Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 44 judul Prasangka membawa petaka



Bab Empat Puluh Empat


Stella berharap bisa bertemu dengan suaminya dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi.


Tapi ia terduduk lemas, saat menemukan kamarnya kosong tanpa kehadiran suaminya.


Stella menangis sambil meremas tubuhnya.


Ia merasa dunianya akan segera berakhir dan tidak tahu harus berbuat apa!


Aku harus kuat! Aku harus kuat! Katanya dalam hati mencoba menenangkan diri.


Ia menghubungi ponsel suaminya dari ponselnya.


“Sayang!? Ada apa menelepon pagi-pagi begini?! Apa ada masalah?“ tanya David dengan suara serak.


“Aku hanya merindukanmu makanya aku meneleponmu. Sekarang kau dimana?“


“Sekarang … ? Hmm… tentu saja di mansion, sayang.“


“Apa kau tidur diranjang kita sekarang?“


“Tentu saja! Dimana lagi, aku bisa tidur selain diranjang kita!?“ sahut David sambil terkekeh pelan.


“Tadinya aku berharap, bisa bertemu denganmu,“ kata Stella dengan suara bergetar.


“Aku juga merindukanmu, sayang. Aku juga berharap ada keajaiban dan kau ada disini bersamaku.“


“Tidak! Kau tidak akan berharap bertemu denganku sekarang.“


“Sayang?“ tanya David tidak mengerti.


“Aku menunggumu di mansion, secepat yang kau bisa untuk menjelaskan semuanya!“


“Stella, …“ kata David benar-benar kaget.


Stella menutup ponselnya lalu meraung penuh kemarahan diranjangnya.


Tadinya ia sudah muak untuk bertemu lagi dengan David tapi karena saran Micquel akhirnya, ia memutuskan untuk mendengar penjelasan David sebelum mengambil keputusan lebih jauh agar ia tidak menyesal nantinya. Hal itu juga akan mempercepat proses perceraian bila terjadi nantinya karena waktu mediasi bisa dipersingkat tanpa menunggu satu atau dua minggu menjelang mendengar putusan cerai dari pengadilan.


Stella mencuci mukanya agar terlihat lebih segar dan siap menghadapi sanggahan yang akan dikatakan David nantinya.


Setelah menunggu lebih kurang tiga jam, David tiba di mansion dengan mengenakan t-shirt putih dan celana jeans yang baru pertama kali ia lihat!


Stella mendengus, ia tiba-tiba merasa muak melihat pria yang ia cintai selama ini, kini menjadi pria yang paling ia benci disepanjang sisa hidupnya!


Ia menepis tangan David yang ingin menyentuhnya dan memberikan penjelasan kepadanya.


“Aku tidak bermaksud untuk berbohong sayang, hanya saja aku mendapat tugas meeting keluar kota!“


David mencoba memberi penjelasan dan berusaha mendekati Stella yang menghindarinya dan tampak sangat marah kepadanya.


Melihat dari wajah suaminya saja, Stella sudah tahu suaminya tengah berbohong!


Yah Tuhan, bagaimana bisa, ia buta selama ini!? Ia menghela napas menenangkan diri.


“Meeting, begitu. Baiklah,“ katanya mengangguk-angguk mencoba untuk mempercayai suaminya lalu menghela napas sambil menatap David.


“Kalau begitu aku menghubungi atasanmu.“


“Stella …!“


Stella memberi tanda kepada suaminya untuk menunggu dan memberi kode jangan pernah sekali-kali mendekatinya sebelum dia mendengar kebenaran kata-kata David lewat sorot matanya.


“Selamat pagi, Pak Bram ini saya, Stella Atmanegara.“


setelah memastikan orang yang diteleponnya mengenali suaranya, Stella melanjutkan kata-katanya lagi.


“Pak Bram, saya ingin bertanya sebentar, apa Bapak menugaskan suami saya untuk meeting diluar kota saat ini?“


Wajah David memucat tanpa sanggup mencegah Stella mendengar jawaban Pak Bram yang tentu saja tidak menugaskan dirinya kemana-mana selama satu bulanan ini.


