ROSES

ROSES
Part 41 Rendi Pergi



Dan Pada bulan berikut Tina memberi kabar kalau tamu bulanan telat, Ezra untuk kedua kali kepala rasanya seperti dihantam palu, sejak itu Ezra hidupnya tak karuan, sampai jam kerja minta tidak menentu, meminta kerja kalau kondisi tubuhnya benar benar sudah sehat.


" Mas, minum lagi," tangis Tania tengah malam itu, karena Ezra pulang langsung jatuh di depan pintu rumah dengan muntah muntah berat. Rendhi pun hancur melihat Ayahnya jadi seperti ini, Rendhi memutuskan mengontrak apartement menjauhi problem rumah tangga orangtuanya.


"Tan, aku pusing, kamu mau meninggalkanku," ucapnya ngracau dengan bau dari mulut, Ezra sejak suka minum tidak lagi naik mobil sendiri ketempat kerja, tapi naik kereta, dan Tania membaringkan tubuh Ezra di kamar terpisah dari kedua anaknya, bahkan orangtua Tania selalu meminta Afifah dan Varo di rumah mereka untuk menjauh dari kebiasaan baru Ayahnya seperti Rendhi. Dan Tania masih bungkam pada Mirna apalagi orangtua Ezra yang sudah tua tentang keadaan Ezra sekarang. Toh disini tidak dipermasalahkan, juga di lingkungan walau semua keluarga tak ada yang mengusiknya, dan Ezra setiap hari selalu pulang malam atau bahkan pagi kalau libur, pulang dalam keadaan pusing.


" Nduk, yang aku tahu Ezra orang baik, kenapa jadi begini?" tanya Bapak prihatin melihat rumah tangga putrinya, juga prihatin melihat kondisi Ezra yang tidak tahan minum sehingga tubuhnya limbung.


" Iya Yah, yang aku tahu sejak dia pulang dari tanah air," jawab Tania sendu dengan mata sembab.


Dan dia kalau pulang selalu minta dilayani di atas kasur, sehingga Tania setiap hari minum obat. Dengan bau minuman yang menyengat dari mulutnya, Tania sampai menutup hidung karena tak kuat pada baunya.


" Tan, aku bau sampai hidung ditutup," ngracaunya, Tania mengelus elus pipinya dan mencium lembut kedua pipi dengan bau yang membuat kepala Tania nyut nyutan juga.


" Mas, pelan saja," kata Tania lembut, tangan dilingkarkan ke lehernya dan dikecup lembut kening Ezra.


Entah lupa atau disengaja oleh Ezra ponsel yang biasa ditinggal dilaci meja kerja di kantor ada di tas cangklong, Tania tak sengaja iseng membuka Tas saat Ezra pulang dalam keadaan tak sadar diri sampai rumah, Tania mendengar getar ponsel di tasnya terus diambil, ada panggilan dari inisial Tin, terus oleh Tania diangkat.


" Halo, Mas Devina tanyai kamu terus, kapan ayah nengok Devina," suara itu begitu manjanya panggil Ezra.


" Mba, mungkin anda salah sambung," suara Tania bergetar dengan jantung berdenyut keras, walau dia berusaha berpikir positip tentang suami.


" Ini nomer ponselnya Mas Ezra, aku istrinya, itu di profil putrinya, aku sekarang sedang mengandung anak kedua," suaranya mulai lantang, dan Tania ingat suara ini adalah Tina. Ponsel langsung ia jatuhkan di kasur dekat suami berbaring dengan getar panggilan terus saja berbunyi, Tania lemas tak berdaya jatuh ke lantai, begitu sesak dirasa nafasnya, apalagi melihat Ezra mengambil ponsel, dan menjawab panggilannya dengan masih terpengaruh minuman, sehingga jawabannya tak karuan.


" Ya Tuhan," hanya nama Pencipta yang disebutnya, air mata mengucur dengan deras dari kedua matanya, Tania tak bisa lari dari kenyataan hidup yang begitu pahit menderanya, dan dengan kedua tangan mencekeram sisi ranjang dia telungkupkan kepalanya, menangis sepuasnya.


