
Bab Tiga Puluh Delapan
Setelah menanyakan jadwal untuk hari minggu pagi yang ternyata kosong, Stella meminta Gary untuk membawanya mengikuti kebaktian disalah satu gereja terpencil yang berada di kawasan tanah samping istana Gary.
Gary perlu menanyakan beberapa kali untuk mengkonfirmasi hal ini kepada Stella.
Bisa saja Stella meminta membawanya kesalah satu gereja besar di Negaranya dan Gary bingung, bagaimana Stella bisa tahu mengenai gereja itu!?
“Tidak masalah besar kecilnya sebuah gereja, Gary. Bagiku sudah cukup kalau aku bisa bersekutu dan berdoa disana asalkan gereja itu benar-benar memuja Tuhan Yesus, tentu saja,“ sahut Stella bingung karena Gary berkali-kali menanyakan keinginannya itu.
“Dari mana kau tahu tentang gereja itu?“
“Rebecca yang memberitahuku. Aku tertarik saat mendengarnya bercerita tentang kebaikan pendeta, yang memimpin disana tapi sayangnya jemaat yang datang sangat sedikit pada setiap minggunya.“
“Memang di jaman sekarang ini, masyarakat lebih memilih Gereja dengan fasilitas lengkap daripada Gereja sederhana seperti itu. Sampai sekarangpun jujur, aku belum pernah
menginjakkan kakiku digereja manapun.“
“Kalau begitu, kau mau menemani aku kesana? Kalau ada pelayanmu yang beragama Kristen, sekalian saja diajak, jadi kita bisa sama-sama beribadah!“
“Pelayan dibawa serta?“
“Kalau mereka mau dan kau mengijinkannya, tentu saja. Paling lama hanya dua jam-an, bagaimana?!“ tanya Stella dengan mata berbinar saat mengusulkan hal itu kepada Gary.
“Apa menurutmu, hal ini perlu dilakukan?“ tanya Gary ragu.
“Menurutku sangat perlu! Dengan mengijinkan mereka beribadah secara layak, mereka akan lebih mencintaimu sebagai atasan yang memperdulikan jiwa spiritual mereka.“
“Aku tidak pernah berpikir mengenai hal ini sebelumnya,“ sahut Gary tidak dapat menahan senyumannya.
“Jadi bagaimana!? Bolehkah!?“ tanyanya, dengan penuh harap.
“Lakukanlah, apa yang kau inginkan,“ sahut Gary memberi persetujuannya.
“Benar!? Kalau begitu, sekarang kau yang harus memberi tahu mereka mumpung masih ada waktu!“
“Coba kau fikir, kalau aku yang memberitahu, apa mereka bisa yakin dengan kata-kataku!?“ sahut Stella.
Sebenarnya Stella harus tahu, kata-kata dan perintahnya sama pentingnya dengan kata-kata dan perintahnya karena dia telah memberitahukan betapa pentingnya kedudukan Stella diistananya.
Tapi mengingat Stella belum tahu mengenai hal itu, akhirnya ia memanggil kepala pelayan lalu memberitahu tentang hal itu dan menyuruh semua pelayan yang mau ikut untuk bersiap-siap pergi bersama mereka.
Kepala pelayannya, kaget mendengar permintaan majikannya tapi langsung cepat-cepat permisi dan menyampaikan permintaan majikannya yang selama ini dikenal kaku dan dingin terhadap anak buahnya.
Dan dia tahu, satu-satunya orang yang membuat majikannya itu berubah menjadi lebih ramah adalah Nyonya Rumah yang dibawanya saat ini.
Rupanya, berita kepergian Stella dan Gary beserta seluruh pelayannya ke gereja tersebar begitu cepat, sampai-sampai Pendeta yang memimpin gereja yang cukup sederhana itu kaget saat menerima jemaat yang begitu ramai hingga memerlukan tambahan bangku diluar halaman gereja.
Meskipun bingung dengan situasi yang diceritakan Rebecca kepadanya tapi Stella tetap menjalankan ibadahnya dengan penuh kesungguhan.
Setelah selesai ibadah, Stella dan Gary menemui Pendeta, yang baru saja dia tahu bernama Pendeta Gabriel dan meminta ijin untuk dapat beribadah selama ia masih disini.
Pendeta Gabriel menyambut dengan antusias dan menyambut baik permintaan Stella itu, lalu memberkati mereka karena menyangka mereka adalah pasangan suami istri.
Stella cepat-cepat, meralat hal itu dan memberitahu hal yang sebenarnya kepada Pendeta Gabriel.
Cepat-cepat Pendeta Gabriel meminta maaf lalu menatap Stella dan Gary dengan tatapan penuh arti lalu dengan lembut berkata kepada Gary, ketika menyambut uluran tangan Gary.
“Saatnya Tuhan akan menunjukkan jalan kepadamu, hanya saja bersabarlah dan mulai belajar berdoa.“
Stella tidak mencari tahu arti dari kata-kata yang dikatakan khusus kepada Gary tapi yang jelas, Gary sangat terkejut dan sedikit menghormat kepada Pendeta Gabriel sebelum permisi pulang.
Stella belum bisa pulang karena banyak yang mengajaknya berfoto dan meminta tanda tangannya.
Ia tidak menyangka antusias pembaca demikian cepat menyebar dan dia menyukai sensasi haru yang ditimbulkan atas permintaan para pembaca novelnya saat memperlihatkan cetakan novel-novelnya.
Dengan ramah, Stella melayani permintaan mereka tanpa merasa lelah dan merasa sangat terharu karena mereka tidak segan-segan memeluk dan menciumnya sebagai tanda, terima kasih.
Gary selalu setia mendampingi Stella tanpa banyak berkomentar. Dia hanya membalas tatapan haru dari pandangan Stella dengan senyuman.