ROSES

ROSES
Part 24 Hari Bahagia Ezra dsn Tania



Pagi pagi Tania menemui neneknya.


" Nek, tas yang terbuat dari aluminium masih ya?" tanya Tania to the point, padahal dia belum tahu bentuknya.


" Untuk apa Nduk," jawab nenek datar.


" Pengin lihat saja, siapa tahu dalamnya foto foto nenek moyang kita," jawab Utari datar, neneknya berusaha mencari keberadaan benda itu, dan ketemu.


" Ini apa nduk?" tanya nenek.


" Iya nek, nanti di buka ya nek," pinta Tania, dia membaca tulisan kecil di pojok atas kanan, " Bunga kesayanganku."


" Bukanya harus ke tukang las," jawab nenek.


" Pakai solder bisa," jawab Tania.


" Di buka nanti keluarga di kumpulkan," jawab nenek.


" Iya, paling mrnjelang Magrib kumpul di rumahmu nduk," saran Oom Bahtiar.


" Dibawa Tania boleh nek ," pinta Tania.


" Iya boleh," kata nenek dan Oom Bahtiarpun tak keberatan, Tania akhirnya cerita ke nenek dan Oomnya tentang kejadian di desa wisata dan mimpinya.


" Oh jadi selama ini kamu ke rumah Ezra karena menemaninya membaca buku," ucap nenek dan Bahtiar mengiyakan pertanyaan nenek, Tania mengangguk. Tania pamit, barang itu dimasukkan tas biar tidak terlihat orang, dan kebetulan waktu sampai di rumah orangtua belum berangkat ke kantor.


" Bapak, apa benda ini?" tanya Tania, bapaknya mengiyakan dan oleh Tania di foto terus dikirim ke Ezra.


" De, tapi aku tidak hadir saat tas di buka ya, itu masalah keluarga," balasnya.


" Nanti dulu aku bicarakan sama keluarga," bales Tania. Seharian Tania ditemani Ezra mendatangi toko roti terkenal di kota ini, untuk memilih roti rasa apa saja yang akan di pesan, juga jenis kudapan lain yang terkenal sering di pesan dan sanggup membuat untuk hari minggu, walau makanan itu sudah didatangi sejak mereka berdua pulang dari camping, dan masing masing sudah di kasih dp, tapi hari ini perlu tahu kesiapannya. Mereka menuju rumah Ezra dulu, karena Ezra mau bersih diri dan ganti baju untuk menantar Tania, Ezra juga di hubungi oleh nenek Tania kalau Ezra harus hadir untuk membuka tas warisan nenek buyutnya.


" Tan, sebentar!" ucap Ezra menarik tangannya masuk ke kamarnya, kebetulan Rendhi di pekarangan samping ngumpul dengan beberapa temannya.


" Mas!"jawab Tania, yang tadi sudah mandi disini, kebetulan ada beberapa baju yang ia tinggal di rumah Ezra. Tangan Ezra dilingkarkan ke pinggang Tania, tangan Tania dikalungkan ke leher Ezra, mereka saling mengulum bibir penuh mesra dengan rasa lega di hati telah menyelesaikan membaca buku Peter.


" Mas, kita ditunggu keluarga," kata Tania selanjutnya dengan melepaskan pelukan. Mereka bergegas menuju rumah Tania, dengan sebelumnya bicara sama Rendhi, sampai di rumah keluarga sudah pada kumpul di ruang tamu, dan langsung di buka pakai solder oleh Pak Risqi.


" Wooow!" serentak mereka berseru setelah membuka isinya berupa foto kenangan berupa foto pengantin, setelah dibaca pada tulisan belakang yang persis seperti tulisan tangan Peter, foto itu pengantin Peter dan Utari, ada foto Utari sedang mengandung, dan baby Bunga Mawar Putih atau Zenia Yasna dan foto foto keluarga besar Cornelis ada foto Rudolf juga.


