ROSES

ROSES
Part 18 Di Kota Pelabuhan



Tarikan nafas panjang Ezra mengakhiri bacaannya siang ini, dia menatap Tania.


" Tan, basah lagi!" ucapnya tersenyum, kebetulan Rendhi turun menyiapkan makan siang bertiga, tapi Ezra masih terbawa pada kehidupan Peter.


" Peter, kamu membuat aku kewalahan," gumannya di hati, Tania matanya melihat ke bawah lewat tangga, untuk melihat keberadaan Rendhi, karena dirasa aman Tania langsung mengecup kening Ezra, dan mencium lehernya, Ezra membalas, Rendhi selalu tahu sehingga memanggil untuk makan siang dari bawah.


" Ayah sama Tante di tunggu di meja makan," seru Rendhi dari bawah, tidak sopan sih, tapi dari pada melihat kemesraan mereka, yang pernah Rendhi alami mending begini.


" Ganti dulu Mas, " pinta Tania tertawa geli melihat calon suaminya jalannya hampir mirip wanita yang lagi ketamuan bulanan.


" Mas, mudah mudahan menjelang masuk sekolah selesai," kata Tania dengan berpegangan tangan, Ezra mengangguk.


" Fillingku kamu cicitnya Tania," ujar Ezra menatap wajah Tania.


" Aku berharap begitu, tapi aku belum mau tanya ke bapak," ucap Tania menatap balas ke Ezra, diapun memencet hidung mancung Tania. Rendhi hanya merilik pada ayah dan calon ibunya.


" Habis makan aku baca lagi,"kata Ezra saat makan siang.


" Yah, aku diajak tante Mirna jadi tidak nemani," kata Rendhi.


" Jam berapa?"tanya ayah.


" Habis Ashar!" jawabnya.


" Tapi ayah temani dulu sama tante Tania," pinta Tania, Rendhi mengangguk.


Mereka bertiga sudah duduk di kursi yang ada di loteng, Ezra yang sudah ganti celana pendek telah membuka lembaran buku harian Peter, dan selanjutnya membuka lembar berikut.


Peter POV


Utari melihatku terlentang dengan lemah, rasa kantuk tidak bisa ditahan.


" Peter, aku buatkan telor sama madu," kata Utari bangkit dari kasur seperti menahan rasa sakit pada tubuhnya juga.


" Baju tidurku dilempar kemana ini Peter?" gumannya lirih tapi aku sayup sayup mendengar gumannya, sehingga tanganku memegang tangannya untuk mengajak tidur, diapun menurut, dan dia masuk selimut denganku, kami pun tertidur dengan dengkur halus bersautan. Paginya Utari menyingkap selimut terus bangkit, mataku menatap tubuhnya dengan kulit halusnya, juga bau harum tubuh Utari di pagi itu membuatku semangatnya bangkit lagi.


" Aku buatkan telor madu Peter!" ucapnya dan bergegas keluar dengan pakai baju untuk tidur tapi bisa untuk harian.


" Ini di minum biar segar," ujarnya, gelas yang berisi telor madu diserahkan, terus aku minum.


" Ramuan yang ada gula arennya honey," pintaku lembut.


" Iya lagi aku buatkan,"jawabnya sambil mengecup pipiku dan berlalu menuju ke dapur, aku bergegas ke kamar mandi melalui dapur, kucium ubun ubunnya.


Dan memasak jaman ini pakai tungku kayu bakar, diatasnya pada tungku ada yang di beri logam aluminium yang tebal sehingga diatasnya bisa untuk bakar, tetapi ada tungku yang langsung diletakan alat untuk masak.


" Utari, nanti kita keliling kota bersepeda,"ajakku, dia mengangguk, Utari sudah bisa naik sepeda karena selama ikut Mama dia dipaksa supaya belajar sepeda.


" Naik sendiri sendiri saja Peter," usulnya, aku tidak setuju. Dia diam meneruskan membakar roti sisa bekal dari kampung.


Kami sarapan pagi dengan roti bakar pakai selai nenas di kasih parutan keju kesukaanku, minuman ramuan tak lupa dibuatkan, juga pisang bakar di kasih cairan coklat dan taburan keju, pagi ini habis banyak karena baru kerja keras.


" Utari, siap siap sepedaan!" ajakku.


" Peter, nyepeda sendiri sendiri saja," pintanya, akhirnya aku mengalah.


Pagi pagi banyak noni dan tuan Belanda juga warga asli bersepeda, jaman ini sepeda merupakan barang mewah bagi penduduk. Bagi Utari pengalaman keliling kota melihat loji loji dan bangunan Tionghoa sangat menyenangkan, juga melihat kereta api, dan berhenti duduk sambil minum di stasiun, kulihat wajahnya sangat ceria.


" Utari, ini cara kita menyenangkan diri, sekali kali memikirikan diri kita, jangan hanya untuk orang lain terus!" kataku dengan duduk di bangku stasiun kota sambil menikmati minuman dan makanan dari rumah.


" Peter, sudah siang pulang yuk!" ajaknya. Selanjutnya kami meneruskan dengan mengayuh sepeda untuk pulang ke rumah. Hampir tiga jam kami mutar mutar kota, di pesisir laut dengan udara yang masih bersih, dan banyak pepohonan di pinggir jalan sehingga tak terlalu terasa panas.


