
Ezra sangat kecewa tadi belum bisa melampiaskan keinginannya, karena keduanya terganggu oleh kedatangan Tina dan keluarganya yang sengaja berkunjung pada malam hari, kebetulan keluarga pada berkumpul di teras.
" Ada tamu, adik Vera alm," kata Ibu datar saja.
" Maaf Bu, katakan sudah tidur saja," kata Ezra tertunduk, ibu Tania yang sudah tahu cerita tentang Tina mengiyakan juga melihat Ezra tertunduk menjadi iba. Ibunya Tania menyampaikan pada Tina dan keluarganya, tetapi mereka tetap ngobrol dengan keluarga besar Tania, mereka memang pandai berbicara dan mampu membaur dengan siapa saja.
Sementara itu Tania dan Ezra yang berada di kamar meneruskan kegiatan yang sedikit terganggu.
Ezra di beri cuti sampai tiga hari, sehingga paginya yang baru mengulang dengan Tania bisa bermalas malasan di kasur di rumah mertuanya. Tania sudah merasakan beda.
" De, nanti pulang ya, kasihan Rendhi," kata Ezra sambil mengusap usap kulit punggung halus Tania yang hanya berbalut kain jarik duduk disisi ranjang, sementara itu Ezra sedang kelelahan berbaring di atas kasur.
" Iya Mas, aku buatin juz ya," kata Tania lalu mencempol rambut kecoklatan, Ezra setengah ngantuk memicingkan mata dan meriliknya, bibirnya tersenyum tipis, Tania tersenyum juga melihatnya.
" Awas lho nanti," sergah Ezra ditengah rasa kantuknya, karena Tania meledeknya, disaat Ezra tidak berdaya.
"Aku mau mandi dulu Mas," kata Tania menuju kamar mandi dalam kamar, dan keluar membalut tubuh dengan handuk, Ezra masih tertidur.
Orangtua Tania belum berangkat ke kantor juga.
" Tan, suamimu belum diajak sarapan," kata Ibu datar.
" Iya bu, sebentar lagi," jawab Tania sambil mengupas buah jambu merah untuk di juz.
" Tan, kemaren sore suamimu bilang nanti habis Dzuhur pulang," kata Bapaknya datar.
" Iya Pak, jangan kawatir Tania setiap pagi kesini," jawab Tania tahu kekawatiran bapaknya.Ezra mendatangi mereka di meja makan.
" Nak Ezra sudah aku tinggal sarapannya," kata ibu tersenyum.
" Iya bu, tidak mengapa," jawab Ezra yang sudah siap makan pagi dan Tania mengambilkan nasi. Orang tua Tania meninggalkan mereka berdua, Tania tanpa malu lagi mencium pipi Ezra.
" Pengin lagi," canda Ezra, Tania menjulurkan lidahnya. Mereka saling suap menyuapi makanan dari piringnya.
" Bapak, masuk kantor besok?" tanya Ezra sopan duduk di kursi di ruang tengah yang luas.
" Iya, kamu cutinya berarti sampai hari Rabu?" tanya Bapak, Ezra mengiyakan.
" Nak Ezra ternyata Rendhi murid istrinya Bahtiar di SMP 10," kata ibu datar.
" Iya bu, betul," jawab Ezra, dia ingat hari ini hari pertama Rendhi masuk sekolah tatap muka, Ezra tidak begitu kawatir dia anak mandiri, tadi pagi Tania sebelum Rendhi berangkat sekolah sudah menghubungi dengan panggilan selulernya. Ezra akhirnya menuju ke kamar, dan Tania menyusul.
" Mas, kapan baca catatan nenek Zenia?" tanya Tania dengan memeluk pinggang Ezra dari belakang, jari lentik Tania di remas remasnya.
" Nanti apa kalau di rumah," kata Ezra membalikan tubuh Tania, Ezra pandangi wajah cantik Tania dari jarak hanya tinggal hitungan cm sehingga tidak tahan untuk mencium bibirnya.
Angin terus bertiup pelan menggoyang nggoyang dedaunan di balik kamar, lalu masuk ke kamar dengan lembut lewat ventilasi jendela kamar yang besar, sehingga tanpa ac pun kamar tetap sejuk.
Kedua orang itu masih tetap betah di dalam, sengaja istirahat karena selama liburan waktunya dipergunakan full untuk membuka tabir misteri di loji 13, walau hanya membaca buku.
Dan Ezrapun terlentang tak berdaya, Tania langsung lari ke kamar mandi, tak lama kemudian Ezra menyusul. Mereka keluar saat makan siang, kedua orangtuanya pun maklum, mereka dulu sama dengan Ezra dan Tania.
