ROSES

ROSES
Part 44 Surat Surat Stev



Selama hampir tujuh bulan kepulangan Ezra dan Tania, tak lagi bersama dalam satu rumah.


" Tan, jangan banyak bersedih disaat hamil, berpengaruh pada janin," kata Ibu, setiap kali Tania terlihat muram.


" Ada surat dari Stev," kata Bapak yang heran dengan cara Stev di jaman serba digital masih saja pakai cara lama, bapak juga berpikir jangan jangan Stev reinkarnasi dari Rudolf yang saat hidupnya selalu menulis surat ke keluarga di negara Belanda atau ke Peter menjelang Utari melahirkan sampai telah wafat masih ada surat dari Rudolf, tapi Rudolf hidup di era yang berbeda dengan Stev. Dan suratnya selalu di foto oleh Stev terus dikirim kira kira surat pos sudah sampai ke Tania. Tania selalu tersenyum saat membaca surat Stev, Stev yang selalu memberi semangat untuk bertahan.


" Tan, kamu lihatlah aku, begitu kuat aku tak bisa memilikimu, bahkan hancur aku saat tahu kau meninggalkan Belanda, tapi aku tetap menjalani hidup ini dengan mengikuti apa yang diberikan Tuhan hari ini, dan hari hari selanjutnya, jangan sedih kamu lagi mengandung, jaga kesehatanmu, aku menunggumu dan menerimamu asal kamu bisa tersenyum denganku, selama kamu masih menangis diantara dua kakiku, aku merasa bahwa aku belum bisa membuatmu tersenyum," Stev menunggu senyummu. Tania membaca surat Stev tersenyum tipis dibibirnya, tapi bulir bulir air di matanya mengalir di kedua pipinya, dan inilah surat terakhir yang di baca Tania saat saat menunggu kelahiran anak ketiganya.


Perut Tania yang sudah semakin besar, dan tinggal menunggu beberapa hari lagi jadwal persalinan cesarnya di rumah sakit yang ada di kota. Dan hari persalinanpun tiba, Ezra datang dengan ke empat anaknya, ini tentunya merupakan unsur kesengajaan Ezra untuk menyakiti Tania, dia ingin menunjukkan kalau dia bapak terbaik untuk anak anaknya.


Tania seperti teriris melihat dua putri dari Tina, disaat mau melahirkan, bahkan Tania dikejutkan oleh kedatangan Stev bersama Azizah dan suaminya. Stev menangis memeluk Tania saat diberi kesempatan untuk bertemu dengan Tania sebelum dibawa ke ruang operasi.


Sementara yang menunggu operasi di luar saling diam, dan yang paling tegang tentu Ezra dan Stev. Ezra tegang menahan marah ke Stev, sedang Stev tegang karena wanita yang dicintai selama kuliah tak pernah bahagia, Stev seperti tidak rela dengan perlakuan Ezra.


" Stev kapan datang?" tanya bapaknya Tania memecah keheningan di ruang tunggu.


" Baru saja Pak, terus langsung ke klinik," jawab Stev yang sudah bisa bahasa Indonesia.


" Kelelahan kamu Stev," ujar ibunya Tania.


" Tidak bu," jawab Stev, Ezra yang waktu di Belanda akrab dengan Stev tak mau menyapanya bahkan melengos.


Hampir satu jam Tania berada di ruang operasi, walau sudah dua kali melakukan operasi Tania tetap gelisah, doa dari mulutnya tak henti ia panjatkan, kali ini Tania yang hanya dibius lokal ingin melihat persalinannya, dan setelah bius membuat mati rasa separuh tubuhnya, siaplah dokter dibantu perawat membuka perutnya, dan dokter begitu cepat mengambil bayi di rahim Tania.


" Mba, laki laki babynya," kata dokter, Tania perutnya langsung dijahit, dan Tania melihat Ezra masuk ke ruang operasi terus mengumandangkan Adzan di telinga kanan babynya. Dia masih menunggu di ruang operasi, setelah perawat menyelesaikan jahitan di perut Tania, Ezra mendekat dengan mengecup kening Tania lembut.


