
" Rend, Ayah sudah selesai membaca?" sapa Tante Tania yang terlihat agak segar bila di banding saat datang.
" Sepertinya sudah Te " jawab Rendhi datar, setelah melihat ayahnya tidak terlalu lelah, cuma kesadaran untuk melepas dari masa Peter hidup belum begitu pulih, Ezra masih terbawa suasana pesta bahkan bayangan kecantikan Utari yang hampir mirip Tania tak bisa hilang, dalam hati Ezra berpikir,
" Jangan jangan Tania masih keturunan Utari, karena anak Utari tidak ketemu, mungkin perlu test DNA, apabila tulang Peter ditemukan," gumannya, Tania berkulit putih, bola matanya kecoklatan, hidung mancung dan rambutnya kemerahan.
" Mas, koq menatapku terus," kata Tania di depan Rendhi, Rendhi tidak nyaman akhirnya dia mencoba turun tapi di cegah oleh Tania.
" Tan, aku berpikir kalau kamu cicitnya Utari," kata Ezra, Tania bingung.
" Koq bisa Mas!" jawab Tania wajahnya terlihat gundah juga.
" Karena kamu mirip Utari, cuma kamu lebih tinggi," kata Ezra tanpa kedip memandang Tania dengan otaknya membandingkan sama Utari dalam mimpi.
" Mungkin bener kata Ayah Te, tante dilihat dari fisiknya seperti ada darah Belanda," kata Rendhi.
" Kalau memang aku, kita tak perlu mencari jauh jauh tinggal test DNA saja," jawab Tania slow. Ezra dan Rendhi mengangguk.
" Oh ya, tanya Bapakmu saja," kata Ezra, karena bapaknya Tania masih terlihat seperti campuran Eropa.
" Tapi kata Bapak, buyutnya memang keturunan Eropa," kata Tania.
" Atau keturunan Salim kamu?" kata Ezra.
" Mungkin juga Mas," jawabnya datar.
" Tapi kalau keturunan Salim mungkin tomboy," jawab Ezra, sementara Tania lembut.
Seperti biasa Tania pulang habis Magrib, tapi Ezra tidak tega sehingga Ezra mengantar pakai motor juga hanya mengikuti dari belakang.
" Tan, besok aku jemput saja ya!" kata Ezra setelah pamitan dengan orangtua Tania, diapun mengangguk.
Tania duduk di ruang tamu, pikirannya galau melihat kondisi Ferdian di rumah sakit katanya dia habis minum, dan sampai sekarang masing koma.
" Apakah aku merasa berdosa, tapi dia yang selalu memaksaku untuk menjadi pacarnya, padahal sudah kukatakan berkali kali aku belum bisa," gumanku, dan aku di kejutkan oleh kedatangan ibu.
" Tan, tadi siang Ezra mampir dari sekolah," kata ibu, Tania mengiyakan dan menceritakan kalau Ezra juga sudah cerita. Ibu berusaha menanyakan yang sakit, tapi Tania berusaha untuk menutupi, dia takut kalau ibu jadi ikut mikir ke Ferdian.
Ezra sehabis mengantar Tania langsung pulang ke rumah, orangtua Ezra datang menemani Rendhi.
" Zra, semalam Tina sekeluarga menginap?" tanya ibu Ezra, dia mengiyakan.
" Aku cocok kamu dengan Tania," kata ibu lagi.
" Doakan bu, aku dan Tania berjodoh," pinta Ezra, ibu mengiyakan. Bapak, Ibu pun pamit karena sudah malam, Ezra akhirnya tidur bareng sama Rendhi.
[ Tan, kamu aku jemput saja ] pesan pribadi Ezra, dan sudah siap mengeluarkan mobil, Rendhi tidak mau diajak, dia lagi suka berolah raga.
Sampai di rumah Tania, dia bawa ayam juga bebek yang sudah diungkep.
" Kamu selalu bawa lauk, nanti rugi," kata Ezra
" Ya enggak Mas," jawabnya, terus duduk di kursi sebelah Ezra.