Tania langsung memeluk Ezra erat, dan Ezra membalas pelukannya tanpa menghiraukan keluarga lagi pada kumpul.


" Mas, tugas kita selesai hari ini," kata Tania tanpa malu pada keluarga yang lebih serius melihat foto dan buku harian Peter yang diserahkan untuk diteliti kesamaan tulisan di balik foto.


" Iya De!" jawab Ezra membalas kecupan bibir Tania.


" Ada tulisan tangan nenek Zenia juga," kata Oom Bahtiar setelah buka bungkusan satunya yang di dalamnya berisi perhiasan Utari, juga sertifikat tanah loji 13 milik paman Tardi


" Luas sekali tanahnya," kata Oom Bahtiar terkejut.


" Betul Oom," kata Tania, Ezra tak berani bicara merasa bukan haknya.


" Besok kalau Tania sudah beres kita urus," kata nenek yang sedari tadi kaya bingung.


" Ezra dan Tania saat mimpi di camping skema rumah seperti apa? tolong di gambar," kata Pak Risqi, Tania ambil kertas hvs dan bolpoint hitam, dan menyerahkan ke Ezra yang lebih pinter menggambar, dengan dia ikut memandunya.


" Kami hanya sampai sini," kata Tania sambil menyodorkan kertas hvs ke Bapaknya. Setelah di buka skema loji 13 di samakan dengan gambar Ezra.


" Mirip, cuma ada 6 batu nisan dengan di beri nama di pojok belakang.


" Oh kalau itu kami tidak tahu Oom," Ezra merasa boleh ikut menjawab.


" Batu nisan Jos ada juga, tapi tidak ada Rudolf," kata Tania.


" Dan itu seperti ada sampul surat," kata nenek, Oom Bahtiar membuka.


" Surat dari Rudolf," kata Pak Risqi.


" Tugas membaca buku tulisan nenek buyut Zenia diserahkan Ezra, karena Peter mempercayakan pada Ezra," kata nenek lemas mengingat peristiwa tragis Peter.


" Tapi untuk memastikan kita perlu test dna," kata Tania.


" Sepertinya tidak perlu, ini ada silsilah keluarga dan foto kami beserta nenek," kata Pak Risqi antuasias.


" Berarti ini di patri oleh kakek ya bu!" kata Oom Bahtiar.


" Mungkin, aku tidak pernah di beri tahu, cuma Papa dulu memberi benda itu dan jangan di buka patri ini, kecuali hal hal yang mendesak atau kamu sudah tua," kata nenek sambil menyampaikan pesan Papanya.


" Berarti ini tidak salah nek kita bukanya?" kata Pak Risqi, nenek mengiyakan.


" Yang di dalam ini kecuali sertifikat tanah akan saya serahkan ke Tania dan Ezra, karena mereka yang di percaya Peter," kata nenek, yang lain mengiyakan.


" Test dna perlu juga," kata Bahthiar, yang lain mengiyakan. Dan mereka sebelum bubar mendoakan Peter juga Utari serta lainnya agar tenang disana.


Sore itu karena sudah cukup dan semua baru menyadari tentang keluarganya, hatinya plong tapi merasa tersayat di relung terdalam mengenang Peter dan Utari.


" Mesti banyak hal yang mengenaskan tapi Peter tidak mau menulis peristiwa yang miris," kata Ezra sambil memeluk Tania di kamarnya, orangtua Tania sudah tidak takut karena mereka sudah syah di mata agama, sehingga saat Tania mengajak Ezra ke kamar dibiarkan saja, apalagi kamar oleh Tania tidak dikunci.


" Iya Mas!" kata Tania terus mempererat pelukannya, Ezra membalas dengan mengecup mata Tania yang berair. Mereka melepas pelukkan dan duduk disisi ranjang, Tania menangis ingat Peter dan Utari yang bersimbah darah saling memeluk, Ezra membelai rambut kemerahan Tania lembut, dan sudut mata Ezra berair juga mengingat bau anyir dan mayat bergelimpangan.


