
Bab Enam
Setelah memastikan, Gary sudah keluar dari kamarnya, ia buru-buru menyeka sisa air sabun yang masih menempel ditubuhnya.
“Harumnya,“ sambut David dari balik pintu saat melihat istrinya dalam balutan handuk tebal.
Stella mendengus bangga dengan hal itu lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. “Mandilah sekarang atau nanti kita bisa terlambat.“
“Atau, kita tidak perlu berangkat?“ sorot mata jahil terpancar dari tatapan David dan menarik handuk yang membungkus tubuh istrinya hingga terlepas.
Stella berdiri dengan percaya diri dihadapan suaminya. “Boleh saja,“ tantang Stella sambil tersenyum.
David tersenyum sambil menyentuh bagian payudara istrinya dan menciuminya dengan lembut. “Malam nanti,“ desahnya dengan suara serak lalu cepat-cepat masuk kedalam kamar mandi.
“Sudah kuduga!“ sahut Stella lalu mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya.
David membantu menaikkan resleting belakang gaunnya sambil masih terus menciumi punggung indah milik istrinya.
Stella menggeram sambil melotot memandangi David. “Sekarang?!“ tanyanya dengan kesal.
Dia tidak mau dipanas-panasi, sementara ia tahu, waktunya jelas-jelas tidak tepat untuk bercinta sekarang!
David tersenyum dan mengecup bibir istrinya untuk terakhir kali. “Rasanya enak!“ katanya, lalu mulai memakai kemejanya.
“ Kau suka?“ goda Stella.
“Suka meskipun tanpa rasa,“ kata David sambil memasang dasinya dan melirik Stella sorot jahil.
“Dasar!“ sahut Stella sambil menyekat bibirnya dengan tissue dan memakaikan lipgloss cair lagi ke bibirnya .
Sebelum bersiap pergi, Stella menemui Samuel didalam kamarnya untuk memberitahu kepergian mereka tapi ia bingung ketika melihat Samuel sudah bersiap dengan taxido mini-nya.
“Sayang?“ ujar Stella dengan bingung sambil mengambil Samuel untuk duduk di pangkuannya. “Apa hari ini ada acara spesial yang akan kau datangi? Kenapa Mami tidak tahu?“ tanyanya berusaha mengingat-ingat jadwal Samuel.
“Mami tidak tahu karena undangan itu, baru saja Muel terima, Mami,“ jawab Samuel terkekeh senang.
“Oh, yah? Dan kau akan pergi tanpa Mami? Dengan siapa kau akan pergi?! “ tanya Stella kebingungan sambil menatap pengasuh Samuel.
“Tentu saja aku akan pergi bersamamu, Mami!“ sahut Samuel dengan gembira.
“Oh sayang, seandainya saja acaranya tidak terlalu formal, tentu Mami dengan senang hati akan mengajakmu, tapi …“
“Tapi Gary sendiri yang mengajakku!“
“Gary?“ Kening Stella mengerut tidak yakin, sambil melirik pengasuh anaknya.
“Tadi mereka bicara dengan bahasa asing, Nyonya dan tampaknya Tuan Muda sangat senang setelah Mister itu bicara padanya. Ketika Tuan Muda meminta saya untuk men-dryclean taxido-nya, saya tidak menyangka ia akan ikut bersama anda, Nyonya.“
“Apa kau yakin, dia mengajakmu atau kau yang memintanya, Muel?“ tanya Stella dengan lembut sambil merapikan rambut anaknya. Dia tidak mau menyinggung anaknya.
“Dia yang memintaku, Mom!“ kata Samuel, meyakinkan Stella dengan bahasa asing yang memang cukup fasih dikuasai anak tunggalnya itu.
Dan memang tidak ada keraguan dalam diri Stella bahwa Samuel telah salah mengartikan kata-kata Gary. Selain Samuel bersekolah disekolah bertaraf internasional, dia juga sering melatih percakapan bersamanya, saat menemani Samuel tidur.
“Dia yang datang kesini untuk mengajakmu?“ tanya Stella memastikan sekali lagi sambil tersenyum. Ia tidak mau anaknya tersinggung karena merasa, ia tidak mempercayai kata-katanya.
“Dia yang mengunjungi kamarku, Mom. Tanyakan saja kepada pengasuh Bella kalau merasa kurang yakin.“
Stella tersenyum sambil melirik pengasuh Samuel yang mengangguk-angguk membenarkan pernyataan Samuel. “Baiklah, perlu bantuan memakai sepatumu sayang?“
“Dengan gaun seperti itu!? Tidak, terima kasih. Pengasuh Bella yang akan membantuku, Mom!“
“Mencampurkan bahasa satu dengan bahasa lain itu tidak cool, Baby.“
“Kurasa semua itu tergantung situasi dan kondisinya Mami,“ kata Samuel sambil melirik pengasuhnya.
Anaknya begitu pengertian! Dia tahu, pengasuhnya tidak mengerti bahasa asing, itulah sebabnya, ia sedikit memadukan bahasa asing dengan Bahasa indonesia agar sedikit banyak pengasuhnya mengerti percakapan diantara mereka.
