Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion Of Love bab 51 judul Gary berada dalam masalah



Bab Lima Puluh Satu


Keputusannya untuk menerima lamaran Gary, rupanya tidak salah.


Gary selalu memanjakannya dan menyayangi Samuel disetiap waktu dan kesempatan.


Samuel disekolahkan disalah satu sekolah swasta terbaik Australia dan Samuel tidak keberatan sama sekali dengan hal itu. Dengan cepat dia bisa beradaptasi dan menerima lingkungan barunya.


Berita gembira bagi Gary karena Stella telah hamil dan berita buruk bagi Stella karena dia harus bolak balik mual dan muntah!


Selama lebih kurang satu bulan usia kandungannya, dia masih belum bisa mensyukuri kehamilannya.


Waktu mengandung Samuel, dia tidak pernah mengalami semua ini.


Semuanya berjalan biasa saja dan dia bisa beraktifitas dengan aktif untuk bekerja dan menghasilkan uang tapi untuk anak yang keduanya ini, dia sama sekali tidak bisa meninggalkan tempat tidurnya! Kalau ia beranjak sedikit saja, pastilah dia akan muntah!


Ia hanya bisa berbaring dan meringkuk untuk menahan rasa mualnya.


Dengan sabar, Gary mendampingi masa-masa sulit yang dialami istrinya itu.


Stella selalu memarahinya kalau ia lengah, mengelus-elus punggungnya saat mualnya datang. Tapi Gary menikmati semuanya itu dan semakin mencintai Stella setiap harinya.


Menginjak usia kandungan dua bulan, wajah Stella sudah lebih cerah dan bisa beraktifitas aktif malahan sangat aktif sampai-sampai membuat Gary sangat cemas.


Stella tertawa mendengar kecemasan Gary yang berlebihan, seolah-olah ia terlampau rapuh untuk berjalan sendiri tanpa dipegangi.


“Sindrom ayah baru“ demikian Stella mengejek Gary bila terlalu berlebihan mencemaskannya.


Belakangan Gary sedikit murung dan tampak menyembunyikan sesuatu darinya.


Bila ia menanyakan hal itu Gary selalu menghindar dan hanya tersenyum.


Ia tahu ada tidak beres dan membebani pikiran Gary. Tapi apa? Stella berpikir keras lalu memutuskan menghubungi Micquel saat Gary sedang pergi keluar negeri.


“Katakan ada masalah apa?“ tanya Stella terus terang.


“Stella …,“


“Jangan menganggapku terlampau bodoh untuk tahu masalah suamiku dan yang kutahu, rumah tangga kami baik-baik saja. Satu-satunya pemikiranku hanyalah masalah perusahaan, apa aku benar?“


“Dia sudah mengingatkan aku untuk tidak memberitahukanmu!“


“Sebenarnya, apa yang terjadi?“


“Kurasa, kau harus membiarkan Gary yang memberitahukanmu sendiri.“


“Micquel, please! Katakan padaku.“


“Dia pasti akan sangat marah padaku!“


“Aku berjanji, tidak akan mengatakan padanya!“


“Salah satu induk perusahaan mengalami kemunduran yang amat mengerikan.“


“Kemunduran, maksudnya?“


“Apa perusahaan Gary akan bangkrut?“ tanya Stella dengan ragu.


“Yah, dan juga asetnya akan disita bila tidak menutupi semua kerugian yang ditimbulkan tapi jangan khawatir Gary sedang berusaha mencari investor untuk menambah modalnya.“


“Micquel, berapa dana yang Gary butuhkan?“ tanya Stella sambil meremas tangannya.


Micquel terdiam sesaat sebelum menjawab jumlah yang benar-benar sangat jarang ia ucapkan.


Stella terdiam sambil menghela napas saat mendengar jawaban Micquel.


Selama hidup, mungkin baru kali inilah suaminya mengalami badai hidup seperti ini!


Ia merasa sedih dengan keadaan yang akan dialami suaminya.


“Dan kalau Gary tidak berhasil mendapatkan uangnya maka ia akan … bangkrut?“ tanya Stella dengan cemas.


“Yah, Stella. Gary akan kehilangan semua saham atas perusahaan untuk mengganti kerugian kepada investor yang telah dirugikan. Bukan hanya itu saja semua aset akan disita dan dilelang untuk umum.“


“Yah, Tuhan!“


Stella benar-benar merasa sedih atas tekanan yang dialami suaminya, Gary.


Dengan semua tekanan ini, Gary masih bisa tersenyum kepadanya dan menanggung semuanya ini sendirian?!


Hati Stella benar-benar menangis untuk suaminya.


Ia mengerti, mungkin Gary tidak mau membebani pikirannya!


Stella merasa sangat sedih dan terpukul karena Gary tidak mau berbagi kesulitannya kepadanya.


Dia adalah istrinya! Dan dia juga punya hak untuk menolong suaminya, bagaimanapun caranya!


“Stella, kau masih disana?“


“Yah, aku masih disini.“


Stella menghela napas panjang.


“Terima kasih kau telah mengatakan semuanya ini kepadaku Micquel. Aku harus pergi sekarang untuk mengurus beberapa hal,“ kata Stella setelah sekian lama terdiam tidak bisa berkata-kata sebelum menutup telepon.


Gary dan Micquel saling berpandangan.


“Apa menurutmu …?“ Gary ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


Lidahnya terasa keluh bila menerka apa yang sedang Stella rasakan saat ini.


“Sudah pasti, dia sangat terpukul mendengar kenyataan ini. Kau harus bersiap untuk segala kemungkinan yang ada. Kemungkinan paling besar adalah Stella akan segera meninggalkanmu.“


“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!“ sahut Gary dengan marah.


“Kau harus Gary! Karena kau sudah terikat janji,“ kata Micquel dengan tegas.