laporan yang masih numpuk, belum juga usaha loundry yang menggunakan garasi mobil rumah bapaknya untuk usaha tersebut.
" Thok Thok, mba ada tamu," kata Sari setelah di suruh masuk oleh Tania, iapun bungkit untuk menemui.
" Mba Tania, kamu harus tetap waspada sama dia," kata Mirna, karena dia tidak hanya ingin menguasai harta milik Vera, juga berusaha agar Ezra menceraikanmu.
" Kenapa sampai begitu De Mirna?" tanya Tania penasaran.
" Setelah kematian mba Vera, si Tina mengejar ngejar mas Ezra supaya dinikahi," jawab Mirna.
" Kenapa suaminya diam malah selalu ikut memperlakukan kasar padaku?" tanya Tania bingung.
" Itu karena suaminya lemah dan yang penting di kasih uang," jawabnya serius, setelah minum juz dan makan sop iga Mirna mohon diri, dan Tania membawakan sop buat mertua juga untuk Mirna. Akhirnya Tania ingat cerita Sulis tentang laki laki berkaca mata hitam. Tania masuk ke ruang kerja pegawai, dan agak kaget juga dengan kedatangan pria yang sama, dari wajahnya Tania tahu kalau lelaki itu menatapnya.
"Seperti aku mengenalnya,"guman Tania mengingat ingat lelaki itu, tapi Tania tak bisa juga menemukan jawaban, sampai dahi dikerutkan dengan jari telunjuk ditekankan pada keningnya, tak kunjung muncul jawaban, akhirnya dia masuk ke ruangnya dan meneruskan pekerjaan.
" De, aku makan di sekolah, " pesan pribadi Ezra, Tania hanya membaca belum sempat membalas, karena ingin cepat cepat selesai pekerjaannya.
Sementara Ezra di sekolah merasa kurang nyaman.
" Halo De, sedang apa," katanya dengan meletakan ponsel ditelinga.
" Mas, ini lagi menyelesaikan pekerjaan, " jawab Tania, dan Ezrapun mengakhiri bicara karena Tania ternyata lagi sibuk, Ezra juga sebentar lagi masuk kelas.
Hari kedua Tania menjemput Rendhi di sekolah, dia tak bisa mampir ke rumah mertua, karena melihat Rendhi sampai sesiang ini belum makan siang.
" Rend, makan pakai sop ya," pinta Tania, hari ini ada sop masakan tetangga yang di coba untuk di jual di kedainya.
" Enak bunda, kaya di rumah makan terkenal rasa sopnya," jawab Rendhi, dan Tania menyuruh Rendhi istirahat di kamar depan, sambil nunggu ayahnya pulang.
Beberapa jam kemudian Ezrapun pulang, dan langsung ke rumah dengan membawa lauk untuk makan malam juga buah, Ezra setelah ganti pakain menyempatkan menyiram bunga, sedang Tania didapur.
" Bun, rumah adat masih bagus bagus disini, " kata Rendhi saat makan malam bersama.
" Iya, disekitar sini masih banyak rumah adat pakai kayu," jawab Tania menyendok nasi dan lauk. Rendhi mengiyakan. Setelah selesai, Ezra dan Rendhi menuju ke ruang tamu sekaligus sebagai ruang keluarga dan Tania mencuci gerabah, terus bergabung dengan mereka di ruang tamu yang sedang nonton acara tv.
"Ngantuk Ya," kata Rendhi yang beberapa kali menguap terus bangkit dan berjalan menuju kamar, Ezra dan Tania ke kamar setelah mematikan tv, keduanya merebahkan tubuhnya di atas kasur.
" Sudah empat hari ya De," kata Ezra memeluk tubuh Tania.
" Mas, aku baru saja ada tamu," jawab Tania sedih, berharap bisa telat tapi Allah belum memberi kesempatan.
" Oh ya sudah," jawabnya berusaha menutupi rasa kecewanya, " perlukah memeriksakan ke dokter kandungan sehubungan dengan kandungan Tania," gumannya di hati, mau bicara ke Tania tidak enak hati.
" Mas, perlu aku periksa ke dokter?" tanya Tania resah.
" Ya boleh!," jawab Ezra hati hati, dengan menguap dua kali.
" Ngantuk Mas?" tanyanya, akhirnya merekapun tidur.
Pagipun tiba, Ezra berangkat kerja sekalian mengantar Rendhi serta membawa Tania.
Saat menghentikan mobil di sekolah
Rendhi, lalu dia turun setelah cium punggung tangan orang tuanya, dan mobil di belakangnya mengerem tiba tiba, karena hampir menabrak Rendhi, Tania dan Ezra turun untuk memastikan keadaan Rendhi tidak terluka, keduanya hatinya miris dengan melihat peristiwa ini.
" Rend," kata Ezra menangkap tubuh Rendhi yang berada dibamper mobil ayahnya, sementara mobil belakang tidak bisa mundur, Ezra juga Tania mendorong mobilnya agar Rendhi bisa keluar, dan laki laki yang bertubuh kekar juga atletis dengan kostum abu abu bermotif, berkaca mata hitam, keluar meluapkan kemarahkan pada Ezra.
" Kalau markir mobil jangan di bahu jalan!!!!" serangnya dengan tangan mau ditamparkan ke wajah Ezra, tapi Ezra cepat cepat memiringkan wajahnya sehingga tamparan laki laki misterius tidak mengenai sasaran, satpam di sekolah berusaha melerai, dan Rendhi sudah diajak masuk ke kelas.
" Awas kam, " kata laki laki itu mengancam dengan suara lantang.
" Mas, bukankah mobil itu dari tadi sudah mengikuti mobil kita ya," kata Tania yang sudah mulai curiga pada laki laki yang setiap harinya makan di kedainya.
" Aku tak memperhatikan dia," jawabnya terlihat gelisah, Ezra menjalankan mobil dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya karena hampir terlambat, Taniapun diturunkan di depan rumah dengan tergesa gesa.
" Mas, hati hati," ucap Tania turun cepat cepat, Ezra mengiyakan.
Tania sambil berjalan masuk rumah yang belum pernah ketemu dengan orangtua sejak pulang dari Belanda, berpikir tentang laki laki misterius itu, tapi merasa pernah kenal dengannya apalagi tadi dengar suaranya, sehingga ingatannya pernah mengenalnya, tapi siapa sampai sekarang belum bisa terjawab.
Sampai siang Tania belum di beritahu oleh kasir tentang laki laki itu, mungkin setelah peristiwa tadi pagi dia jadi tidak mau makan disini, sampai Ezra datang untuk makan siang katanya laki laki itu tak muncul.
" Mas, bosen pakai ayam," kata Tania saat mendengar permintaan lauknya, Ezra mengiyakan.