
Bab Sepuluh
Stella merasa tidak nyaman ketika Gary menyuruh Pak Diman untuk menunggu di dalam mobil. Ia sangat resah! Itu tandanya, ia harus mengandalkan Gary disetiap langkahnya. Ia tidak mau kalau sampai tersesat dan tidak tahu jalan kembali ke mobilnya!
“Apa kau takut aku akan meninggalkanmu sendirian?!“ goda Gary sambil mengandeng tangan Samuel.
Stella meringgis sambil melihat-lihat keadaan sekitarnya. Sungguh kelemahan yang membuat tidak nyaman! pekik Stella dalam hati. Nomor plat mobilnya saja, ia tidak bisa mengingatnya, bayangkan coba!
Sebenarnya, bukannya tidak bisa tapi karena memang tidak mau tahu dan sekarang, ia merasa sangat resah karenanya!
“Kau boleh menggandeng tanganku kalau tidak percaya,“ Gary menyakinkan Stella agar membuang segala keresahan yang tampak jelas tergambar diwajahnya. Dan Gary, baru benar-benar yakin setelah melihat wajah Stella saat ini. Ia menyembunyikan senyumnya dalam hati.
“Tidak perlu, aku percaya padamu.“ Stella menggandeng tangan Samuel sebagai gantinya.
Mereka berjalan beriringan dengan gembira sambil mencari tempat untuk duduk dan bersantai.
Samuel tidak sabar untuk berenang sementara Stella menyuruhnya untuk makan dulu sebelum masuk kedalam air dan Samuel tahu maminya tidak akan mempan dengan rajukannya lalu menerima suapan dari tangan maminya. Dengan wajah cemberut dan tidak sabaran, ia melirik Gary untuk meminta bantuan.
Gary tersenyum berniat untuk membujuk Stella tapi setelah melihat raut wajah Stella yang menatapnya galak, Gary mengurungkan niatnya lalu menyemangati Samuel untuk makan lebih cepat agar bisa segera berenang bersamanya dan Stella.
Samuel menghela napas tidak berdaya dan menerima suapan demi suapan dari maminya sambil memandangi lautan yang sudah menanti dihadapannya.
Stella lega, Gary mengerti isyarat matanya. Ia tidak mau ditentang atau menerima masukan saat ia sedang melarang Samuel. Meskipun Gary termasuk atasan suaminya tapi ia tidak mau ditentang mengenai tata cara mengajar anaknya sendiri, meskipun itu suaminya sekalipun.
Setelah selesai makan, Samuel langsung membuka pakaiannya dan mengenakan celana renangnya.
Stella lega saat melihat Gary mengenakan celana hawai untuk berenang dan bukannya mengenakan celana renang.
Gary membawa Samuel berenang sementara ia membereskan tempat-tempat makanan yang berserakan.
Biasanya setiap kali ke laut, ia selalu berenang tapi kali ini ia memutuskan untuk bersantai sambil berbaring di kursi pantai.
“Mami, Mami! Kita naik banana yuk!“ seru Samuel sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
Ia melirik Samuel sambil melihat banana boat yang sedang mengumpulkan peserta.
Stella setuju dan menuruti ajakan anaknya.
Samuel melonjak kegirangan sambil menarik Gary untuk naik ke wahana banana lebih dulu. Karena ia masih terlalu kecil duduk sendirian, Gary langsung mengajukan diri untuk duduk mendampinginya.
Stella tidak banyak berkomentar mengenai hal itu lalu naik keatas banana dibantu Gary karena Gary menolak saat petugas ingin membantu Stella menaiki banana.
Seruan dan pekikan, mulai terdengar saat kapal mulai menarik banana mengelilingi pulau.
Stella terus menerus, melirik kearah belakang untuk mengecek keadaan anaknya sambil tertawa seru.
Kapal sengaja menikung dengan tajam sehingga pegangan Stella terlepas lalu terlempar jauh dari banana dan menghempas air laut dengan teriakan histeris lalu tertawa lepas.
