ROSES

ROSES
Part 32 Tania Hilang



Jam pulang sekolah Rendhi, Tania sudah siap siap mengeluarkan motor dari garasi belakang rumahnya, dan baru beberapa meter dari rumah ada mobil mepet motornya sehingga Tania jatuh, dan sopir mobil itu langsung mengangkat Tania, motor ditinggal begitu saja dengan kondisi masih hidup, tetangga yang kenal dengan Tania membawa pulang motornya ke rumah Tania, dan pegawai di kedai menghubungi Ezra di sekolah, sedang Rendhi karena tidak dijemput jemput akhirnya kerumah nenek.


" Rend, kalau bunda belum jemput kamu di rumah nenek dulu ya," perintah Tania setiap nganter sekolah, Rendhi saat itu selalu mengiyakan.


Sementara itu Ezra sampai pagi mencari keberadaan Tania diseluruh rumah sakit dikota itu, tapi tak ditemukan ada pasien bernama Tania, hatinya hancur memikirkan keberadaan istri yang disayangi, dia duduk dikursi bekakang stir di depan rumah sakit, ponsel tak bisa dihubungi, selalu saja kalau di hubungi terdengar suara operator, diluar jangkauan.


Dan berkali kali ada panggilan tak terjawab dari orangtua Tania, Rendhi juga saudara yang lain. Otaknya sangat kacau memikirkan keberadaan istrinya.


" Pak Ezra, mba Tania tadi di tolong orang dimasukkan ke mobil," kata tetangga yang nganter motor Tania tadi sore.


" Ezra, kamu tak akan menemukan Tania di rumah sakit, Tania bersamaku, sayang dia lagi bulanan," pesan pribadi dari nomer tak dikenal masuk ke ponselnya, dan selang satu menit kirim video Tania yang sedang dielus tangan lelaki. Ezra terkejut dan hancur hatinya, melihat ini semua, Ezra tak mau menghubungi nomer ponsel yang kirim pesan pribadi, hanya nomer itu dibagikan ke ponsel bapaknya Tania yang selalu menghubungi.


Sementara itu keluarga Tania berusaha mencari keberadaannya, tapi tak jua bisa ditemukan, sampai ibunya berkali kali pingsan memikirkan nasib putrinya.


Ezra menutupi video yang dikirim oleh nomer tak dikenal dari keluarganya,dia berusaha menyimpan rapat rapat tentang video itu, dan akhirnya Ezra lebih memilih hidup serumah dengan orangtuanya, walau Tina selalu menghubungi agar pulang ke rumah yang selama ini ditempatinya.


" Mas, bisa saja Tania pergi dengan bekas pacarnya dulu, bukankah Mas Ezra mengenal hanya semalam dengannya," ucap Tina yang selalu menghasut Ezra. Ezra terpengaruh dengan ucapan Tina dengan bukti video Tania.


Sedangkan orangtua Tania tak dipungkiri kesedihannya begitu mendalam, bahkan mereka akhirnya minta pensiun dari pekerjaannya karena bekerja tidak fokus juga sering tidak masuk. Dan lelaki misterius itu sekarang masih juga makan di kedai Tania setiap hari setelah beberapa hari tidak muncul.


Hari demi hari dilalui dengan kedukaan yang mendalam bagi orangtua Tania, dengan selalu berusaha mencari keberadaan putri satu satunya, teman teman dekat Tania selalu dimintai bantuan kalau kalau melihat keberadaan Tania, demikian Ezra walau pedih tersayat hatinya oleh luka dengan kiriman video tapi hati kecilnya tidak bisa di pungkiri kalau dia masih tetap menyayangi, hampir setiap Sabtu Minggu Ezra baik sendiri atau dengan Rendhi berkunjung ke loji 13 tempat ia bertemu pertama kali, dan selalu minta ijin pada orangtua Tania untuk menuju ke loteng.


" Tania, tempat ini kita pertama berpelukan," jerit hatinya, Ezra membuka jendela di Minggu pagi saat dia bangun tidur menginap di loji, matanya memandang keluar yang sudah tidak begitu banyak terlihat hamparan hijaunya teh, ada beberapa lahan yang alih fungsi ke tanaman pangan, tetapi tetap sedikit mengurangi lara dihatinya, walau Ezra sulit untuk menangis, tapi karena menahan kesedihan sering kepalanya sakit dan kening nut nut, sehingga keseharian sering pegang kepala atau rambut ia pegang erat untuk mengurangi sakit.


Dan sampai sejauh ini Ezra selalu menunggu kabar Tania. Kadang dalam hati terbersit tentang Tina.


" Jangan jangan ini ulah Tina," gumannya geram. Pikiran ini selalu muncul di kepalanya.


" Aku harus cepat cepat pulang hari ini untuk menemui Tina," gumannya lagi, kebetulan dia sendiri, sehingga pamitan dengan orangtua Tania yang juga betah disini dari pada di rumah, juga neneknya, walau kalau bukan akhir pekan sepi pengunjung apalagi pada malam hari tapi bagi orangtua Tania menjadikan berkurang kesedihannya.


" Tin, tolong jawab dengan jujur, aku percaya kamu tahu keberadaan Tania," desak Ezra.


" Aku jujur tidak tahu dia Mas, walau aku tidak suka Tania tapi tak akan melakukan hal seperti itu," jawabnya panjang, wajahnya terlihat tidak berbohong. Ezra pergi meninggalkan Tina, yang dalam hatinya bersorak tentang hilangnya Tania.


" Haaah, ada kiriman video Tania yang sedang berjalan ke kamar mandi tanpa kain penutup," kiriman dari nomer berbeda.


" Bagaimana Ezra masihkah kamu mau menerima Tania?" pesan pribadinya. Hati Ezra hancur berkeping keping melihat video ini, otaknya terasa buntu, ia ingin lari ya lari ketempat jauh.