Tangan Ezra begitu lemas dengan mata terpejam akhirnya ponsel ditelinga melorot jatuh di kasur.


Tania merasa hidupnya tak berarti, akhirnya iapun pergi ke kota tengah malam itu, menuju ke kafe, dia akhirnya minum untuk melepaskan kepenatan otaknya, apalagi Tania hidungnya sudah terbiasa mencium bau minuman dari mulut Ezra, sehingga dengan mudah dia menegak minuman itu. Untuk sementara terlupakan kepedihan hatinya, sampai pagi Tania belum pulang, Ezra yang sudah sadar dan betapa terkejutnya ponsel khusus untuk nyambung dengan Tina tergeletak dikasur, dibukanya dan panggilan dari Tina diterima.


" Apakah ini Tania yang menerima panggilannya?" guman Ezra, dan Ezra yang sangat mencintai Tania mulai kacau otaknya.


" Tina, kau menghancurkan rumah tanggaku, untuk kedua kalinya," gumannya pedih meracuni seluruh tubuhnya, tetapi sebagai seorang lelaki yang memiliki jiwa kebapakan dia tidak tega pada darah dagingnya, walaupun dengan wanita yang ia benci selama ini, anak anak itu tak berdosa, karena ulah orangtuanya sehingga mereka lahir.


Dia mencari Tania dari kamar ke kamar bahkan ke rumah orangtua, tak ditemukan juga Tania, dan Ezra menghubungi ponselnya.


" Halo, sayang kamu dimana?" suara Ezra lembut, dan jawaban Tania tidak jelas.


" Iiiyyaaa sasppa iiinnii, jaangaaan gggaaanggguu aakkuu," suara Taina menggerutu disana entah dimana, Ezra mulai kacau berusaha mencari lokasi pada aplikasinya, setelah menemukan titik keberadaan Tania dia langsung menuju lokasi, dan Tania berada disebuah hotel, akhirnya Ezra pinjam kunci ke resepsionis, betapa kagetnya ia, karena menemukan Tania tengkurap di kasur dalam keadaan pingsan, hatinya menjerit melihat ini semua.


"De, aku menyayangimu," ucapnya lembut, dielus elus rambut kecoklatannya penuh cinta, di baliknya tubuh yang mulai terlihat kurus juga wajah kusut, Ezrapun menangis dengan pelukan sangat erat ketubuh Tania, seolah tak mau pisah darinya.


" Mas, mas," suaranya parau menahan derita batin yang menderanya, tubuhnya lunglai, Ezra mengangkatnya dan menyenderkan kepala Tania di ceruk lehernya, di kecup ubun ubunnya penuh kasih sayang, dengan air mata membasahi di bola matanya.


" Iya sayang, jangan tinggalkan aku," serunya, didekap tubuh wanita yang dicintainya, dan tangannya yang gemetar membelai rambut istrinya. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan dan memilukan, masalah yang dihadapi begitu rumit dan masing masing tak bisa mencari jalan keluar untuk tidak merasa tersakiti.


Siang hari keduanya keluar dari hotel untuk pulang kerumah.


Dan orangtua mana yang tidak hancur melihat putri satu satunya seperti ini.


Sementara itu neneknya yang sudah tua pengin wafat di tanah air, sedangkan orangtua Tania tidak tega meninggalkan putrinya dalam keadaan rumah tangga seperti ini, walau orangtua Tania tak tahu permasalahan rumah tangga putrinya ini.


" Nduk, bisakah kamu cerita pada ibu tertang masalahmu?" tanya ibu hati hati dan lembut.


" Atau kita pulang menempati loji, sepertinya kamu lebih betah disana," desak ibunya lembut.


" Iya Nduk, nenek juga ingin pulang, pengin wafat disana," kata nenek yang duduk disamping Tania. Ezra hanya menatap Tania dengan tatapan mata kosong, dan hari ini Ezra tak berangkat kerja.


" Melihat keadaan kalian seperti ini, anak anak sebaiknya ikut kami, seperti yang dilakukan Rendhi," kata Bapak tegas.


