
Hari pertama Tania melakukan kegiatan di dapur setelah resmi menjadi istri Ezra, pagi hari bangun menyiapkan sarapan pagi, terutama untuk Rendhi berangkat sekolah dibiasakan oleh ayahnya untuk sarapan pagi.
" Buat, capcay bunda?" tanya Rendhi yang akan menyiapkan pakan untuk ayam dan ikan.
" Iya, kamu suka," jawab Tania lembut, Rendhi mengiyakan. dan di kulkas masih banyak ayam ungkep juga bebek ungkep yang lunak tinggal di goreng.
Ezra duduk di ruang tengah dengan masih menggunakan sarung, baju koko dan peci, dia masih malas untuk berganti pakaiannya sambil nonton berita tv.
" Mas, ganti baju dulu terus sarapan, nanti Rendhi kesiangan," ajak Tania.
" Rend, mulai ada yang cerewet," canda Ezra, Tania memanyunkan bibir.
" Ayah saja yang mulai malas," canda Rendhi juga, Ezra menuju ke kamar ganti baju terus makan bareng bertiga.
" Yah, hari ini bener ya bacanya, aku penasaran," pinta Rendhi, Ayahnya mengangguk.
" Mas, bacanya tidak harus ke loteng," kata Tania datar.
" Idemu cemerlang, klo di loteng kejauhan," jawab Ezra mulai ke hal begitu.
" Hmmmm," jawab Tania dengan bibir di manyunkan. Ezra mulai siap siap membaca.
Zenia Yasna POV
Namaku Zenia Yasna artinya bunga mawar putih.
Kakekku pekerja keras, dan lebih banyak diam, aku berbeda dengan teman teman karena kulit, rambut, hidung dan warna bola mata berbeda dengan yang lain. Tapi aku tak berani menanyakan ke kakek, sampai aku menikah bahkan punya anak, kakek belum mau cerita tentang orangtuaku, tetangga tidak juga ada yang tahu tentang kami, kami bukan asli kota ini, akupun tak begitu resah tentang diriku yang tak punya ayah dan ibu, karena kakek menyayangi.
Kakek sudah mulai tua, aku, suami dan Putri anakku, di kumpulkan.
" Yasna, nanti malam berkumpul ya, kamu menyiapkan buku tulis dan tinta," ucapnya di pagi itu saat kami makan pagi bersama. Saat itu aku takut tentang kondisinya yang sudah tua, tapi tetap menanam tanaman di pekarangan ini. Aku tak mau menanyakan mengapa kami harus berkumpul, karena aku tahu kakek tak mungkin mau menjawab.
Malampun tiba, kami berkumpul di ruang tengah ini, kakek mulai bercerita.
Kakek namanya Tardi, penduduk di suatu kampung, yang bertanah sangat subur, sehingga orang Belanda menyewa tanah untuk kebun teh. Sejak bujang kakek ikut tuan Cornelis, dan akhirnya kakek menikah dengan gadis cantik kampung sebelah, namanya Tami. Dan lahirlah gadis cantik diberi nama Utari, dan Utari yang cantik jelita di cintai oleh Peter, hampir dua tahun menikah belum dikaruniai anak, tapi pada tahun ketiga melahirkan anak perempuan di beri nama Zenia Yasna artinya bunga mawar putih, karena Utari sangat suka bunga mawar terutama yang putih sebab wanginya lebih terasa.
Sampai disini kakek menangis,
" Kakek, kenapa kek?" kata kami karena dia menangis sedih.
" Kakek, kalau ingat ini sedih, itulah kakek tidak mau cerita tentang kamu," kata kakek sedih.
" Teruskan kek," desak kami. Akhirnya dengan tersendat sendat kakek meneruskan cerita.
Yasna kamu baru di beri nama, usia tujuh hari, tiba tiba Jos dengan membawa pistol masuk ke kamar Tuan dan Nyonya Cornelis, kedua orang itu ditembak dan Utari juga istriku menuju ke ruang tengah keduanya langsung di tembak, Peter turun dari loteng langsung ditembak oleh Jos, mungkin Jos bingung akhirnya menembak dirinya.