" Tapi apakah bayangan ini tidak akan mengikuti? ah tentu akan mengejarku walau aku menuju ke ujung dunia sekalipun," pikirnya lelah.


Sementara Tania bangun dalam keadaan bingung.


" Aku dimana ini, lho pakaianku dimana?" jeritnya, dan dia menjerit minta tolong barangkali ada orang.


" Tania, sudah sadar kamu," kata lelaki berpawakan atletis hanya menggunakan celana pendek.


" Siapa kamu?" tanya Tania mundur.


" Kamu melupakanku, aku yang pernah sakit hati karena cintaku diputus olehmu," kata lelaki itu, Tania belum bisa juga ingat siapa lelaki ini.


" Tolong pakaianku," jerit Tania sambil menutupi pakai tangan.


" Mandi dulu bau," lanjutnya ketus dengan menutup hidung pakai lengan tangannya. Tania menuju kamar mandi.


Sudah satu minggu Tania disekap dikamar oleh lelaki yang ia tahu pembeli misterius di kedainya. Dan lelaki itu kalau siang tak pernah berada di rumah ini, ternyata dia masih baik hati karena selalu di beri makanan dan minuman di kamarnya.


Tania siang itu setelah lelaki yang menyekapnya pergi mulai mencari cari tasnya yang di dalamnya ada dompet dari logam dan hp hanya Tania yang bisa membuka, tas itu ada di nakas, tapi Tania belum berani mengambil tas itu, kemudian matanya mulai mencari cari lobang untuk bisa lihat keluar.


" Ada fentilasi jendela," gumannya, dia mengambil kursi terus naik keatas, bertapa terkejutnya karena melihat keluar berupa hutan jati.


" Aku disekap di rumah yang ada di tengah hutan," gumannya menjerit minta tolong, tak ada orang yang mendengarnya, memang tak ada orang, disamping itu karena pintu kamar di kunci.


Sudah berhari hari Tania tak mau menghabiskan makanan.


" Tan, makanannya di habiskan," prentahnya kasar.


" Nanti kamu mati," lanjutnya.


" Lebih baik mati, dari pada supaya melayani kamu," jawabnya ketus, malam ini Tania di paksa oleh lelaki itu untuk melayani tapi dia mengancam akan menghantamkan kepala ke tembok, dengan sudah berkali kali kepalanya di benturkan, akhirnya lelaki itu mundur, lelaki itu keluar kamar di ruang tamu, pintu kamar tetap di buka Tania yang duduk di pojok kamar sambil menangis pilu melihat laki laki itu mondar mandir, sambil pegang kepala, dan mengambil ponsel di meja yang bergetar


" Ada sinyal ditengah hutan," pikir Tania dengan air mata bercucuran.


" Rio, kalau kamu tidak mau menikah dengan Tiara, kamu kucoret dari pewaris perusahaan," suara wanita samar samar terdengar oleh telinga Tania.


" Oh dia Rio, tapi koq berubah wajahnya," guman Tania mulai menguping lagi.


" Ma, beri aku waktu," jawab Rio.


" Ya Rio pacar pertama Tania yang hanya dua bulan putus karena mau ujian klas 9 SMP, dia bukan satu sekolah, dan kenal satu minggu dia memaksaku untuk jadi pacarnya," ingatannya mulai muncul tentang Rio.


" Tidak, kamu sudah mengulur waktu," kata wanita yang dipanggil Mama.


" Ma...." jawab Rio terlihat dari sinar ponselnya wajahnya serius.


" Tidak, malam ini kamu pulang, besok harus menikah," samar samar suara yang mengaku Mama.


" Apakah Rio menculikku sendiri tanpa ada orang lain," pikir Tania.


Rio ternyata anak yang takut dengan ancaman Mamanya, akhirnya dia meninggalkan Tania dengan hanya mengunci pintu depan, kamar yang untuk menyekap Tania biasanya di kunci, setelah Tania memastikan kepergian Rio, maka ia membuka ponselnya ternyata baterai habis. Tania membuka pintu keluar ke dapur walau hanya penerang lilin.


" Tidak di kunci," gumannya. Semalam Tania tidak tidur.


" Rio baik juga, ada le jean dan kaos," gumannya.


Dia sempat bersih diri di kamar mandi yang selalu diisi oleh Rio dari sumur pompa. Terus mengendap endap keluar lewat pintu dapur, tak lupa bawa air mineral dan roti yang numpuk di kamar. Setelah diluar dia bingung arah dan juga jalan menuju kampung, tapi dia berusaha mencari jalan yang selalu dilewati oleh mobil Rio, dan Tania mengikuti jalan keluar sambil matanya mengawasi sekitar takut kepergok Rio atau orang suruhannya.


" Di tas masih ada uang," guman Tania dengan membuka tas. Tania sudah berjalan jauh berjam jam naik turun gunung belum juga melihat perkampungan, kalau capai istirahat sambil minum dan makan Roti.


Terdengar deru mobil, Tania ngumpet di antara pohon jati yang besar, ditunggu suara mobil itu tak kunjung lewat, akhirnya dengan kewaspadaan tingkat tinggi dia mulai berjalan lagi, dan betapa plong hatinya dia telah keluar dari hutan, tapi sejauh ini dia belum tahu kampung ini.


" Oh ada bus dengan tertulis kota tujuan, berarti aku harus menyeberang, karena kotaku ada disebelah kanan," gumannya, dan tidak lama ada bus ekonomi, dia naik sampai terminal, dan disini dia mengechas ponselnya sampai terisi, setelah terisi penuh dibuka ponselnya, begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan, yang ia baca dulu dari Ezra dan orangtua.