Kening Samuel mengerut pura-pura berpikir keras. “Apakah kau memiliki anak yang lain, Mami?!“ goda Samuel dengan jenaka.
Stella melotot gemas kearah anaknya sambil tertawa geli mendengar celoteh anaknya. “Bersiaplah, Mami menunggumu dibawah!“
Hampir saja Stella bertabrakan dengan Gary ketika keluar dari kamar Samuel.
Dengan sigap Gary membantu dan menangkap pinggang Stella agar tidak terjatuh.
“Terima kasih,“ kata Stella masih dalam pelukan Gary.
Ia sedikit bingung karena Gary masih belum menyadari saat ini, tangannya, masih berada dipinggangnya.
Stella memberi isyarat melalui deheman dan tatapan mata lalu tersenyum kikuk.
“Oh, maaf sekali lagi!“ kata Gary langsung melepas Stella dengan hati-hati.
“Tidak apa-apa. Gary, aku harus bicara sebentar denganmu,“ kata Stella sambil sedikit berbisik agar suaranya tidak terdengar Samuel lalu perlahan menutup pintu kamar Samuel. “Kata Samuel, …“
“Aku memang mengajaknya Stella.“
“Tapi inikan …!“ kata Stella tampak resah karena tahu acara ini sangat resmi dan tidak cocok untuk anak sebaya Samuel dan mungkin, akan tampak tidak sopan bila membawa anak-anak di pesta ini.
“Dia adalah tamu kehormatanku dan aku sudah memastikan bahwa kalian akan duduk bersamaku, dimeja yang sama.“
“Apa benar?!“ Tanya Stella tidak yakin dan hanya bisa tersenyum menanggapi kata-kata Gary.
“Anggap saja, malam ini kalian adalah keluargaku dan mereka adalah karyawan kita.“
"Seandainya saja bisa.“ sahut Stella sambil tersenyum kecil membalas kata-kata Gary. “ tapi paling tidak, aku sedikit lega, ternyata memang kau yang mengajak Samuel dan bukan Samuel yang memaksa ikut.“
“Tentu saja, bukan! Malahan aku harus menyakinkannya untuk ikut bersamaku, ia sangat paham mengenai peraturan dipesta-pesta orang dewasa.“
“Terima kasih, kau baik sekali. Lalu siapa wanita yang beruntung itu?“ tanya Stella sedikit menggoda Gary.
Ia yakin, siapapun wanita yang Gary pilih malam hari ini, akan berdandan habis-habisan. Tapi dalam hatinya sedikit bingung karena dia belum mendengar salah satu asistennya meminta ijinnya untuk meminjam salah satu gaun terbaik di showroomnya atau mungkin saja Gary langsung membelikan mereka salah satu gaun pesta sehingga mereka tidak memerlukan pinjaman gaun darinya, tebak Stella dalam hati.
“Bukan dia wanita, tapi dia pria yang akan menemaniku malam ini.“
“Hanya Samuel?“ tebak Stella dengan kaget.
“Dan kau tentu saja, kalau suamimu bersedia sedikit berbelas kasih meminjamkanmu kepadaku, meskipun untuk sesaat.“
“Yah, tentu saja!“ timpal Stella, tidak menanggapi maksud kata-kata Gary lebih dalam lagi. “Kalau begitu, malam ini kita akan berada dalam satu mobil yang sama atau bagaimana?“ tanyanya memastikan.
“Satu saja sudah cukup, mengingat tujuan pergi dan pulang dengan arah yang sama.“
“Tapi aku rasa, sebaiknya kita menggunakan dua mobil yang berbeda sebab tidak mungkin kami berlama-lama tinggal dipesta itu, mengingat Samuel akan ikut bersama kami.“
“Kita, bukan kami“ sela Gary mengoreksi kata-kata Stella.
“Yah, dan …“
“Stella,“ kata Gary sambil memegang kedua bahu Stella untuk menarik perhatiannya. “Aku adalah tamu dipesta ini, bukannya tuan rumah, jadi aku bebas pergi kapanpun aku mau.“
“Tapi …“
“Tidak ada tapi, oke!?“ kata Gary sambil menatap Stella tanpa berkedip.
“Baiklah, tapi jangan salahkan aku, kalau nantinya kau bertemu dengan salah satu wanita cantik dipesta nanti, “ kata Stella sambil memastikan kembali.
“Salah satu wanita tercantik itu sudah menemaniku, perlukah aku mencarinya lagi?“ goda Gary sambil menatap Stella lekat-lekat.
“Yah, yah, yah, apapun yang kau katakan!“ timpal Stella sambil terkekeh. “Kalau begitu, kita ketemu dibawah, oke, “ kata Stella sambil tersenyum lega saat tangan hangat Gary menjauh dari kulitnya. Ia merasa seperti telanjang saat Gary menyentuhnya, meskipun saat ini, dia sudah mengenakan pakaian!
Ia bisa merasakan, wajahnya kembali memerah saat mengingat, waktu Gary masuk kedalam kamar mandinya tadi. Cepat-cepat, ia melangkah pergi ke kamarnya.