ROSES

ROSES
Part 36 Pulang Kampung



Tania bangun pagi, memasak nasi dan memanaskan roti yang diisi daging sapi giling, dikasih sayur tomat, timun, sosis diiris kecil kecil, keju juga mayones diberi saos tomat pedes, dan diatasnya ditutup pakai roti lagi, jadi kaya hamburger, baru dimasukan ke aluminium oil selanjutnya di masukkan microwave.


" Bunda, bikin berapa hamburgernya?" tanya Rendhi.


" Ada 10, kamu bawa ya, siang goreng ayam ya," kata Tania dengan mengambilkan bekal untuk Rendhi dan Anasthasia, suami dan dirinya juga bawa bekal, biar makan siang tidak ketelatan.


" Tapi nanti pulang sekolah ingin buat vlog masak nasi goreng Bun," kata Rendhi, pokoknya apapun yang dilakukannya direkam.


" Ok, Bunda sama Ayah disisain ya," pinta Tania. Ibu sudah datang untuk menjemput Fifah.


" Nduk, sudah minum asi Fifah?" tanya Ibu, menggendong cucunya.


" Sudah Bu, maem juga sudah, di kulkas ASInya ya Bu,"ucap Tania sambil menunjukkan botol isi ASI. Ibunya mengangguk. Tania juga nawari roti, ibunya enggak mau. Tania dan Ezra berangkat lebih dulu, sedang Rendhi naik sepeda bersama dengan saudara yang lain berangkat sekolah menyusul beberapa menit kemudian karena sekolahnya dekat.


" Mas, lama aku enggak lewat jalan ini," kata Tania di mobil sambil tangannya diletakan di kaki bagian atas Ezra, tangan Ezra sesekali meremas jemarinya.


" Ya, De disini enak, udaranya segar orang orang keluar pada naik sepeda," kata Ezra.


" Bener Mas, makanya aku disini semakin lancar nyetir mobil," jawab Tania kalem.


" Di kampung kita walau kota kecil sering macet kalau jam kerja," kata Ezra agak kalem nyetirnya.


" Mungkin karena penduduknya lebih banyak disana Mas," kata Tania datar. Karena ngobrol tidak terasa sampai ke tempat kerja Tania.


Hari hari terus berlalu, liburan yang ditunggu telah tiba juga, Fifah sudah mulai mau jalan, sehingga Ezra dan Tania yang ingin memanfaatkan waktu liburan pulang tanah air tidak merasa kawatir pada ketahanan tubuh Afifah.


Tania tak semudah hilang dalam ingatan tentang ulah Tina dan suami juga tentang peristiwa disekapnya oleh Rio yang harus berjuang mencari jalan keluar naik dan turun gunung, untung saja Tania kadang bersama teman teman pergi jalan naik dan turun gunung atau jalan keliling desa, serta sering bersepeda, sehingga saat itu tidak merasa kecil hati.


" Tan, kenapa kamu diam, buang jauh jauh peristiwa itu," kata Ezra setelah sampai di kota ia di lahirkan.


" Ternyata trauma masih ada padaku Mas, walau aku berusaha membuang itu tapi saat kaki ini melangkah di kota yang ku cintai dan kurindukakan saat di negara lain, belum bisa hilang dari ingatanku, bahkan peristiwa itu seolah baru terjadi kemaren," ceritanya panjang matanyapun berembun, teringat juga pada sikap Ezra yang hanya diam kala itu, bahkan tak mau menghubunginya, membuat luka hatinya terkuak kembali.


Sepanjang jemputan mobil suami Mirna sampai rumah lebih banyak berdiam, bahkan agak takut juga, karena Tina telah berkuasa penuh pada rumah yang pernah ditempati Ezra yang dekat dengan rumah bapak mertua.


" Mba Tania, lebih betah di Belanda," kata suami Mirna saat dijalan menjemput di Bandara.


" Iya Mas, kumpul keluarga besar, apalagi sudah bersama suami dan anak anak," jawabnya menerawang jauh entah kemana, karena hatinya mulai kosong.


