ROSES

ROSES
Part 22 Mama Menangis



" Uuuh," keluh Ezra diakhir membacanya.


" Tan" panggilnya mata Ezra menatap Tania.


" Sabar Mas, kalau kita sudah pegang bukunya " jawabnya manja, Tania sebenarnya juga terasa berdenyut denyut tapi tetap dipertahankan.


Agak malam Tania baru diantar oleh Ezra, karena selain harus masak untuk makan malam juga harus menemani Ezra dan Rendhi makan malamnya, orangtua Tania sudah tidak begitu kawatir, karena sebentar lagi mereka akan meresmikan sesuai aturan negara, syarat syarat kelengkapan administrasi sudah diurus mungkin besok selesai, sudah diputuskan oleh keduanya hari minggu besok ijab dan duduk dipelaminan, walau membaca belum selesai tetap dilaksanakan.


Tania duduk di ranjang kamar, melihat dirinya dicermin yang ada didepannya, dia pandangi wajah dirinya dan lamunannya ke Utari, yaa Utari yang wafat dengan tragis beserta orang orang yang ada di dalam loji itu, hanya bayi yang tak tahu namanya dan paman Tardi yang tak tahu rimbanya, sedangkan Rudolf ikutkah dia ke kampung, belum tahu tentang Rudolf, ataukah yang laki laki satunya Rudolf, semua itu jadi pertanyaan Tania di benaknya.


Sementara Ezra malam itu membayangkan hari harinya nanti setelah bersama Tania, yang masih punya tugas untuk mencari keberadaan bayi Utari, tentunya sekarang tinggal turunan ke empat atau ke lima.


Begitulah keduanya di tempat terpisah harus memeras otak, tapi karena malam semakin larut keduanya terlelap tidur.


" Tania, nanti Ezra mau menjemputmu lagi?" tanya ibu saat mau berangkat kantor.


" Iya bu," jawab Tania datang.


" Kamu menikah mendadak, aku sudah menghubungi katering mereka tidak sanggup," kata Ibu agak gelisah.


" Masak sendiri saja dan semampunya bu," jawab Tania.


" Kami berangkat dulu, Ezra paling sebentar lagi jemput kamu," kata ibu masuk ke mobil bersama suaminya.


Tak lama kemudian Ezra datang menjemput, Tania membuka pintu ruang tamu yang langsung ditutup oleh Ezra, dia ingin menyempatkan untuk mencium Tania.


" Sudah Mas," pinta Tania berusaha melepas pelukan erat Ezra.


" Aku baca di teras rumahmu saja, biar agak beda, bukankah Peter kadang menulis di teras kalau di loji yang ada di kota," kata Ezra menjelaskan ke Tania.


" Ya boleh Mas, Rendhi aku beri tahu, kalau bisa supaya nyusul naik angkot," jawab Tania datar.


Ezra duduk di kursi teras dan membuka lembar yang belum dibaca.


Peter POV


" Utari, aku lelah sekali," kataku, di pagi itu saat Utari menyodorkan gelas, karena semalam semangat, sampai bantal pada jatuh ke lantai juga sprei sampai lepas dari kaitan kasur.


" Aku suapi Peter," kata Utari, karena melihat Peter matanya masih memejam, diapun mengiyakan. Utari dengan sabar menyuapi telor madu satu sendok demi sendok ke mulut Peter, matanya masih belum di buka, juga menyuapi minuman rempah rempah ditambah gula aren.


" Ini aku bawakan roti dalamnya isi cincang daging ayam," kata Utari.


" Apa aku sudah tertinggal sarapan pagi?" kataku, dia mengiyakan.


Setelah aku membersihkan tubuh, Utari aku ajak ke loteng.


" Utari, kamu yang membersihkan loteng setiap hari?" tanyaku, dia mengangguk.


" Tapi pagi ini jendela belum kamu buka," lanjutku, karena Peter saat naik jendela masih tertutup.


" Kalau ada kamu, aku tidak berani membuka," jawabnya dengan melingkarkan tangan ke perutku dan kepalanya disandarkan dipunggung, sedang kedua tanganku pelan pelan membuka jendela sebelah timur, aku mencari keberadaan matahari, warnanya telah berubah putih, karena menyilaukan mata cahayanya, kualihkan pandangan mata ke kebun teh yang menghijau.


" Peter, jendela sebelah barat tidak kamu buka," ujar Utari manja, tubuhnya aku tarik disebelahku, dia yang semakin padat berisi membuatku ingin memulainya lagi.


" Peter, pertanyaanku belum kamu jawab," desaknya, disela sela kecupan bibirku.


" Aku males melihat Jos," jawabku, Jos kini kembali seperti dulu, bahkan aku dengar dia beberapa hari yang lalu baru menembak dua orang pegawainya dan nyawanya tidak tertolong.


"Peter, tanpa aku di kota bagaimana rasanya?" tanyanya sendu, aku menceritakan semua hari hariku selama hanya berdua di loji dengan Rudolf, dia tertawa mendengar cerita canda Rodulf padaku.


" Itulah yang aku suka pada Rudolf, yang tak ada pada dirimu," jawabnya, jantungku terasa terhenti mendengar pernyataan Utari.


" Jadi kamu...." belum selesai aku berbicara bibirku ditutup dengan dua jarinya.


" Jangan salah mengerti tentangku Peter, nanti kamu akan tahu tentang Rudolf," jawabnya, sebenarnya aku banyak mengerti tentang Rudolf tapi kekawatiranku terhadapnya kalau dia akan merebut Utari dariku.


