
Bab Dua Puluh Tujuh
Hampir saja ia terlena dengan pesona dari Steven.
Dasar gila! Desis Stella sambil mengelus rambutnya yang basah.
Untung saja, setelah bersusah payah akhirnya Jesicca berhasil mencegah Mr. Machunn untuk menghampiri Steven yang menggendong paksa Stella masuk ke dalam air!
Meskipun dengan segudang pesona yang dimiliki setiap pria
Stella tidak akan membiarkan dirinya terbuai oleh pesona pria lain apalagi sampai membiarkan dirinya dicium. Untuk sesaat keyakinannya hampir runtuh ketika melihat senyuman dan kesiapan Stella untuk menerima ciuman dari Steven. Tapi akhirnya dia tahu keyakinannya tidak pernah salah saat melihat Stella melepaskan diri dari pelukan Steven meskipun hal itu membuatnya basah kuyup seperti itu!
Jesicca tersenyum penuh kekaguman dan dia tidak bisa mencegah lagi ketika Gary berlari dan menghampiri Stella yang berjalan dengan cepat menuju hotel.
Stella tidak menyangka Gary belum kembali ke mansion! Sungguh melegakan melihat orang yang tahu arah pulang ke mansion-nya.“Gary, kau belum kembali? Jesicca?!“
“Apa yang terjadi?“ tanya Gary menahan diri seolah-olah tidak mengetahui apa yang dilakukan Steven kepadanya.
“Aku sedikit terpeleset tadi. Bisakah aku menumpang mobil pulang ke mansion?“ tanyanya sambil tersenyum manis .
Gary tidak tahu harus mencium Stella atau memeluknya karena telah berhasil menjaga diri atas rayuan pria seperti Steven dan memilih tidak memperpanjang masalah. “Jangan khawatir, kau aman bersamaku, “ kata Gary sambil menyampirkan jasnya ke tubuh Stella.
“Jangan nanti jasmu ikutan basah!“ kata Stella mencoba mencegah Gary tapi senyuman Gary menghapus keengganannya, lalu ia hanya bisa berterima kasih.
“Hei, sepertinya kau lupa mengenakan pakaian renangmu!“ seru Jesicca seraya menggodanya.
“Yah, sangat disayangkan tapi sekali-kali perlu dicoba, cukup menyenangkan,“ kata Stella sambil mengedipkan matanya kearah Jesicca.
Jesicca tertawa kecil sambil berjalan mengiringi Stella dan Mr. Machunn.
Stella senang, Gary dan Jesicca tidak melihat kejadian tadi atau dia akan merasa malu karenanya!
Bukannya menuju tempat parkir, Gary malah membawanya masuk ke hotel dan Gary menanyakan arah butik.
Bodoh sekali ia, sampai tidak mengingat bahwa ada butik yang disediakan bagi pengunjung resort dan hotel! Stella menepuk pelan kepalanya dan menyalahkan diri dalam hati sambil tersenyum kearah Jesicca.
Yang membuatnya bingung ketika Gary memberikan kunci kamar dan menyuruhnya naik keatas untuk menunggu disana dan membersihkan diri.
Stella yakin, Jesicca tahu ukuran dan selera berpakaiannya. Ketika Stella membuka dompetnya berniat memberikan uang untuk membeli pakaiannya, Gary sudah menarik Jesicca pergi. Ia mengurungkan niatnya untuk memanggil Jesicca dan naik ke dalam kamar yang telah dipesan Gary.
Didalam kamarnya sambil berendam, Stella segera menghubungi suaminya dan memberitahu rencananya untuk menginap di hotel. Dia memberi alasan sudah terlalu malam untuk pulang kembali ke mansion.
Ketika David bertanya dengan siapa ia akan pulang dan mengkhawatirkan bagaimana caranya untuk sesaat Stella tidak tahu bagaimana harus menjawab. “Aku pulang bersama Jesicca dan Gary.“
“Jesicca dan Gary bersama?!“
“Iya. Jesicca memberitahu Gary tentang resort ini. Tapi sayang, tampaknya presentasi tadi tidak cukup memuaskan bagi klienku,“ Stella menghela napas. “Tapi aku yakin, dia pasti bisa membuat pesta pernikahannya sendiri. “
“Apa kau yakin aku tidak perlu menjemputmu, sayang?”
