ROSES

ROSES
Part 20 Bersama Mama



" Sudah Mas, besok lagi bacanya, aku terus pulang ya," kata Tania, karena tidak ada Rendhi Ezra mengecup pipi dan bibirnya, dia membalas kecupan bibir Ezra lembut.


" Turun yuk!" ajakku bangkit dari kursi dan kudekap dia dari belakang, kuciumi punggung kepala juga tengkuk lehernya,Tania menggeliat.


" Mas!" panggilnya mesra, Ezra semakin mempererat pelukannya, rambut ia sibak ke sebelah kanan dan tengkuk leher Tania di cium, dia merinding tengkuk lehernya. Dan akhirnya mereka melepas pelukkan setelah mendengar suara Adzan.


" Tante makan bersama dulu, ada gudeg dari tante Mirna,"ajak Rendhi saat Tania cepet cepet mau pulang.


Mereka bertiga menikmati makan siang bersama, setelah itu Tania cepat cepat pulang.


Habis Isya, rombongan dari keluarga Ezra datang ke rumah Tania, ternyata Tania telah menyiapkan ruang tamu dengan dekor, juga kursi kursi tertata rapih dengan snack dan hidangan makan malam lengkap.


Ezra menyerahkan untuk meminang sebagai perwakilan bapaknya pada adik bapak, sedangkan menikah siri teman SMA nya yang jadi ustad.


" Mas Ezra dan Mba Tania, syah menjadi suami istri menurut agama," kata Ustad teman Ezra. Dan acara selesai sampai jam sebelas malam, kamipun pulang.


Rasanya Ezra sudah plong, merasa apabila mencium Tania sudah merasa tenang, tidak ada rasa takut dosa. Cuma Tania belum mau melayani yang satu itu kalau belum menikah KUA.


" Mas, walau kita sudah syah tapi yang satu tunggu ya kalau kita sudah punya buku nikah," kata Tania tadi saat aku bisa memeluknya. Aku hanya menjawab,


" Hmmm!"


Malam itu Ezra membayangkan Tania tidur bersama, tapi itu hanya bayangan kenyataan Ezra tidur sendiri, sampai akhirnya dia lelah terus tidur. Demikian Tania yang malam ini mengingat pertemuannya dengan Ezra di tempat mengerikan, walau saat itu keduanya merasa di tempat yang layak huni.


Seperti biasa pagi hari Ezra menjemput Tania setelah sarapan pagi, dan Tania selalu sudah siap menunggu.


" Bapak dan Ibu sudah berangkat De?" tanya Ezra dengan senyam senyum pengin meluk.


" Sudah Mas!" jawab Tania yang merespons keinginan Ezra yang tadi malam resmi jadi suaminya, sehingga Tania membuka pintu rumah Ezra mengikuti dari belakang, Ezra langsung memeluknya dan Tania melingkarkan tangan ke pinggang Ezra, mereka berdua saling berciuman.


" Mas!" panggil Tania mengeratkan pelukannya, Ezra menempel lembut bibir Tania yang menawan. Mereka menyudahi pelukannya dan keluar, Tania mengunci pintu depan rumah, terus keduanya menuju rumah Ezra dan langsung ke loteng, Rendhi menyusul naik terus duduk di sebelah kanan ayahnya.


Peter POV


" Utari!" panggilku lirih saat aku menaiki tangga satu menuju loteng yang lama aku tak mengajaknya, Utari mendekat.


" Tolong, buatkan minuman jeruk ya dibawa ke atas!" kataku dengan mencium ubun ubunnya, seperti yang dulu aku lakukan, pagi pagi aku membuka jendela sebelah timur lebih dulu.


" Hmmm lama aku tak melihat cahaya kemerahan didepan mataku dengan hamparan hijau daun teh," gumanku lalu hidungku menghirup udara segar di pagi itu, walau di kota pelabuhan udara juga segar, cuman beda udara di pegunungan dengan di daerah pesisir pantai.


