
Bab Sembilan
“Ada apa, sayang?“ tanya Stella sambil mengelus dada suaminya.
“Hmm, … tidak ada apa-apa,“ jawab David sambil menghela napas berat lalu mencium kening istrinya.
“Katakan saja, ada apa?“ kata Stella sambil memandangi suaminya.
“Aku rasa, Mr. Machunn menyukaimu.“
“Yah benar, siapa yang tidak suka denganku?“ goda Stella memperkecil kemungkinan itu didepan suaminya.
“Sayang,“ kata David merajuk meminta perhatian Stella untuk mempercayai penilaiannya.
Stella memandangi suaminya lagi kali ini dengan serius. “Suamiku sayang, entah dia menyukaiku atau tidak, bagiku bukanlah masalah bagi kita. Bukannya sudah jelas, aku sudah menikah dan sangat tergila-gila padamu?! Kalaupun benar, biar saja, kalau memang dia menyukaiku itupun kalau benar tapi aku pastikan, dia pasti akan patah hati karena telah mencintai wanita yang salah!“ kata Stella menyakinkan suaminya sambil tersenyum.
Cuping hidung David mulai mengembang mendengar ucapan Stella. “Oh, yah …?!“ desahnya sambil menuruni tubuh istrinya dengan sensual lalu turun semakin kebawah dan kebawah tubuh istrinya.
“Oh, Yah!“ sahut Stella sambil menekan kepala suaminya sambil menikmati apa yang suaminya lakukan untuknya.
Stella masih terbaring puas dan mengantuk diranjangnya sementara David terlihat bergerak secepat kilat untuk mandi dan berpakaian. Dia bangun kesiangan!
Stella tertawa pelan lalu kembali memeluk bantal gulingnya dan melanjutkan tidurnya lagi.
Samuel mengguncang-guncang pelan tubuh maminya yang masih tertidur lelap.
Stella menguap lebar kemudian membuka matanya dengan malas. “Ada apa sayang?“ gumam Stella sambil mengelus rambut anaknya.
“Mami, kita ke laut yah hari ini!?“ pinta Samuel dengan ceria.
“Mami masih ngantuk sayang, lain kali aja yah,“ kata Stella sambil menguap lagi dan menutup matanya.
“Ayo dong, Mami!“ bujuk Samuel menguncang tubuh maminya lagi.
Stella mengusap wajahnya lagi lalu membiarkan rasa ngantuknya menguap untuk mendengarkan kata-kata buah hatinya itu. “Tidak bisa sayang, saat ini kita sedang ada tamu dan tidak sopan untuk meninggalkannya sendirian disini.“
“Muel sudah memintanya ikut dan dia bersedia untuk ikut bersama kita, itu kalau Mami setuju!“
“Oh tidak Samuel, jangan,“ keluh Stella sambil menghela napas.
Hilang sudah rasa kantuknya. Dengan lembut ia menarik Samuel dalam pangkuannya. “Dia itu orang yang sangat sibuk, sayang. Banyak pekerjaan yang harus dia urus,“ kata Stella sambil mengelus pipi anaknya dengan penuh kasih sayang.
Samuel cemberut dengan lucunya.
“Hari minggu aja pergi sama ii Virnie.“
“Muel maunya, sama Mami!“ rengeknya. “'kan udah lama kita nggak pergi bareng kelaut,“ tambahnya dengan sedih.
“Memangnya kenapa sih, tumben tiba-tiba mau kelaut?“ tanya Stella penasaran sambil tersenyum.
“Muel mau main air, sama Mami,“ ucapnya sambil tertunduk sedih.
Stella tertegun mendengar penuturan anaknya.
“Hari Sabtu Minggu 'kan Mami sibuk terus, Muelnya kesepian,“ tambah Samuel lagi dengan muka memelas.
Stella tersenyum geli mendengar kata-kata polos dari anaknya itu. Ia menciumi Samuel dengan gemas lalu menyuruh Samuel bersiap-siap.
Samuel melompat kegirangan lalu berlari keluar kamar maminya sambil memberitahu pengasuhnya untuk membantu mengemasi baju dan celananya.
Keningnya mengerut saat melihat Gary dan Samuel sudah bersiap dan menanti didepan pintu.
“Kuharap kau tidak keberatan, kalau aku ikut bersama kalian,“ kata Gary setelah membaca reaksi Stella.
“Kami tidak mau mengganggu kesibukanmu, Gary.“
“Sekali-kali, aku juga perlu berlibur ‘kan!?“ goda Gary sambil mengambil tas Stella dan memasukkannya ke dalam mobil.
“Panggil Pak Diman, sayang,“ kata Stella kepada Samuel.
“Aku yang akan menyetir mobil, tidak perlu memakai supir untuk mengantar kita.“
“Apa kau tahu jalannya?!“ sahut Stella memastikan.
“Tidak, tapi kau pasti tahu iya ‘kan!?“
Stella tersenyum sambil menggeleng-geleng. “Satu-satunya
kelemahanku adalah tidak bisa mengingat rute jalan dengan baik.“ Stella tersenyum lagi lalu menyuruh Samuel untuk memanggil Pak Diman lagi.
“Apa kau serius?!“ tanya Gary, tidak percaya.
“200 % serius.“
Gary mendehem, tidak berkomentar lagi lalu membukakan pintu agar Stella bisa masuk ke dalam mobil.
Stella mengucapkan terima kasih sebelum masuk kedalam pintu penumpang dan ia tidak bisa berkomentar saat Gary duduk disebelahnya. Sebenarnya ia ingin duduk disebelah anaknya tapi tidak mungkin rasanya mengatakan hal itu kepada Gary. Ia hanya bisa tersenyum sambil menghela napas panjang.
“Kenapa kau tidak bisa mengingat rute jalan?“ tanya Gary.
“Sudah terlalu nyaman untuk belajar hal-hal baru.“
“Jadi selama ini, kau tidak pernah membawa mobil sendiri?“
“Tidak pernah,“ sahut Stella jujur.
“Sekalipun?“ Tanya Gary lagi.
“Sekalipun dan aku tidak bisa menyetir mobil.“
“David tidak pernah mengajarimu?“ tanya Gary heran.
“Aku-nya yang tidak ada nyali untuk belajar. Aku takut kalau sampai aku menabrak sesuatu atau seseorang dijalan.“
Gary memandangi Stella dengan mata birunya hingga membuat Stella semakin kikuk berdekatan dengan Gary.
“Apa!? Setiap orang pasti punya kelemahan iya ‘kan!?“
“Jangan-jangan, kau belum pernah berpergian keluar negeri sendirian?!“ Gary benar-benar tidak percaya dengan pernyataan Stella.
“Tanpa suamiku?!“ 'apa kau bercanda?!' Tambahnya dalam hati. “belum pernah.“
Gary benar-benar terkejut mendengar pernyataan Stella tapi tidak mengatakan apapun lagi.
Samuel datang dan duduk disebelah Gary dengan ceria.
Bisa dibilang, Stella agak merasa iri kepada Gary yang bisa menjadi teman berbincang yang asyik bagi anaknya sementara ia, sedikit merasa tersisih dan kebanyakan hanya memandangi pemandangan diluar jendela.