ROSES

ROSES
Part 42 Kosong



Tania memandangi kedua anaknya yang tak berdosa disaat mereka tidur di malam itu, Tania tak henti henti menangis, dia berpikir, " Kalau air mata darah sekalipun yang keluar dari mataku tak akan mengubah nasib," akhirnya Tania menuju meja rias yang didepannya terdapat cermin besar.


" Tania kamu cantik, jangan tangisi Ezra bukankah dia laki laki tua," gumannya di depan cermin bibirnya mengulum senyum dan menambah cantik dia.


" Tania, kamu harus berterima kasih pada kakek Peter karena entah sampai ke berapa turunan tanpa kerja bisa hidup layak," gumannya lagi, dan sampai akhirnya di depan cermin Tania menguap, terus membaringkan tubuh disebelah anak anaknya yang memberi semangat hidup bagi Tania. Sampai ada bel pintu berbunyi, Tania dan kedua anaknya belum bangun. Ezra sempat duduk di kursi taman depan kebetulan lagi musim panas, dan Ezra mencoba lagi membunyikan bel di pintu, terdengar suara Varo juga Fifah.


" Bunda, Ayah mungkin pulang," kata Fifah anak usia dua setengah tahunan tapi tidak cidal ngomongnya, Fifah bangun berlari menjemput ayah, Tania menggendong Varo, sebelum membuka pintu Tania memandang Ezra.


" Tania kamu bodoh, kamu cantik, hanya karena laki laki tua kamu menangis sepanjang hari," gumannya.


"Ayah itu Bunda," teriak Fifah kegirangan, menyuruh Tania buka kunci pintu karena dia masih kesulitan. Tania membuka pintu, terus berlalu tanpa menyapa Ezra, dia juga lagi kangen sama putrinya yang ada digendongannya.


" Varo, Ayah juga kangen," kata Ezra meletakkan Fifah dikarpet dan meminta Varo dari Tania. Tania tak bergeming melihatnya, setelah menyerahkan Varo ke Ezra, iapun menuju kamar berbaring diatas kasur, matanya menerawang keatas, bulir bulir air mengambang di matanya.


" Bunda, bikinkan Ayah kopi," pintanya, wajahnya ceria dengan menggendong Varo.


" Uuhhh, kaya enggak berdosa," guman Tania kesal, dan Taniapun bangkit dari atas kasur menuju dapur untuk buat kopi.


Karena anak anak belum makan pagi Tania buat roti isi sosis kesukaan Fifah, sedang Varo di buatkan bubur bayi.


Tak lama Rendhi datang, memberi tahu tentang keluarga Tina yang meminta uang terus ke Rendhi dengan mengancam akan memberi tahu tentang keberadaan anak Ezra ke Tania.


" Rend, jangan di layani, bunda sudah tahu," kata Tania kesal dan menceritakan kalau ayah pulang ke kampung halaman karena Tina melahirkan, Rendhi merasa terpukul dengan berita ini.


" Rend, ambil sisi positifnya, kamu tak boleh lemah untuk serang balik ke mereka," lanjut Tania seperti mendapat angin segar. Ezra tertunduk serta diam kaya pesakitan.


" Kenapa Ayah lemah, ayah hanya bisa menyakiti bundaku dan bunda Tania," serang Rendhi, ada titik air disudut matanya. Ezra tak bisa menjawab hanya diam, atau memang itu strategi dia.


Siang itu Rendhi ingin berada di rumah bersama adik adiknya, kebetulan lagi tak ada kuliah, Tania memasak masakan Indonesia untuk makan siang, Ezra berusaha mendekati istrinya yang lebih cantik dan muda ketimbang Tina, tapi Tania tak memberi respon, sakitnya sudah mendalam membuat hatinya jadi membeku.