Setelah aku puas memandang panorama alam yang lama tak dinikmati, akupun membalikan tubuh menuju jendela di sebelah barat, disini kalau ingin melihat matahari ya sore hari, juga sangat menakjubkan saat matahari terbenam. Tangan kecil Utari melingkar di perutku, dengan kepala di sandarkan di punggung.


" Utari, pertama untukmu naik ke loteng," kataku dengan meremas tangan lentik kecilnya.


" Peter, aku ingin tetap disini menemani orangtua kita yang semakin menua," katanya, akupun membalikan tubuh dan kuangkat dia lalu didudukan di meja yang biasa untuk menulis, kuciumi dia dan baju kebaya yang ketat.


" Kita pengin punya baby?" ucapku, diapun mengiyakan. Aku melepaskan pelukannya dan Utari turun dari meja setelah mendengar suara sepatu diijakan ke setiap tangga.


" Utari, kebayamu dibetulkan, itu Rudolf keatas," kataku, aku hafal derap langkahnya.


" Maaf Peter, aku mengganggu," kata Rudolf mau turun lagi, tapi aku cegah.


" Rudolf sini lihat lewat jendela," kataku, memberitahu matahari terbit.


" Peter, makanya kamu betah di loteng," jawabnya.


" Nanti sore kamu bisa lihat matahari terbenam lewat jendela sana," kataku.


" Ok Peter!" jawabnya, Utari menggenggam tanganku erat.


" Utari, kamu tambah cantik pakai baju itu," ujarnya sambil matanya tak kedip melihat tubuhnya yang terbungkus kain ketat. Aku berusaha berpikir positif tentang Rudolf disini, dia mulutnya memang selalu menyanjung Utari. Utari turun, sementara aku pengin menulis sehingga tetap berada di loteng, sedang Rudolf mengikuti Utari di belakangnya sambil bercanda.


" Hmmm Utari ada apa kamu dengan Rudolf?" gumanku dalam hati.


" Peter, turun sarapan pagi dulu," seru Mama dari bawah tangga, aku bergegas turun untuk menuruti ajakan Mama.


" Jadi Utari besok tak ikut ke kota Peter," kata Mama disela sela makan pagi bersama, kulihat wajah Rudolf cemberut seperti kecewa.


" Iya Ma, Utari ingin menemani orangtua dan Mama, Papa, begitu Utari," kataku, Utari mengangguk.


" Semoga setelah disini, terus punya baby," kata Mama, yang berharap punya cucu dari kami.


" Nanti setiap akhir pekan pulang kesini,"jawabku sambil memasukkan Roti isi daging ke mulut.


" Papa terlihat sudah tambah sehat, dia sudah bisa jalan tanpa bantuan alat dan bicara juga mulai lancar Ma," kata Utari panjang tapi hati hati.


" Iya Utari, ini berkat ramuan yang dibuat ibumu," jawab Mama, Papa senyum senyum mendengar kami. Makan pagi selesai, Utari mengambil piring dan lain lain di meja untuk di bawa ke tempat cuci piring. Kami berempat menuju ke bale, Papa dengan tertatih tatih sampai juga ke bale.


" Bapak, bunga kesukaan Utari semakin banyak, mawarku masih hidup Pak?" tanyaku yang sudah panggil bapak ke paman.


" Woow, lagi berbunga banyak," kataku, karena roses pelangi semakin indah. Rudolf juga kagum melihat kebun bunga mawar di halaman loji.


" Di gunakan untuk apa bunga ini oleh penduduk," kata Rudolf ingin tahu.


" Biasanya untuk sesaji dan untuk campuran minyak rambut," jawab Paman, Utari mendekatiku, aku memetik satu tangkai, terlihat wajah cemberut Utari, terus kuselipkan diatas telinganya.


" Wooow, Utari cantik dengan bunga," kata Rudolf mengacungkan jempol.


Matahari hampir lurus dikepala, kami masuk dan siap siap makan siang. Papa aku gandeng menuju ruang makan dan didudukkan di kursi.