" Gimana kabar Ferdian?" tanya Ezra.
" Memburuk kata Farah Mas!" jawab Tania. Ezrapun menghibur Tania agar jangan merasa berdosa dengan keadaan Ferdian. Tania menganggukan kepala. Dan mereka sudah sampai rumah, Rendhi lagi lari lari ditempat. Setelah Tania meletakkan ayam ke kulkas langsung ke atas, Rendhi katanya nanti mau menyusul.
Tulisan pertama yang di baca Ezra.
Peter POV
Detik demi detik terus berlalu, malampun semakin larut, suasana loji masih tetap ramai dengan berkumpulnya handai tolan dalam acara pesta pernikahanku.
Semua mengagumi kecantikan Utari, yang berhiaskan bunga bunga mawar maupun melati.
Udara pegunungan yang dingin bagiku yang telah terbiasa hidup di negara dua musim, terasa menusuk kulit tubuhku, sedang bagi keluargaku yang terbiasa hidup di negara empat musim, udara di daerah ini sangat menyejukan, mereka sangat kerasan berada di kampung loji, itulah maka mereka suka berlama lama menetap di perkebunan teh.
Malam ini aku mrngajak dansa Utari lalu menatap tak kedip, iapun tersipu sipu malu.
" Utari, kamu sudah mulai pinter berdansa," kataku, disela sela dansa bersama penghuni loji, dan Jos mendekat, Utari wajahnya berubah, ia kayak ketakutan saat Jos mendekat.
" Peter, bolehkah aku pinjam istrimu untuk berdansa denganku?" pinta Jos, aku melihat istri Jos dan Utari, istri Jos yang baik hampir sama kebaikannya dengan Utari membolehkan, Utari sebenarnya keberatan, tapi karena aku suruh akhirnya diapun mau. Aku akhirnya berdansa dengan istri Jos.
Aku dan Utari sudah terlalu capek karena tak istirahat selama dua hari, maka Utari yang kelelahan juga aku ajak masuk kamar, dan para wanita satu satu mulai pada pulang, akhirnya hanya para lelaki yang masih duduk duduk sambil minum bir di bale.
Aku membuka pintu kamar, menyeruak bau harum oleh bunga bunga yang dipetik dari taman sekitar rumah, sementara tubuh Utari masih saja berbau wangi bunga, aku membantu melepas bunga yang melingkar di kepala, di leher dan di pergelangan tangan, dan juga kancing baju satu satu dilepas dari kaitannya.
" Hmmm kulitnya begitu halus kamu Utari," gumanku lirih, sambil kucium kulit punggung yang sudah terbuka.
" Peter!" panggil Utari dengan memegang tangan yang aku lingkarkan ke perutnya. Dan tubuh Utari kubalik, lalu dengan tubuh yang sangat lelah aku mengecup bibir, ku angkat tubuh kecilnya terus diletakan ke atas kasur, yang bertaburan bunga dengan bau harum wangi.
Akhirnya karena kelelahan, sementara mata sudah sangat perih sehingga kamipun tertidur dengan lelap.
Aku merasakan tubuh Utari bergerak, ia bangun dari tidur, tetapi mataku masih sulit membuka, padahal hari sudah pagi.
" Peter, bukalah matamu, bukankah kamu mau melihat matahari terbit lewat jendela loteng? ayolah nanti kamu tidak bisa cerita tentang keindahan panorama alam, yang sedang mengintip di balik bukit," ucapnya, karena Utari sudah hafal betul tentang kebiasaanku untuk melihat matahari terbit, dari mulai masih berada di balik bukit sampai menyembul dengan rona kemerahannya, serta hamparan daun daun teh yang masih penuh dengan embun pagi.
Aku lalu bangkit, duduk disisi kasur dengan menggerakkan tubuh yang terasa sangat kaku serta pegal, setelah lemas mulai aku menjejakan kaki untuk keluar kamar.
" Spreinya akan aku cuci Peter,"pintanya dia tersenyum, lalu menarik sprei yang sudah tak beraturan.
