Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 39 judul Samuel datang



Bab Tiga Puluh Sembilan


Setiap malam, sebelum tidur, Stella selalu menghubungi David dan Samuel untuk mengecek keadaan mereka sambil mencari tahu kegiatan apa saja yang mereka lakukan, selama dia tidak bersama mereka.


Ia begitu merindukan mereka, terlebih lagi anaknya, Samuel! Dia rindu mencium harum dan lembut tubuh bayi-nya itu dan dia sangat menantikan kedatangan Samuel.


Dia menyesalkan, mengapa waktu rasanya, begitu lama berlalu!


Dia benar-benar merasa ingin menangis bila menantikan saat yang belum kunjung datang padanya itu! Dia benci setelah selesai menghadiri berbagai acara, karena saat itu, dia kembali akan teringat dan merindukan anak dan suaminya. Dan perasaan itu sangat menyiksanya!


Banyak permintaan peliputan secara khusus kepada management-nya karena saat pertama kali diwawancara oleh berbagai media, minat penonton ternyata jauh lebih besar dibandingkan perkiraan mereka sebelumnya.


Penonton sangat tertarik dengan kehidupan penulis baru yang cantik itu tapi juga terkenal sangat ramah dan berhasil menaklukan hati pembaca diseluruh dunia lewat novel-novelnya sekaligus lewat webside dan jaringan sosial yang didirikan Gary untuk Stella.


“Rindu Samuel?“ tanya Gary sambil menatap Stella yang tampak melamun dibalkon kamar hotel.


Stella menghela napas panjang.


“Sangat,“ katanya dengan mata berkaca-kaca.


“Tiga hari lagi, dia akan sampai kesini, tenang saja.“


“Aku sangat menantikan saat itu, disetiap detiknya. Aku ingin tertidur dan tidak terbangun sampai aku menemukan anakku disisiku!“


Dalam hatinya, ia juga sangat merindukan belaian dan kehangatan suaminya tapi tidak mungkin hal itu, ia utarakan pada Gary karena bagaimanapun baiknya hubungan mereka, hal itu sangatlah pribadi untuk dapat diceritakan dan ia merasa hal itu agak mengganggunya belakangan ini.


Setiap malam, ia menghayalkan David, menyentuhnya dan memberinya kenikmatan sebagai seorang istri tapi sebelum hal itu bisa terjadi, dia terbangun dan menjadi kesal karenanya!


Ketika dia membicarakan hal ini kepada David ditelepon, dia hanya menertawakan ketidakberdayaannya yang belum ia dapatkan. Sebaliknya, ia iri mendengar David yang bisa dengan mudah menyalurkan kebutuhan biologisnya.


Stella merasa sangat kesal dengan ketidakberdayaannya!


David hanya bisa menertawakannya dan berjanji akan memenuhi kerinduan Stella saat dia kembali nantinya, kapanpun dia inginkan.


Gary mengambil tubuh Stella dan memeluknya.


“Bersabarlah sebentar lagi, hal itu akan segera terjadi.“


“Berjanjilah tidak akan ada penundaan kedatangannya,“ kata Stella tidak tahan sambil terisak dipelukan Gary.


“Aku akan mengupayakan yang terbaik yang bisa aku lakukan, aku berjanji! Sementara itu, berkonsentrasilah dengan tulisan-tulisanmu.“


“Terima kasih. Aku benar-benar bersyukur memilikimu saat ini.“


“Aku juga bersyukur bisa memiliki kepercayaanmu.“


“Gary, apa tidak masalah, kau terus-menerus mendampingiku seperti ini? Kurasa masih banyak urusan yang masih harus kau urus iya ‘kan!?“


“Itulah untungnya, punya banyak karyawan lengkap dengan teknologi canggih, jadi aku memimpin berbagai pertemuan lewat kecanggihan teknologi tanpa harus pergi kemanapun.“


“Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih,“ kata Stella sambil menghela napas lega.


Stella terlalu asyik menulis sampai ia ketiduran dimeja kerja kamar hotel. Sayup-sayup, ia terbangun karena mendengar suara Samuel memanggil-manggilnya.


Sontak, ia terbangun dan mencari asal suara tapi saat menatap ruangannya yang kosong, ia kembali menghela napas sedih lalu tertunduk lesu sambil meremas rambutnya.