" Pak, aku tidak bisa pisah dengan Fifah dan Varo juga Rendhi," jawab Ezra sedih, ya Rendhi memilih hidup di apartement tapi tidak jauh dari sini, sehingga bisa ketemu setiap akhir pekan.


Untuk sementara waktu Ezra tidak pulang sampai larut malam setelah kerja langsung ke rumah. Tapi Tania lebih banyak diam juga menangis terutama saat habis Sholat, Ezra tahu kalau istrinya sangat hancur mendengar penyataan Tina, dan hancurnya sama seperti dirinya. Bahkan keduanya mulai berkurang melakukan aktifitas kebersamaan. Sedangkan orangtua Tania karena neneknya ingin kembali ke Indonesia akhirnya pulang bersama Oom Bahtiar dan istrinya, mereka memilih hidup di loji. Tapi Fifah dan Varo tak boleh di bawa oleh Ezra.


" De, kamu repot karena tidak dibantu ibu," kata Ezra lembut.


" Enggak Mas," jawabnya, memang Fifah dan Varo anak anak yang tidak banyak menyusahkan orangtuanya.


" De, aku tahu kamu sakit, perih hatinya, dan aku hanya bisa berucap maaf bahkan ribuan maaf, tapi aku tahu maafpun tak cukup bahkan tak bisa mengembalikan kenyataan ini," kata Ezra panjang dan ada titik bening di matanya.


" Jadi maksud mas Ezra, aku harus menerima Tina jadi maduku," kata Tania dengan nada tinggi, Ezra kaget dengan suara melengking dari mulut Tania.


" Ya itu katamu," jawab Ezra sedih.


" Ok Mas, banyak laki laki menunggu jandaku," kata Tania kesal.


" De, kamu tidak kasihan ke Fifah dan Varo," jawab Ezra memohon dengan wajah ketakutan.


" Mas, orangtuaku sudah tahu permasalahan ini, dan tidak rela anaknya disakiti berkali kali," jawab Tania tegas.


" Berarti kamu kalah," jawab Ezra sendu seperti tidak rela kalau berpisah dengan Tania, tentu Tania yang semakin cantik juga dewasa banyak lelaki disini yang mau, membayangkan ini Ezra semakin takut.


" Ya seperti mba Vera...." jawab Tania tak meneruskan kata katanya.


"De!" kata Ezra berusaha memeluk Tania.


" Lepaskan!" kata Tania keras, sementara Fifah dan Varo sudah tidur malam itu.


Sejak pertengaran malam itu Ezra kembali pulang malam, tapi Tania hatinya sudah begitu sakit, sehingga lebih baik melindungi anak anaknya. Tania hanya membukakan pintu dan membaringkan tubuh Ezra di kasur kamar jauh dari kedua anaknya. Bahkan Rendhi melihat Ayahnya seperti itu jadi jarang pulang, dia malu dengan Ayahnya yang lemah.


Kadang Tania ingin pergi, tapi oleh saudara saudaranya tidak dibolehkan.


" Kemanapun kamu pergi tak akan seketika hilang lukamu, kamu sudah pernah mencoba itu bukan?" nasehat Barend yang selalu simpati pada problem rumah tangga Tania. Tania tahu kalau Ezra pulang ke Indonesia menengok Tina yang akan melahirkan. Hati kecil Tania sangat sakit juga perih tapi tidak punya daya menghadapi pahitnya hidup.


" Mba Tania, Ezra koq jadi suka minum," pesan pribadi Mirna barusan dengan emoji nangis.


" De Mirna tanyakan pada Rendhi, atau bahkan de Mirna tahu jawabannya, " bales Tania sedih.


"Mba, ini jebakan Tina, kamu jangan kalah, kamu harus kasihan pada mba Vera, " bales Mirna.


Dalam hati, " Apa sih hubungannya dengan mba Vera?"guman Tania.


"De, aku tidak bisa hidup tanpamu, " pesan Ezra entah benar atau hanya bualan, Tania tidak tahu.