
" De, habis makan aku baca lagi, aku cepet cepet pengin menikahimu," kata Ezra penuh semangat seperti Peter pada Utari.
" Ok, aku siap menunggui sama Rendhi," jawab Tania.
" Tapi, kamu jadi enggak memelukku," jawab Ezra manja, Tania yang sudah tak malu malu langsung mencium pipi Ezra, walau usianya sudah tua tapi masih seperti 30an. Ezra menahan kepala Tania dengan tangan dan bibir pun berhasil dikecup habis oleh Ezra.
" Yah, makan dulu!" panggil Rendhi dari ruang makan, dia tahu Ayah dan tante Tania sehingga tak mau naik keatas, karena pikirannya akan mengganggu mereka. Kedua orang tersebut melepas bibirnya dan bergegas turun bergabung dengan Rendhi menikmati makan siang pakai lauk yang dibawa Tania.
" Rend, habis ini kita naik ke loteng lagi!" kata ayah dengan memasukan nasi beserta lauk ke mulut.
" Mau meneruskan membaca Yah?" tanya Rendhi.
" Yah, semangat sekali, Rendhi tak habis pikir sama Ayah, sejak kapan suka baca cerita roman?" tanya Rendhi kembali, dengan dahi mengerut.
" Sejak sama tante Tania!" jawab Ayahnya slow, mereka bertiga tertawa berbarengan.
" Iya sih, biasanya Ayah bacanya mengenai bacaan yang berhubungan dengan sejarah, ekonomi, politik, geo," jawab Rendhi lagi.
" Sekarang tambah roman sejarah juga itu Rend, kita sedang berusaha membongkar salah satu peninggalan sejarah," jawab Tania mulai bisa membuka mulut ke Rendhi.
" Makanya bukunya terlihat kuno," jawab Rendhi mulai tertarik.
Setelah ngobrol ngobrol di ruang makan juga melakukan kegiatan lain, mereka bertiga naik ke atas lagi dan Ezra bersiap siap untuk baca buku Peter.
Peter POV
Semalam aku membayangkan Utari duduk di pelaminan bersamaku, tapi karena lelah akhirnya akupun tertidur. Pagi ini seperti biasa aku naik ke loteng membuka jendela dan tak lupa memandang hijaunya kebun teh sejauh aku lihat, jendela satunya kubuka, terlihat ditaman samping Utari sedang memegang bunga mawar merah lagi ngobrol sama Mama yang ada di teras samping.
" Utari, bunga bunga ditaman besok dirangkai kalau kamu duduk di pelaminan dengan Peter," kata Mama, aku dengar dari loteng, kulihat Utari tersenyum malu sambil mengangguk. Sebenarnya aku ingin mendekati dia, tapi aku harus menyelesaikan kejadian tadi malam, karena kalau lama tidak ditulis bisa ada yang terlewat.
Saat mau berangkat ke kebun sempat aku mengecup bibirnya di ruang makan, dia membalasku lembut dengan nafas terengah, dia melepaskannya.
" Peter! Salim dan Tarjo harus selalu mengawalmu, karena ada beberapa pemuda desa atas suruhan Zaki mau mengeroyokmu!" katanya, wajahnya terlihat sendu dan kawatir atas keselamatanku.
" Zaki, yang cinta sama kamu," tandasku mulai ada rasa cemburu.
" Iya, tapi hatiku hanya untukmu!" jawabnya malu, matanya menatap sebentar tersenyum dan tertunduk malu, akhirnya kepalanya aku senderkan ke tubuhku, ku elus rambut yang hitam lebat juga kukecup ubun ubunnya lembut.
" Makan siang pulang Peter!" pintanya, tangannya mengelus punggungku karena tangan ia dekapkan di tubuhku, aku mengangguk.
Akupun berangkat dengan diantar Utari sampai ke halaman, dia memperhatikan keberadaan Salim dan Tarjo di pos, setelah tahu aku berangkat didampingi Salim dan Tarjo, kulihat dia berjalan masuk ke taman samping.
