
Bab Sembilan Belas
Ia tidak mau, Stella merasa tidak nyaman ketika bangun nantinya.
Ternyata untuk mandi, mereka harus mengambil air dari sungai kecil yang cukup jauh dari gubuk yang mereka tumpangi.
Gary tidak bisa bertanya banyak selain memberi tanda isyarat untuk mengantarkannya ke sungai dan mengambilkan air bersih untuk keperluan mandi Stella jika ia butuhkan atau Stella harus pergi kesungai sendiri untuk keperluan yang lainnya karena di dalam gubuk tidak terdapat kamar mandi yang memadai untuk hal itu.
Stella menggeliatkan tubuhnya sambil menguap dan memandang sekelilingnya.
Ia kaget dan baru tersadar ketika melihat keadaan sekitarnya. Ia lupa, saat ini sedang menumpang dirumah orang lain .
Meskipun ia merasa aneh, untuk sesaat ia benar-benar bisa merasakan kehangatan suaminya. Ia mengerjapkan matanya, sambil menepis prasangkanya. Ia keluar berniat mencari air bersih untuk mencuci muka.
Ia sedikit bingung ketika mendapati tidak ada kamar mandi yang didalam gubuk untuk keperluan MCK.
Ia berdehem menahan lidahnya untuk tidak berkomentar. Lalu mencoba tersenyum ketika melihat Ibu Ningsih memanggilnya untuk sarapan bersama. Dia menanyakan keberadaan Gary dan menanyakan arah ke sungai tempat mereka bisa melakukan kegiatan MCK.
Rupanya untuk kebutuhan mendesak mereka biasanya pergi kesemak-semak dan membuang kotoran mereka disana dan menguburnya! Bayangkan!
Yah, Tuhan! Stella tidak bisa lagi menyembunyikan rasa keterkejutannya. Ia bertekat untuk menahan semua kegiatan MCK-nya sampai mereka bisa menemukan salah satu hotel yang terdekat.
Dari kejauhan, ia melihat Gary sedang membawa dua ember air di kedua tangannya.
Sangat lucu rasanya, melihat seorang multi millioner seperti Gary membawa ember-ember air untuk memenuhi kebutuhan airnya saat ini.
“Ini? Untukku mandi?!“ tanya Stella benar-benar tidak menyangka dan ia sangat terharu melihat kebaikan Gary.
“Tentu saja. Aku sudah mandi di sungai. Dan tentu saja tanpa sabun. Pengalaman yang menarik sekaligus agak menegangkan buatku,“ katanya sambil tertawa dan meskipun dengan wajah ragu meminum teh yang telah disediakan tuan rumah disana.
Stella hanya mencuci muka dengan air yang telah dibawa Gary lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan semua uang tunai yang bisa ia dapatkan disana. “Rasanya uang ini tidak akan cukup untuk menunjang kebutuhan hidup mereka selama 2 bulan!“ keluh Stella sambil menghela napasnya ketika melihat Gary masuk kedalam kamar mereka.
Ia juga mengambil semua uang tunai dalam dompetnya dan hanya menyisakan beberapa lembar rupiah untuk keperluan mereka dijalan.
Stella tersenyum melihat kebaikan hati Gary kepada keluarga baru mereka.
Ibu Ningsih sama sekali tidak menyangka penumpang dirumah mereka akan sangat bermurah hati memberikan mereka sejumlah uang yang sama sekali belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bukan hanya itu, Stella juga memberikan kartu namanya jika kedua orang tua itu membutuhkan sesuatu.
Ibu Ningsih hanya bisa menangis haru melihat kedua orang yang sangat pemurah itu sementara Pak Wardiman berusaha keras untuk menahan rasa harunya.
Stella hanya bisa memeluk dan menenangkan Ibu Ningsih dan Bapak Wardiman sebelum pergi bersama Gary kembali menyusuri hutan dan menemukan mobil mereka.
Betapa leganya Stella, melihat keadaan mobil mereka yang masih utuh dan dapat digunakan lagi sesudah mendapat kotak-katik ajaib dari tangan Gary.
Stella tidak menyangka Gary begitu cekatan membenahi kerusakan pada mobilnya.
Setelah sampai kedalam mansion, Stella benar-benar ingin menangis karena lega. Lalu cepat-cepat, ia berpamitan kepada Gary sambil berlari naik ke lantai atas untuk menemui suami dan anaknya.
“Aku tidak menyangka, ada manusia yang bisa hidup dalam segala kekurangan itu,“ kata Stella dalam pelukan David.
“Aku bangga, kau bisa melalui semuanya itu.“
“Maaf aku sudah membuat kalian cemas,“ kata Stella berbalik dan membelai wajah suaminya dengan perasaan lega.
“Rasanya seperti mau mati menanti kepulangan dan berharap kabar darimu. Aku hanya bisa berdoa dan hanya berdoa semalaman. Aku harus bisa menahan diri sekuat tenaga untuk tidak melapor pada pihak yang berwajib karena kehilanganmu,“ desah David sambil memeluk Stella dari dalam air.
Stella memeluk suaminya di dalam zaguzi mereka.
David membuai istrinya sampai sore hari, di ranjang mereka, tanpa keluar dari dalam kamar.