
Makan siang di rumah Tania bersama orangtua selesai dan orangtua Tania berangkat kembali ke kantor.
" Mas, mau diteruskan lagi bacanya?" tanya Tania datar.
" Iya, tapi tetap di teras," jawab Ezra, Rendhi membantu Tania mengangkat piring kotor dari meja ke dapur.
" Rend, kamu temani dulu Ayah," pinta Tania, Rendhi akhirnya menyusul ayah di teras yang sedang buka halaman demi halaman untuk mencari halaman yang belum dibaca. Rendhi duduk disebelah kanan ayah. Tak lama kemudian Tania menyusul dan duduk disebelah kiri Ezra.
" Sudah Mas, dibaca," pinta Tania karena melihat Ezra mengusap usap rambut kepala sendiri, wajahnya juga terlihat agak tegang.
" Mas, minum air putih dulu," pinta Tania, Ezra pun mengangguk, setelah minum air putih yang disodorkan Tania, Ezra mulai membaca buku harian Peter.
Peter POV
Hampir satu tahun aku hidup terpisah dengan Utari, dengan setiap akhir pekan aku selalu pulang kampung, Rudolf jarang ikut alasan tidak nyaman dengan Jos, sejauh ini Utari belum ada tanda tanda mau punya baby, tapi aku tetap sabar menunggu.
" Peter, aku bulan ini tamunya datang," kata Utari setiap kali datang tamu bulanan, dalam hati aku sangat kecewa, tapi tak kuperlihatkan, dia juga merasa sedih.
" Sekarang belum di kasih, siapa tahu bulan depan, sabar saja, toh kamu masih muda," jawabku menghibur Utari biar tidak berlarut larut sedihnya.
Rudolf memberi saran agar periksa ke dokter, di kota ada dokter.
Saat aku pulang weekend di tahun berikut.
" Peter, aku sudah terlambat hampir setengah bulan," kata Utari ceria, aku sangat gembira mendengar berita ini, aku dan seisi rumah berusaha menuruti keinginannya, juga melarang kerja yang berat.
" Mau pengin apa?" tanyaku saat aku libur akhir pekan.
" Paling pengin yang pedes pedes," katanya santai.
Sekarang aku pun harus hati hati pada Utari terutama saat bersama.
" Peter, Peter, Jos!" suara Mama sangat tertekan, aku yang sedang bersama Utari, bangkit dengan tergesa gesa.
Demikian Utari pelan pelan bangkit dari kasur.
" Iya Ma," jawabku, dan Utari duduk disisi ranjang dengan tangan diletakkan di kening, akupun membuka pintu.
" Ada apa Ma?" lanjutku, tanganku di gandeng dibawa ke ruang tengah dan di beri tahu kalau Jos menembak orang lagi.
" Ya Allah!" sebutku, tangan aku usap usapkan ke wajah.
" Ma, kita tidak bisa berdaya dengan semua ini," kataku selanjutnya, Mama menangis di pelukanku, Utari mendekat juga memeluk Mama.
Kami bertiga duduk tepekur di ruang tengah.
" Sudah Ma, tidur lagi," kataku, Utari menggandeng Mama yang semakin kurus ke kamar, dan keluar dengan menutup pintu kamar.
" Utari, besok kamu jangan mengantarku ke stasiun!" kataku, karena kawatir pulangnya dia sendiri, walau jarak hanya berapa meter dari loji, Utari mengangguk.
Dan aku meneruskan pekerjaan yang belum tuntas dengan setengah hati.
Pagi pun tiba, aku siap siap berangkat ke stasiun, tanpa diantar Utari.
" Utari, cepat dikunci dari dalam," kataku, keluar lewat pintu depan, aku berjalan menunduk menyusuri jalan yang sepi menuju stasiun, hanya ada 2 penjaga di pos dekat loji.
" Tuan, tidak diantar Non Utari? " tanya salah satu penjaga dengan takut takut.
" Iya, kasihan pulang nya sendiri, masih gelap lagi, " jawab ku sambil berjalan cepat.
Sampai juga di Stasiun, kereta yang sudah standby, karena stasiun ini merupakan pangkalan akhir, sehingga aku langsung masuk gerbong untuk mencari tempat duduk, sepanjang aku duduk di gerbong tak banyak ngobrol dengan penumpang lain, kadang aku pura pura tidur atau melihat lewat jendela pepohonan yang ada disebelah kiri. Dan sampai di stasiun kota seperti biasa Rudolf menjeputku, juga menanyakan kabar keluarga.
" Rudolf, kabar buruk Jos menembak orang lagi," kataku sedih, Rudolf juga ikut terpukul mendengar ini semua.
Hari hari kulakukan dengan kegiatan yang sama, kalau di kota berangkat ke kantor dengan Rudolf naik sepeda, dan pulang diusahakan selalu bersama juga.
" Hmmm, ternyata Rudolf anak yang menyenangkan, para pegawai juga suka ngobrol enak dengannya," gumanku, pantesan Utari juga dulu suka ngobrol dengannya.
Weekend selalu pulang kampung, dan setiap pulang aku selalu mengamati perut Utari.
" Utari kau baik baik saja?" tanyaku saat weekend dengan usia kandungan Utari menginjak tujuh bulan.
" Iya Peter," jawabnya, tapi terpancar di wajah yang ayu tak seceria biasanya, dia seperti gelisah.
" Kamu seperti gelisah kenapa?" tanyaku diliputi rasa kawatir.
" Mungkin orang hamil terlihat kayak aku," jawabnya, tapi aku tahu dia berbohong, akhirnya aku tak berani mendesak, takut mempengaruhi bayi yang di kandung.