Kakek saat mendengar tembakan ngumpet di bawah kolong meja, Jos tidak tahu.
Kakek berhenti bercerita, matanya berair.
" Kakek teruskan ceritanya," kataku, dengan menahan tangis. Hatiku miris mendengar kekejaman yang dilakukan Jos pada keluargaku, kakek diam, walau lelaki katanya tidak dapat menangis, tapi nyatanya kakek bisa.
" Kek, kenapa saat itu aku tak ikut ditembak saja," kataku menangis sedih.
" Mama," kata Putri anakku dan suamiku mengelus rambut kepalaku.
" Aku takut Putri terpengaruh mentalnya, tapi sepertinya tidak dia kuat," gumanku dengan mata menatap putriku satu satunya.
" Kakek buyut, teruskan ceritanya kami siap mendengarkan," desak Putri sendu.
" Kamu tidur di kamar," jawab kakek sendu, suamiku yang sangat menyayangi kami dan selalu membantu kerja disawah, mendekati kakek dan memijit mijit tangannya. Kakek meneruskan ceritanya kembali.
Hampir satu jam kakek berada di kolong meja, dan kakek mendengar suara tangis Yasna, dengan tetap waspada pada Jos, setelah dia sudah tak bernyawa, kakek menuju ke kamar dan menggendong Yasna keluar, memanggil Jonathan.
" Jonathan, tolong kami, Jos bunuh diri," kalimat itu yang kakek ucapkan, akhirnya mendengar suara keras kakek semua loji yang di kunci rapat pada keluar dan mereka pada bertangisan.
Paginya upacara pemakaman, mereka di kebumikan di belakang loji.
Hari hari kakek hanya bersedih hati, sampai kamu Yasna hampir tak terurus.
" Paman, Yasna kok kurus saja, sepertinya kurang gizi," kata kakak kakak Peter, sampai Yasna diminta oleh istri Jonathan yang tak punya anak perempuan untuk diadopsi, sejak saat itu kakek mulai sadar bahwa Yasna semangat hidup kakek. Tapi kakek tidak bisa hidup di loji itu, ingatannya selalu tak bisa hilang pada peristiwa penembakan Jos, sementara kakek tak mampu menolong mereka, bahkan saudara saudaranya tidak berdaya kalau Jos ngamuk, dia lelaki temperamen.
" Istrinya apa kuat kek?" kataku sendu.
" Istrinya yang hampir tiga tahun bisa mengubah sifatnya, tapi karena watak ya muncul lagi, sampai istrinya tidak lagi mampu mengendalikannya," jawab kakek.
Kakek mengulangi lagi,
Kakek berniat pergi jauh dengan membawamu, dan menceritakan pada saudara saudara Papamu, karena hampir setiap malam kakek seperti di datangi Peter. Ternyata kakak kakak Peter setuju, kakek diantar kesini naik kereta sambil berpesan.
Saat awal awal Jonathan dan lainnya selalu datang menengok mu nduk, juga Rudolf bersama istrinya Tati namanya, setiap bulan naik kereta menengok, juga memberi bagi hasil usaha Peter sampai sekarang.
Loji loji di kampung perkebunan teh pada akhirnya ditinggalkan, mereka katanya sering di datangi Peter kalau malam hari.
" Sekarang dimana kakak kakak Papaku?" desakku, karena aku tak pernah lagi ketemu mereka, hanya Rudolf saja yang aku kenal sebagai saudara juga tuan Miller.
" Pulang ke negeri Belanda dan ini alamatnya," kata kakek.
Kakek cerita lagi,
Kakek hanya mengurusi Yasna sejak bayi, sehingga ladang dan sawah di kerjakan oleh ayah suamimu.
Kakek menjodohkan kamu dengan Karim, karena suamimu anak pekerja keras, selalu membantu orangtua kerja, syukurlah Yasna dan Karim menerima perjodohan ini. Ya hanya ini yang bisa kakek ceritakan, ada yang mau ditanyakan?"
