
Bab Tiga Puluh Empat
Stella merasa sangat senang saat Gary menyuruhnya memilih gambar yang cocok untuk dijadikan cover novel edisi perdananya.
Semuanya tampak mengagumkan! Tapi senyumnya berubah saat melihat hasil lukisan yang tengah berada ditangannya saat ini.
Ia tidak sanggup untuk mengatakan kekagumannya, hanya matanya yang mengungkap perasaannya.
“Yang ini?“ tanya Gary sambil menarik gambar dari tangan Gary mendehem sambil tersenyum.
“Tahu tidak, saat pertama melihat, gambar ini memang sudah memikat hatiku!“
Stella tersenyum lebar lalu mengangguk.
“Sungguh sangat indah! Apa gambar itu bisa dijadikan cover novel kita?“
“Sangat bisa! Aku sangat yakin novel kita akan menjadi salah satu novel yang benar-benar best seller.“
“Jangan berkata seperti itu, aku takut nantinya, kau akan kecewa.“
Stella terdiam sesaat lalu menghela napas panjang dan menatap Gary dengan ragu.
“Gary, bagaimana kalau novelku tidak disukai pembaca dan akhirnya kau merugi. Aku merasa sangat risau karenanya!”
“Tidak perlu khawatir. Satu-satunya yang harus kau lakukan sekarang adalah kembali menulis dan menyiapkan karya-karya selanjutnya.“
“Aku akan berdoa dengan sungguh-sungguh agar novel kita laris dan diterima masyarakat luas!“
“Aku percaya, pasti doamu dikabulkan!“
Stella tersenyum lagi karena merasa sangat bahagia.
Setelah menunggu hampir kurang satu bulan lamanya, Gary kembali datang ke mansionnya sambil meletakkan sebuah karton berukuran besar dimeja kerjanya sambil tersenyum lebar tanpa mengatakan apapun juga.
“Apa ini novelku?!“
Gary duduk dengan santainya dan mempersilahkan Stella mencari tahu sendiri.
Tanpa disuruh, Stella membuka perekat yang menutupi bagian atas karton dan terhenyak begitu melihat cetakan novel edisi perdananya.
Untuk sesaat Stella hanya terdiam dan hanya memandanginya tanpa menyentuhnya.
Gary memeluknya dan memberinya selamat lalu mempersilahkan Stella memegang cetakan novel edisi perdananya.
Stella merasa sangat bahagia saat memegang dan meraba namanya yang dicetak timbul di novel itu. Stella Atmanegara.
Ia menoleh kearah Gary yang terharu melihat kebahagiaannya.
“Terima kasih,“ ucapnya dengan tulus dan tidak bisa menahan air matanya.
Gary mengelus bahu Stella sambil menghapus air mata Stella.
Tapi Stella benar-benar tidak menyangka Gary membuat novelnya dengan beragam bahasa!
Matanya mengerjap tidak percaya.
Gary tertawa melihat kekagetan Stella ketika melihat novelnya diterbitkan dalam sembilan versi bahasa yang berbeda.
“Yah, Tuhan, semua ini sangat mengagumkan! Aku tidak perduli, kau akan menyebutku norak ataupun apa tapi sembilan versi bahasa?!“ decak Stella.
“Apa ini sungguhan?! Coba cubit tanganku!“
Gary mencubit pipi Stella sampai Stella mengaduh kesakitan lalu tertawa senang.
“Oh, betapa gembiranya aku! Aku harus menelepon David untuk memberitahu semua ini!“
Senyuman di wajah Gary menciut saat Stella hampir saja menghubungi telepon suaminya.
“Ada yang harus aku bicarakan sebelumnya, jadi kau bisa sekalian bicara kepadanya.“
Stella meletakkan gagang teleponnya sambil mengerutkan keningnya.
“Apa ada masalah?“ tanyanya langsung berubah serius.
“Dengan selesainya pendistribusian novelmu saat ini, kita harus segera memulai tour promosimu.“
Stella mendehem keras.
“Yah, tentu.“ kata Stella sambil tersenyum kecut.
Dia tidak tahu harus pergi secepat ini dan dia belum merasa siap!
“Kapan kita harus pergi?“
“Aku sudah memesan tiket untuk tanggal tiga.“
Hati Gary berdebar menunggu reaksi Stella.
“Tapi itu …! tiga hari lagi,“ katanya tidak bisa berkata banyak.
“Untuk waktu berapa lama?“
“Lebih kurang tiga bulan karena kita harus menjangkau negara-negara besar.“
Stella benar-benar tidak bisa bicara.
