
Bab Empat Puluh Lima
Stella benar-benar tidak menyangka statusnya sebagai janda akan begitu cepat melekat pada dirinya. Tapi bukan menjadi jandi cerai tapi janda ditinggal mati!
David bunuh diri! Satu hari setelah ia kembali ke Amerika.
Seharusnya, setelah penghianatan yang dilakukannya, hatinya menjadi tawar karenanya.
Seharusnya ia tidak menangisi kematian David tapi yah, kenyataannya, dia menangis dan meratapi kepergian David!
Tapi dia juga tidak tahu, apa yang akan ia lakukan seandainya waktu bisa terulang kembali, sanggupkah ia, memaafkan David?!
Ajaran agamanya selalu mengajarkan untuk memaafkan dan memaafkan tapi dia hanyalah manusia biasa! Berdosakah dia, kalau diberi kesempatan sekali lagi untuk mengulang masa yang lalu, dia masih belum bisa memaafkan David dan tetap memilih jalan perceraian?!
Samuel terus bertanya, berulang-ulang kemana papinya akan pergi. Dan berulang kali, pula tanpa lelah, Stella menjawab pertanyaan Samuel sampai ia jatuh terlelap.
“Kau tidak apa-apa?“ tanya Gary.
“Menurutmu?“ Stella menghela napas.
“Mungkin ini salahku, kalau saja aku tidak buru-buru pergi, mungkin …!“
“Jangan berandai-andai dan membodohi diri sendiri!“
Stella tidak sanggup menahan perasaannya lagi.
“Semua ini, begitu tiba-tiba. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku tanpa David! Semuanya, tidak akan sama lagi, dan semua ini salahku!“ kata Stella dengan susah payah.
“Semua akan baik-baik saja. Aku akan mengurus kalian, jangan khawatir.“
Stella bersandar dalam pelukan Gary tanpa mau berpikir panjang lagi. Saat ini dia memang butuh dipeluk dan dihibur, meskipun untuk sesaat.
Terlalu banyak kenangan di mansion ini, desahnya.
Disetiap ruangan ada tawa canda mereka. Ada banyak cerita disetiap sudutnya dan kenangan kebersamaan mereka. Maka dari itu ia memutuskan untuk mencari sebuah rumah yang nyaman untuknya dan Samuel. Dia juga akan menyewa stand toko di salah satu mall untuk mengembangkan bisnisnya.
Ia membicarakan masalah mansion dan rencana kepindahannya kepada Pak Bram dan mendapat dukungan penuh atas usulannya.
Pak Bram tidak mau melepaskan sahamnya di showroom Stella dan berniat untuk memberikan tambahan modal investasi kepada usahanya itu.
Stella sangat bersyukur Pak Bram tidak membahas mengenai almarhum suaminya.
“Kau dimana?“ tanya Gary diponselnya.
“Aku sedang ada urusan sebentar.“
“Tidak, Samuel ada bersamaku, juga Pak Daman yang menemaniku, kalau itu membuatmu tenang.“
“Kenapa kau, tidak menungguku?“
“Ini urusan pribadi, Gary.“
Gary terdiam mendengar batasan yang dibuat Stella dari kata-katanya.
“Kapan kau akan kembali?“
“Aku belum tahu. Kami akan melihat beberapa lokasi perumahan hari ini.“
“Perumahan? Kau berniat mencari rumah baru?! Tapi untuk apa? “
“Aku sudah memutuskan untuk pindah dari mansion.“
Gary diam.
Stella menghela napas.
“Kita bertemu malam ini, kalau kau sempat.“
“Kapan kau akan memberitahukan hal ini kepadaku?“ kata Gary dengan marah.
“Setelah mendapatkan rumah yang cocok?“ canda Stella lalu menghela napas panjang.
Gary diam tidak berkomentar.
“Terlalu banyak kenangan di mansion, Gary. Aku terlalu sulit, untuk bisa bernapas saat berada didalamnya.“
Gary menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya dikursi kerja di ruang perpustakaan. Ia tidak bisa terlalu menekan Stella.
Apa yang Stella katakan adalah suatu kebenaran yang tidak bisa ia pungkiri, meskipun kalau bisa, ia ingin menghapus semua kenangan tentang David dalam kehidupan Stella tapi ia tahu, dia bukan Tuhan yang bisa mengatur semua kehidupan semaunya!
“Paling tidak, bisakah kau menunjukkan padaku rumah yang ingin kau beli sebelum adanya kesepakatan jual beli?“
“Gary, …“ Stella sambil menghela napas lagi.
“Kami tidak boleh terlalu mengandalkanmu. Aku harus belajar mandiri dari sekarang,“ kata Stella apa adanya.
Selama ini, mau tidak mau, Stella menjadi terlalu terbiasa mengandalkan Gary dan dia tidak mau Gary menjadi salah paham mengenai hubungan diantara mereka.