
Siang itu sesuai janji Steven datang membawa roti juga bahan untuk isi, Stev yang sudah akrab dengan anak anak Tania meminta Varo untuk digendongnya. Dan Tania baru membuatkan pesanannya.
" Stev mau bawa kacang?" tanya Ezra yang akrab juga dengannya, saat dia telah membawa bekal roti buatan Tania.
" Boleh juga, oh ya Tan, besok kamu mulai kerja?" Stev penyuka kacang dari Indonesia dan diapun langsung berangkat kerja.
" Ya, kebetulan suami ingin berada di rumah nunggu anak anak," jawab Tania, dan Ezra mengiyakan karena Ezra ingin menepati janji menghindar dari Tina kalau di kerjaan selalu ngebel terus, dia jelas lebih berat melepas Tania.
" Ya besok kalau jam kerjanya bareng bisa berangkat bersama," jawab Stev datar dan tanpa beban, Ezrapun sudah terbiasa dengan ajakan Stev ke istrinya toh selama ini tak terjadi sesuatu dibelakangnya, Stev juga akrab dengan Ezra, cuma dia memang belum punya kekasih.
" De, aku membayangkan Stev itu kaya Rudolf," kata Ezra setelah dia berlalu dengan sepedanya.
" Mungkin reinkarnasi dari Rufolf Mas," jawab Tania, karena memang dia sikapnya hampir mirip dengan gambaran Rudolf dalam tulisan Peter.
" Varo belum makan siang De?" tanya Ezra,
" Ini sudah mateng bubur nasinya," jawab Tania dengan menyendok bubur nasi dicampur cincang ayam, dan Ezra meminta mangkuk berisi bubur dari Tania, terus menyuapi.
" Besok kalau kamu kerja disiapkan makanan ya," pinta Ezra, Tania mengangguk.
" Besok aku pulang kerja sekalian belanja sama Rendhi mau menjemput di kerjaan," kata Tania.
" Ya, sudah nanti aku nyusul jam Varo menyusu, jadi sekalian," jawab Ezra mendekati Tania dengan mencium pipi.
Drrt
Ada chat, Tania ambil benda pipih, lalu mengusap kaca licin.
" Tan, besok pagi pada pesen nasi goreng komplit 15 box uangnya aku tranfers," pesan pribadi Steven. Dan ting ada pemberitahuan di ponsel uang telah masuk ke rekening, nama nama yang pesen besok kerja pagi bareng Tania.
" Dari pada kamu capek kerja mending buka pesenan makanan," kata Ezra datar.
" Ya ini di coba dulu, kalau dirasa aku kelelahan dan ternyata banyak yang pesen baru kesitu," jawab Tania.
" Tapi ya untuk apa, toh kita sudah cukup tanpa harus kerja," kata Ezra menatap Tania.
" Untuk hiburan Mas, dari pada kita tak punya kegiatan nanti tambah pusing," jawab Tania menohok, Ezra hanya melirik.
" Kalau kamu sibuk kerja terus dapat pesanan, malam capek terus aku tak di hirauksn donk," protes Ezra.
" Toh aku kerjanya cuma empat hari Mas," jawab Tania yang sudah jarang tersenyum ke Ezra.
Dan ponsel Ezra yang khusus untuk Tina sudah di banting sama Tania juga nomer digunting, ponsel yang lain sudah di buat apabila ada panggilan atau kirim pesan pribadi maka di ponsel Tania juga muncul, pokoknya si Tina sudah tak bisa berkutik.
Waktupun berjalan, Tania semakin betah kerja demikian pula Ezra hatinya sulit untuk meninggalkan Fifah dan Varo.
Malam itu saat Tania libur kerja, sedang Fifah sudah mulai sekolah kecil agar dia berinteraksi, dan Varo sudah dua tahun.
" De, anak anak sudah tidur," kata Ezra duduk disisi ranjang melihat Tania yang lagi menina bobo Varo, kaki Tania yang jenjang di elus elus.
" Hmmm ada maunya ini," gumannya dalam hati.
" Iya Mas, sudah," jawab Tania bangkit dari kasur, dan berdua menuju kamar sebelah.
" Mas, kok, kalau aku enggak ngomong, kamu kebablasan, " protes Tania agak kesal.
" Abis sudah enggak bisa nahan," jawab Ezra sedikit bohong.
" Sengaja Mas Ezra," jawab Tania bangkit dari kasur langsung menuju kamar mandi.
" Kamu juga pinginnya begitu," bales Ezra merasa puas.
Satu bulan kemudian rasa mual dan pusing kepala dirasakan Tania, sampai dia sulit bangkit dari ranjangnya, Ezra berusaha memijit mijit kepalanya.
" Mas, yang masak buat anak anak, aku pusing banget," kata Tania bangkit menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi perut di kloset, Ezra memijit tengkuk lehernya.
" Bulan ini tamunya belum datang De?" tanya Ezra prihatin lihat istrinya. Tania mengangguk.
" Mas, sudah ya anakmu sudah banyak," kata Tania memegang lambung, Ezra diam saja.
Sementara itu Mirna kirim pesan pribadi ke Ezra tapi di ponsel Tania juga bisa terbaca, tentang Tina.
" Tina stroke," pesan pribadinya. Dan terlihat Ezra lebih banyak diam setiap harinya, Tania yang selalu mual tak mau menggubris tentang sikap Ezra, dan satu minggu kemudian dikabari kalau Tina meninggal.