Sementara Ezra betul betul merasa terjebak oleh Tina, kalau toh sampai punya anak dengannya itu pengaruh obat yang diberikan Tina padanya, itu juga hanya main dua malam, yang pertama di hotel dan ĺahir Devina dan yang kedua karena Ezra kangen Devina dia disekap di kamar semalam lahir Askila dan saat disekap dia di beri makanan yang telah di beri obat, tapi Ezra tak mampu menceritakannya, karena akan semakin hancur hatinya, bahkan Ezrapun semakin tidak berdaya saat di paksa menikah siri dengannya, Ezra setiap hari kepalanya seakan mau pecah sehingga lari ke minum.


Hari ini saat Ezra baru pulang menunggu persalinan operasi cesar Tina, merasa kalau Tania sudah berbeda, dia sudah berkurang cintanya, atau bahkan sudah tidak mencintai lagi pada Ezra, mungkin rasanya seperti Ezra ke Tina tidak cinta tapi hanya karena anak. Kalau kepala mulai pusing maka ia lari ke minum menuju kafe, toh disini tak menjadi persoalan.


Dan Ezra tetap memutuskan berada di Belanda karena untuk menghindar dari Tina, dia yang hanya bisa berbahasa Jawa dan Indonesia tak mungkin berani menuju ke negara ini, apalagi uangnya tidak cukup.


" De, kamu marah," kata itu yang pertama Ezra ucapan saat anak anak sudah tidur di malam itu, sementara Tania memunggunginya, tangan Ezra di biarkan Tania untuk mendekap pinggangnya.


" Mas, aku membiarkan diriku yang masih muda hidup bersamamu," jawab Tania, dalam hati ada sesal karena memiliki suami Ezra.


" Jadi maksudmu," jawab Ezra mulai kacau, yang sebenarnya malam ini mau terbuka masalah Tina akhirnya hanya diam.


" Kalau aku tidak mampu mempertahankan maka lebih baik mundur," jawab Tania lirih tapi seperti menggelegar bagi telingga Ezra, dengan tangan gemetar dia eratkan pelukkannya, disudut matanya muncul setetes air dan mulutnya bergerak semampunya untuk menjawab perkataan Tania.


" Kamu tidak sayang sama Fifah juga Varo," jawabnya gemetar membayangkan kedua buah hati yang dibuat penuh kasih sayang.


" Lebih mengerikan mana punya ayah peminum juga ada anak dari wanita lain," jawab Tania sengol, dan pleng kepala Ezra terasa di tempeleng, iapun lebih gelagapan.


Tapi Ezra seperti diberi peluang untuk berbicara dari hati ke hati karena Ezrapun ingin mengakhiri kesalah pahaman ini.


" De, aku pengin berterus terang padamu, aku ingin kita seperti dulu," kata Ezra.


" Ya enggak mungkin," jawab Tania ketus.


" Tapi tolong De, dengarkan pembelaanku, mungkin kamu akan berpikir yang terbaik," jawab Ezra memelas.


"Aku ngantuk," jawab Tania sambil tangan ditutupkan ke telinga.


" Hhhhhh," Ezra mendengus, tangan dingin menyentuh lengan tangannya, saat ia pegang handel pintu untuk keluar menenggelamkan diri pada kebiasaan.


" Mas ," suara itu sangat dikenalnya sehingga dia menoleh wajah kesebelahnya, Tania telah ada disampingnya, Ezra menatap wajahnya terlihat matanya sembab seperti habis menangis.


" Mas, demi anak aku menerima ajakkanmu untuk berbicara dari hati ke hati," katanya sendu. Dan mereka duduk diruang tamu, mulailah Ezra bercerita tentang persoalan yang membelit rumah tangganya. Tania menangis lirih mendengar cerita suaminya di malam yang sangat sepi.


" Aku tahu kamu sangat sakit mendengar ceritaku," kata Ezra yang berusaha merengkuh pundak Tania.


" Apa yang harus kulakukan agar kamu bahagia De," kata Ezra selanjutnya.