" Sudah nyampai De," kata Ezra mengelus rambut Tania lembut, keluarga sudah berada di halaman rumah mertua menjemput kedatangan Ezra sekeluarga. Fifah langsung di gendong Mirna tapi tidak mau, dengan nenek juga tidak mau.


" Fifah mintanya sama bunda ya," kata Rendhi.


" Sini sama Eyang dulu," kata ibu mertua lembut, lama lama Fifah mau.


Beberapa hari berada di rumah mertua juga menyempatkan menuju rumah bapak yang dipasrahkan ke adik tante Susi, yang penting selalu dibersihkan. Rumah makan dan loundry juga dijalankan oleh adik tante Susi.


" Mba, Tina sekarang sudah maju usahanya disini, dan dia semakin besar kepala, tapi...." kata Mirna saat duduk duduk di teras sore itu.


" Syukur mba, tapi apa mba?" tanya Tania, tapi kaget saat dengar Tina.


" Enggak apa apa ding, mba Rio mau membantu kalau kamu mau nuntut Tina, ini rekaman bujukkan Tina ke Rio," kata Mirna selanjutnya, dan langsung dikirim ke ponsel Tania.


" Pantesan, dia menyekap setengah setengah, banyak tidak tega ke Tania saat itu, juga Rio hanya bekerja sendiri," gumannya dihati.


" Seperti ada yang dirahasiakan sama Mirna tentang Tina," guman Tania lagi.


' Bunda Fifah minta minum, " kata Ezra, Fifah mengulurkan tangan ke bundanya dan Tania membawa ke kamar, Ezra meledek Fifah sampai ke kamar.


" Mas, Rendhi nge vlog kemana?" tanya Tania


" Kerumah teman teman SMPnya," jawab Ezra, tangannya diletakkan ke pinggang Tania, dengan mengecup tengkuk leher.


" Mesti ada maunya ayah nih," kata Tania menahan geli.


" Tapi tadi malem Fifah lucu, dikiranya ayah lagi main kuda kudaan," kata Ezra tertawa ingat kejadian semalam.Tania juga tertawa.


" Aku takut kalau Fifah jatuh Mas, jadi konsenku terbelah," jawab Tania.


Tania mencubit keras lengan Ezra.


" Aduuuh, sakit, Fifah ini bunda kdrt sama ayah," kata Ezra, Fifah tertawa sambil mulutnya mengisap kencang, lalu di tarik tarik dan sambil bangkit, terus tubuhnya muter kesini kesana.


" Fifah, bunda sakit, minumnya yang bener," kata Tania.


" Tuh jadinya, dulu kamu mintanya muter muter sih," goda Ezra mengecup kepala Fifah.


Tak lama kemudiian Ezra keluar, bergabung dengan orangtua dan saudaranya di ruang tamu.


" Sekarang dimana?" tanya Ezra.


" Di rumah kalau lagi sehat, sekarang cuci darah sudah seminggu sekali," lanjut Mirna.


" Berarti sudah kronis!" kata Ezra.


" Iya betul, Tina dari tadi nyari kamu lho Mas, seperti pengin ketemu," kata Mirna.


" Kalau hanya ketemu biasa tidak masalah, tapi kalau masih berharap cinta Ezra ya gawat," timbal bapak.


" Jangan keras keras, kalau Tania dengar berabe," jawab Ibunya Ezra.


" Jangan sampai Tania tahu tentang sakitnya suami Tina, jelas dia kawatir," kata Bapaknya Ezra. Bahkan Ezra selama disini tidak nyaman juga, dia juga kepikiran ke Rendhi.


" Rendhi koq belum pulang dari pagi," gumannya lirih, akhirnya Ezra menghubungi dengan panggilan lewat ponsel nomer barunya.


" Halo, Rend dimana? " sambung Ezra gelisah.


" Dirumah kakek, " jawab Rendhi, Ezra jatungnya sudah berdegup tak beraturan.


" Sama siapa? " tanya Ezra kembali.


