
" Tan, aku ingin cepat cepat menikahimu," kata Ezra saat Tania, berada di dapur rumah Ezra, karena dia kerongkongannya merasa kering, bicara juga serak, sehingga Tania membuat minuman teh.
" Iya Mas, kalau baca selesai, kita nikah, terus kita bersama mencari keberadaan anak Peter," jawab Tania dengan menuangkan air panas ke empat gelas yang telah berisi teh celup.
" Anaknya tentu sudah wafat, cuma saat itu masih hidup atau ikut terbunuh tidak diketahui," jawab Ezra sambil memeluk Tania dari belakang, sesekali mereka saling mencium bibir lembut.
" Mas, makan malam masih ada lauk, aku hangatkan dulu nanti, aku sesudah Magrib pulang," kata Tania membawa nampan ke ruang tengah, Ezra mengiyakan dan mengikuti Tania di belakangnya dan bergabung kembali dengan Mirna beserta keluarganya.
" Mas, lotengnya untuk perpustakaan?" tanya Haris datar, karena Haris melihat rak buku di ruang tengah tidak ada.
" Iya, agak nyaman juga baca baca di loteng," jawab Ezra datar juga dengan masih serak, dan di seruput tehnya.
Habis Magrib Mirna beserta keluarga pulang, kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh, hanya beberapa dari rumah Ezra, dan Tania menyusul setelah menghangatkan lauk.
" Tan, temani dulu makan," pinta Ezra menciumi Tania dari belakang saat dia lagi di dapur.
" Mas, ada Rendhi," ucapnya, Ezrapun melepaskan ciumannya.
" De, besok aku belum piket ke Sekolah, kamu datang kaya tadi ya," pinta Ezra menatap wajah cantik Tania dengan bibir di kecupkan di pipinya. Tania mengiyakan.
Malampun tiba, Tania yang sudah pulang setelah Magrib, merebahkan tubuhnya di kasur, setelah ngobrol dengan orangtua di ruang tengah sambil nonton tv.
Matanya tak jua terpejam, memikirkan misteri loji 13 dan mencari keberadaan babynya Peter, iseng iseng dia buka salah satu media, siapa tahu ada orang yang ingin cari keberadaan keluarga di Indonesia, tak juga ditemukan, akhirnya rasa kantuk muncul dan dia memejamkan mata. Tapi bayangan tentang Peter tak lepas dari kepalanya yang pernah meminta tolong mencari keberadaan bayinya dalam mimpi Tania, diapun ingat waktu camping diajak ke loji 13 bersamaan peristiwa yang membuat miris, dia sempat bertanya nama babynya.
" Felicia Utari" gumannya dengan mengingat ingatnya. Pagi sebelum menuju ke rumah Ezra, dia iseng buka media sesusai nama itu, cuma ditambahkan " keturunan" karena Felicia Utari tentu sudah wafat, tak jua ditemukan, mungkin satu satunya mencari di dusun tempat kakeknya dia yaitu Paman Tardi, kalau ini tentu harus dengan Mas Ezra dan untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan harus sudah menikah.
Hari ini sehabis membaca keduanya mau pesen cincin pertunangan dan hal hal yang diperlukan untuk pernikahan.
" Mas, aku masak nanti untuk makan siang," pesan pribadi Tania, kebetulan di rumah dia membuka usaha warung makan yang hanya menyediakan tempat saja dari usaha ayam goreng, bebek goreng juga jenis makanan maupun minuman lainnya, menggabung dengan usaha warung makan terkenal sehingga pelanggan setiap hari sudah banyak, dan sudah punya karyawan, warung makannya ada di kiri rumahnya.
" Ya, ini sudah ada bahan di kulkas, cepet De kesini," bales Ezra ingin cepet cepet selalu dengan Tania. Tania bergegas naik motor ke rumah Ezra dengan bawa jeruk lemon, karena kemaren tenggorokannya serak juga katanya terasa kering.