" Rudolf, habis ini aku ajak kamu keperkebunan teh," kataku saat makan siang. Rudolf menanggapi dengan senang hati.


" Ok, siap Peter!" jawabnya, wajahnya ceria.


Sesuai janjiku aku mengajak Rudolf jalan sore menuju ke perkebunan, Utari aku ajak.


" Peter, kamu berdua saja, aku mau bantu ibu," jawabnya, tapi karena aku meminta terus untuk menemani dengan alasan keamanan akhirnya dia mau.


Dalam perjalan Utari selalu menggandeng tanganku, dan pertama yang kutemui Salim juga Tarjo, syukurlah mereka tetap bekerja disini.


" Salim, kamu sudah punya baby?" kata pertama yang muncul dari mulutku.


" Ya sudah tuan, laki laki," jawabnya ceria.


" Semoga Utari menyusul,"jawabku.


" Tuan belum ya?' tanyanya, sambil melirik perut Utari.


" Allah belum memberi pada kami," jawabku dengan meletakan tangan ke pundak Utari agak kumiringkan tubuhku.


" Ya berdoa dan disyukuri saja," jawabnya.


Dan kami mrneruskan jalan jalan, Rudolf senang melihat para wanita pemetik teh yang berwajah ceria menggendong keranjang satu satu ngantri untuk menimbang hasil petiknya.


" Peter, adakah pemetik teh secantik Utari, kalau ada langsung aku nikahi," katanya tersenyum.


" Rudolf, hmmm kamu, coba dipandangi satu satu," jawab Utari tertawa sedikit lepas.


" Tidak ada, aku pandang kamu saja Utari," jawab Rudolf tertawa juga, aku ikut tertawa.


" Hmmm Utari kalau sama Rudolf suka bercanda," gumanku dalam hati.


Karena sudah sore kami pun pulang.


" Rudolf, ikut ke loteng," ajakku karena aku mau menutup jendela loteng, setelah masuk rumah.


" Iya, pengin lihat sunset lewat jendela!" jawabnya.


" Wooow, bener bener cantik Peter sunsetnya, makanya kamu betah berlama lama di loteng, ternyata ini rahasianya!" katanya dengan expresi kagum.


Malampun tiba, sepi tak ada suara orang bercerita, hanya binatang malam terdengar ditelinga, aku menatap wajah Utari yang berdiri di depan pintu kamar, sedang membuka baju kebayanya, dan Wioow mataku terbelalak setelah melihat tubuh Utari.


" Utari, kalau kaya gini nanti tidak jadi jadi babynya," kataku.


" Tapi aku suka Peter," jawabnya manja. Begitulah Utari, mungkin karena masih muda.


Seperti biasa pagi hari dia membuatkan telor madu juga minuman ramuan tumbuhan yang dikeringkan Bibi, katanya cari di hutan biasanya dengan paman.


Dan aku bangun menuju ke loteng, aku terkejut ternyata Rudolf lagi memandang sunrise di ufuk timur, sambil mulutnya berdecak kagum dengan ciptaanNya.


" Luar biasa Peter, dari loteng ini bisa memandang keajaiban alam, aku juga suka berlama lama disini," decaknya kagum.


" Ditambah harum bunga mawar yang di tanam Paman baunya sampai ke loteng," lanjutnya.


" Besok kita pulang ke kota, ada kereta barang bawa teh ke kota,"kataku, tahun ini ada jalur kereta untuk mengambil hasil bumi dari daerah produksi.


" Aku sebenarnya masih betah disini," jawabnya.


" Iya juga, tapi kita punya kerjaan di kota," jawabku datar.


" Utari jadi ditinggal disini?" tanyanya.


" Iya, setiap akhir pekan bisa kesini," jawabku, wajah Rudolf berubah, keningnya di tekuk.


" Peter, kalau tidak ada Utari disana sepi," jawabnya.


" Hmmm sejauh itu Rufolf membayankannya," gumanku di hati, kulirik dia.