Tanpa suami dan anaknya selama tiga bulan!?
Wajahnya benar-benar pucat tapi dia juga tidak bisa menghindari tanggung jawabnya sebagai penulis karena ini adalah proses, yang harus ia lalui untuk memperkenalkan novelnya.
“Kami memang benar-benar harus bicara. Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamarmu,“ kata Stella dengan lemas.
“Apa kau ingin, aku menunda perjalanan kita?“ tanya Gary dengan ragu karena melihat Stella begitu terguncang dengan rencana perjalanan promosinya.
“Tidak.“
Kalau saja Gary mengatakan hal ini sebelum novelnya diterbitkan pasti dia akan membatalkan kontrak kerjasama ini! Secepat ini? Ia sungguh tidak menyangka!
Stella mencoba tersenyum.
“Aku akan mengantarmu keatas.“
“Aku bisa keatas sendiri, teruskan saja pekerjaanmu.“
“Tidak apa-apa, karena aku ingin bertemu dengan anakku.“
Stella mencoba tersenyum tapi matanya tidak bisa menutupi kesedihannya.
Gary tidak banyak berkomentar. Dia hanya mengangguk dan berjalan disamping Stella tanpa mengajaknya berbicara lagi, lagipula tampak jelas Stella sedang tidak ingin bicara lagi dengannya.
Samuel sedang tidur siang diranjangnya yang bergambar Batman dengan nyenyaknya.
Stella berbaring sambil mengambil tubuh Samuel dengan hati-hati agar bisa tidur dalam pelukannya.
Samuel sangat menggemaskan! Kulitnya halus. Wajahnya tampan tapi versi dirinya.
Stella memeluknya dengan hati-hati sambil merasakan kelembutan tubuh anaknya.
“Mami, ada apa?“ tanya Samuel terbangun dari tidurnya.
“Mami ingin tidur siang bersama Muel, boleh?“
Samuel mengangguk sambil masuk kembali dalam pelukan Stella lalu tertidur kembali setelah Stella membuainya dengan nyanyian lembutnya dan tepukan hangat tangannya.
Lalu bagaimana dengan suaminya? Apakah dia bisa meminta cuti untuk waktu yang lama?
Ia tidak tahu lagi harus bagaimana bicara kepada suaminya. Atau inilah saatnya ia harus meminta David berhenti bekerja dan menemaninya? Stella mengerang dalam hati karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan!
David menghela napas saat Stella memberitahu tentang rencana perjalanannya.
“Tiga bulan!?“ tanyanya benar-benar tidak percaya.
“ Yah mungkin karena promosi perdana. Aku harus mengunjungi beberapa Negara bagian dan bertemu dengan media disana untuk memperkenalkan novelku.“
“Bagaimana aku bisa bertahan tanpamu?!“ tanyanya dengan sedih sambil memandangi istrinya.
Stella masuk kedalam pelukan David.
“Perasaan yang sama juga, sudah pasti kualami dan kuyakin aku akan sangat merindukanmu.“
Stella menyentuh kejantanan suaminya dengan lembut.
“Apa kau tidak bisa ikut bersamaku?“
“Kau tahu itu sulit, sayang.“
"Langsung berhenti bekerja saja, bagaimana?! Jadi kita bisa selalu bersama-sama."
"Ada mekanisme pengunduran diri, sayang. Kita tidak bisa seenaknya saja berhenti dari pekerjaan. Apalagi saat-saat ini sedang banyak kasus yang harus diurus."
Stella mengangguk dalam pelukan suaminya. Ide untuk meminta David berhenti ditolak dengan berat hati.
“Aku tahu, tapi aku berharap kita bisa pergi bersama,“ keluh Stella sambil memandangi suaminya.
“Tanggung jawab pekerjaanku hari-hari ini, …“
“Aku tahu,“ sela Stella merasa bersalah karena bersikap egois.
David menghela napas sambil mengecup puncak kepala Stella.
“Bagaimana dengan Samuel?“
“Kalau kau mengijinkan, aku akan membawanya bersamaku. Aku akan menghadap kepala sekolahnya besok dan mencoba memintakan ijin khusus untuk Samuel dengan meminta semua materi pelajaran yang harus dipelajari Samuel.“
“Ijin khusus selama 3 bulan? Apa itu mungkin?!“
“Paling tidak, aku harus mencobanya. Aku tidak bisa hidup tanpa salah satu dari kalian ada bersamaku.“
“Aku sudah tahu hal ini akan terjadi sebelum setuju mendukung karir barumu tapi aku tetap saja masih belum siap dan aku merasa, tidak akan pernah merasa siap sampai kapanpun juga untuk berpisah darimu.“
“Siap tidak siap, kita tidak bisa menundanya lagi. Ini adalah resiko yang harus kita hadapi,“ kata Stella.