Habis makan siang bersama Tania menyiapkan beberapa baju juga cemilan untuk di bawa ke rumah, setelah keduanya pamitan terus meluncur di jalanan aspal, mereka selalu menyempatkan untuk saling berciuman, mereka merasa bahwa hari ini untuknya. Sampai di rumah, Rendhi belum pulang sekolah, paling sebentar lagi pulang, kebetulan jalan menuju sekolahnya tak ramai oleh kendaraan motor, Rendhipun bisa naik sepeda bersama teman lain. Sedang Ezra punya kunci rumah.
Setelah Ezra dan Tania masuk rumah, keduanya menuju meja makan.
" Mas, banyak lauk di meja," ucap Tania agak tenang hatinya.
"Assallamuallaikum," salam Rendhi.
" Waallaikumsallam," salam keduanya.
" Sudah lama Tante eh bunda?" tanya Rendhi tersenyum, Tania seneng Rendhi mulai panggil bunda walaupun awalnya tante.
" Ya belum begitu, makan dulu nang," jawab Tania sambil mengelus rambut kepala Rendhi.
" Bunda sekalian makan," pinta Rendhi sambil menyendok nasi.
" Hmmm ayah tidak di ajak," protes Ayah, Rendhi tertawa.
" Rend, tadi langsung pelajaran?" tanya Tania mendekati Rendhi yang telah duduk di kursi, Rendhi mengiyakan.
" Yah, sudah di baca tulisan nenek Zenia?" tanya Rendhi penasaran.
" Belum, paling besok pagi," jawab ayahnya.
" Ayah masih cuti ya?" tanya Rendhi, ayahnya mengangguk. Rendhi pamitan ke kamar mau tidur siang. Mereka berdua menuju halaman rumah untuk melihat tanaman hias, walau di huni oleh para cowok tetapi tanaman bunga tetap terawat.
Keduanya dikagetkan oleh datangnya mobil, Ezra hafal itu mobil Tina dan suaminya, mereka berdua turun dari mobil, dan Tina tidak mau menyapa Tania, dengan wajah cemberut langsung masuk rumah, demikian suami Tina juga tak mau menyapa Tania, lalu Ezra langsung menggandeng Tania mengikuti mereka dari belakang.
" Mas, foto weedding dengan mba Vera dimana?" tanya Tina lantang, dengan melihat lihat seluruh ruangan.
" Tania, harus tahu kalau mba Vera cinta sejatinya mas Ezra," lanjut Tina lantang, Ezra langsung memeluk pinggang Tania di depan mereka, ternyata sikap Tania tenang, dan dewasa, juga tak mau membalas omongannya, sehingga Ezra semakin sayang padanya.
Tania melepas pelukan Ezra terus menuju dapur, Rendhi yang mendengar suara tante Tina bangun terus keluar dan menyusul Tania ke dapur juga.
" Bunda, jangan dengerin omongan tante Tina," kata Rendhi dibelakangnya, membuat Tania terkejut. Tania menyiapkan minuman untuk mereka, dan Rendhi yang membawakan ke ruang tengah dengan beberapa cemilan.
" Rend, foto foto bundamu jangan sampai di copot lho!" perintah tante Tina lantang, Rendhi diam, tapi terus menjawab.
" Te, bunda hanya minta doa kita saja," jawab Rendhi tenang. Setelah Rendhi menjawab Tina mrngajak suaminya pulang. Tania tetap menunjukkan kedewasaannya, diapun ikut mengantar Tina dan suaminya ke halaman. Setelah bertiga masuk rumah tak penting membahas Tina, bahkan Tania tidak menganggap mereka sebagai penghalang rumah tangganya, walau sikap dan kata kata mereka membuat hati Tania terluka dan malas menyapa kalau sampai ketemu.
" Nang, pengin lauk apa makan malam?" tanya Tania pada anak sambungnya.
" Masih banyak lauk bunda," jawab Rendhi, Tania adem hatinya dipanggil bunda, Tania buat juz buah campuran di beri milk.
" Bunda, Juznya enak, masih bund?" tanya Rendhi. Dan bertiga makan malam bersama, terus duduk di ruang tv.
Malam telah larut, mereka masuk kamar. Tania melepas baju untuk mengganti baju tidur yang lebih longgar.
" Siap lagi," kata Ezra memeluk tubuh yang tinggal dua penutup saja, dan langsung diangkat ke tempat tidur, akhirnya dan Tania pasrah.