“Begitu Pak, terima kasih atas jawabannya,“ katanya sambil tersenyum kecut dan memandangi David dengan tatapan tajam.


“Tidak, tidak, tidak ada apa-apa. Terima kasih banyak, saya harap telepon saya tidak mengganggu waktu Bapak.“


Stella menghela napas lalu duduk diranjangnya dengan wajah pucat. Apa yang dia harapkan?! Salahkah dia kalau berharap apa yang dikatakan suaminya padanya benar, setidaknya untuk kali ini?! Salahkah dia!? Kalau dia berharap semua foto-foto itu hanya salah paham dan semuanya akan baik-baik saja?! Setelah semuanya ini, dia masih saja belum bisa menerima dan berusaha mencari pembelaan untuk suaminya.


Ia menghela napasnya lagi lalu mengeluarkan lembar dokumen dan foto-foto dari dalam tasnya dan melemparkannya dihadapan David dengan marah dan sangat terluka.


“Jelaskan ini, kalau kau bisa!“


David benar-benar tidak bisa menyanggah kenyataan yang disondorkan Stella kepadanya.


“Sayang …“


“Aku akan mengirimkan surat perceraian yang resmi kepadamu,“ sela Stella sudah benar-benar tidak tahan lagi.


David berusaha memeluk Stella dengan erat tanpa ingin melepaskan Stella. Ia menangis dan berusaha meminta maaf kepada istrinya!


“Kau sudah tahu, akhir jalan yang kau pilih David dan kau lebih memilih untuk menodai ikatan pernikahan kita dibanding mempertahankan kesucian pernikahan kita!“ sesal Stella.


Tiba-tiba David tertawa sambil melepaskan tubuh Stella dengan kasar.


“Tolong, jangan bilang kau tidak pernah sekalipun kau menghianati aku! Kau pikir aku akan percaya, kau tidak pernah menghianati aku dengan tidur dengan pria lain selama ini dan tetap menjaga kesucian ikatan pernikahan kita!? Jangan membuatku tertawa!“


“Dan pria mana yang kau maksud?“ tanya Stella dengan dingin dan menantang David dengan tatapannya.


“Kita bilang saja, salah satunya Mr. Machunn!“


Stella meremas kuat jemari tangannya, mencoba untuk menahan diri.


“Salah satunya? Dan menurutmu, sudah ada berapa banyak pria yang pernah tidur denganku?!“ tanya Stella dengan sedih tapi berusaha untuk tetap tenang karena ini adalah saat terakhir, ia akan bicara kepada David.


Melihat pandangan tajam Stella yang menatapnya tanpa rasa takut, David benar-benar hancur karena ia tahu, Stella tidak pernah menghianatinya sekalipun!


Stella tersenyum kecut berusaha menahan perasaan sedihnya.


“Aku hanya berharap, andai saja bisa sekali saja, berpikir sebebas kau dalam menjalani pernikahan kita, tapi …“ Stella tersenyum lagi.


“Semua ini, hanya dalam pikiranku saja iya ‘kan. Setia sampai maut memisahkan!? Itu tidak pernah kau jadikan sandaran hidupmu? Bodohnya aku, iya ‘kan?!“ kata Stella sambil mengusap air matanya.


David mencoba mendekati istrinya dengan tubuh gemetar. Ia benar-benar tidak sanggup berbuat apa-apa dan mengatakan apapun kepada Stella.


“Jangan!“ seru Stella, saat melihat David menyesali anggapannya selama ini yang ternyata salah besar.


“Aku berharap kau dan aku berpisah secara baik-baik. Aku tidak akan menggugat harta bersama tapi Samuel akan ikut denganku tanpa keberatan apapun.“


Stella langsung meninggalkan kamarnya sambil berlari dan mengetuk kamar Micquel. Dengan cepat, ia masuk ketika pintu dibukakan dan segera menguncinya dari dalam.


Stella jatuh terduduk dibelakang pintu sambil memeluk kedua kakinya sambil menangis pelan.


