
" Mas Ezra tak mau mengangkat panggilanku," gumannya, dan Tania berusaha berkirim pesan.
" Mas, tolong Tania, aku sekarang di terminal, aku di sekap orang, orang itu pernah mau nabrak Rendhi," pesan Tania.
" Lho mas Ezra cuma membaca saja," gumannya hatinya menciut.
Akhirnya ia menghubungi ibunya.
" Halo bu, aku di terminal, tolong dijemput," sambungnya.
" Halo, Taniaaa," jawab ibunya menangis.
" Ibu di kantor apa?" tanyanya.
" Tidak, ibu di desa wisata," sambungnya
" Apa libur bu," jawab Tania, beliau akhirnya cerita kalau ibu dan bapak minta pensiun.
" Nduk kalau di jemput bapak kemalaman, minta jemput suami," jawabnya girang.
" Mas Ezra tidak mengangkat," jawab Tania, akhirnya ibunya Tania yang menghubungi Ezra, dan dia menjemput di Terminal bus, tapi setelah ketemu Ezra tak mau di dekati, dan diperjalanan Ezra tak mau menegur, dia mengantarkan Tania ke desa Wisata walau sudah malam, dan langsung pamitan dengan alasan besok pagi kerja.
" Mas Ezra koq aneh ya," guman Tania sedih.
" Mungkin dia tahu kalau aku di sekap sama Rio," gumannya lagi.
" Jangan banyak melamun, ayo makan yang banyak kamu kurus " kata Bapak,
Orangtua Tania sangat gembira karena dia ditemukan dalam keadaan selamat, dan Taniapun cerita tentang penyekapannya dan perjuangan untuk menuju jalan raya.
Mereka berempat bertangisan.
" Allah melindungimu nduk," tangis ibunya pecah.
" Bu, tapi aku takut kalau tetap di Indonesia, bisa bisa Rio menculikku lagi " kata Tania.
" Toh dia sudah beristri " jawabnya.
" Tina sudah bersuami masih tetap ingin mengganggu mas Ezra," jawab Tania.
" Ezra bagaimana, kamu sudah bersuami," jawab Bapak.
" Sepertinya dia belum bisa menerimaku," jawab Tania dan menceritakan tentang sikap Ezra. Ibunya menyetujui usul Tania demi keselamatan, sehingga bapak dan nenek setuju.
" Rumah makan aku serahkan ke tante Susi," jawab Tania.
Paginya mereka berempat menuju ke kantor emigrasi mengurusi segala adminitrasi untuk menetap di Belanda. Dan tiket pesawatpun berhasil di dapatkan, kebetulan masih ada kursi tujuh yang belum terisi untuk penerbangan ke Amsterdam, pada minggu depan. Tania semakin mantap untuk hidup di Belanda yang lebih banyak keluarga, apalagi sikap Ezra sampai sekarang tidak mau berkomunikasi, sebenarnya Tania hatinya sakit, setiap malam dan pagi selama di loji selalu menuju ke loteng, disini Tania bisa menumpahkan tangisnya tentang derita hidupnya selama menjadi istri Ezra, ada saja yang mengusik kebahagiaannya. Dan dia di pagi itu hanya mampu memandangi pohon mangga yang usianya hampir dua abad, tangannya memegang erat jeruji besi jendela besar, tangisnyapun pecah kembali.
" Oh Tuhan kuatkan aku dari cobaan ini," keluhnya.
" Tan, turun sarapan dulu," suara nenek yang sudah tak memikirkan duniawi mengagetkan Tania. Dia menuruti ajakkan nenek dengan mengusap sisa sisa air mata baik yang masih ada di bola mata atau dipipi.
" Aku berharap kepergian kita jangan ada yang tahu," kata Tania sedih.
" Betul, harus tetap dirahasiakan, toh mereka tahunya kita disini," jawab Bapak, dan semua mengiyakan.
Kabar yang ditunggu Tania dari Ezra tak jua datang.
" Dia sudah tak mau menerimaku," gumannya sedih.
" Aku harus kuat menerima semua ini," guman selanjutnya, sampai Tania mau berangkat tak pernah Ezra mengirim pesan apalagi menghubungi, sehingga Tania mantap untuk berangkat ke Belanda.
Pagi pagi berempat menuju Bandara di kotanya, mobil diambil Bahtiar di jalan setelah Bapak mengantar ke Bandara dan beliau ke Bandara naik taxi, sehingga Bahtiar tidak tahu kepergiannya, dan di Belanda sudah beli rumah dekat dengan keuarga. Duapuluh empat jam diperjalanan dari kotanya menuju Amstterdam, dan di Schiphol dijemput oleh Barend, dan langsung menuju rumah Bapak.
" Bekas rumah siapa Barend?" tanya Bapak.
" Punya Frederick, dia pindah ke Den Haag kumpul dengan saudara," jawabnya, rumah ini di beli oleh Barend tiga bulan yang lalu, karena bapak Tania membutuhkan akhirnya dijual oleh Barend yang sudah punya rumah dua.
" Sudah lengkap isinya Barend," kata nenek.
" Iya, biar kalian tidak report," jawab Barend, dia sudah melengkapi isi rumah, bahkan dibelikan sepeda juga mobil. Rumah tidak jauh dari rumah Barend dia Papinya Anasthasia yang sampai sekarang masih berkomunikasi dengan Rendhi.
" Anasthasia, jangan di beritahukan keberadaan kami disini pada Rendhi ya," kata nenek.
" Kenapa nek?" tanyanya, akhirnya Barend yang duda karena istrinya meninggal dua tahun yang lalu, cerita ke putrinya, Anasthasia mengangguk.