" Tan, ini menjadi kecupan terakhirku untukmu," bisiknya, Tania melihat butiran air ada di sudut matanya.


" Mas," tangan Tania yang pucat berusaha menggapainya, tapi sudah keburu dia keluar dari ruang operasi.


Sementara bayi sehat laki laki yang telah lahir dari rahim Tania dibawa bersama sama dengan bundanya untuk menuju pavilium setelah perawat meletakan babynya di bagian tubuh Tania yang dekat dengan detak jantungnya.


Tiga hari menginap di klinik bersalin, dan pulang ke loji dengan diikuti oleh seluruh keluarga, Ezra membawa empat anaknya, tapi yang menyayat hati Tania tangisan Fifah dan Varo saat mau di bawa pulang Ezra, mereka memegang baju Tania kuat kuat, sambil meminta.


" Ikut bunda, ikut bunda," ronta keduanya dengan tangis, yang mendengar ikut menetes air matanya, Tania mendekap kedua anaknya yang kurus dan menangis saat tangannya dipegang,


" Lho tangan Fifah sama Varo pada memar biru," guman Tania sedih.


" Mas, jangan dipaksa ikut kamu, lihat ini kena apa?" jerit Tania sedih sambil tangisnya tak terbendung.


" Mba, Devina dan Askila nakal sering mencakar, mencubit keras pada Fifah dan Varo," kata Mirna diiyakan oleh orangtua Ezra.


" Pantesan banyak bekas luka cakaran,"kata ibunya Tania sedih.


" Itu anak ya kaya Tina," kata ibunya Ezra. Devina dan Askila mendengar jadi pembicaraan, matanya melotot seperti mau menyerang.


" Ezra saja kewalahan lho mba, dulu aku juga menyerah," kata Mirna.


Ezra karena ingin melindungi Afifah dan Varo dari kenakalan Devina dan Askila atas desakan orangtua juga Mirna membolehkan ikut Tania. Dan Tania bulat untuk berpisah dari Ezra melihat kedua anak Tina, dan Tania merasa tak mampu juga untuk mengasuh kedua anak itu, selang beberapa hari setelah Fazal Gafi anak ketiga Tania lahir nenek yang sudah sakit sakit wafat. Dan orang tua Tania pun gembira karena cucu cucu telah kumpul jadi satu.


Dua tahun Tania berpisah dari Ezra, Stev berkali kali melayangkan surat, kesanggupannya menjadi bapak sambung ketiga anak Tania, bahkan mau jadi mualaf, tapi Tania masih bimbang dan kasihan pada anak anak. Sementara Ezra akhirnya satu tahun yang lalu menikahi adik Tina yang sudah jadi janda karena diapun mengejar ngejarnya, Tania tahu keputusan yang diambil Ezra, agar tidak ada korban ketiga, cukup Vera dan Tania.


" Tan, peninggalan kakek Peter akan saya berikan anak anakku," kata Ezra saat minta doa untuk menikah dengan adik Tina, dan rasa keputus asaan terpancar diwajahnya, Tania sebenarnya menolak tapi Ezra tak mau peninggalan itu jatuh ke tangan wanita yang sekarang dinikahi tanpa cinta.


" Dari Rendhi dan hasil rumah yang ditempati," jawabnya sendu.


Tania dan Ezra setelah melihat ketiga anaknya tak mampu membendung rasa sedih dan menangis terisak isak.


" De, aku rela kalau kamu menikah dengan Stev, aku juga pengin lihat wanita yang sampai sekarang ku cintai berbahagia," kata Ezra terisak dengan mendekap Tania.


Ezra sekarang aktif pada kegiatan agama, dan minggu kemaren Ezra menemui anak anak terlihat tua dan kurus.


" Nak Ezra kamu koq kurus banget, apa sakit?"tanya ibunya Tania.


" Iya bu, aku sakit, sakit didalam sana," ucapnya sendu.


