
Ezra selesai membaca, terus turun dan makan siang bersama, lalu langsung naik ke loteng meneruskan membaca, Tania masih dibawah, mencuci piring, dan Rendhi melihat ayahnya bersemangat membaca maka naik keatas untuk menemani, ayahnya sudah membuka lembar kertas.
Peter POV
" Hmmm, kaya tuan dan nyonya, orang kota," kata Jos sinis memandang kami bertiga saat ketemu di halaman loji Mama, dia menggendong putrinya, sedangkan kami mau jalan jalan pagi ke kebun teh.
" Peter, Jos seperti tidak suka pada kita, tatapan matanya seperti tatapan membunuh," ujar Rudolf dengan suara ditelan.
" Begitulah Rudolf," jawabku sedih.
" Ya sudah Peter jangan dipikir," jawab Rudolf. Entah apa yang dipikirkan Rudolf biasanya dia suka bercanda di jalan dengan Utari setelah dengar kata kata Jos jadi diam, Utari tetap menggandengku di jalan dengan kadang mencium lenganku.
" Rudolf, koq jadi melamun, lihat banyak pekerja wanita lewat siapa tahu ada yang kaya Utari," godaku, dia tersenyum dan menunduk.
"Tadi kamu bilang jangan dipikir," kata Utari, kakinya menendang nendang daun kering.
Kami sampai di pos, duduk bertiga sambil menikmati hamparan yang menghijau.
" Kalau dari loteng kaya permadani hijau," Rudolf mulai buka suara.
" Betul Rudolf, tertata karena setiap hari dipetik," jawabku datar. Hampir satu jam kami bertiga melemaskan kaki di perkebunan, Rudolf berkali kali berucap kagum dengan negeri dua musim, yang tak kenall libur kerja karena terkendala oleh suhu ekstrim. Dan sampai rumah terus sarapan pagi.
Pagi berangkatku ke kota dengan Rudolf pun tiba, Utari mengantar sampai ke stasiun yang dekat dengan loji, dia meneteskan air mata, aku mencium lembut kening dan mengecup bibirnya, Rudolf sudah naik gerbong, aku dan Utari ikut naik.
" Rudolf semoga kamu segera dapat jodoh," kata Utari dengan berjabat tangan, karena kereta segera jalan Utari cepat cepat turun dan melambaikan tangan.
Sepanjang perjalanan menuju ke kota yang ditempuh sekitar enam jam, aku dan Rudolf lebih banyak diam dan tenggelam dalam pikiran masing masing, pikiranku ke Utari.
" Bisakah aku melewati hari hari tanpa Utari."
Sampai di loji aku masuk kamar, Rudolf setelah memasukan baju di kamar dan membantu meletakkan roti di lemari makan, duduk duduk dengan Paman Darsim di teras, kudengar mereka ngobrol, dan tak lama tuan Miller datang sehingga aku ikut bergabung di teras.
" Utari ditinggal, Peter?" tanya tuan Miller datar.
" Iya, dia ingin sama Mama dan orangtuanya," jawabku datar juga.
" Kalau makan bisa beli di toko roti," kata Miller. Pak Darsim mohon diri karena sudah sore, dan akhirnya Miller menyusul.
" Rudolf makan malamnya pizza dari rumah ya," kataku, dia mengiyakan. Akhirnya kami berdua masuk ke kamar rebahan, tapi aku bangkit lagi, merasa tubuhnya kotor akupun ke kamar mandi untuk membersihkan diri, terus duduk diruang tengah membaca buku, Rudolf membuka pintu kamar.
" Sudah mandi?" tanyanya, aku mengiyakan.
" Peter, pizzanya dimakan di ruang tengah saja ya," serunya, diruang makan setelah ia mandi.
" Boleh!" jawabku, dan diapun membawa pizza buatan ibu mertuaku dan Utari.
" Enak buatan Bi Tami dan Utari," katanya dengan mengunyah pizza dimulutnya, tadi dibawakan roti banyak bisa untuk makan tiga hari terutama untuk sarapan pagi, jadi tidak perlu menyalakan tungku.
" Makanya mereka selalu dipertahankan Mama," jawabku dengan mata menerawang kampung dimana Mama bertahan hidup di negeri dua musim ini, negeri sebagai tanah air keduaku atau bahkan pertama karena separuh umurku ada disini.
" Peter, kamu sudah anggap ini negerimu," kata Rudolf datar.
" Ya tentu, apalagi aku punya Utari," kataku rasa kangen tak terbendung membuat dadaku sesak menahan semua ini.
" Baru berapa jam kamu meninggalkannya, sudah kangenkah ke Utari?" tanya Rufolf menebak isi hatiku dengan tertawa khasnya.
" hahaha, bisa saja kamu tahu hatiku Rudolf," jawabku ikut tertawa lepas juga.
" Hmmm Rudolf sikap ini yang membuat Utari suka bercanda denganmu," gumanku dalam hati dengan melirik wajah sumringah yang setiap saat memancar di wajah ponakanku ini.
" Utari!" jeritku lirih, ternyata aku sulit lepas darimu, mataku sulit juga memejam, tubuh aku miringkan sebelah kiri sambil memeluk bantal guling.