Tania sulit melupakan kenangan manis dengan Ezra, bahkan saat di desa ini tak bisa lupa tentang kebersamaannya, diapun sering melamun, terutama pada malam hari karena yang lain sudah pada tidur dia belum bisa tidur, sehingga hanya membayangkan Ezra, hampir setiap malam selalu meneteskan air mata berharap Ezra datang menjemput.
" Tidak ibu, aku baik baik saja," jawab Tania berusaha menutupi kesedihan hatinya.
Tiga tahun berlalu, Tania bisa menjalani hidup tanpa Ezra, walau harus melalui waktu yang penuh duka dan dengan tertatih tatih ia menjalaninya.
" Tan, mungkin Ezra sudah menceraikanmu dan telah menikah," kata ibu saat makan pagi bersama.
" Kemaren Barent mau menikah denganmu kalau kamu mau," kata nenek.
" Iya nduk, bapak ingin segera punya cucu," kata bapak.
" Tapi aku takut kalau Barent jadi sasaran obsesi Rio," kata Tania sedih.
" Toh Rio ada di Indonesia," jawab Ibu sedih.
" Cukup mas Ezra yang jadi korban dari Rio, dan aku jadi korban Tina," kata Tania selanjutnya.
" Maksudmu kamu mau menunggu Ezra," kata ibu panik karena berharap punya cucu segera.
" Kamu umurnya hampir 30 tahun nduk," kata nenek.
Karena Barend dan Tania dijodohkan, padahal mereka tidak mencintai sehingga kalau bertemu jadi tak mau bertegur sapa, Barend sebenarnya sudah punya kekasih tapi Anasthasia masih belum menerima kekasih Barend sebagai istri sehingga keduanya belum menikah.
Sementara Ezra saat berada di Indonesia, hati kecilnya sulit untuk mengalihkan perhatian ke wanita lain, dia tak bisa melupakan Tania, dan di pagi itu di datangi oleh Rio.
" Bapak ingat saya," kata Rio sambil berjabat tangan.
" Siapa anda?" jawab Ezra gusar.
" Aku Rio," jawabnya, dan akhirnya Rio menceritakan semua pada Ezra tentang penculikannya, sebenarnya itu ide dari Tina, dan Rio minta maaf telah menghancurkan rumah tangga Ezra.
" Pak, aku sadar dan tak akan mengganggu kebahagiaanmu, aku telah mencintai istriku," katanya menunduk seperti menyesal. Ezra menjadi semakin geram ke Tina setelah mendengar pengakuan Rio, Rendhi mendengar pembicaraan keduanya, setelah Rio pulang menyuruh ayahnya supaya segera menjemput Tania.
" Ayah masih mencintai bunda Tania?" tanya Rendhi.
" Jemput segera Yah, bunda di desak supaya menikah dengan Barend," kata Rendhi lagi.
" Lho emangnya bunda dimana?" tanya Ezra penasaran.
" Dia di Belanda, apakah Ayah telah menceraikan bunda?"
" Belum Rend," jawab Ezra wajahnya terlihat sumringah. Ezra tahu kalau Rendhi bersahabat dengan Anasthasia, tentu dia yang cerita padanya.
" Yah, Rendhi yang bayar semua," kata Rendhi semangat, Dan Ezra datang menemui Tina yang telah menguasai rumah Rendhi beserta usahanya.
" Tin, dengarkan kata kata Rio, kamu tidak puas puas menyakitiku," sergahnya ketus.
" Tttapi...." jawab Tina terbata bata langsung dipotong Ezra.
" Tak usah menyangkal, kalau aku menuntut kamu, Rio mau jadi saksi," jawab Ezra geram.
" Mas jangan, tolong kasihan kedua anakku," jawab Tina terlihat menyesal, Ezrapun pergi begitu saja dari hadapan Tina dan suaminya.
Akhirnya Ezra dan Rendhi pergi ke Belanda pada liburan musim dingin di Eropa, tanpa memberi tahu siapapun, bahkan Anasthasia tak diberi tahu juga, mereka ingin membuat kejutan. Rendhi memperlihatkan foto Tania sekarang.
" Hmmm dia tetap cantik, rambutnya dibiarkan panjang," gumannya dalam hati.
" Yah, kata Anasthasia bunda sering melamun bahkan kadang dia lagi menangis di kamar," cerita Rendhi dari pesan pribadi dengan Anasthasia. Thania sedang masak di dapur di panggil Bapaknya, Tania mendekat dan disuruhnya ia ke ruang tamu.
" Mas Ezra!" panggil Tania berurai air mata dengan memeluk erat, Ezra mendekap dengan menciumi kening juga pipi Tania lembut.
" Tan, maafkan aku, aku selama ini telah berburuk sangka," kata Ezra sendu, sedang yang menyaksikan adegan itu semua terharu.
" Apa perlu menikah lagi nak Ezra?" tanya bapaknya Tania.
" Tidak perlu Pak, aku tak pernah mengajukan itu, bahkan ngomongpun tidak pernah," kata Ezra menunduk setelah mereka puas melepas rindu. Mereka makan pagi bersama, dengan makanan Indonesia yaitu ayam goreng tanpa sambal karena sedang musim dingin, sehingga tak berani makan lombok.
Malam hari Ezra dan Tania melepas rindu, dengan berbaring di atas kasur.
" Tan, kamu masih tetap cantik," kata Ezra lembut dengan mendekap erat tubuh sintalnya.
" Mas Ezra masih tetap ganteng juga," balas Tania menelungkupkan kepala di ceruk leher suaminya, Ezra mengecup ubun ubunnya lembut, dan Tania mengecup dada suaminya, Ezra mulai menggeliat dan tangannya mendongakan kepala istrinya dicium mata yang mengembun, bibirnya di kecup halus.
Keduanya melepas kerinduan bersama, di malam musim dingin.