Sampai di rumah Ezra, Rendhi sedang bersih bersih rumah, sedang Ezra baru merawat beberapa tanaman.
" Rend, makan pakai lauk apa?" tanya Tania ke Rendi yang baru selesai mengepel.
" Sisa lauk dari Tante Tania!" jawabnya polos, dia masih panggil tante, karena Tania belum resmi jadi istri ayahnya. Sementara Ezra membuntuti Tania setelah cuci tangan dan kaki.Tak lama kemudian mereka keatas untuk siap siap membaca dengan segala konsekuensinya, terutama bagi Ezra. Rendhi juga sering bolak balik keatas, karena mendengar suara ayahnya mengaduh. Keduanya duduk berdampingan setelah saling cium.
Ezra mulai buka buku dan membacanya tentang buku harian Peter.
Aku bangun pagi, setelah mendengar suara orang lewat depan kamar.
" Hmmm seperti langkah kaki Mama," gumannya dengan mengusap mata pakai punggung tangan, dia bangkit duduk dulu baru menuju pintu kamar dan membukanya.
" Utari," sapaku lembut dan menghampiri dia yang sedang membersihkan ruangan, aku menatap wajah cantik Utari dari dekat di pagi ini, dia gelagapan melihat tatapanku.
" Utari, bisakah kamu tidur semalam?" bisikku lembut dengan mendekap erat tubuhnya, serta kuciumi ubun ubunnya penuh rasa sayang, dia mendongakan kepalanya, matanya berembun, akupun menciumi matanya yang mempunyai bulu mata lentik nan indah.
" Peter," kata Utari lirih, tangannya dilingkarkan ke tubuhku, kepalanya di senderkan ke bawah leherku, Utari tingginya diatas perutku, aku selalu harus membungkuk atau harus kuangkat atau aku dudukkan diantara dua kaki.
" Aku mau bilang ke Mama ya, kita segera menikah," bisikku, dia tetap belum siap, walau di kampungnya teman teman seusianya sudah pada punya anak. Dan ternyata Mama dari tadi melihatnya, sambil tersenyum, dalam hati mungkin Mama berguman,
" Hmmm anak bontotku sedang jatuh cinta. "
" Utari, Peter sudah siap menikahimu," kata Mama sambil bersender di daun pintu kamar. Utari wajahnya merah menahan malu karena Mama melihat dia memelukku erat.
" Maaf Nyonya Mama," ucapnya gemetar dan berusaha menghindar dari Mama.
" Utari, Mama tanya belum kamu jawab," kata Mama berusaha mendekat ke Utari, karena dia tangannya aku pegang maka Mama dengan mudah menghampirinya.
" Iya Nyonya Mama, aku ingin mengabdi Nyonya dulu," katanya sendu, dengan berusaha melepas genggamannya.
" Utari, kamu hari ini istirahat dulu, nanti sakit," pinta Mama.
" Iya Nyonya Mama," jawabnya berlalu menuju ke dapur, aku selalu ingin mengikutinya.
" Bekal untuk siang aku siapkan Peter," ucapnya menunduk sendu, sehingga aku memegang dagunya untuk melihat expresi wajahnya.
" Aku tahu Utari, mesti kamu menginginkan aku makan siang dirumah, biar kita ketemu," jawabku, dan bibirnya membuatku tak segan segan untuk selalu mengecup.
" Iya Peter," jawabnya lirih, tangannya mengelus punggungku halus.
" Ok honey," jawabku lembut, ku kecup matanya yang berair.
Aku belum sempat menuju ke loteng.
" Masih ada waktu," gumanku, setelah ku lepaskan pelukan tangan ke Utari, minuman jeruk yang telah di buat Utari ku tenggak perlahan, kakipun melungkah menuju tangga demi tangga ke loteng, seperti biasa membuka jendela baik di kanan atau di kiri loteng, udara pagi segar masuk ke seluruh ruangan, ku sempatkan duduk di kursi dan menulis kejadian hari ini, kadang aku tersenyum sendiri saat menulis kemesraan dengan Utari, juga ujung batang tinta ku gigit, berpikir untuk menulis kalimat demi kalimat yang bagus dan menyentuh.