" Sudah, kamu harusnya lebih bahagia punya istri, lihat Tania hanya hidup untuk anak," kata bapak, Oom Bahtiar yang ikut menemui mengiyakan kakaknya.


"Kayak kamu jadi perokok berat juga," kata Oom Bahtiar.


" Untuk menghilangkan stres Oom," jawab Ezra sendu.


" Bunda, ada Ayah," seru Fifah yang sudah klas 2 SD, Varo menggandeng Fazal mendekati ayahnya, Ezra selalu nelangsa melihat anak anaknya jadi korban kesalahannya. Tania jarang mau menemui Ezra, paling hanya dari jauh melihatnya.


Ponsel Tania bergetar, tangannya merogoh saku baju.


" Halo, Tan suratku sudah sampai," vicall Stev mengagetkan Tania.


" Belum, mungkin besok," jawab Tania tersenyum. Dan Stev selalu menanyakan anak anak bahkan ngomong dengan mereka.


" Mana Fifah,Varo dan Fazal?"tanyanya, Tania bilang hari ini lagi ada ayah jadi sedang bermanja. Setelah selesai maka ponsel ditutup.


Hari berikut Tania sedang melihat lihat bunga mawar putih di halaman sisa sisa tanaman kakek Tardi mertua kakek Peter.


" Hmmm baunya harum " gumannya, iapun memetik satu walau ada dipapan,


" Pengunjung tak boleh memetik bunga" tapi khusus yang punya boleh asal jangan berlebihan. Hari ini sepi pengunjung bahkan tenda hanya beberapa, tapi Tania dengar selama satu minggu ada rombongan peneliti sejarah dari beberapa kampus di Indonesia mereka juga mau buat tenda. Dan di balik tembok loji ini telah didirikan gedung pertemuan juga ada hotelnya, sehingga bisa digunakan untuk workshop atau juga seminar oleh para ilmuwan tidak hanya Indonesia tapi dari luar negeri, apalagi di kabupaten ini juga banyak ditemukan peninggalan sejarah Hindu, juga melihat pemandangan alam berupa kawah gunung berapi, jadi yang berkunjung biasanya meneruskan perjalanan naik kendaraan keatas.


" Pos pos," kata satpam tersenyum pada Tania, dia tak kaget selalu ada surat dari Stev.


" Makasih Mas," jawab Tania tersenyum, dia membuka sampul surat dengan hati hati dan kirim pesan ke Stev kalau surat sudah sampai, dia selalu bilang buka amplopnya jangan disobek, saat membaca dia selalu vicall hanya pengin tahu perubahan wajah Tania.


" Tan, kamu enggak terlihat jelas, di tempat yang jangan banyak matahari," pinta Stev, sebenarnya Tania tak ada cinta ke Stev, dia juga kaya Barend sebagai teman keluh kesahnya dulu saat Tania masih sulit melepas Ezra, dan mereka berdua selalu bilang,


" Dengan berjalannya waktu kamu bisa melupakan kesedihan, luka dihati, percaya dan minta pentunjuk pada Allah."


Dan itu betul, sekarang Tania tidak bersedih lagi meratapi nasib rumah tangganya, bahkan tak marah marah lagi pada Ezra, cuma kalau Ezra berkunjung untuk berkumpul dengan ketiga anaknya Tania tidak mau menemui, walau anak anak pada protes, katanya pengin jalan bareng ayah bunda, setelah diberi pengertian dilarang agama karena sudah bukan mukhrimnya, baru mau menerima.


" Dosa ya bun " kata Fifah yang aktif ngaji kadang kata ustadsahnya tanya tentang ayah bundanya, walau terlihat sedih.


" Tan, belum selesai buka sampulnya?" tanya Stev disana. Tania menggeleng, abis lemnya melekat banget di kertas, dan akhirnya dengan susah payah sampul surat bisa di buka tapi banyak yang sobek disana sini.


" Stev, dibaca nanti ya, Fazal rewel," kata Tania.