ROSES

ROSES
Part 29 Di Negeri Kincir Air



Hampir satu tahun pernikahan Tania dan Ezra, tak kunjung juga muncul malaikat kecil di perutnya, dan liburan akhir tahun ini berencana reuni keluarga besar Nicolas, demikian pula bagi keturunan Rudolf juga mau reuni dengan keturunan Alice. Setelah kedua keturunan itu bertemu rencana akan kumpul dari seluruh keturunan Frederik, kalau diurut Nicolas kakaknya ibunya Rudolf.


Hari ini keluarga besar Nicolas dan Rudolf dari Indonesia naik pesawat dari kotanya menuju Bandara Soetta, ke Amsterdam Schiphol, berangkat menggunakan pesawat maskapai penerbangan terkenal di Indonesia malam hari, penerbangan perkiraan memakan 14 jam lebih, tentunya perjalanan yang sangat jenuh dan melelahkan, tapi di bandingkan jaman kakek Nicolas tentu sangat jauh berbeda, mereka pada jaman itu hanya bisa pakai kapal tenaga uap memakan waktu sekitar satu bulan untuk mencapai negerinya. Dan mereka bersyukur hidup di jaman serba canggih seperti sekarang ini, juga terimakasih pada kakek Peter yang telah mewarisi harta berlimpah bukan dari usaha ayahnya Nicolas tapi membuka usaha sendiri demikian keluarga Rudolf, walau modal awal di pinjami sama Mamanya, tapi setiap bulan membayar dan satu tahun lunas, itu yang di baca pada catatan Peter di ruang perpustakaan di loteng, lengkap dengan kwitansi pembayaran yang ditandatangani Mama Nicolas.


Tania dan Ezra mengelana ke masa lalu Peter akhirnya sedikit mengurangi kejenuhan di udara selama hampir lima belas jam, dan pagi waktu Belanda sampai di Bandara Schiphol. Amsterdam.


Dari Bandara di jemput, dan rumahnya ada di desa yang sangat asri, dengan ciri khas berupa chanal, dan ternyata desa disini juga banyak di kunjungi turis.


Rumah keluarga berdekatan, dengan kamar cukup untuk keluarga dari Indonesia, sehingga masing masing pasangan tidur di kamar tersendiri, tanpa harus tidur di hotel, sedang yang membuat repot keluarga adalah makanan, untung dari Indonesia bawa beras dan penanak nasi, Ezra tidak begitu pusing selama di rumah keluarga Tania, karena disediakan kamar berdua, seperti waktu mereka di Indonesia, rumah Tania dan Oom Bahtiar memiliki banyak kamar jadi mereka tak perlu ke hotel. Rendhi gabung dengan anak Oom Bahtiar yang bontot, dan anak dari keluarga di Belanda, komunikasi pakai aplikasi terjemahan bahasa Inggris, seperti saat di Indonesia kalau ngobrol dengan Rendhi, yang tidak bisa bahasa Belanda, kalau nenek pada anak dan cucu selalu pakai bahasa Belanda, jadi komunikasi tetap lancar, dengan keluarga Belanda.


" Mas, nyaman juga ya," kata Tania saat masuk ke kamar bangunan kuno.


" Iya De, kita setiap malam bisa main," jawab Ezra yang selalu kesitu arahnya kalau dekat dengan Tania.


" Hmmmm," jawab Tania sambil beberes barang bawaan. Untuk sementara waktu Tania hatinya lega, karena tidak ada gangguan dari keluarga ibunya Rendhi.


Setelah istirahat di kamar, keluar melihat beberapa rumah keluarga tanpa ada pagar keliling.


" Ayo makan siang dulu," ajak tante Nathalie, dan makan di taman dengan di kasih meja taman, yang disajikan makanan khas Indonesia, tadi Ibu di bantu tante Susi masak di dapur tante Nathalie.


" Makam kakek Jos di pindah kemana Theresia?" tanya nenek ke nenek Theresia dari keturunan Jos.


" Tidak jauh, besok kita jiarah," jawabnya. Ezra dan Tania yang makan di dekatnya ikut mengiyakannya. Selesai makan siang para wanita membantu bersih piring.


Dengan udara yang sangat sejuk bagi orang Indonesia, kalau orang sini hangat sekitar 15°c, di musim semi, bunga tulip yang di tanam di taman rumah keluarga pada bermekaran, Tania juga Ezra tak menyia nyiakan moment ini untuk selfie berdua dengan berbagai gaya kemesraan mereka.


Bagi Ezra dan Tania suhu udara disini sangat memanjakanya untuk selalu saling menggelayutkan tangannya di pinggang secara bergantian.


Malampun tiba, berdua setelah kumpul bersama ngobrol Tania yang berkali kali menguap masuk ke kamar, tak lama di susul Ezra. Tania mencepol rambul agak kecoklatannya dan membersihkan muka dengan kapas yang ditetes pembersih, Ezra pada udara malam yang lebih dingin beberapa kali ke kamar mandi, lalu berdua merebahkan diridi atas kasur, dengan sebelumnya Ezra minum air hangat.