“Yah, aku tahu.“ David memeluk Stella tanpa banyak bicara.
Untung saja, kepala sekolah Samuel berhati malaikat dan memahami situasi yang sedang terjadi!
Stella sangat berterima kasih atas pengertian Ibu Betty sebagai kepala sekolah International School of Invinity dan berjanji dalam hati akan memberikan oleh-oleh setelah ia kembali nanti.
Tapi sayangnya, Stella melupakan satu hal yang paling penting. Paspor!
Stella menyandarkan punggungnya diatas kursi kerjanya sambil berpikir keras.
“Jadi apa yang bisa kita lakukan?“ tanya Stella kepada Gary melalui telepon.
“Aku bisa mengurus paspor dan visa anakmu dan pengasuhmu tapi paling tidak, aku butuh waktu dua minggu untuk melewati berbagai birokrasi yang berlaku.“
“Dua minggu?“ desah Stella.
“Tapi bagaimana caranya mereka bisa menyusulku kesana?“
“Aku akan menyuruh asistenku tinggal dan mengurus semua legalitasnya dan dia yang akan mengantar anakmu dan pengasuhnya.“
“Tapi …,“ kata Stella dengan berat hati.
“Stella, kau harus percaya padaku. Aku akan memastikan kedatangan anakmu!“
“Baiklah, aku akan segera menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan,“ kata Stella pada akhirnya
.
“Bagus, Stella jangan khawatir semuanya akan berjalan lancar! Aku tidak akan makan malam di mansion malam ini, ada meeting yang harus aku hadiri sebelum aku pulang ke Australia bersamamu.“
“Hmm, Gary …“
“Yah?“
“Aku ingin memintamu mencarikanku seorang asisten pribadi untukku.“
“Asisten pribadi?“
Stella mendehem perlahan.
“Aku tidak mungkin, memintamu menemani aku terus-menerus iya ‘kan!? Lagipula aku tidak akan merasa nyaman kalau ditinggal seorang diri tanpa ada yang menemaniku.“
“Kau adalah prioritas bisnis baruku sudah seharusnya aku yang menemanimu dan kemanapun kau ingin pergi, aku akan selalu setia mengantarkanmu!“ sahut Gary dengan yakin.
“Tapi Gary …“
“Tidak ada tapi kecuali kalau kau tidak mempercayai aku.“
“Bukan begitu, hanya saja aku tidak mau merepotkanmu. Kalau saja aku tidak fobia menelusuri jalan sendirian pasti aku akan berani mencobanya,“ sesal Stella.
“Semua orang punya kelemahan dan itu tidak masalah bagiku. Percayalah, aku bisa selalu kau andalkan!“ kata Gary meyakinkan Stella lagi.
Tapi aku tidak mau terlalu mengandalkanmu! pekik Stella dalam hati.
Bukannya apa-apa, hanya saja, ia tidak mau terlalu bergantung kepada Gary dan semua keadaan ini membuatnya tidak tenang! Apalagi, anaknya baru akan menyusulnya dua minggu kemudian.
Dia tidak merasa nyaman kalau harus terus menerus bersama Gary meskipun kebersamaan mereka, hanyalah demi bisnis semata
“Yah, aku percaya tapi berjanjilah kau akan mencarikan aku seorang asisten pribadi.“
“Baiklah,“ kata Gary pada akhirnya.
“Pria atau wanita?“
“Tentu saja wanita!“
“Baiklah, permintaanmu akan tersedia begitu kau mendaratkan kakimu di rumahku.“
“Terima kasih.“
Gary tersenyum sambil menatap Micquel yang memandangnya jengah.
“Kau bisa mengatur kesiapan surat-surat mereka dalam waktu sehari, kenapa kau membutuhkan waktu dua minggu!?“
Gary tersenyum penuh kemenangan.
“Apakah hal itu perlu kau tanyakan lagi?“
“Seandainya saja, aku yang pertama kali bertemu dengan Stella!“ seru Micquel geram.
“Dalam mimpimu pun, jangan pernah berharap!“ sahut Gary sambil tertawa senang.
Micquel meringgis sambil cemberut tapi tidak berkomentar apa-apa kepada Gary yang sedang merayakan kemenangannya.