ROSES

ROSES
Part 38 Tamu tak di Undang



" Mas, diusut kasus ini," pinta suami Mirna.


" Enggak usah Dik, toh kerugiannya tidak banyak," jawab Ezra.


" Kasihan ibu karena yang kerugiannya banyak beliau," jawab Mirna.


" Nanti diganti," jawab Tania kalem.


Meraka tak mau membahas masalah pencurian di siang hari, dan barang serta uang yang hilang punya ibu diganti oleh Ezra.


" Yah, untung laptop ini di bawa, banyak data berada disini," kata Rendhi penasaran. Ezra dan Rendhi beberes pakaian yang berserakan dilantai juga kasur, sprei yang berantakan dibetulkan.


" Nang, kamu kalau pergi jangan sendiri lho, bapak jadi khawatir," kata bapak dengan wajah muram.


" Tapi, waktu kami belum kesini tidak pernah terjadi kaya ini Pak?" tanya Ezra khawatir juga soalnya mereka sudah tua. Bapak dan Ibupun menggeleng.


Tak terasa ngobrol sambil beres beres sudah malam, pintu yang dirusak sudah diperbaiki, dan malam bergantian berjaga, siapa tahu tamu tak diundang akan datang lagi dan lebih menakutkan.


" Mas, malam ini kita fokus jaga, libur dulu ya," kata Tania sambil menidurkan Afifah yang masih mainan saja.


" Kalau bisa ya tetep Tan, sudah jadi makanan pokok," pinta Ezra sambil garuk garuk kepala.


" Kalau sehari dua hari libur tidak apalah Mas," jawab Tania matanya sudah mulai ngantuk sementara Afifah masih suka mainan.


" Kamu tidur dulu, Afifah seperti belum ngatuk," kata Ezra ngajak main keluar.


Terdengar pengumuman dari Mushola kalau suami Tina wafat.


" Bapak saja yang malam ini datang, kamu pada dirumah dulu," kata Bapaknya Ezra, karena Ezra tak berani meninggalkan keluarga kecilnya dirumah, apalagi malam hari.


Pagi hari baru menuju ke rumah duka, itu juga Tania dan Ezra tidak berani mendekat Tina, untuk antisipasi kalau Tina tak mampu mengendalikan obsesinya pada Ezra, tentu bisa memalukan karena banyak orang. Rio dan istri juga datang ke rumah Tina.


" Besok ke Desa Wisata nya ya," tandas Rio ke Ezra.


" Ya coba nanti berembug dengan keluarga, nanti aku kabari," jawab Ezra santai.


" Mampir sekalian Ri," pinta Ezra.


" Iya, mobilku di depan runahmu Mas," jawab Rio ingin melihat rumah Bapaknya Ezra yang habis ada tamu tak diundang.


Tania berjalan sama istri Rio dan Rio dengan Ezra berjalan di belakangnya, menuju ke rumah Bapaknya Ezra. Sampai di lokasi Rio dan istrinya melihat lihat.


" Mas, kenapa selalu membiarkan orang yang selalu jahat pada keluarga?" tanya Rio yang didukung istrinya.


" Hanya mengacak acak baju saja," jawab Ezra berusaha menutupi kegelisahannya, karena barusan ada pesan masuk dari nomer tak dikenal, juga panggilan beberapa kali dari nomer sama, dan belum sempat diberitahukan ke Tania. Ezra hanya berfokus pada keluarga kakeknya Rendhi, karena sekarang lagi membujuk Rendhi untuk buka usaha, dan Tina yang menginginkan Ezra, apalagi suaminya telah tiada.


Tidak lama Rio dan istri menyambangi rumahnya terus pulang, dan Ezra dengan hati hati baru menceritakan pada Tania.


" Prinsipnya kita harus hati hati tidak hanya disini saja, siapa tahu juga di Belanda, mereka yang memiliki banyak uang telah memasang orang untuk mengancam kita,"jawab Ezra panjang, hanya mengatisipasi kemungkinan, walau dalam hati ingin mereka dapat hidayah.


