ROSES

ROSES
Part 27 Loji 13



Sore hari menjelang Magrib Ezra, Tania dan Rendhi ke rumah bapak mertua, sebenarnya tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu seperempat jam kalau tidak macet, Bapak sedang berkumpul di teras beserta keluarga besar menunggu kedatangan mereka.


" Nunggu penganten baru lama," canda Oom Bahtiar, Ezra tersenyum dan mereka bersalaman, setelah duduk maka Ezra baru cerita tentang isi tulisan nenek Yasna, dan memutuskan menyewa pengacara terutama untuk mengurus loji 13 yang ada makamnya, loji yang lain sudah diikhlaskan untuk menambah pendapatan desa.


" Bu, sepertinya ada peninggalan yang masih tersimpan yang belum tahu tempatnya," kata Pak Risqi datar.


" Iya, kata ibuku dulu di bawah lemari terpendam di tanah ada koper, lemari berat sekali," kata nenek datar saja.


" Apa nenek dulu tidak berusaha membongkar," kata Oom Bahtiar.


" Tidak boleh di bongkar kecuali ada keturunan punya anak laki laki semua, itu juga kalau kamu sudah berumur 40 tahun keatas," kata nenek slow saja.


" Hari Minggu nek di bongkar," kata Pak Risqi. Nenek mengiyakan.


" Nak Ezra punya teman pengacara terkenal di kota ini?" tanya Oom Bahtiar berharap.


" Saiful Abdillah teman SMAku Oom," jawab Ezra, dan Pak Risqi juga Oom Bahtiar mengenalnya.


" Coba hubungi nak Ezra," jawab Pak Risqi.


Ezra menghubungi Saeful, terus hp diserahkan ke Pak Risqi supaya menghubungi sendiri, karena Ezra tak mau ikut campur urusan harta.


Hari hari berlalu sampai ke hari Minggu, Pak Risqi dan Oom Bahtiar disaksikan nenek, Tania dan kedua anak Oom Bahtiar, menggeser almari yang sangat berat dengan isinya di letakkan di atas kasur, Ezra di suruh membantu menggesernya, akhirnya sedikit demi sedikit almari itu berhasil di pindah. Ezra keluar, tidak enak hati berhubungan dengan warisan. Tegel dibongkar dan betul ada koper perunggu tertimbun, terus diangkat dengan mencoba beberapa kunci yang terdapat pada brangkas aluminium, akhirnya di buka, oleh nenek diserahkan semua ke kedua anaknya, setelah di hitung ternyata jumlahnya ganjil, sehingga diserahkan ke Ezra 15 keping berdasarkan kesepakatan keluarga, karena Ezralah yang di percaya Peter dengan di beri buku hariannya, Ezra sebenarnya menolak tapi di paksa


" Sudah di terima kamu jasanya besar lho Zra, toh ini satu koper penuh, tujuh keturunan tidak habis," kata Bahtiar.


" Iya betul kata Bahtiar, juga bisa untuk Rendhi," jawab Pak Risqi.


Sementara pengacara Saeful sangat mudah mengurus tentang loji 13 karena jaman penjajahan sudah mengatas namakan Tardi yang tertera di sertifikat.


Malam habis Isya keluarga berkumpul menunggu kedatangan Saeful, yang ditunggu datang, dan keputusan bersama di rencanakan datang ke Desa Wisata hari berikutnya, terpaksa mereka ijin tidak berangkat ke kantor.


Hari Selasa yang di rencanakan empat mobil pribadi menuju Desa Wisata, juga dari berbagai instansi datang.


Singkat cerita sampai di lokasi, pihak pemerintah desa wisawa telah menyuruh beberapa pekerja untuk membabat ilalang, kata mereka para pekerja ini dari daerah lain yang biasa melakukan pembabatan ilalang, yang dianggap oleh masyarakat penuh misteri.


Tinggal membuka pintu, tapi pintu rumah tak satupun para pekerja mampu membukanya. Dan selanjutnya terjadi pembicaraan dengan berbagai pihak.