" Sama teman, bentar lagi pulang Yah, " jawab Rendhi disana. Tania menggendong Fifah keluar.


" Mas, Rendhi belum pulang!" tanya Tania kawatir.


" Tadi sudah di hubungi, lagi dengan temannya," jawab Ezra ada yang ditutupi.


Tania selama disini tak berani pergi sendiri, selalu di dampingi Ezra, apalagi Tina masih ada di dekat rumah mertuanya, rasa gusar di hati selalu muncul, walaupun dihadapan keluarga berusaha ia tutupi dengan wajah yang terlihat tenang.


Sampai malam Rendhi belum juga pulang, Ezra dan Tania mulai gusar.


" Mas, dihubungi lagi Rendhi," desak Tania gelisah, Ezra mengiyakan dan mulai mencari nama Rendhi.


" Halo, Rend, jangan malam malam pulangnya, " panggil Ezra.


" Yah, aku mau tidur di rumah kakek, besok dijemput tante Tina, " jawabnya, panggilan ditutup.


" Mas, dimana Rendhi?" tanya Tania mulai gelisah, akhirnya Ezrapun mengatakan apa adanya.


" Ya sudah Mas, kakeknya mungkin kangen juga," jawab Tania datar, Ezrapun mengangguk. Tania juga agak tenang kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Rendhi tentu banyak yang simpatik.


Rendhi pulang dijemput Tina agak siang terus diantar ke rumah bapaknya Ezra, Tania sedang menidurkan Afifah di kamar sedang Ezra lagi ngobrol dengan Bapak dan Ibu di ruang tamu.


" Mas Ezra," ucap Tina langsung memeluk Ezra erat, Ezra kelabakan menghadapi ini, semua yang di ruang tamu ikut bingung.


" Mas, suamiku sakit, ditengok," kata Tina selanjutnya dan tak mau melepaskan pelukannya. Ezra berusaha melepaskannya, tapi malah dekapannya semakin kuat.


" Tina, sadar Tin," kata Bapaknya Ezra sambil membantu melepaskan dekapan tangan Tina di pinggang Ezra. Tania dikamar dengar suara di ruang tamu keluar dengan Fifah yang belum mau tidur juga, hatinya sedih melihat pemandangan di ruang tamu, tapi Tania percaya suaminya lebih menyayangi.


" Tina tolong jangan seperti ini," desak Ezra di bantu oleh ibu untuk melepaskan dari pelukan Tina.


" Hai, kamu wanita yang memiliki banyak lelaki," hujat Tina dengan menunjuk nunjuk muka, Taniapun tak mau melayani orang kayak Tina, mending masuk ke dalam.


" Bunda, maafkan Rendhi, dia katanya akan minta maaf sama Bunda," kata Rendhi sendu, Tania duduk memangku Afifah dengan memeluk erat, dan Ezra meninggalkan Tina diruang tamu mendekati Tania.


" Tan, kamu lebih percaya aku," kata Ezra sendu.


" Ayah, Rendhi yang dibohongi," kata Rendhi menunduk.


" Iya, sejak dulu aku lebih percaya mas Ezra," jawabnya dan Tania berusaha agar Rendhi tidak merasa bersalah.


" Rend, kamu berhak ketemu kakek dan dia juga tante kamu," kata Tania.


Yang dipikirkan Tania kedepannya karena Tina bisa mencari cara untuk melakukan tindakan yang bisa membahayakan keselamatan.


" Tan, dia bisa melakukan apa saja karena obsesinya padaku," tandas Ezra yang ingat pada Rio.


" Iya Mas, kita harus waspada," kata Tania.


" Mas, sudah ada bukti, bahkan Rio mau jadi saksi dengan konsekwensinya dia masuk penjara juga, tapi kata Rio itu untuk menebus dosanya pada mba Tania," kata Mirna geram.


" Jangan mba, siapa tahu dia mendapat hidayah," jawab Tania berusaha tenang, walau hatinya gusar.


" Rendhi oleh keluarganya di bujuk supaya ikut tante Tina," kata Rendhi.