" Kek buyut, sekarang lojinya bagaimana?" tanya Putri tertunduk.
" Kakek sudah tak tahu, karena jadi ingat kalau ke sana," jawab kakek sendu.
" Kek, kenapa paman Rudolf tidak mau cerita padaku sejak dulu?" tanya ku.
" Mereka tak mau membuat sedih kamu," kata kakek pilu.
" Ini foto Mama dan Papamu Yasna," kata kakek sedih sambil menyodorkan album. Kami membuka lembar demi lembar dengan tangisan.
" Mama dan Papa kamu sangat cantik dan tampan," gumanku sambil terus menangis.
" Kakek, aku ingin ziarah ke makam Papah dan Mamah," pintaku, tapi kakek keberatan.
Setiap hari aku mendesak kakek, akhirnya kakek menurutiku.
Dan pagi pagi kami berempat naik kereta, turun di stasiun dekat perkebunan teh, sejuk udaranya.
" Kakek, jauh dari stasiun, lojinya?" tanyaku berusaha menguatkan hati.
" Itu kelihatan," jawab kakek.
Kami berjalan menuju loji yang hampir 30 tahun ditinggal, loji yang dipagar tinggi sangat luas tak bisa dilihat dari luar, kami hanya bisa melihat dari pintu gerbang, karena ditumbuhi ilalang, terutama loji yang paling besar disebelah timur, rumput ilalang tumbuh subur sampai setinggj rumah.
" Mau masuk?" tanya kakek sambil mengeluarkan kunci yang digabung jadi satu, kami mengangguk.
Kakek membuka kunci pintu gerbang, tapi kakek terus menangis.
" Yas, kakek tidak kuat lihat loji ini, banyak kenangan manis yang berakhir mrnyedihkan, ayo pulang," kata kakek pilu.
Akhirnya suamiku menutup gerbang dan menguncinya, kamipun terus menuju rumah kakek di belakang tembok tinggi, karena menunggu kereta besok pagi.
" Kek, siapa yang membersihkan pekarangan dan rumah?"tanyaku.
"Paman Kardi," jawabnya, aku jadi ingat paman Kardi yang setiap bulan ke kotaku.
Sejak kakek, aku ajak ke kampung, dia setiap harinya selalu melamun, aku jadi merasa berdosa pada kakek, sampai berpesan,
" Yas, siapa saja turunan dari Peter, jadikan satu kuburan mereka dengan kita besok," pesan kakek.
" Jos juga kek," kataku,
" Dia tinggalkan saja disitu, mungkin oleh keturunan Jos diambil untuk dipindah ke Belanda," jawab kakek.
Suatu hari kakek memberi tas koper kecil terbuat dari aluminium, aku di beritahu barang yang ada di dalamnya, ada tulisanku, denah rumah, album, sertifikat, seikat kunci, perhiasan Utari dari Mama, terus dikunci.
" Yas, benda ini selalu di berikan ke keturunan kita, dan jangan sampai kececer!" pesannya.
*****
" Sudah selesai Mas?" tanya Tania lembut dengan mendekap erat Ezra yang lebih menikmati bacaan ini.
" Iya sudah De, sore kita ke rumah Bapak," pinta Ezra. Tania mengiyakan.
" De, tugasku sudah selesai, urusan yang berhubungan dengan pesan dan harta bukan wewenangku, tapi keluarga kamu harus mulai bertindak," tandasnya.
" Iya Mas, biar cepet kelar loji itu harus secepatnya diurus," jawab Tania serius.
" Kita cari di map alamat saudaramu di Belanda," pinta Ezra.
" Perlu test dna Mas?" tanya Tania.
" Bukankah ditas ada foto kenangan keluarga dari mulai kakek Tardi sampai nenek saat masih kecil juga remaja?" tanya Ezra dengan menatap wajah Tania mesra, terus mencium bibir, dan Tania diangkat, Tania melingkarkan kedua tangan ke leher Ezra, ditenggelamkan wajahnya kelehernya. Lalu di bawa ke kamar.