Ezra sering melamun, yang ia pikirkan Devina dan Askira di asuh siapa, semantara disini Ezra mampu mengasuhnya, Tania lama lama tidak tahan melihat suami yang melamun terus.
" Mas, aku tahu kamu memikirkan Devina dan Askila," ujar Tania kesal.
" Iya De, bagaimanapun mereka perlu dilindungi," jawab Ezra sendu.
" Jadi maksud mas, mereka hidup bersama dengan kita," jawab Tania ketus.
" Iya De, kasihan dia," jawab Ezra sendu.
" Aku tidak bisa mas, atau pilih saja kamu mengasuhnya mereka sendiri dan aku mengasuh anak anakku disini," jawab Tania panjang dan tegas.
" Aku tidak bisa begitu De," jawabnya menunduk.
Dan memang keluarga Tina tak ada satupun yang mau mengasuh Devina dan Askila dan oleh keluarganya dititipkan ke Mirna.
" Ok Mas, aku mengalah pulang ke Indonesia tapi aku mau bersama orangtua di loji dan aku tak mau...." jawab Tania ketus dan mulai menangis, juga karena orangtua Tania setiap hari membujuk Tania supaya pulang ke tanah air, mereka kangen sama Fifah dan Varo.
Ezra semakin sedih melihat istrinya yang lagi mengandung menangis.
" De, nanti disana kita cari jalan keluar, tapi aku lebih mengutamakan keutuhan rumah tangga kita," kata Ezra menunduk.
Tania tahu masalah ini tetap menjerat hidupnya sepanjang hayat, rumah tangganya yang di dera dengan cobaan bertahun tahun telah dijalani, bahkan selama tiga tahun terpisah dari Ezra mampu dilewati dan baru saja kebahagian di rengkuhnya dihancurkan oleh orang yang sama pula.
Sekarang Tania harus menerima akibat ulah Tina dengan harus menanggung tekanan batin sepanjang hidup, yaitu harus menerima keberadaan Devina serta Askila. Tania sepanjang perjalanan pulang ke tanah air hanya diam, air mata seolah olah sudah mengering, bahkan sampai di loji tak mau di ajak oleh Ezra untuk menengok mertuanya.
" De, menengok bapak dan ibu," ajak Ezra setelah menyelesaikan pengasuhan kedua anaknya dari Tina. Tania hanya menggelengkan kepala. Selama kehamilan yang ketiga disaat hatinya galau dia akan lari ke loteng, dipagi hari dengan membuka jendela memandang matahari yang mengintip dari balik bukit, dan Tania di kagetkan oleh getar ponsel di sakunya.
" Tania aku sebenarnya mencintai sejak kita kuliah bersama, tapi kamu tetap mengharap kedatangan Ezra, dan setelah ada Fifah juga Varo rasa sayangku padamu semakin bertambah, sekarang aku tahu kau hamil, tak akan mengurangi cintaku padamu Tan, aku menunggumu sampai kapanpun," aku Steven yang sangat kecewa dengan kepulanganmu ke Indonesia.
Tan, mungkin suratku sudah sampai ke kamu hari ini bersamaan dengan kiriman pesanku ini," Tania menangis sesengukkan membaca surat Steven.
" Tan, ada surat dari Steven, sejak kemaren tapi ibu lupa," kata Ibu dari bawah tangga dengan menggendong Varo. Tania turun dan melihat Ezra sedang bermain sama Fifah, dia melihat Tania yang pegang surat. Tania keatas lagi dan membukanya, Tania menelungkupkan kepala di meja dengan tetesan air mata membayangkan kesedihan Steven.
Ia ingat saat hatinya hancur, Stev dengan lapang mau menjadikan kedua kakinya untuk menumpu kepalanya, dengan merelakan celananya basah oleh air mata. Stev mengelus rambut Tania lembut dan membungkukan kepala mengecup kepala Tania.
" De, ternyata Stev mencintaimu," kata Ezra bergetar, Tania yang lagi menelungkupkan kepala terkenjut, dan melihat surat di tangannya, Tania merebut surat dari tangan Ezra dan berhasil.
" Jadi selama ini kamu juga mendua," ujar Ezra kesal dengan dagu Tania dipegang terus di dongakan.
" Lihat aku De, aku sakiiit," katanya ketus, Tania lihat ada bulir air disudut matanya.
" Lebih sakit mana maaas, aku atau kamu," jawab Tania ketus.
" Ok, tunggu anakku lahir, kamu boleh memilih Stev, anak anak akan aku bawa, kau tak punya hak asuh," jawabnya kesal dan berlalu menuruni tangga. Dia meminta Varo juga mengajak Fifah, dibawa naik mobil, entah kemana Tania tidak tahu. Hampir satu minggu Fifah dan Varo di bawa Ezra tidak pulang, Tania berusaha menghubungi tak pernah dibalas atau diangkat. Tania sedih juga sakit hatinya dan hanya Stev curahan kesedihan Tania.
" Tan, kalau aku bisa membuatmu gembira, aku siap menjemputmu," pesan dan vicallnya.
Dan ternyata Ezra serius, dia hanya datang seminggu sekali, terus anak anak di bawa, bahkan yang Tania dengar Ezra hidup di rumah yang ditempati Tina dan mengasuh empat anaknya,
" Nduk, Ezra seperti beneran," kata ibu.