" Peter, sudah agak siang," panggil Mama dari bawah lembut. Akupun segera turun setelah meletakan buku harian ketempat yang agak aman. Saat turun tak terlihat Utari dan Bi Tami, Mama tahu kata hatiku.
" Utari sama Bibi, Mama suruh istirahat," katanya sambil tersenyum.
" Mama tahu saja yang aku pikirkan," kataku tersenyum.
" Seorang Mama punya naluri, sehingga tahu apa yang dipikirkan anaknya," jawabnya tersenyum.
Akupun menuju kamar mandi, setelah menggunakan baju seragam pengawas menuju meja makan, Papa sudah berada di situ, tangannya bergerak gerak.
" Peter, Papa setuju kamu beristri Utari," kata Mama tersenyum, akupun pagi itu sangatlah bahagia, selama ini hidupku selalu teraniaya oleh Jos, sirna sudah bayang bayang Jos dengan sikapnya yang kasar.
Akupun berangkat ke perkebunan, ada Paman Tardi di halaman depan.
" Paman, Utari sedang istirahat, nanti kalau Paman ketemu, sampaikan salam sayangku," kataku berlalu dari hadapan Paman Tardi.
" Iya Tuan, nanti ku sampaikan,"kata Paman tersenyum juga.
Aku menuju perkebunan dengan penuh keceriaan, berjalan dengan menggunakan sepatu kulit selalu terdengar ditelinga para pekerja dari jarak tertentu, sementara tak ada satupun orang pribumi di dusun ini yang bersepatu, bahkan Utari pun tak mengenal sepatu, tetapi telapak kaki Utari tetap tidak melebar kaya orang lain, kata Bibi setiap malam selalu di ikat pakai kain kakinya, juga telapak tangan dan kakinya tetap halus, selalu di gosok pakai sisa sisa perasan jeruk. Betul betul Utari menjaga kulitnya dengan ramuan ramuan tradisional sehingga tetap terjaga kecantikannya.
" Tuan, jangan melamun," kata pekerja yang sudah siap siap menggendong keranjang untuk memetik teh.
" Tuan Peter seperti lagi jatuh cinta," kata yang lain pula. Aku tersenyum menanggapi mereka.
Aku memperhatikan para wanita wanita pribumi yang tangguh, berjalan menggendong keranjang yang masih kosong, hari ini mereka terlihat ceria, mereka memetik teh sambil bercanda.
" Mas, jangan teruskan bacanya, cukup ini dulu," kata Tania meremas jari jemari Ezra yang mulai membuka halaman dengan judul berikut. Ezra agak slow juga, cuma tangan berkeringat dingin.
Hampir saja Tania memeluk Ezra, tiba tiba Rendhi sudah berada di loteng, karena Rendhipun penasaran yang dilakukan Ayah dan Tania.
" Tante, Ayah kok selalu pucat," kata Rendhi memandang ayahnya, juga ikut meremas jari jari ayahnya biar hangat.
" Mas minum dulu," pinta Tania lembut,
Setelah benar benar Ezra memiliki kesadaran penuh dengan tidak lagi merasa di dunianya Peter, baru diajak turun. Selama membaca walaupun agak tenang tapi Tania tak berani meninggalkan Ezra, akhirnya lauk untuk makan siang Rendhi disuruh Tania beli soto.
" Rend, ikut nemani blanja ya," ajak Tania saat makan siang bersama.
" Nanti beli bakso ya," pintanya, diiyakan oleh Tania.
Rendi di kamar sedang ganti baju, Ezra menyempatkan mengecup bibir Tania, sambil matanya melirik ke pintu kamar Rendhi. Keduanya tersenyum setelah apa yang dilakukan harus hati hati, harus menjaga perasaan Rendhi.
Mereka bertiga menuju ke kota untuk belanja barang kebutuhan pernikahannya.