" Mas, Rendhi tadi masih disitu ya?" tanya Tania tetap was was.


" Iya, masih, tadi duduk di dekat kakeknya," jawab Ezra datar.


" Mas, kalau Rendhi dibujuk supaya buka usaha oleh kakeknya dibolehkan saja, dari pada Rendhi terus terusan dihubungi," kata Tania.


" Apa di bujuk terus?" tanya Ezra penasaran.


" Iya Mas, tadi pagi cerita, agak terganggu nanti," jawab Tania.


" Kamu jawabnya bagaimana?" tanya Ezra.


" Terserah saja, yang lebih nyaman di hati kakak gimana? dia seperti mau mengabulkan saja," kata Tania.


Ada pesan dari Rendhi di grup keluarga kecil Ezra.


" Ayah, kerumah tante Tina, penting Yah, jangan sendiri, ditemani Oom," pesannya, Tania dan Ezra sudah khawatir baca pesannya, Ezrapun cepat cepat minta bantuan suami Mirna untuk menemani. Setelah kedua orang itu datang ke rumah yang di pakai Tina ternyata Rendhi tidak ada.


" Tin, Rendhi dimana?" tanya Ezra, Tina malah memeluk kuat Ezra sambil menangis.


" Mba, kami nanya Rendhi," desak suami Mirna, Tina semakin kuat memeluk Ezra dan tangisnya tambah seru. Ezra jadi tambah panik, pikirannya ingat peristiwa penculikan Tania. Dan Ezra dengan sekuat tenaga melepaskan pelukan Tina yang dibantu suami Mirna. Terus keduanya pulang, sedangkan Ezra berkali kali menghubungi Rendhi tak di balas juga. Akhirnya Tania buka aplikasi keberadaan Rendhi dan buka ke aplikasi lain siapa tahu Rendhi membuka siaran langsung,


" Rend, yang penting ikhlas ya," kata Ezra dan Taniapun ikut mendukung kata kata Ezra.


" Selama kita masih mampu tak masalah, dari pada dirongrong terus," jawab Rendhi.


" Doakan semoga sukses usahanya biar tidak mengganggu kamu terus Rend," kata Tania selanjutnya.


" Iya bunda, besok aku dijemput lagi, belum selesai urusannya," kata Rendhi. Ezra dan Tania mengiyakan hanya berpesan hati hati, juga harus buka aplikasi dengan siaran langsung biar yang di rumah tenang.


" Yah, besok ditemani Dicky dan Syarif teman SMP yang jadi polisi, mereka lagi tidak jaga," kata Rendhi.


" Kalau bisa bawa mobil sendiri saja," pinta Ezra.


" Iya, pakai mobilnya Dicky," jawab Rendhi. Karena sudah malam akhirnya tidur.


" Sudah Mas jangan dipikir, mereka bisanya memang begitu," kata Tania yang habis menina bobo Afifah.


" Iya De, kalau mikir mereka kepala jadi sakit, malah rugi, abis kamu malah terbebas dari piket," kata Ezra yang kepikiran banget sama ulah keluarganya Vera.


" Hmmm, enggak apa Mas, aku ya lagi capek juga ngantuk," jawab Tania menelungkupkan kepalanya dibawah ceruk leher suami, Ezra yang lelah otaknya sesekali mengecup ubun ubun Tania lembut, dan satu satu mereka mulai tertidur dengan dengkur halus.


Pagi pun tiba, di jalan depan rumah mulai orang berlalu lalang untuk melakukan kegiatan dipagi nan sejuk. Tania menggendong Afifah dan Ezra ada disampingnya, mereka berjalan pagi dengan keluarga Mirna, tidak begitu jauh tapi lumayan untuk melemaskan kaki, dan pulangnya membeli bubur ayam.


" De, acara ke Desa Wisata tertunda lagi, semoga nanti Rendhi selesai," kata Ezra, Tania mengangguk.