Mungkin jiwanya terlalu merindukan Samuel, pikirnya sedih.


Kali ini Bel dikamar hotelnya dibunyikan!


Stella melirik jam tangannya sambil mencari tahu siapa tamunya dan saat melihat dari lubang pintu kamar, ia langsung memekik karena bahagia dan segera membukakan pintu dengan cepat.


“Mami!“ seru Samuel sambil melompat ke pelukan Stella.


Stella memeluk dan menciumi Samuel dengan bertubi-tubi seakan tidak percaya bisa kembali memeluk anaknya.


“Mami! Kau membuat aku malu.“


“Biarin,“ kata Stella sambil mengelus rambut anaknya.


“Cape sayang?“ tanya Stella sambil menggendong anaknya dengan tenaga ekstra.


Gary berharap bisa memahami setiap kata-kata yang diucapkan Stella dan Samuel.


Stella benar-benar tidak menyadari kehadiran Gary yang mendampingi kedatangan Samuel dan pengasuhnya.


Sampai ia membuatkan susu untuk Samuel, yang ia tinggalkan dikamarnya.


“Gary!“ pekiknya.


“Maaf, aku tidak melihatmu tadi,“ kata Stella tidak bisa melepaskan senyuman dibibirnya.


Ia benar-benar sangat bahagia sampai ingin menari karenanya!


“Tidak masalah, aku senang bisa melihatmu begitu bahagia seperti saat ini.“


“Aku memang bahagia, sangat bahagia!“ sahutnya sambil tersenyum bahagia.


“Kau tidak tahu, betapa berartinya semua ini bagiku,“ kata Stella tidak bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya.


“Gary, aku hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih,“ kata Stella sambil menahan perasaan harunya.


“Aku tidak tahu, apakah mampu membalas semua kebaikanmu kepada kami!“


“Hei, jangan begitu. Kau membuatku tidak nyaman dengan berkata seperti itu. Aku hanya menepati janji yang aku buat,“ kata Gary sambil tersenyum.


“Terima kasih, terima kasih sekali lagi!“ ucap Stella sambil meremas tangan Gary.


“Apa kau tidak keberatan kutinggal sebentar, aku harus menemani Samuel didalam.“


“Yah, silahkan. Aku juga harus pergi sekarang, ada urusan sebentar. Stella, …“ katanya dengan ragu.


“Yah?“


“Kita bisa membatalkan jadwal wawancaramu hari ini, bila kau mau?“ kata Gary menawarkan.


“Apa, tidak masalah?“ tanya Stella dengan mata berbinar.


Ia ingin sekali menemani anaknya saat ini!


“Semua bisa diatur sesuai dengan keinginanmu. Hanya saja, pengaturan jadwal untukmu akan sedikit berubah, tidak seperti yang sudah terjadwal sebelumnya,“ sahut Gary dengan hati-hati sambil melihat reaksi Stella.


Stella terdiam sesaat sambil menghela napas.


“Berapa lama kira-kira?“ tanyanya.


“Tergantung jadwal yang mereka sediakan bagi kita, karena jadwal yang mereka susun jauh lebih padat dari agenda kita.“


“Kira-kira, berapa lama?“ tanyanya lagi.


“Mungkin bisa dua minggu sampai satu bulanan.“


“Tidak mungkin!“ seru Stella kaget.


“Semua terserah denganmu? Tentu saja untuk mengisi waktu-waktu yang ada, akan diisi dengan tambahan jadwal promosi atau liburan, semua terserah kepadamu,“ kata Gary benar-benar merasa sedang bertaruh dengan hidup matinya.


Stella terdiam dan berpikir sesaat.


“Kalau begitu, aku ingin menghabiskan waktu yang kosong ini bersama anakku sambil menunggu jadwal yang harus aku jalani tanpa menambah kegiatan lagi.“


“Semuanya terserah kau,“ kata Gary sambil tersenyum cerah.


Stella permisi masuk kedalam kamar untuk menemui anaknya.


Gary benar-benar tidak percaya keberuntungannya!


Semakin lama dia bisa menahan kepulangan Stella, akan semakin menguntungkan baginya meskipun dia harus bergerak sehalus mungkin.


Tanpa henti-hentinya, ia tersenyum sambil bersorak dalam hati lalu keluar dari kamar hotel Stella.