Kegiatan rutin setiap weekend tetap kami lakukan walau agak kesulitan dengan perut besar, tapi bisa di lakukan dengan cara lain, Utari juga tak sungkan, tapi aku tahu, dia hanya ingin menyenangkan aku.
" Kamu kepaksa Utari?" tanyaku.
Adat Jawa untuk orang mengandung tujuh bulan dilakukan.
" Ma, acara tujuh bulan sederhana saja," kata Utari ke Mama, beliau agak keberatan tapi akhirnya menerima.
" Mama,sakitkah?" tanyaku sedih melihat tubuh Mama setiap aku pulang tambah kurus, Papa juga semakin menurun kondisinya.
" Tidak Peter," jawabnya membuang muka.
" Atau banyak pikiran Ma," desakku, beliau menggelengkan kepala.
Waktu berlalu sedemikian cepat usia kandungan Utari sudah sembilan bulan lebih tujuh hari.
" Peter, kamu ambil cuti saja, biar Utari melahirkan bisa ditunggui," ujar Rudolf, dan di dukung Miller, akhirnya aku menerima sarannya. Aku pulang agak mendadak.
" Peter, akhirnya kamu pulang awal," sambut Utari gembira, karena dia disaat melahirkan pengin ditungguiku.
" Iya, atas saran Rudolf dan Miller mendukungnya," jawabku penuh keceriaan. Dua hari aku berada di kampung menunggu kelahiran anak pertama, Ibunya Utari juga ikut menunggui.
" Bu, tidur di kamar situ ya," kataku, agar ibu tidur di kamar dekat kamarku, cuman turun pakai tangga, tujuanku kalau Utari mau melahirkan aku bisa cepat memanggilnya.
" Utari, ayo jalan jalan biar melahirkan lancar," ajakku dengan ku gandeng tangannya.
" Mengitari pekarangan kita saja Peter," pintanya, akupun menuruti, selama dua hari bisa dua kali putaran setiap kali jalan.
Yang di tunggu tunggupun tiba.
" Peter, koq perutku sakit," katanya pagi itu, sesekali dia meringis sambil pegang perut, akhirnya aku menghubungi ibunya.
"Ini mau melahirkan, harus panggil dukun beranak," kata ibu ikut gelisah.
Utari hanya meringis kalau lagi kesakitan, dan tak banyak mengeluh, lalu yang panggil dukun beranak bapaknya Utari.
Dia mulai perutnya mules pagi hari dan baby nya keluar sebelum Dzuhur.
Alhamdulillah aku telah dikaruniai seorang putri perpaduan antara Jawa dan Belanda.
Putriku yang lahir sempurna cantik melebihi dari Utari, baru di beri nama setelah usia tujuh hari, diberi nama Zenia Yasna artinya Bunga Mawar Putih, bunga kesayangan Utari.
Malam begitu sepi, aku naik ke loteng, untuk meluapkan kebahagiaan yang kutuangkan di buku ini, dan tadi pagi aku dapat kiriman surat dari Rudolf, karena kesibukanku belum bisa dibaca. Saat aku menulis beberapa kata aku mendengar tembakan dua kali, dan selang beberapa menit letusan dua kali lagi, aku turun.
*****
" Mas, sudah selesai bacanya?" tanyaku, tapi tangan Ezra dingin dan wajahnya pucat.
Sementara orangtua Tania ikut duduk diteras menunggui Ezra membaca.
" Ayah," ucap Rendhi ******* ***** tangan ayahnya yang dingin. Ezra akhirnya menarik nafas panjang, dan menceritakan akhir buku harian ini.
" Tugas kita selanjutnya mencari keturunan Peter," kata Ezra.
" Mudah mudahan Bapak keturunan dari Peter," kata Tania tersenyum.
" Koq terus menyimpulkan begitu," kata Bapaknya Tania, kening Pak Risqi, nama bapaknya Tania dikerutkan seolah mengingat sesuatu.
" Iya, karena babynya Utari diperkirakan masih hidup," kata Tania dan menceritakan mimpi yang di datangi Peter saat sudah di rumah.
" Coba besok kamu tanya Yang Uty, Nduk tentang silsilah keluarga kita,"perintah Pak Risqi.
" Iya coba besok," jawab Tania.
Rumah nenek di sebelah warung makan, bersama dengan adik Pak Risqi.
" Aku ingat ibu punya peninggalan yang disimpan ditas kecil terbuat dari aluminium, tapi tidak bisa di buka karena di patri," kata Pak Risqi.
" Isinya seperti kertas," timpal ibunya yang pernah pegang dan mengkocok kocok.
" Koq enggak ada yang niat membuka Pak?" tanya Ezra penasaran.
" Ya, tidak ada yang tertarik," jawabnya.
" Ya di coba besok siapa tahu itu berisi foto," kata Tania semangat.
Tak terasa sudah menjelang Magrib , Ezra dan Rendhi tidak boleh pulang dulu, diajak makan di rumah makan nya Tania.
Menjelang Isya Ezra dan Rendhi pulang, Ezra merasa lega telah berhasil membaca buku harian Peter dengan tuntas, semoga nanti loji 13 di desa wisata ada yang percaya dengan buku ini, dan selanjutnya ilalang yang menutupi bisa dibersihkan.
Demikian Tania pemikirannya sama dengan Ezra.
Setelah Ezra sampai di rumah, dia membuka amplop yang dimasukkan ke sampul buku, ternyata masih bisa di baca, isinya berupa ucapan selamat atas kelahiran putri cantik dan maaf belum bisa menengok, surat tersebut dari Rudolf.