Mereka tak kuat menahan rasa kantuk kemudian kedua matanya terpejam dan tertidur dengan suara dengkur halusnya.


Bangun pagi lalu sarapan masakan Indonesia, kemudian mereka menuju kota Amsterdam, masih pada musim semi untuk melihat bunga tulip berjejer panjang, baunya wangi, dan setelah puas melihat warna warni bunga tulip sampai sore baru pulang.


Di negara ini lebih banyak orang naik sepeda, terutama kalau dari rumah pakai sepeda lipat terus naik kereta.


Puas keliling kota, mereka pulang ke rumah yang berada di desa.


Malampun tiba, mereka ngobrol ngobrol sebentar dengan keluarga terus masuk kamar, tidak terlewatkan bagi Ezra untuk melakukan pekerjaan wajib.


" De, kita nginep di hotel barang sehari dua hari untuk bulan madu yang tertunda," ajak Ezra. Tania mengiyakan.


" Hmmm sekali kali bermain sambil ngobrol," kata Tania, konsenstrasinya mulai terbelah, sehingga tak fokus.


" hehehe," Ezra sambil tersenyum, Ezra yang kalau dekat dengan Tania mesti ini yang di minta, tak memudarkan semangat walau tadi sedikit sambil ngobrol, hampir setengah jam baru selesai, terus tidur dalam satu selimut setelah membersihkan diri pakai air hangat. Ezra menelungkupkan kepalanya di bawah ketiak Tania dengan tangan di takupkan di perut Tania dan terus tertidur.


" Hari ini rencana jalan jalan di kota Amsterdam Bu," kata Tania saat makan pagi Ibu mengiyakan.


" Kalau ke museum, di museum Leiden bisa lihat benda benda sejarah Indonesia," kata Ezra.


" Tidak jauh dari sini paling hanya 40 km," jawab Josephin, dia pakai bahasa Inggris.


Dan Tania berbisik sama ibu.


" Bu, sekalian nanti malam hanya semalam nginep di hotel," bisik Tania, dan Ibu mengiyakan, sambil titip Rendhi yang sudah akrab saudara saudara sebaya dari Belanda, Tania kadang tersenyum senyum melihat para abg berkomunikasi dengan Rendhi sambil buka aplikasi terjemahan Inggris.


Dan ternyata mereka pada buat video disetiap yang dikunjungi.


" Bunda, Rendhi share di yuotube," kata Rendhi saat di dekati Tania dan minta subscribe juga like.


" Ok, bunda nanti nonton ya Rend," kata Tania mengacungkan jempol.


Pagi itu mereka membawa sepeda lipat, naik kereta menuju kota, Tania dan Ezra sudah bilang ke Rendhi kalau habis sepedaan di kota Amsterdam mau menginap di hotel barang semalam, Rendhi mengiyakan.


Tania sangat senang melihat Rendhi dan saudara saudaranya cepat akrab, mereka bikin video jalan jalan di kota dengan bersepeda.


" Mas, Anasthasia lengket juga ke Rendhi," kata Tania menghentikan sepeda.


" Mereka sudah akrab sejak berkunjung ke Indonesia," jawab Ezra.


Makan siang beli roti, tentunya cari yang halal. Setelah di rasa cukup juga sudah agak sore mereka menuju stasiun pulang, Tania dan Ezra nyepeda dengan nyangklong tas ransel ke hotel, Ezra tidak kawatir dalam komunikasi karena Tania pandai berbahasa Belanda, lokasi hotel juga dilihat di maps, bahkan saat keliling melewatinya.


Setelah sampai di hotel, berdua meletakan sepeda di tempat sepeda terus masuk kamar, dan karena seharian bersepeda, belum lagi harus mengikuti perintah Rendhi, untuk di buat video juga di mintai bantuan menyotingnya, sehingga berdua merebahkan dulu di atas kasur, dengan kepala Tania telungkupkan ke bawah ceruk leher Ezra, sambil membuka kancing baju suaminya, dan di kecup kecupnya juga tangan ia masukkan kedalam hem, dielus punggung suami lembut, sedang Ezra mengecup ecup ubun ubun kepala Tania, tanpa disadari matanya berembun.


" De, jangan tinggalkan aku, aku tak mampu hidup tanpa kamu," gumannya lirih, Ezra ingat hari harinya saat di rumah Tania di ganggu terus oleh Tina, sampai tak berani sendiri di rumah Ezra.


" Mas!" ucap Tania, kepala ia dongakan sehingga dengan jarak hanya beberapa cm mereka beradu pandang, dan Tania tahu apa yang dipikirkan suami maka bibir Tania ditempelkan di bibir hangat Ezra, suaminya langsung mengulum lembut istrinya.


" Tan!" di dekap tubuh Tania erat seolah tak mau melepaskannya, Tania membalas dekapannya, merekapun melepas dekapan satu satu pakaian ia tanggalkan, dan berdua siap melakukan yang diinginkannya.