" Aku tak menginginkan kamu menjalin hubungan lewat media atau pun bertemu, tapi kalau ini dilanggar aku mengambil keputusan untuk mengakhiri kebersamaan kita," ucapnya tegas.


" Aku akan membuat perjanjian itu dan harus ditandatangani," lanjutnya tegas juga.


Sebenarnya permintaan ini tak berat baginya, Ezra sendiri muak kalau ada panggilan atau pesan dari Tina.


Tania mendengar rengekan Varo diapun menuju ke kamar dan memberi asi dengan menepuk nepuk atas kaki Varo, Ezra berbaring disebelah.


" De, sudah tidur Varo?" tanya Ezra dengan nafas tertahan, Tania diam matanya terpejam.


" Mas, aku pengin kerja lagi," kata Tania.


" Untuk apa," jawab Ezra kurang nyaman, apalagi dia tahu di tempat kerja ada teman kuliah Tania yaitu Steven yang sampai sekarang dekat dengannya.


" Atau ingin ketemu Steven," lanjutnya.


" Steven bukankah dia sering datang kesini," jawab Tania santai, dia seperti Barend perhatian sama Tania dan anak anak tapi bukan berarti cinta. Ezra tak mau menjawab tapi bangkit dari kasur terus mengangkat tubuh Tania dibawa ke kamar sebelah, Tania akhirnya pasrah ditengah malam Ezra menginginkan dirinya, setelah selesai Tania segera meninggalkan tubuh yang mulai kurus sehingga terlihat tua tertidur dan Tania menyelimutinya.


Tania merebahkan tubuh disebelah Varo, matanya yang belum ngantuk ingat Steven kemaren siang saat pulang kerja menghubungi Tania ingin datang, dia bawa coklat untuk Fifah dan membelikan bubur bayi untuk Varo.


" Tan, aku pengin dibuatkan nasi goreng," pintanya, dia memang suka cuma bumbunya pakai lada, katanya enak masakan Tania. Ya Steven hanya suka pada segala yang dimasak oleh Tania, bahkan saat masih kerja dia selalu minta makanannya, siang itu Steven sampai nambah, Tania memberi udang, sosis juga telor mata sapi pada nasi gorengnya, sampai nyeletuk.


" Tan, kalau punya istri pandai masak kaya kamu, aku lengket terus," ujarnya seperti mau memeluk pinggang Tania tapi dia sadar beda budaya.


" Makanya cepat cari istri," jawab Tania datar.


" Belum ada yang kayak kamu," jawabnya asal ngomong.


Besok siang mau bawa roti minta dibuatin hamburger untuk bekal kerja.


Tania jadi ingat Barend pengin sarapan pagi nasi goreng buatannya pagi nanti. Dan Taniapun tertidur disamping Varo.


Ponsel bergetar, Tania bangun mengambilnya di nakas.


" Tan, nasi goreng sudah bikin, aku kesitu, " sambung Barend, istrinya disebelahnya, dia tahu kalau baru bangun.


" Iya, baru mau bikin setengah jam lagi, " jawab Tania di vicallnya. Tania bergegas ke dapur sambil gendong Varo, Fifah mainan di ruang makan.Tak lama setelah Tania menvicallnya, Barend dan Istri datang langsung menikmatinya, Ezra bangun ikut menemani makan.


" Enak Tan," kata Barend setelah selesai makan dengan nambah lagi dan dia memeluk pinggang Tania dari belakang dengan mencium Varo yang ada digendongan.


Barend mengajak istrinya berangkat kerja setelah bawa bekal roti isi sosis, keju juga daging giling ditambah tomat yang Tania buatkan.


" Tan, anak anak perlu perhatian kita, aku mau keluar dari kerja," kata Ezra setelah Barend pulang, Tania menyambut gembira.


" Iya Mas, toh kalau kamu kerja uangnya habis untuk bersenang senang," jawab Tania menohok. Ezra tak mau menjawab perkataan Tania, tapi dalam hati mengiyakan.