
Bab Dua Puluh Delapan
“Stella, aku tidak akan minta maaf dengan niatku, menciummu tadi. Hanya saja aku minta maaf karena telah membuatmu basah, aku benar-benar kaget, kau menjatuhkan diri seperti tadi.“
Entah karena sandiwara yang terlalu hebat atau bagaimana tapi Stella merasa Steven lebih dari wajar mengkhawatirkan keadaannya sampai-sampai matanya berkaca-kaca hingga benar-benar menangis? Kening Stella mengerut merasa ada sesuatu yang disembunyikan Steven darinya. “Steven, apa kau baik-baik saja?“ tanyanya merasa kasihan.
“Aku berpikir akan kehilanganmu untuk kedua kalinya!“ jawab Steven dengan air mata menetes dipipinya.
Stella berpikir sejenak lalu melipat tangannya dengan enggan. Hilang sudah rasa simpatiknya terhadap Steven! “Steven, kurasa kau sudah keterlaluan! Sekarang katakan padaku, apakah tanggal pernikahanmu itu benar? Dan apakah Brenda Caroline itu benar-benar ada atau kau hanya mengarangnya saja untuk bisa mendekatiku!?“ cecar Stella dengan perasaan marah.
“Brenda itu tunanganku, Stella dan tanggal itu adalah tanggal pernikahan kami.“
“Kau bohong! Lalu katakan, kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?! Seharusnya, mungkin saja, dia bisa mengacuhkan semua hal tapi yang pasti seorang wanita tidak akan mengacuhkan tentang pesta pernikahannya sendiri!“
“Sayangnya, dia tidak akan bisa datang, …“ Steven bersandar ditembok sambil memandang langit yang bertaburan bintang.
“Cukup sudah …!“ Stella membuang napasnya kuat-kuat.
“Kau lahir kembali dalam kelahiran yang sama, untukku! Dan aku percaya, ini adalah takdir bagi kita untuk bersama lagi!“
“Apa yang bersama lagi?! Kita tidak pernah berhubungan sebelumnya, Steven. Kau terlalu mengada-ada!“
Steven tersenyum. “Percayakah kau dengan cinta sejati?“
“Aku percaya dan aku telah menemukan cinta sejatiku, Steven. Bersama suamiku!“ kata Stella sambil menghela napas berat. “Aku harus tidur karena besok aku akan kembali ke mansion. Aku berharap, lain kali kau akan datang bersama tunanganmu.“
“Stella!“
“Selamat malam!“ Stella segera mengunci pintu balkon rapat-rapat lalu menutup tirai sampai tidak ada cela yang bisa terlihat dari luar.
“Ada apa?“ tanya Jesicca sehingga membuat Stella kaget.
“Kau mengagetkan aku! Yah, Tuhan!“
“Kau terlihat kesal?“
“Steven juga menginap dihotel ini.“
“Yah, itu sudah bisa dipastikan.“
“Kamar sebelah? Maksudmu disebelah sini?! Yah, Tuhan jangan bilang dia maniak **** atau pembunuh berdarah dingin yang berniat untuk mengejarmu!“
“Jangan berlebihan seperti itu! Lagipula aku sudah mengunci pintu balkonnya.“
“Stella, aku menyayangimu, sungguh!“
“Well, terima kasih,“ potong Stella sambil tersenyum.
“Tapi aku tidak mau berhadapan dengan maniak berdarah dingin. Bisa saja ia membuka pintu itu dengan sangat mudahnya dan membunuh kita berdua! Yah, Tuhan! Yah, Tuhan!“ katanya dengan panik.
“Jesicca cukup! Kau berlebihan!“
Bukannya tenang, Jesicca malah semakin panik sehingga membuatnya kesal.
“Jesicca kalau kau takut, tidurlah dikamar Gary untuk ketenanganmu dan besok pagi, aku akan menertawakan sikapmu yang berlebihan itu!“
“Yah, itupun kalau kau masih bisa hidup,“ gerutu Jesicca dengan ketakutan. “Baik, aku akan tidur dikamar Gary!“
“Baik, pergilah dan semoga berhasil yah!“ katanya sambil menggoda Jesicca.
“Tapi kau …?“ Jesicca memandang ragu kearah Stella.
“Pergilah, jangan khawatirkan aku. Tenang saja dan tolong jangan cerita apa-apa kepada Gary, bilang saja nyamuknya banyak dan kau tidak bisa tidur karenanya, oke!“
Jesicca memeluk Stella dengan erat seperti mau berpisah selamanya dengan Stella lalu setengah berlari keluar kamar.
Stella hanya bisa geleng-geleng kepala melihat reaksi Jesicca yang menurutnya sangat berlebihan.
Ia menguap lebar lalu segera masuk kedalam selimutnya.
Hampir saja Stella tertidur sebelum mendengar ketukan yang cukup kuat dan tidak sabaran terdengar dari balik pintu kamarnya. Bel kamarnya juga ikut dibunyikan berulang-ulang sehingga membuat kepala Stella sakit karenanya. Mau tidak mau, ia bangun dan melihat melalui lubang pintu, siapa tamu tak diundang yang telah mengganggu lelap tidurnya!
Matanya meyakinkan berkali-kali ketika melihat Gary-lah penyebab hampir robohnya pintu kamar hotel lewat gedoran tangannya.
“Gary? Ada apa?!“ tanya Stella ketika membukakan pintu.