Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 52 judul Stella akan meninggalkannya!



Bab Lima Puluh Dua


Stella menghubungi pengacara pribadi almarhum ayahnya melalui ponselnya secara diam-diam dari dalam kamar.


Ia menyuruh pengacara ayahnya segera menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan supaya dia tidak harus menunggu lama mengurus dokumen yang benar-benar penting.


“Yah, secepat mungkin. Begitu saya datang, saya tidak mau menunggu lagi untuk kesiapan berkas-berkasnya.“


Begitu melihat Gary masuk kedalam kamar mereka, Stella buru-buru menyudahi pembicaraannya lalu tersenyum kikuk kepada Gary. Dia tidak mau Gary sampai tahu, ia sudah tahu semuanya dan mencemaskan keadaannya saat ini.


“Siapa?“ tanya Gary.


“Hanya teman lama. Aku akan pulang ke Indonesia untuk mengurus beberapa hal.“


Gary tidak bergeming dan hanya memandang Stella dengan penuh kesedihan.


Kakinya terasa goyah dari kekuatan pijakannya.


“Gary, kau tidak apa-apa?! Kau sangat pucat! Duduklah,“ kata Stella sambil membimbing suaminya duduk.


“Aku akan mengambilkan teh untukmu.“


Stella langsung keluar dari kamarnya bergegas mengambilkan teh hangat untuk suaminya.


Secepat kilat, Gary langsung mengambil ponsel Stella dan menekan panggilan terakhir. “F&G Law Company,“ sahut suara operator. Gary buru-buru menutup ponsel Stella.


“Yah, Tuhan!“ pekiknya.


“Stella benar-benar akan menceraikanku!“


“Gary, kau sangat pucat sekali! Yah Tuhan, apa yang kau rasakan sekarang, katakan padaku?! Ayo, berbaringlah,“ kata Stella cepat-cepat membantu Gary melepas jas dan sepatu Gary.


Tubuh Gary benar-benar lemas tidak bisa bergerak.


Stella mengukur suhu tubuh Gary melalui keningnya.


“Badanmu dingin sekali. Aku akan menyalakan pemanas, tunggu sebentar!“


Stella benar-benar merasa takut kehilangan Gary. Wajah Gary benar-benar pucat dan sekujur tubuhnya dingin.


Gary menarik tubuh Stella dan memeluknya.


“Jangan tinggalkan aku!“


Stella memeluk Gary sambil berusaha menenangkan Gary tanpa kata-kata. Ia hanya membalas pelukan suaminya dan tersenyum penuh pengertian.


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku hanya ingin menyalakan penghangat ruangan. Tubuhmu dingin sekali,“ kata Stella berusaha memberi Gary pengertian dan melepaskan pelukannya.


Tapi Gary tidak mau melepaskan pelukannya, malah mempererat pelukannya. Dia sangat ingin mempercayai kata-kata istrinya tapi ia tahu, Stella akan segera meninggalkannya!


Meskipun agak bingung dengan sikap suaminya, Stella membiarkan Gary memeluknya. Ia berharap bisa memberi Gary kekuatan yang ia perlukan untuk bisa bertahan menghadapi tekanan usahanya.


Stella bisa merasakan kesedihan yang amat dalam menyiksa suaminya tapi ia tidak bisa membagi bebannya kepadanya, Stella merasa sedih dengan semua keadaan suaminya.


“Aku membutuhkanmu,“ pinta Gary sambil menatap Stella.


Stella mengerjapkan matanya berusaha menyembunyikan air matanya sambil tersenyum dan mengangguk.


Stella bisa melihat dengan jelas kesedihan yang amat dalam dari tatapan suaminya.


Gary menciumi Stella seperti orang kelaparan yang seakan akan mati bila tidak menyentuh Stella.


Sebenarnya Stella tidak keberatan dengan semua gairah Gary yang terhitung baru baginya.


Biasanya Gary selalu berlaku lembut saat bersatu dengannya tapi kalau ia membiarkan hal ini terus berlanjut, bayinya bisa keguguran dan dia tidak mau hal itu sampai terjadi!


Stella menenangkan Gary dengan membawa tangan Gary dan mengusap bagian perutnya sambil tersenyum.


“Maafkan aku,“ kata Gary berusaha menjauh dari Stella.


Stella menangkap tangan Gary sambil tersenyum dan menariknya mendekat.


“Hanya saja harus lebih hati-hati.“


“Tidak, aku tidak mau membahayakan bayi kita …!“


Stella mencium Gary dan membujuk suaminya agar mau menyentuhnya.


“Stella … aku …,“ Gary menyalahkan dirinya mengapa tidak bisa menahan diri.


“Tidak apa-apa,“ kata Stella menyakinkan.


“Tapi …!“


“Aku akan merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan bayi kita.“


“Stella, apa kau yakin?“ tanyanya lagi.


Sudah lebih dari dua bulan, mereka tidak bersatu.


Sebenarnya dokter hanya melarang mereka untuk berhubungan selama lebih kurang satu bulan usia kandungan Stella tapi mengingat kondisi Stella yang masih agak lemah, akhirnya Gary lebih banyak menahan diri.


“Cium aku!“ kata Stella dengan lembut.


“Aku akan berusaha lembut agar tidak menyakitimu maupun bayi kita.“


Stella mengangguk dan menerima ciuman suaminya sambil bergeser agak ke tengah ranjang.


Gary menahan tubuh Stella yang mulai aktif bergerak.


“Jangan, biarkan aku yang melakukannya.“


Warning adegan 21+


Stella mengangguk sambil berbaring dan menikmati apa yang dilakukan suaminya sambil tersenyum.


Gary berusaha menyentuh istrinya selembut mungkin.


Stella memejamkan matanya saat Gary memasukinya.


Dia merasakan jiwanya menyatu dengan jiwa Gary. Ia sanggup memberikan seluruh hidupnya untuk Gary agar dia bisa lebih bahagia.


“Sakit?“ tanya Gary berhenti bergerak.


“Tidak. Jangan berhenti, please!“


Gary menyentuh sampai kedasar jiwa Stella dan perasaannya melambung saat bersatu dengan Stella.


Stella mengaitkan kakinya agar Gary bisa masuk lebih dalam lagi. Rasanya ia sudah menemukan surganya kembali dalam belaian Gary.


Ia pasti mati kalau sampai Gary berhenti bergerak! Ia meremas rambut Gary sementara Gary memanjakan tubuhnya dan ia memekik karena terlalu menikmati apa yang Gary lakukan.


Gary berhenti sejenak untuk memastikan.


“Jangan berhenti!“ kata Stella menggeram sambil menarik kepala Gary.


Setelah yakin Stella tidak apa-apa, ia mulai bergerak dengan lembut untuk memberi Stella kenikmatan yang ia inginkan sehingga Stella akan berpikir dua kali untuk meninggalkannya!


Stella tersenyum kepada Gary sambil membelai tubuh kekar milik suaminya itu.


Hatinya bergetar!


Dia baru sadar, betapa ia sangat mencintai Gary! Ia tidak berani mengungkapkannya kepada Gary. Ia hanya memeluk suaminya dengan lebih erat.


Ia merasa, saat ini belumlah tepat untuk menyampaikan perasaannya kepada Gary.


“Aku harus bangun agar tidak membebanimu.“


“Tidak, tetaplah seperti ini sampai beberapa saat lagi.“


Gary mencium istrinya sambil menahan berat tubuhnya dengan lengannya.