Ditengah jalan ada dua pemuda yang mengikutiku, Salim dan Tarjo mengenal kedua pemuda itu dan menyapanya.
" Darno dan Warjan mau kemana?" tanya Salim hati hati, karena dua pemuda itu terkenal di kampung sebagai pemuda paling pemberani.
" Jo, mungkin dia mau bekerja sebagai penjaga di kebun saya," bisik ku lirih ke Tarjo, agar dia mau menyampaikan ke Darno. Tapi sebelum Tarjo menyampaikan pesan dari Peter, kedua orang itu telah menghadang di depanku.
" Haii, kau yang bernama Peter, jauhi Utari, kalau tidak menjauhi akan aku bunuh," ancam Darno dan Warjan, sambil mengeluarkan golok. Aku, Tarjo dan Salim mundur, para wanita pemetik teh yang sudah berlalu lalang berangkat menjerit ketakutan. Aku selalu berangkat maupun pulang melewati jalan yang ramai oleh para pekerja baik laki laki atau perempuan.
" Hai, kau suruhan Zaki, aku Utari!" suara lantang Utari mengagetkanku, tahu tahu dia ada di depanku, menggunakan celana hitam dan baju hitam kepalanya diikat pakai kain, persis kaya pendekar, sambil bawa tas yang terbuat dari bambu yang diikatkan di perutnya.
" Iya aku suruhan Zaki, jauhi Peter!" suara kedua ora itu agak lemah, dia pun malu dengan perempuan, akhirnya dia pergi karena di jalan itu banyak orang berdatangan.
" Tuan, jangan suruh dia bekerja disini, bisa mengancam keselamatan Tuan!" kata Tarjo, akhirnya akupun mengiyakan.
" Utari, kamu pemberani!" kataku bergetar.
Hari ini Jos juga belum berangkat, mungkin sampai beberapa hari kedepan, tentang kelahiran putri Jos terdengar oleh semua pekerja.
" Salim dan Tarjo, bawa bekal untuk siang!" kataku datar.
" Tuan, nanti pulang kami makan di pos masuk loji tuan saja," jawab Salim diiyakan oleh Tarjo.
" Makanan dan minuman dibawa, siapa tahu ada yang jahat memberi racun," kataku, kedua orang itu mengendong tas terbuat dari daun pandan di cangklongkan ke pundak, aku ajak keduanya berkeliling mengawasi pekerja.
Jam makan siangpun tiba, aku diikuti oleh Salim dan Tarjo pulang, keduanya hanya sampai pos penjagaan masuk loji. Aku sudah di jemput Utari di halaman depan dengan senyum manisnya, aku betul betul percaya kalau Utari mencintaiku karena dia sampai mau berkorban demi keselamatanku.
" Utari!" kataku lembut, dan memetik satu bunga mawar yang ada di taman.
" Peter jangan petik bunga wangiku!" pintanya terlihat sedih terpancar di wajahnya, aku mendekat dan menyelipkan bunga ditelinganya, dan aku membungkuk, tak kupedulikan orang melihat adegan ini, aku mencium pipinya penuh cinta, juga rasa terimakasihku pada Utari yang telah melindungi dari tindakkan yang akan dilakukan oleh Darno dan Warjan. Dan aku mulai menyadari alasan Utari untuk tidak langsung menerima tawaranku segera menikah, karena aku tidak sendiri bersaing mendapatkan cinta dari Utari. Aku masuk rumah, tak mau menceriakan pada Mama, biarkan Mama supaya tak banyak berpikir atau bahkan takut, Utari mengikuti dari belakang dan mendorong kursi roda Papa.
" Utari, sekalian kamu makan!" ajak Mama, tapi Utari menolak, dia masih merasa orang rendahan, sehingga menjauh dan duduk di bangku kecil yang selalu diduduki sambil sesekali menatapku, akupun menatap penuh rasa sayang.
