Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 26 Melawan godaan



Bab Dua Puluh Enam


Siapa yang tidak terpesona melihat apalagi berhubungan dengan Stella! Hampir setiap pria yang melihat Stella menyukainya bahkan secara terang-terangan mengharapkan Stella memberi kesempatan kepada mereka meskipun tahu Stella sudah menikah dan bahagia dengan pernikahannya. Tapi Stella terlalu pintar untuk membuat mereka sakit hati sebelum terlalu jauh mencintainya, Stella selalu membatasi pertemuan-pertemuan mereka dengan ditemani salah satu asisten pada setiap sesi pertemuannya dan selalu bisa mengelak dengan luwes tanpa menyinggung perasaan klien mereka.


Tapi membuat rencana pernikahan bohongan? baru kali ini dia tahu!


Ia yakin seyakin-yakinnya, nama dan tanggal pernikahan yang Steven cantumkan itu hanya rekaan saja. Mengenai uang muka yang sudah dilunasi 50%-nya merupakan pancingan sendiri untuk Stella agar tidak curiga dengan sandiwara yang direka Steven. Yang pasti nominal yang telah disetorkan, mungkin tidak sebanding dengan perasaan yang tengah ia dirasakan kepada Stella. Tapi kali ini ia merasa Stella juga menyukai kehadiran klien barunya itu, meskipun tampak jelas ia berusaha keras untuk menampiknya.


Jesicca lagi-lagi mendesah, kenapa dia bisa berada dalam posisi seperti saat ini?! Ia mengerang lagi sambil menatap Mr. Machunn yang sama sekali tidak pernah menatapnya dan selalu sibuk mengamati gerak gerik Stella dan Steven.


Ia tidak pernah berharap, pria disampingnya menyukainya tapi paling tidak, membuka kesempatan bagi mereka untuk mengenal satu dengan yang lain juga bukan harapan yang muluk iya 'kan?


Tempat yang romantis, suasana yang tepat tapi bersama orang yang sama sekali tidak memperdulikannya! Jesicca mengerang lagi sambil menatap keindahan pantai yang terkesan hambar.


Untunglah, angin laut tidak terlalu kencang malam hari ini. Stella bersyukur karenanya karena ia sama sekali tidak membawa jaket. Ia juga tidak mungkin meminta Steven pulang sekarang ini karena hari sudah malam.


Stella kaget ketika Steven menyuruhnya memakai jaketnya. Ia menolak tapi Steven memaksanya dengan membantu memakaikannya. Stella hanya bisa berterima kasih sambil tersenyum kearah Steven.


Tepat sedetik kemudian lampu-lampu pantai menyala dengan


terang dan indah.


Stella merasa sayang karena saat ini, ia sedang bersama dengan orang yang salah ditempat yang romantis seperti ini!


Stella menghela napas sambil melirik kearah Steven. Dan Steven benar-benar godaan yang menggiurkan! Lagi-lagi Stella menghela napas panjang untuk menepis semua pesona Steven.


Dengan tiba-tiba, Steven mengambil tubuhnya tanpa peringatan dan menggendongnya dalam pelukannya lalu melarikannya ke laut.


Ia benar-benar kaget, sampai tidak bisa berkata apa-apa!


Steven tertawa melihat ekspresi Stella yang benar-benar kaget dengan perbuatannya. Ia menggoda melemparkan tubuh Stella kedalam air laut yang sedang pasang!


“Jangan-jangan Steven! Yah Tuhan, aku tidak membawa pakaian ganti!“ Otomatis Stella memeluk Steven erat-erat sambil mencoba untuk mengingatkan Steven.


“Kau mengejutkan aku! Tentu saja aku takut, sekarang tolong turunkan aku.“ pinta Stella dengan sopan.


“Dan menjadi basah sepertiku?“


Stella melihat tingginya air sudah mencapai pinggul Steven. “Kalau begitu tolong kembalikan aku ke daratan, please.“ Stella meminta Steven dengan manis meskipun dalam hati benar-benar kesal dengan sikap kekanakan yang dilakukan Steven kepadanya. Apa yang ada dalam pikirannya!? Sampai berani memperlakukannya seperti ini!


“Dan apa aku boleh menggendongmu setelah aku sampai ke daratan?“ goda Steven.


“Well, kakiku masih cukup kuat menopang berat badanku tapi terima kasih untuk tawarannya. Aku yakin bila tunanganmu melihatmu sekarang ini tentu, dia akan salah paham melihat perbuatanmu.“ Stella berkata sambil menahan perasaan marahnya.


Dia berharap seandainya membawa pakaian ganti, ia akan segera melepaskan diri dari pelukan Steven tapi sayangnya, dia sama sekali tidak membawanya! keluhnya dengan kesal dalam hati.


“Yah, aku yakin dia akan salah paham apalagi kalau sampai aku menciummu sekarang.“ Steven menatap Stella tanpa berkedip.


Stella menelan air ludahnya dengan susah payah. “Steven, …“


“Hmm …,“ sahut Steven sambil bergerak perlahan mendekati bibir Stella.


“Apa kau bermaksud untuk menciumku?“ tanya Stella pelan sambil memperhatikan bibir Steven yang sebentar lagi akan menyentuh bibirnya.


Steven tersenyum dengan tatapan penuh kelembutan dan membuat  Stella yakin Steven akan benar-benar menciumnya.


Ia menutup matanya.


Menarik napasnya kuat-kuat lalu dengan sekali hentakan ia mendorong tubuh Steven sehingga ia terlepas dari gendongan Steven.


Dalam keadaan basah kuyup, Stella tersenyum. “Steven, kau pria yang menarik dan sangat disayangkan, kau telah memilih wanita yang salah untuk kau cium, selamat malam!“ kata Stella sambil berjalan menjauhi Steven.


Ia tidak mengacuhkan, panggilan Steven meskipun dia tidak tahu bagaimana caranya pulang kembali ke mansion-nya! Dia juga tidak perduli bila Steven meminta kembali uang yang telah dibayarkannya atau membatalkan seluruh kesepakatan yang telah ada!