" Hmmm bau harum bunga mawar putih tubuhmu masih terasa di kasur ini, Utari, samakah malam ini kamu rasakan," gumanku lagi dengan semakin erat memeluk bantal guling, tak bisa jua mata aku pejamkan, sampai terdengar kokok ayam jantan bersaut sautan di rumah rumah penduduk yang tak jauh dari loji loji ini, memberitahukan pada manusia bahwa matahari sebentar lagi akan muncul menyapa kita, akhirnya aku duduk dikursi depan meja tulis di dalam kamar, kutulis keresahan hati ini di hari pertama tanpa ada Utari di sebelahku, setelah selesai keluar menuju dapur menasukkan kayu bakar pada tungku untuk memasak air.
" Hmmm terpaksa aku menjalankan ini sendiri," gumanku dengan tangan mengambil satu kayu bakar untuk dimasukkan kembali ke tungku.
" Hmmm tidak bisa tidur tanpa Utari, itu keputusan konyolmu sobat, selamat menikmati kerinduanmu," ejek Rudolf menupuk nepuk salah satu pundakku, dan hanya bisa meringis yang kuperlihatkan padanya.
" Mau bikin teh atau kopi," kata Rudolf setelah melihatku sedang mendidihkan air.
" Aku teh saja pakai gelas besar, aku bukan penggemar kopi," jawabku datar.
" Ya, aku tahu itu, tanpa gula," jawabnya sambil menyiapkan dua gelas berisi kopi dan teh, aku mengiyakan.
" Rotinya di bakar!" kataku dengan mengangkat cerek alat memasak air dan menuangkan air ke gelas.
" Tungku diletakkan alat pemanas roti?" tanya Rudolf, aku mengiyakan.
Selesai sudah kegiatan pagi pertamaku tanpa Utari, dan aku serta Rudolf naik sepeda menuju kantor.
Aku berpisah dengan Rudolf di areal gudang, dia berkantor di gudang satunya, sedang Miller bisa bolak balik ke gudangku dan gudang Rudolf karena invest bersamanya. Di kantor dengan menumpuk kertas laporan barang datang dan keluar aku bisa melupakan Utari.
" Ada kapal datang nanti siang tuan," ujar salah satu pekerjaku, aku mengiyakan. Para pekerja dari penduduk setempat kerasan ikut kami, karena kami bertiga tidak arogan. Hari ini kami bekerja sampai larut malam, makan siang dan malam sudah di sediakan, sehingga tidak merepotkanku.
Rudolf menungguku untuk mengayuh sepeda di tengah malam, kami tak takut karena beriringan para pekerja pulang, sehingga jalanan menjadi ramai.
Malam kedua di kamarpun terasa panjang menunggu pagi, hatiku tetap tak lepas dari Utari.
Begitulah hari hariku selama sepekan, kalau malam tiba hatiku terasa hambar, kalau siang tak dirasakan karena harus menyelesaikan berkas berkas masuk dan keluar yang teliti, kalau tidak teliti bisa membahayakan usaha kami.
" Rudolf, kamu mau ikut ke kampung?" ajakku, besok pagi habis Shubuh kereta berangkat, saat kami baru pulang duduk di ruang tengah.
" Iya, tapi aku males ketemu kakakmu si Jos," jawabnya tanpa ragu.
" Ok, menjauhlah darinya, " kataku, akhirnya aku menceritakan kekasaran Jos padaku selama putrinya belum lahir.
" Maaf aku terpaksa menceritakan ini padamu," lanjutku sedih mengingat perlakuan Jos.
" Dia, kalau kalap bisa membunuh, kamu harus betul betul waspada Peter!" ujarnya, akupun merinding dibuatnya.
Pagi pagi benar aku sendirian menuju ke stasiun, karena Rudolf tidak mau ikut, dia hanya teringat pada Jos. Biasa aku bawa terigu, gula pasir dan kain, barang yang tidak ada di kampung, perjalanan menggunakan kereta api berbahan uap agak lebih singkat di banding gerobag ditarik kuda, juga lebih aman, tidak takut di jalan di hadang perampok, sampai di stasiun kampungku Utari telah menunggu, aku turun dan rindu yang tidak tertahankan membuat kami berdua saling memeluk.
" Peter, aku kangen!"keluh Utari terlihat sedikit kurus.
" Aku juga, kamu jadi kurus Utari!" kataku bibirnya tak sabar di tempat yang agak sepi aku kecup lembut, Utari membalas. Kami menuju ke loji bergandengan tangan.
" Kamu juga, Peter!" jawabnya manja.
Kami makan malam di buatkan spaghetti, tadi aku bawa spaghetti kering, keju, margarin juga.
" Siapa yang buat ini yumi bener!" kataku.
" Ibu sama Utari, sedang Mama hanya memandu!" jawab Mama senang, karena selama disini paling setahun sekali makan ini, Papa juga menikmatinya, dengan mengacungkan jempol.
Malampun tiba, aku dan Utari yang sama sama kangen lalu menjalankan kewajiban yang tertahan selama sepekan. Kamipun tidur dalam satu selimut. Bangun pagi badan terasa pegal semua.