Kami keluar kamar bersama dan aku sebelum ke loteng menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta berkumur.
" Peter minum ramuan ini!" pinta Utari menyodorkan satu gelas minuman saat aku berada di ruang makan.
" Enak, terbuat dari apa sayang?" kataku.
" Ramuan rahasia turun temurun dari nenekku," jawabnya lembut. Tapi di tubuh jadi segar setelah minum ramuan ini. Papaku juga mulai bisa berjalan walau masih pakai pegangan kayu yang dibuat Paman, juga sudah mulai bisa ngomong, semua karena ramuan yang di buat oleh Bibi ya ibu mertuaku.
" Yang buat ibu, honey?" kataku lembut.
" he eh!" jawabnya manja. Utari lalu masuk ke kamar dengang membawa sprei bersih mengganti sprei.
Sementara aku naik ke loteng setelah minum ramuan dan benar benar membuat badan menjadi segar.
Satu satu tangga ku naiki dengan langkah pelan, lalu sampai juga ke loteng dan yang pertama kulakukan tentu membuka jendela besar di sebelah timur.
Sudah tak lagi melihat mentari bersembunyi di balik bukit, dengan cahaya kekuningannya karena sudah siang.
Kini aku hanya menikmati semburat cahaya mentari diantara dedaunan di pekarangan balik loteng, cahayanya kelabu sedikit menyilaukan mata.
Dan udara pagi di dataran tinggi ini menerobos masuk lewat jendela yang ku buka, ruang loteng yang cukup luas hanya untuk ruang perpustakaan menjadi semakin segar.
Setelah aku puas menatap hamparan hijau dedaunan teh di jarak sekirar 300 m dari loji, aku membalikkan tubuh untuk membuka jendela sebelah barat.
Pelan kaki ini melangkah menuju jendela besar, lalu tangan kekarku satu satu membuka gerendel jendela, pemandangan pertama yang kulihat tentu taman bunga mawar yang wanginya pelan pelan menyeruak ke loteng.
Setelah kegiatan rutin di pagi hari ku kerjakan, aku yang biasanya terus duduk di kursi lalu menulis, maka pagi ini tak kulakukan, karena aku terus turun ke lantai bawah dan melihat Utari sedang menyiapkan makanan berupa sisa sisa roti dan daging sapi yang di panggang, dan buah buahan.
" Utari, kamu jangan bekerja berat dulu," pinta Mama sambil tersenyum.
" Kalau tidak kerja malah pada pegal badannya Ma," jawabnya, Utari sudah diajak makan bersama di meja makan, walau dia masih kikuk.
Sementara para pekerja sedang membersihkan bale juga memasang jendela dan pintu bale dan ibu mertuaku sudah datang memasak nasi dengan lauk untuk para pekerja.
Rumah sudah kembali seperti semula bahkan taman bunga tidak rusak karena di buat pagar dari bambu.
*
" Tania!" kata itu yang pertama keluar dari mulut Ezra, dia sekuat tenaga untuk sadar kembali ke dunianya, dan berhasil.
" Tan, Rendhi kemana?" tanyanya, Tania mulai tahu.
" Mas, coba berdiri, kayak kelelahan banget kamu, " ucap Tania prihatin melihat keadaan Ezra, akhirnya Ezra cepat cepat turun untuk menuju kamar mandi, yang terdapat di kamar sendiri.
" Yah, tadi pagi sudah mandi!" kata Rendhi penasaran saat bertiga duduk di kursi meja makan.
" Iya, banyak keringat keluar!" jawab ayahnya bohong, Tania senyam senyum melirik Ezra.
" Yah, baca buku kaya shooting film!" kata Rendhi sambil memasukan nasi dengan bebek goreng, tadi memang Rendhi yang menggoreng ayam dan bebek ungkep dari Tania.
" Kamu sudah pinter goreng Rend, tidak gosong!" sanjung Tania.
" Abis sering lihat di warung tante!" katanya.