" Begini, jadi pihak kami mengikhlaskan semua loji untuk di jadikan obyek wisata, dan pihak kami mengikhlaskan juga hasil dari pengunjung untuk pendapatan desa, hanya satu loji yang tidak kami lepas, yaitu loji 13," kata Saeful sebagai pengacara keluarga turunan Nicolas.


Nenek yang terlihat masih seperti noni Belanda meminta kunci, dan dari sekian kunci belum bisa untuk membuka, bahkan Risqi juga Bahtiar ikut mencoba, juga Tania sama anak Bahtiar tak bisa membukanya, keringat dingin mulai mengucur pada tubuh keluarga Tania, wajah mereka memucat dan pada menunduk, sungguh mereka menjadi sangat malu.


" Jangan jangan keluarga ini mengaku ngaku," cibiran orang yang hadir menyaksikan moment itu.


" Hai, nyonya, anda bisa dituntut lho atau anda penipu," salah satu orang dengan lantang menunjuk nunjuk pada nenek beserta keluarga.


" Penipu ya penipu, bisa bisanya mengaku ngaku rumah milik keluarga," kata yang lain dengan lantang.


" Pengacaranya ya mau maunya di pakai sama penipu," orang lain menunjuk kesal pada Saeful, yang paling terpukul Ezra, karena dia membaca buku harian Peter dan mempengaruhi keluarganya Tania, bahkan keringat dingin membasahi tubuhnya. Sementara nenek mengumpulkan anak dan cucunya.


" Kalau tidak bisa di buka diikhlaskan saja loji ini, tapi makam diusahakan tetap dipindah," kata nenek mulai panik, karena orang orang sudah semakin brutal.


" Usir usir mereka penipu," seru orang orang yang ada disitu, bahkan mobil sudah mulai ada yang dilempari batu.


Akhirnya Ezra memberanikan diri untuk meminta ikatan kunci itu pada nenek, sambil menggandeng Tania mendekat ke pintu bale.


" De, lingkarkan kedua tanganmu ke pinggangku dan senderkan kepalamu dipunggungku, jangan hiraukan mereka," kata Ezra lirih dengan mengecup ubun ubun Tania lembut, yang melihat saling celoteh dan saling cibir." Bismillahirokhmanirohim," Ezra mencoba beberapa kunci dan bisa di buka, keluarga yang sudah pada takut oleh amukan massa bisa bersorak gembira.


Ezra dan Tania seperti digerakan oleh kekuatan yang tak terlihat dengan mata, langsung membuka semua jendela juga pintu tanpa merasa takut kalau ada ular.


Dan Skema rumah juga pekarangan yang dibuat Paman Tardi persis sesuai kenyataan, bahkan Ezra dan Tania menunjukkan keberadaan mayat di dua ruangan, kedua orang tersebut seperti sudah hafal setiap sudut ruangan di loji 13, sampai dia naik ke loteng, buku buku masih tertata rapih di rak rak kayu yang berpintu kaca. Tembok tembok masih kuat demikian kayu kayunya, walau cat sudah pudar, funiture di setiap ruangan masih utuh kayunya, nenek meminta kunci almari yang dipegang Ezra, karena tadi hanya Ezra yang mampu membuka pintu, tapi nenek tak bisa membukanya, keluarga semua mencoba buka almari tak bisa juga.


" Zra, sepertinya kamu bisa membuka," kata nenek. Ezra mau dan dengan mudah almari di buka setiap kamarnya.


" De, ke loteng," ajak Ezra menggandeng Tania untuk menaiki tangga loteng, masih kuat juga, di loteng keduanya membuka jendela,


" Mas, kita jadian disini dulu ya," kata Tania mengulum bibir Ezra lembut, Ezra tak menyia nyiakannya langsung dia membalas dengan lembut bibir istrinya.


" Hmmm, di foto ya Zra, tempat ini kamu jadian dengan Tania?" tanya Bahtiar naik tangga mendekati mereka untuk menfoto dan juga di buat video. Ezra dan Tania mengangguk dengan antusias.


" Konstruksi bangunan sangat kuat, juga lantai dari batu kali yang di haluskan," kata Pak Risqi.


" Tembok juga dari batu, kaya loji yang lain,"kata Bahtiar.