Micquel mendekati Stella mencoba untuk menenangkannya tapi Stella memintanya menjauh dan berbalik memunggungi Micquel.


David tidak bisa menemukan Stella dimanapun setelah lebih kurang setengah harian, ia menyesali diri.


Ia tidak tahu, kenapa ia bisa begitu bodoh menyangka istrinya tidak setia kepadanya!


Selama ini, ia benar-benar telah memiliki semua keberuntungan dunia dengan memiliki Stella sebagai istrinya!


Dari awal Stella menerimanya sebagai kekasih, ia benar-benar tidak berharap Stella menerimanya karena mencintainya.


Ia hanya mau membuktikan semua cintanya tanpa bermaksud memaksa Stella mencintainya. Dan ketika Stella menerima lamarannya, lagi-lagi ia tidak percaya semuanya bisa terjadi padanya! Bisa dibilang dia adalah orang yang paling beruntung didunia meskipun ia tidak pernah berpikir akan menemukan Stella dalam keadaan suci saat pertama kali mereka berhubungan setelah pernikahan mereka.


David sudah menyiapkan hati untuk menerima kenyataan jika mendapati istrinya sudah tidak perawan lagi meskipun memang dari awal mereka pacaran Stella tidak pernah membiarkan dia menyentuhnya apalagi menciumnya.


Sentuhan paling intim diantara mereka hanyalah pegangan tangan ketika mereka berjalan menyusuri jalan-jalan, tidak pernah lebih dari itu.


Tanda kesucian Stella di sprei pengantin mereka, tidak pernah ia hilangkan!


Sprei yang terdapat noda darah istrinya, ia simpan dengan penuh rasa bahagia mendapati istrinya ternyata benar-benar seorang wanita yang benar-benar suci hatinya dan juga tubuhnya.


Tapi kepanikan mulai melandanya saat Stella meminta ijin untuk membuka showroom gaun pengantin demi mewujudkan impian dan cita-citanya.


Awalnya, ia tidak mengira semua usahanya bisa berjalan begitu lancar dan berkembang.


Stella juga selalu berhasil membagi waktunya dengan baik dan hanya sesekali pergi keluar untuk menemani kliennya melihat lokasi pernikahan bersama asisten-asistennya.


Dia menjalankan semua bisnisnya dari rumah hingga ia berhasil bekerja sama dengan atasannya untuk menginventariskan mansionnya sebagai tanda kerja sama diantara mereka.


Dari sanalah semua kecurigaannya mulai timbul. Tidak mungkin, seorang yang dingin dan tegas seperti Pak Bram luluh dan terlihat sangat jinak saat sedang berbincang dengan istrinya! Meskipun ia tidak pernah melihat mereka pergi keluar bersama tanpanya tapi ia yakin, dengan dugaannya dan berusaha menahan dirinya selama ini. Lalu mulailah muncul pengagum-pengagum rahasia istrinya! Dengan berbagai alibi, mereka mendekati istrinya dan ia merasa yakin, salah satu diantara mereka telah berhasil membuat istrinya merasakan sensasi bercinta yang berbeda dibanding dengan dirinya. Dengan semua kelebihan mereka rasanya tidak mustahil kalau istrinya luluh dengan bujuk rayu mereka!


Meskipun muak dengan pikirannya sendiri tapi David tidak bisa percaya kalau Stella benar-benar murni mencintainya seperti yang selama ini, ia katakan.


Apa sih kelebihan yang di


milikinya sehingga Stella lebih memilihnya dibandingkan semua pria-pria itu!?


Mungkin sampai saat ini, Stella mempertahankannya karena adanya Samuel diantara mereka tapi sampai kapan hal itu akan menyiksanya?!


David terlalu terbuai dengan khayalannya sendiri sehingga tanpa sadar menghianati cintanya kepada Stella.


Dan sekarang hidupnya benar-benar hancur karena kesalahannya sendiri. David menggeram karena menyesal!


Dia tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Stella disisinya, tidak, ia tidak sanggup!