" Diam Utari, ada suara Jos di bawah," kataku, kegelisahanku muncul seketika, dia seperti sedang ribut dengan Mama.


" Kamu jangan sampai mendekat padanya," pintaku, karena kawatir dia membabibuta, dan akhirnya membunuh. Selama beberapa jam kami berada di loteng, karena tempat ini tak akan Jos injak, kami hanya bisa saling mendekap tubuh juga berciuman.


"Peter, Mama menangis," bisik Utari sedih, bagi Utari, Mama merupakan ibu kedua yang rasa sayangnya beda tipis dengan ibu kandungnya, sehingga kesedihan Mama akan membuat Utari tersayat juga hatinya. Kamipun di loteng saling bertangisan lirih.


" Peter, aku semakin tidak tega meninggalkan Mama," kata Utari air matanya mengalir deras di pipi halusnya, dan aku hanya diam dengan menahan sesak nafas di dada. Aku menuju jendela sebelah timur kulihat ibu mertuaku duduk menunduk di bawah pohon mangga, bapak mertuaku sedang merawat kebun, mereka tak saling berbicara.


" Utari, semoga Mama tidak kenapa napa," kataku sedih dengan berpegangan pada teralis besi yang berdiri tegak. Aku merasa tidak berdaya menghadapi Jos, ternyata kedua kakakku juga sama sepertiku.


Setelah dirasa aman kami berdua turun, dengan langkah hati hati menuju ke kamar Mama, Papa yang sudah mulai membaik kondisinya memburuk lagi.Bapak mertuaku sudah berada di kamar memijat jari jari kaki dan tangan, sedangkan ibu meminumkan ramuan. Kami di kamar tertunduk dalam diam.


Malampun tiba, aku mencium ubun ubun Utari yang menelusupkan kepalanya di bawah cerukku.


" Utari," kataku sambil mengelus kulit halus punggungnya, dia dengan kedua tangannya mengelus elus rambut yang tumbuh di bagian atas perutku.


" Iya Peter," jawabnya lembut.


" Maukah kamu bersamaku malam ini?"pintaku sendu, kami masih terbawa suasana Jos, Utari mengangguk lembut.


" Peter."


" Utari," hanya ini yang mampu keluar dari mulut.


Dalam keheningan malam yang sunyi sepi, hanya terdengar suara jangkrik mereka memasukan tubuhnya ke dalam satu selimut, rasa kantuk tak bisa tertahankan, sementara Utari seperti tak bisa tidur, karena tubuhnya berkali kali aku rasakan bergerak.


" Utari, diam," ucapku diantara kantukku, tapi kalau sebelah bergerak gerak terus membuat tidur tidak nyaman. Saat aku bangun tengah malam, rasanya tidak tega melihatnya, sepertinya semalam dia agak sulit tidur, sementara sekarang dia telah tertidur pulas disebelahku.


" Peter, semalam bisa kamu tidak membangunkanku," celotehnya, aku tersenyum.


" Kamu tidur nyenyak," jawabku sambil melirik.


Pagi habis Shubuh kereta berangkat, Utari tak lupa mengantarku sampai stasiun, kami menyempatkan saling cium dan peluk, aku duduk didekat jendela, kupandangi Utari sampai tak terlihat lagi.


Kurasakan lagi rasa sepiku, yang sampai kapan rasa ini akan berakhir. Sepanjang perjalanan aku berusaha membunuh kesendirian ini dengan memandang alam di sebelah kananku atau sekedar mengajak ngobrol penumpang lain, tak juga mampu menghalau rasa kehilangan yang mengganjal di hati, juga berusaha untuk memejamkan mata barangkali bisa, tak juga mampu. Yaa ragaku ada di gerbong kereta tapi otakku melayang pada Utari yang ada di kampung.


Sampai juga di stasiun kota, Rudolf menjemputku, walau tanpa dijemputpun aku bisa mengangkat roti dari berbagai rasa yang dibuat ibu dan Utari, toh jarak sampai rumah hanya berapa meter, tapi Rudolf juga ingin mengusir rasa sepi.


" Rudolf, kamu selama dua hari makan apa?" tanyaku datar.


" Makan roti isi coklat, daging, keju, pisang," jawabnya santai.


" Enak itu, beli dimana?" kataku slow.


" Enak, kamu belum pernah beli di toko roti itu," jawabnya.


" Iya belum, kira kira sama buatan Utari enak mana?" kataku.


" Lebih lembut ini," jawabnya. Rodulf sempat menanyakan kabar Mama tak lupa tentang Jos, maaf demi keselamatan kami, akupun cerita tentang Jos, bukan berarti cerita tentang kejelekan keluarga, tapi kami harus waspada pada Jos.


" Ya Tuhan, Jos, apa yang merasuki jiwanya?" ujarnya sedih.


" Kadang aku berpikir, wataknya beda dengan aku dan kakakku," jawabku.


*****


Sementara Rendhi yang dihubungi oleh Tania datang, sehingga mereka bertiga menunggui Ezra membaca selesai, sampai satu episode di teras yang lebih lebar dari pada teras rumah Ezra. Tak lama kemudian ayah dan ibunya Tania istirahat siang pulang ke rumah.


" Koq di teras, enggak diajak masuk Tania," kata ayah Tania sambil tersenyum.


" Iya Yah, tak apa," jawab Ezra datar.


" Mas, juga Rendhi sekalian makan siang bersama," ajak Tania yang diiyakan oleh orangtuanya.


" Nak Ezra, sebenarnya ada hal apa sehingga setiap hari sibuk bertiga?" tanya ayah Tania. Akhirnya Ezra cerita, merekapun terheran heran.