" Hampir dua abad," kata nenek. Mereka sekeluarga kebelakang untuk ke makam sambil bawa bunga mawar yang pohon pohonnya sudah menjulur, dan sengaja tidak di babat oleh pekerja, bunganya tetap bermekaran, itulah orang orang kalau lewat di loji selalu bau wangi mawar, ternyata mawar itu masih tumbuh ketutup ilalang, kata para pekerja juga tidak ada ularnya.


" Kita segera memindah mereka," kata nenek.


" Hari Sabtu Nek, biar kami tidak ijin," usul Bahtiar, semua setuju. Tak lama Ezra dan Tania menyusul ke makam juga membawa bunga mawar putih dan merah juga pelangi yang bermekaran dengan pohon menjulur tak beraturan. Ezra memimpin doa untuk ketenangan allmarhum.


" Ezra, kami berniat memindah makam ini, kecuali Jos ya," kata nenek, Ezra yang selalu berdekatan dengan Tania mengiyakan, dan Ezra selalu menunduk kepalanya, berkali kali mengelus makam Peter dan Utari, merasa dirinya memiliki kedekatan yang tidak dirasakan oleh yang lainnya kecuali Tania.


" Peter, aku seolah bertahun tahun bersahabat denganmu," kata Ezra sambil mengelus batu nisan Peter, Tania juga mengelus.


" Mas, mereka sudah tenang dan damai disana," kata Tania lembut, Ezra mengiyakan.


Dan seluruh keluarga meninggalkan makam masuk ke loji yang sudah di bersihkan oleh pekerja, sedang Saeful tetap berada di loji.


" Loji di pasang listrik sebaiknya," kata nenek.


" Iya, nek tadi aku di tawari," jawab Ezra.


" Coba Zra di hubungi," pinta Pak Risqi.


" Hari Sabtu dan Minggu akan mengerjakan disini," kata Ezra setelah menghubungi pegawai PLN.


Para pekerja telah selesai membersihkan loji, maka seluruh pintu dan jendela dikunci, Ezra sudah menyerahkan kunci pada nenek, dan mereka sudah tak mengalami kesulitan membuka maupun mengunci pintu serta jendela.


" Kita coba menanam mawar mawar ini di rumah kita untuk mengingat jasa mereka pada kami," kata nenek.


" Iya nek, aku bawa gunting di tas," kata Tania.


"Mas, bukankah saat itu aku ditawari sama Peter untuk membawa pohon ini, tapi aku sebel sama durinya nih bekasnya masih ada," kata Tania selanjutnya. Ezra melirik dan tersenyum.


" Ezra, itu orang orang yang mencela kita pada datang, apa kita tidak diamuk oleh mereka?" tanya nenek dengan ketakutan.


Salah satu perwakilan mendekati pengacara, Ezrapun mendekat, dan Saeful menyampaikan permohonan maaf dari orang tadi pada keluarga nenek atas kekilafan tadi siang.


Keluarga nenek mendekati mereka, terus yang berbicara Ezra sebagai perwakilan keluarga.


Karena sudah sore merekapun pulang ke kota.


" Bunda, bagaimana loji 13?" tanya Rendhi malam itu saat istirahat di ruang tengah, dan Ezra juga Tania menceritakan pada Rendhi.


" Kalau kesana hari Minggu aku ikut Bun," pinta Rendhi selanjutnya, diiyakan oleh Bunda Tania.


Hari Sabtu tiba, pembongkaran makam di lakukan, betapa terkejutnya mayat Peter dan Utari tidak rusak, kalau yang lain rusak, tapi setelah diusut mereka di balsem, juga ada lobang pas berada di posisi jantung, dimungkinkan peluru tembus disitu. Mayat mereka langsung disatukan dengan makam keluarga, Peter dan Utari berjejer dengan Yasna. Ternyata keturunan keluarga di Belanda masih berada di alamat yang ditulis Yasna. Mereka mau berkunjung ke Indonedia, juga keluarga Rudolf masih ada di kota pelabuhan, sedangkan usaha dulu di tutup, karena sudah tidak mampu bersaing, dengan usaha lain yang lebih berinovasi.