Dan celana Ezra basah oleh air mata Tania.


" Mungkin kita yang paling terpukul, karena kita seolah mengalami peristiwa itu," kata Ezra sendu.


" Iya Mas!" tangis Tania tak terbendung seolah peristiwa tragis itu baru saja terjadi di krluarganya, tangisnya sampai terdengar di ruang keluarga sehingga Bapak dan Ibu masuk ke kamar.


" Di doakan saja mereka," kata Ibu, dan Bapaknya juga ikut membayangkan penderitaan keluarga Cornelis.


" Kalau nanti kita test dna nya benar kita turunan darah Cornelis, bapak ingin juga mencari keturunan kita, pada dimana setelah peristiwa itu dan juga cari keluarga Rudolf," jelas Bapak, kami mengiyakan.


" Kalau bisa juga cari keturunan Stepahanie," lanjut Ezra agak hati hati, Bapak mengiyakan.


Hari sudah malam, setelah mereka berempat makan malam bersama, Ezra pamit pulang karena Rendhi di rumah sendiri.


" Tadi Rendhi tidak di ajak," kata Bapak.


" Ada teman teman pada main di rumah," jawab Ezra datar.


Ezra pulang, dengan sedih mengenang peristiwa Peter, tapi lega ternyata satu demi satu misteri keluarga Peter terkuak, walau belum pasti karena diperlukan test dna, sedikitnya tidak harus mencari ke kampung desa wisata menanyakan pada orang kampung siapa tahu ada cerita dari mulut ke mulut pada setiap generasi tentang peristiwa loji 13. Sampai rumah Rendhi di temani nenek dan kakek.


" Yah, gimana benar Tania masih keturunan Peter?"tanya Rendhi yang selalu sabar mendampingi ayahnya saat membaca.


Akhirnya Ezra menceritakan semua pada orangtuanya juga Rendhi.


" Sekarang Peter tidak datang dalam mimpimu Zra?" tanya bapaknya Ezra.


" Tidak Pak," jawab Ezra sambil menguap.


Malam telah larut mereka tak mampu menahan rasa kantuk, dan orangtua Ezra tidur disitu.


Hari pun berlalu, saat di tunggupun tiba, baik keluarga Ezra dan Tania sibuk mempersiapkan hari bersejarah buat Ezra dan Tania, walau persiapan pernikahan waktunya begitu singkat, tapi semua bisa beres.


Hari ini keduanya sudah resmi syah sebagai suami istri, dan langsung bersanding di pelaminan, tak begitu banyak tamu undangan, cukup keluarga besar dari kedua mempelai, warga sekitar, teman teman orangtua Tania juga Ezra dan Tania. Tania sangat cantik di rias pakai baju adat, Ezra yang tampan juga tak bosan memandangi istrinya mirip bak pinang di belah dua dengan Utari, bedanya pada Tania darah Belanda terlihat juga.


Malamnya berdua masuk ke kamar Tania yang telah disulap menjadi kamar prngantin yang bernuansa putih, mengingatkan kamar pengantin Utari, sprei bertaburan bunga mawar putih juga sedap malam, harum semerbak bau kamar pengantin, Tania tersenyum di cermin saat Ezra memeluk dari belakang.


" Istriku cantik sekali!" sanjung Ezra yang ada maunya, tengkuk leher Tania di kecupnya dengan lembut, Tania hanya bisa.


" Mas!" ucap Tania lirih tangannya memegang lengan Ezra yang sedang memeluk pinggangnya erat. Ezra yang sudah hampir dua mininggu menahan keinginanan, semoga malam ini bisa menyatu dengan Tania. Dia mengangkat tubuh Tania dan di letakkan di atas kasur, terus berbaring di sebelahnya mengecup kening, dan menempel bibir Tania lembut, Tania membalas terasa hangat bibirnya, Ezra terus mengecup leher.


" Thok thok, Nduk," ibu memanggil Tania.