Hari hari berlalu begitu cepat, aku belum ingin pulang ke perkebunan, masih kerasan di kota, apalagi tetangga sebelah sama sama orang Belanda mengajakku berbisnis, karena aku ingin mengembangkan usaha maka tawaran tuan Miller aku terima.


Sementara aku sudah hampir satu bulan berada di kota Pelabuhan, Utari sering menangis di dapur karena ingin pulang kampung.


" Peter, kapan kita pulang!" desaknya, air matanya mengembang disudut mata, aku mendekati dan ku cium dia lembut.


" Utari, aku sudah cerita dan saudara saudaraku kecuali Jos mendukung tentang kerjasama dengan tuan Miller," jawabku, bibir indahnya menarikku untuk mengecup. Memang hanya Jos yang menentang karena dia ingin pulang ke Belanda.


Aku sering meninggalkan Utari sampai larut malam, agar dia tidak terlalu sepi maka aku buatkan toko di sebelah timur loji tak terlalu besar, hanya untuk menyediakan barang kebutuhan sehari hari, dan juga ada alat alat dapur, baik yang modern jaman ini atau dari kerajinan penduduk, dibantu anak Paman Darsim. Paman Darsim itu yang merawat loji di kota ini.


Bisnis patungan dengan tuan Miller berupa barang terutama sandang pangan dari luarnegeri untuk kebutuhan masyarakat sekitar, usaha semakin maju, dan kami bisa menyewa gudang di dekat pelabuhan.


" Peter, ada surat dari Rudolf!" kata Utari saat aku baru pulang dari gudang di pelabuhan.


" Dibaca Utari!" kataku, Utari sudah bisa berbahasa Belanda, karena ayahnya yang ikut Mama pinter bahasa Belanda sehingga Utari sejak kecil kalau bicara dengan bapaknya pakai bahasa Belanda.


" Dia besok minta di jemput di pelabuhan!" kata Utari,


" Katanya ingin ikut kerja dengan kamu," lanjut Utari.


Rudolf anak adik Mama, dia lebih tampan dariku, akhirnya dia bekerja ikut aku bahkan menginap bersama di lojiku, hari hari pertama aku merasa senang dengan kedatangan Rudolf, tapi lama lama aku merasa terganggu, karena dia sering mencuri pandang Utari.


" Peter, Utari cantik!" kata Rudolf yang sudah bisa berbahasa Melayu, di Belanda dia berteman dengan orang orang Hindia Belanda.


" Utari, kamu harus bisa jaga diri ya, aku merasa kurang nyaman dengan Rudolf!" kataku lirih saat mau tidur, dengan rambut hitamnya ku belai.


" Iya Peter, aku merasa tidak nyaman juga!" kata Utari kepalanya disenderkan diatas perutku.


Jam kerjaku bisa sampai larut malam, sementara Rudolf pulang selalu lebih awal dariku, hatiku sebenarnya tidak nyaman di gudang meninggalkan Utari di rumah, walaupun putri Paman Darsim selalu menunggu sampai aku pulang baru dia pulang, Utari juga selalu membesarkan hatiku kalau dia tak akan berpaling dariku.


Akhir akhir ini kalau aku pulang Utari, Tati dan Rudolf selalu lagi di teras ngobrol, aku berusaha menutupi rasa tidak sukanya baik pada Utari atau Rufolf.


Dan malam ini bertiga tidak di teras, aku sengaja masuk rumah secara diam diam, pintu depan tidak dikunci aku buka pelan, dan aku tidak melihat Utari atau Rudolf, aku masuk kamar juga tidak ada Utari, ku coba membuka kamar Rudolf dia juga tidak ada, aku mulai berpikiran negatif,


" Jangan jangan dia lagi berdua ngumpet, karena aku biasanya pulang tidak seawal malam ini," gumanku semakin resah, tapi aku bukanlah Jos, yang temperamen.


" Peter, sudah pulang dari tadi!" kata Utari yang terlihat terkejut melihatku pulang awal.


" Iya!" jawabku tak mau melihat wajah Utari, hatiku sakit melihat Utari dan Rudolf masuk bersamaan, aku tak mau menanyakan dari mana mereka pergi atau bahkan tak mau dengar penjelasan Utari, diam itu yang selalu aku lakukan sejak kecil untuk mengalah pada Jos.


Paginya seperti biasa kami sarapan pagi bertiga dengan roti isi daging sapi buatan Utari selalu diberi parutan keju kesukaanku, bahkan Utari membawakanku dan Rudolf untuk bekal siang.


" Roti buatanmu enak Utari, Peter beruntung punya istri cantik, kapan aku punya istri cantik kaya Utari!" katanya panjang sambil melirik Utari, aku tak menjawab celotehan Rudolf, diam dan diam, habis makan aku langsung masuk kamar, aku tahu Rudolf mengangkat dua telapak tangan dan menggerakan kedua bahunya.


" Peter, dengar penjelasanku dulu, jangan diam, membuat aku jadi serba salah!" kata Utari terlihat gelisah.


" Kalau memang kamu tidak salah mengapa jadi serba salah!" jawabku panjang juga, dan aku keluar terus ambil sepeda berangkat ke gudang.