Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 17 judul mencari pertolongan



Bab Tujuh Belas


Beberapa kali Stella hampir tidak bisa melihat keberadaan Gary yang berjalan didepannya.


Kalau saja ia memiliki beberapa senter cadangan didalam mobilnya! desah Stella menyesali keadaan. “Gary, dimana kau!?“ pekik Stella dengan panik karena tidak bisa menemukan bayangan Gary.


Ia melonjak kaget saat merasa tangannya ditarik.


Dengan cepat ia berontak dan berusaha melepaskan tangannya.


“Stt, ini aku! Sebaiknya aku menggandeng tanganmu agar tidak terpisah, apa kau keberatan?“


Apa Gary gila masih menanyakan hal itu sekarang ini!? Tentu saja ia tidak keberatan! “Tidak, aku tidak keberatan. Dan tolong, jangan pernah tinggalkan aku disini!“


“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku berjanji, tenang saja.“


“Yah, ayo kita jalan lagi. Apa kau yakin sudah mengarah ke arah yang benar?“ tanyanya setengah berbisik.


Suara burung hantu membuat suasana semakin mencekam.


Stella langsung mendekatkan diri kedalam pelukan Gary. “Oh, Gary ayo kita cepat pergi dari sini, aku takut!“


“Tidak apa-apa, jangan takut. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.“ Gary mengelus rambut Stella untuk menenangkannya. “Kita harus terus berjalan,“ bisik Gary tidak mau mengganggu binatang-binatang buas yang mungkin sedang mengintai mereka. Beberapa kali ia harus menyingkirkan tanaman jalar yang menghalangi langkah mereka.


“Gary, apa sebaiknya kita kembali kedalam mobil saja. Aku takut!“ erang Stella dengan putus asa.


Mereka sudah cukup lama berjalan dan belum menemukan satupun rumah penduduk. Ia merasa benar-benar ingin menangis saat ini!


Kenapa memilih mogok ditempat seperti ini!? Kalau saja ponselnya berfungsi, ia bisa segera memanggil pertolongan dan tidak usah berjalan dalam hutan yang gelap seperti ini!


Stella hampir saja merajuk dan tidak sanggup melanjutkan pencarian lagi, sampai akhirnya ia melihat cahaya lampu pijar melalui sela-sela tanaman jalar didepan mereka.


“Lihat! Kita berhasil!“ kata Stella dengan semangat. Rasa putus asanya berganti dengan semangat untuk cepat-cepat melangkah menuju arah cahaya.


Gary merasa lega, arah yang mereka tuju sudah mengarah ke arah yang benar. Ia bisa melihat, wajah lelah dan putus asa Stella kini berganti dengan senyuman gembira dan penuh semangat mengikuti langkahnya.


Stella tidak perduli berapa banyak goresan akibat tergesek ranting-ranting kecil ataupun duri rerumputan yang melukai kakinya. Yang penting sekarang, mereka bisa mendapatkan bantuan secepatnya.


Stella berdoa dalam hati ada telepon yang bisa mereka gunakan untuk mendatangkan pertolongan!


Begitu sampai, ia hanya memandangi rumah gubuk dihadapannya, hatinya miris akan bisa menemukan saluran telepon disini!


Tampaknya penghuni rumah sudah terlelap karena keadaan rumah tampak sunyi.


Kalau diperhadapkan dengan situasi normal, mungkin mereka enggan untuk mengetuk pintu tapi saat ini mereka harus menekan rasa canggung mereka.


Gary nyaris merobohkan pintu dari kayu yang sudah tampak reot dengan ketukan tidak sabarnya. Stella buru-buru menyela dan mengetuk pelan sambil mencoba memanggil penghuni rumah.


Setelah beberapa lama mengetuk dan memanggil, akhirnya pemilik rumah bangun juga dan membukakan. Dalam hati Stella berpikir bagaimana mereka bisa hidup ditempat terpencil seperti ini?! “Selamat malam Pak, maaf mengganggu malam-malam begini tapi mobil kami mogok dan kami sangat memerlukan tempat bernaung sampai besok pagi, bisakah kami menumpang malam ini dirumah Bapak?“


Untuk sesaat lamanya Bapak tua itu hanya tertegun sambil memandangi Stella tanpa menanggapi permintaannya.


Stella bingung, mengapa Bapak itu terus mengamatinya begitu lama? Apa dia memiliki tampang kriminal yang perlu diwaspadai? Stella menoleh kearah Gary sambil menghela napas.