Gary dan Samuel menertawakan Stella yang sudah terhempas jatuh tapi tidak lama kemudian giliran mereka yang terhempas dari banana.
Sebelum Stella sampai menjangkau Samuel, Gary telah lebih dulu meraih pelampung Samuel dan berenang menuju Stella.
“Lagi Mami, lagi!“ seru Samuel dengan senang.
“Sudah, nanti suaranya serak.“ kata Stella sambil mengusap tetesan air laut dari wajah anaknya.
“Lagi Mami, lagi!“ rengek Samuel sambil masih terus berenang ditempat.
“Mami cape, sayang,“ kata Stella mencoba memberi pengertian kepada anaknya.
Meskipun tidak mengerti apa yang dikatakan Samuel kepada Stella tapi Gary tahu, Samuel sedang berusaha membujuk Stella untuk kembali menaiki wahana yang baru saja ia naiki. “Kalau kau percaya padaku, aku bisa menemaninya.“
Stella menatap Gary sesaat lalu menatap wajah anaknya yang benar-benar ingin naik wahana banana boat lagi. “Baiklah, sekali lagi cukup, oke?!“
“Oke!“ teriak Samuel dengan senang.
Mereka naik lagi ke atas banana dan menghampiri tempat mereka terhempas jatuh dan membawanya kearah pantai untuk menurunkan peserta dan menaikan peserta baru lagi.
Stella membalas lambaian tangan Samuel yang terlihat mulai bersiap untuk berteriak kesenangan.
Sudah terlanjur basah, akhirnya ia menyewa sebuah ban besar lalu berenang agak ke tengah untuk menghindari karang lalu berjemur diatas ban besar itu sambil menikmati hempasan ombak sore yang lembut.
Samar-samar, Stella seperti mendengar suara Samuel yang memanggil-manggil namanya. Ia mencari arah suara dan menyadari, ia sudah terbawa ombak menjauh dari tepi pantai.
Dengan sigap ia langsung mengubah posisinya tanpa memeriksa karang dibawahnya terlebih dulu. Ia mengaduh didalam air saat kakinya tidak bisa menapak dasar laut!
Secara otomatis tangannya melepaskan ban dan segera bergerak naik.
Sialnya, disaat seperti ini, kakinya mendadak keram!
Ia berusaha menggerakkan kakinya dengan gerakan lambat didalam air lalu mencoba naik kembali. Setelah berhasil mengambil napas Stella langsung mengambil gaya punggung untuk melemaskan otot pahanya yang keram. Ia meringgis kesal saat kakinya masih merasakan nyeri karena keram. Ia berusaha untuk menggerakkan kakinya lagi dengan masuk lagi kedalam laut untuk menghindari gelombang ombak besar yang bersiap menghempasnya lagi.
Ia mencoba membuat gerakan menendang untuk meluruskan urat kakinya.
Ia memekik di dalam air, saat merasakan sakit yang luar biasa tapi ia masih terus mencoba dan berusaha memijat-mijat pahanya.
Ia mulai menghentak naik lagi tapi lagi-lagi tubuhnya tergulung ombak besar. Setengah tidak sadar, ia seperti melihat Gary sedang berenang dengan cepat dan meluncur menghampirinya dibawah laut.
Dengan sigap Gary membawa Stella naik kepermukaan. “Kau tidak apa-apa?“ tanyanya dengan khawatir.
“Yah, hanya saja kakiku agak keram hingga sulit untuk berenang dengan gaya apapun selain punggung.“
“Aku akan menarikmu dan berenang bersamaku, apa tidak masalah?“
Stella tertawa sambil mengigil terkena hembusan angin sore. “Yah, silahkan. Asal aku bisa segera bertemu dengan Muel. Pasti saat ini, dia sangat mencemaskanku, “ sesalnya sambil berusaha menahan gigilannya.
“Bertahanlah!“ kata Gary lalu memeluk tubuh Stella dan membawanya ke tepi pantai.