“David, apa kau gila?“ Stella bertanya dengan tenang. “Jaga saja anak kita disana dengan baik,“ kekehnya. “Mana dia? Apa sudah tidur!?“ Stella ingin sekali bicara dengan Samuel saat ini.
“Tadi dia menanyakanmu tapi sekarang dia sudah tidur apa perlu kubangunkan?“
“Baiklah, aku akan mengatur jadwal untuk itu, sayang.“
“Aku mencintaimu.“
“Aku juga mencintaimu. Tidur yang nyenyak yah,“ kata David sambil memberi kecupan lewat telepon.
Stella memberi kecupan yang sama sebelum menutup telepon sambil tertawa pelan.
Ia bersyukur tidak membuat keutuhan pernikahannya hancur, hanya gara-gara rasa kagum sesaatnya! Yang pasti ia akan sangat menyesalinya bila hal itu sampai terjadi.
“Halo putri duyung, sudah agak segeran?“ tanya Jesicca ketika Stella keluar dari kamar mandi.
“Luar biasa!“ sahutnya sambil terkekeh. “Apa ini pakaianku?“ tanya Stella kagum dengan pilihan Jesicca.
“Memang. Tapi itu pilihan Mr. Machunn setelah bertanya tentang ukuran pakaianmu.“
“Dan ini juga?“ tanya Stella dengan ragu sambil mengangkat pakaian dalam yang terlalu seksi baginya.
Jesicca mendehem. “Itu aku yang memilihkannya, untukmu.“
“Kuharap David akan menyukai pakaian dalamku yang baru!“ goda Stella sambil mengedipkan mata. “Jesicca, aku tidak menyangka, ternyata kau seorang gadis yang nakal!“ katanya sambil tertawa keras.
“Aku 'kan tidak tahu bagaimana selera pakaian dalammu. Aku hanya menebak!“ katanya membela diri.
“Tidak apa-apa, aku suka kok. Sangat sensual,“ bisiknya sambil tertawa.
Pintu kamar diketuk.
Gary datang untuk menemui mereka.
Stella buru-buru menimbun pakaian dalamnya dibawah pakaian yang telah dibeli Gary.
“Kuharap, kau tidak keberatan untuk menginap malam ini disini.“
“Tentu tidak. Aku tahu sudah terlalu larut untuk memaksakan kembali. Tapi apa kau juga akan tidur dikamar ini?“ tanya Stella dengan ragu.
“Tentu tidak. Kamarku disebelah.“
Stella tersenyum lega.
“Aku sudah menyuruh pelayan untuk mencuci dan mengeringkan pakaianmu.“
“Terima kasih. Jesicca, tolong temani Gary sebentar yah,“ pinta Stella sambil tersenyum kearah Jesicca.
Sudah jelas Stella bermaksud menjodoh-jodohkan dirinya dengan Mr. Machunn. Ia menghela napas, tidak mencoba meralat niat Stella apalagi dia juga tidak senang melihat reaksi Mr. Machunn yang merasa tidak nyaman ketika ia menemaninya keluar kamar.
Setelah mengganti piyama hotel dengan pakaian yang dibelikan Gary, Stella tergoda untuk menikmati pemandangan resort dari balkon kamarnya. Perasaannya sangat lega ketika memandangi desiran riak ombak kecil yang menjilat bibir pantai. Angin laut bertiup semilir dan menenangkan. Dengan banyaknya lampu yang dipasang dipinggiran pantai membuat pengunjung hotel dapat bebas menikmati pemandangan lautan dimalam hari.
Stella menghela napas lega sambil tersenyum lalu kaget ketika menoleh bertatapan langsung dengan Steven yang ternyata menginap di sebelah kamarnya! “Kau! …“ seru Stella mencoba menahan dirinya. “menginap juga disini?“ katanya pada akhirnya.