Istirahat siang selesai, aku berangkat ke perkebunan diantar Utari sampai pos, aku semakin iba padanya, pengabdian tulus seperti ayahnya, bahkan Mama pernah bilang,
" Kalau kita pulang ke negeri Belanda harta tidak bergerak yang kita miliki disini akan diserahkan ke Paman Tardi!"
Hari yang kutunggu untuk cepat cepat mempersunting Utari belum juga kunjung tiba, Utari tetap masing ingin mengabdi ke Mama sampai entah kapan, tapi aku tetap sabar menunggu, umur Utari sudah menginjak 16 tahun, gadis seusia itu di desanya sudah tak ada lagi, mereka sudah pada menikah, sementara hari hari aku lalui seperti biasa, menuju ke kebun, pulang, ketemu Utari dan yang lain, tak ada peristiwa peristiwa istimewa dalam kurun waktu satu tahun yang aku alami.
" Utari, kapan kamu siap menikah, kita dekat sudah satu tahun," desakku, karena tak bisa aku berpaling kewanita lain, terutama wanita sebangsa, aku hanya menginginkan Utari sebagai pendampingku.
" Peter, aku belum siap!" jawaban ini selalu di dengar di telingaku.
" Kamu selalu menjawab begitu, aku sudah semakin tua!" balasku sedih. Karena kesedihanku pada Utari yang selalu mengulur ulur waktu untuk menikah, dengan gerakan setengah berlari menuju ke loteng ingin mencurahkan kesedihanku.
Seharian di hari Minggu sengaja aku berada di loteng tak menemui Utari, yang pagi tadi aku dekati di taman samping.
" Peter!" panggil Stephani lembut dengan mengalungkan tangan dileherku dan memeluk dari belakang saat aku menatap taman lewat jendela besar di loteng. Aku terkejut, karena pikiranku hanya Utari.
" Stephani, lepaskan, tidak baik dilihat orang!" kataku agak sedikit kasar pada kenekadan Stephani, yang sering dilakukan kalau dia dan keluarganya berkunjung di loji. Utari tahu sikap Stephani padaku setiap kali datang ke loji.
" Peter, aku tahu kamu mencintai gadis pribumi anak pembantu, seleramu sangat rendah!" ucapnya marah dengan membanting kaleng yang ada di meja dia berlalu turun dari loteng, jantungku sempat berdetak keras saat dia membanting kaleng, dan kutahu dia keluar lari pulang ke loji.
" Peter, tadi Stephani menemuimu!" kata Mama mulai kawatir, Mama tidak cocok dengan Stephani, Mama lebih suka dengan Utari, karena dia juga perhatian sama orangtuaku. Utari lewat dengan wajah muram.
" Utari, Mama menghendaki kamu secepatnya menikah dengan Peter, kamu tak usah mengulur waktu!" desak Mama. Utari menunduk, aku percaya dia gelisah dengan sikap Stephani, yang akhirnya dia menyerah.
" Ya nanti malam Mama mau berbicara sama bapakmu!" desak Mama, rasa gembiraku tak bisa terelakan.
*
Tania dan Rendhi melihat berkali kali Ayahnya menarik nafas dalam dalam, sampai keduanya membisikkan kata di telinga.
" Mas, cukup membacanya!" bisik Tania tanpa malu di depan Rendhi mencium pipi berkali kali demikian Rendhi.
" Ayah, besok lagi bacanya, Ayah sudah kecapean!" ujar Rendhi mencium pipi juga.
" De, coba Ayah di kasih minum!" kata Tania ke Rendhi, diapun meminumkan air putih ke mulut Ezra, wajah pucat Ezra mulai memerah, dan lama lama perasaan terbawa ke masa Peterpun hilang.
Semua turun ke bawah setelah jendela lebar loteng ditutup.
" De, pulang habis Magrib saja!" kata Ezra lembut.