" Dede suka ya maem bubur," tanya Rendhi mencium pipi Afifah, tangan kecilnya menepuk kepala kakak.


" Cium kakak, De," pinta bunda, Fifah mulai cium pipi kakak pakai bibir mungilnya.


Teman teman Rendhi datang dan Oomnya tak lama kemudian datang juga.


" Oom, aku sama teman, kami lama enggak ketemu," kata Rendhi santai, Oomnya yang tidak mau masuk rumah terlihat terpaksa membolehkan.


" Hmmm, Rendhi bukan anak kecil lagi ya Yah," kata Tania.


" Iya, semoga keluarganya tak lagi menuntut terus De, semua sudah diberikan masih saja tidak puas," ujar Ezra kesal. Dan iapun menyenderkan tubuhnya di kursi ruang tengah, kepalanya didongakan keatas menerawang langit langit rumah orangtua yang sudah kuno, matanya tak disadarinya berembun mengingat ibunya Rendhi semasa hidupnya selalu direpoti oleh keluarga, bahkan sedang sakit usahanya diambil alih oleh Tina dan tak sepeserpun keuntungan diberikannya, untung biaya pengobatan bisa dari hasil rumah kost. Saat itu aku berpikir kenapa Vera beda wataknya dengan orangtua dan adik adiknya, ternyata Vera bukan anak sendiri, dia anak tetangga sebelah rumah orang tua Tina yang sejak bayi kedua orangtuanya telah tiada, kebetulan orang tua Tina belum bisa punya anak, dan mereka memelihara Vera tak gratis, karena peninggalan orangtua Vera diambil semua, sejauh ini Rendhi belum diberitahu demikian Tania, mereka tahunya anak kandung orangtua Tina. Sedangkan kakak laki laki Vera dititipkan dipanti asuhan, dan kabarnya diadopsi oleh orang Perancis.


" Mas, sudah jangan dipikir banget," kata Tania yang mendekati Ezra tanpa terdengar suara langkahnya, sehingga Ezra terkejut dibuatnya.


" Iya De, membuat kepala jadi sakit, matapun pedas," kata Ezra yang berusaha membuang jauh jauh pikiran tentang sikap dari keluarga Tina.


" Mas, maaf tapi Rendhi kok tak sedikitpun punya watak seperti keluarga Tina," kata Tania dengan mengerutkan dahi.


" Nduk, Vera bukan anak kandung," jawab Ibunya Ezra kesal mengingat perlakuan keluarga Tina, dan akhirnya diceritakanlah tentang keberadaan Vera.


" Kasihan mba Vera, Mas bisa dicari kakaknya mba Vera kalau betul betul di Perancis," kata Tina.


" Sebenarnya bisa De, dulu almarhum Vera sempat menanyakan keberadaannya, dan ini alamat ibu angkatnya di Perancis," jawab Ezra menatap Tania.


" Kenapa Mas enggak bilang saat kita disana, toh jarak kita dekat," jawab Tania.


" Saat disana aku brlum kepikiran,"jawabnya.


" Apa ada bukti bukti kalau Vera bukan anaknya," kata Tania.


" Ada, di KK orang tua asli, disimpan di Ibu ya, karena dulu sama Vera dititipkan," jawab Ezra.


" Iya masih tersimpan, mudah mudahan enggak hilang," jawab Ibu, beliau masuk kamar untuk mencari.


" Ini nduk ketemu," lanjutnya, dan oleh Tania yang lagi ngasih minum Afifah difoto, sedang KK jadul disimpan Ezra.


" Besok kalau kita sudah di Belanda cari alamat ini ya," pinta Tania, Ezra mengiyakan.


" Rendhi sekarang sudah dewasa, perlu diberitahu," kata Bapak.


" Iya nanti kalau pulang, mumpung disini," jawab Ezra kesal ingat sikap keluarga Tina.


" Apa orangtua mba Vera tidak punya famili Mas?" tanya Tania.


" Punya, tapi kedua orangtuanya berasal dari Kalimantan," kata Ezra pandangan matanya kosong.